UNTUK INDONESIA
LP Cipinang, Surganya Penjara dan Cara Melarikan Diri
Kisah nyata tentang kehidupan para napi di LP Cipinang yang diceritakan oleh Petrus Hariyanto, mantan Sekjen PRD.
Beberapa napi politik, termasuk anggota PRD saat santai di taman depan sel di LP Cipinang, Jakarta. (Foto: Dok. Petrus Hariyanto)

Pagi bagi kami adalah kebebasan. Tatkala sinar mentari masih samar-samar terlihat, saat itulah pintu sel dibuka oleh vaste (sipir blok).

Sakitnya apapun obatnya cuma satu. Mereka diberi CTM agar bisa tidur nyenyak di sel.

Klek, begitulah bunyi khas pagi hari yang kami sukai, pertanda gembok sudah dibuka. Membuat para penghuni sel dapat menikmati kembali udara segar dan memandang langit yang bintang-bintangnya sudah tak tampak lagi.

Oleh sebagian napi momen ini digunakan pergi ke WC untuk membuang hajat. Barangkali, sejak semalam ia menahan diri, untuk tidak buang hajat di dalam kamar sel. Di dalam sel tidak tersedia kakus.

Buang hajat malam hari di kamar sel sama saja menyengsarakan teman satu sel. Apalagi kalau hari itu makannya pete atau jengkol. Aroma tak sedap akan berputar-putar di dalam sel.

Tiba-tiba terdengar teriakan, lebih menyerupai lolongan orang kesakitan. Suaranya terdengar ke seluruh penjuru blok. Suaranya begitu menyayat hati.

Para napi berhamburan keluar sel menuju sumber suara. Ternyata, teriakan itu ada di kamar 5. Aku yang baru saja terbangun dan belum sadar sepenuhnya, menduga ada napi yang dibunuh, karena setelah berteriak tak ada suaranya lagi.

Para napi terkejut ketika menemukan Rudi berendam di bak mandi. Ia diam saja sambil menahan rasa sakit. Kami menduga dia disiram air panas.

Benar juga dugaanku, vaste yang baru datang mengatakan kalau si Badru (bukan nama sebenarnya) telah menyerahkan diri di pos jaga. Dia sengaja menyiram air panas ke tubuh Rudi tak lama setelah pintu dibuka. Saat itu Rudi masih tertidur pulas.

LP CipinangLP Cipinanag tahun 1990-an (Foto: Dok. Petrus Hariyanto)

Lantas beberapa napi mengomel karena si Badru dianggap pengecut. Menyerang lawan saat tidur lelap dan tak berdaya.

Napi lainnya juga bercerita kalau sepanjang jalan menuju sel isolasi tongkat listrik berkali-kali mendarat di tubuhnya. Sel isolasi itu ibarat penjara dalam penjara. Napi yang sudah dipenjara bila melanggar akan dimasukkan ke sel isolasi agar jera.

Si Badru menjerit kesakitan dan meminta ampun. Kebetulan yang membawa Pak Sidiq, terkenal sebagai sipir yang ringan tangan kepada napi bandel.

"Masih mending dia menyerahkan diri ke Vaste, kalau tidak nyawanya melayang di tangan adiknya Rudi," ujar Hasan Gaok, salah satu napi penghuni blok 3E.

Dalam blok kami memang ada napi kakak beradik. Rudi dan adiknya dipenjara dalam satu blok. Adik Rudi lebih jagoan. Bahkan, si Badru sebenarnya dendam kepada adik Rudi yang selalu menindasnya. Dia membalas dendam kepada kakaknya.

Baca juga: Saat Pertama Masuk LP Cipinang

Kedua napi kakak beradik ini kasus pembunuhan. Perkelahian yang membuat lawan-lawannya melayang nyawanya. Bahkan, ini kedua kali Rudi masuk penjara. Tubuhnya penuh tato. Di blok sebenarnya dia termasuk napi yang tidak rese. Selain pendiam, dia mempunyai penghasilan di penjara karena mempunyai keahlian. Tak ada alasan bagi dia memeras napi lain agar dapat bertahan hidup di penjara.

Teringat kejadian kemarin, ada satu napi kabur lewat modus berobat keluar penjara. Idenya sangat kreatif.

Lantas, kami ramai-ramai membawa Rudi ke rumah sakit yang ada di dalam LP Cipinang. Tak ada tandu, terpaksa ia jalan kaki. Kalau digotong kuatir kulitnya terkelupas karena baru saja tersiram air panas.

Sebenarnya, rumah sakit terletak di belakang sel. Tetapi, terpisah oleh tembok tinggi, untuk kesananya jadi memutar. Harus melewati pos jaga utama, ruang bezukan, Kantor KPLP, bloknya Xanana, dan Vihara. Mungkin jarak tempuhnya sekitar 400 meter.

Setibanya di rumah sakit, Rudi langsung ditangani Tamping Rumah Sakit (napi), bukan perawat atau tenaga medis.

Juga tidak ada semacam UGD (unit gawat darurat). Hanya ada dua ruangan di depan. Satu tempat menyimpan obat, semacam apotik, satunya lagi seperti kamar periksa. Sangat sederhana, tidak bisa disebut ruang poli.

"Maaf, dokter dan mantri belum datang jam begini. Bawa masuk saja ke ruang inap," ujar tamping rumah sakit yang tangannya penuh tato.

Rupanya, di belakang ada ruang lebih besar daripada yang di depan. Ukurannya sebesar aula. Jendelanya besar-besar dan atap ruangan tinggi, khas bangunan peninggalan Belanda. Tempat tidur untuk napi opname berjejer dua sap. Kuhitung masing-masing ada sepuluh tempat tidur.

Hanya menyisakan sedikit tenpat tidur yang kosong. Rudi langsung ditempatkan di salah satunya. Sang tamping lalu meminta Rudi membuka baju dan celananya. Setelahnya, sekujur tubuh Rudi diolesi pasta gigi merk Pepsodent. Katanya, itu pertolongan pertama jika orang terbakar.

Rudi hanya bisa pasrah sambil menahan sakit. Wajahnya yang biasanya sangar kini berubah memelas.

Tak lama kemudian, kami semua balik lagi ke blok. Rudi kami titipkan kepada tamping rumah sakit agar dirawat dengan sebaik-baiknya.

Selama perjalanan pulang aku ngomel karena fasilitas rumah sakitnya begitu memprihatinkan.

"Kalian tahu nggak kalau luka bacok atau tusukan benda tajam bagaimana cara mereka menjahitnya? Sang mantri akan menjahit di ruang terbuka tanpa membius si pasien," ujar Gaok. 

"Biasanya si pasien akan kena marah karena bandel dan suka berkelahi. Seperti kemarin, seorang napi hidungnya sobek karena ada asesori berbentuk cincin di hidungnya dicabut paksa oleh lawannya. Menjahitnya asal-asalan sehingga hidungnya terlihat mencong," kata Gaok sambil tertawa ngakak.

Ada lagi yang bercerita, dokternya kalau memeriksa kata-katanya kasar. Katanya, yang mau periksa antrinya bisa panjang sekali. Satu orang mungkin hanya diperiksa satu menit sambil bertanya dengan kalimat kasar. Lalu sang dokter menuliskan jenis obat di secarik kertas, buku tulis yang dipotong menjadi enam bagian.

LP CipinangBeberapa napi politik, termasuk anggota PRD saat santai di taman depan sel di LP Cipinang, Jakarta. (Foto: Dok. Petrus Hariyanto)

Ketika kertas diserahkan ke bagian obat, sang napi hanya mendapat lima butir obat warna kuning.

Baca juga: Hari Kedua di LP Cipinang, Seharian Kami Tak Makan

"Sakitnya apapun obatnya cuma satu. Mereka diberi CTM agar bisa tidur nyenyak di sel," ujar Selamet yang pernah sekali berobat di rumah sakit tersebut.

Sungguh miris mendengar cerita mereka. Seandainya ada napi sakit keras, aku yakin rumah sakit tersebut tak mampu menanganinya. Berobat keluar penjara biasanya hanya bisa dilakukan oleh napi-napi kaya. Yang miskin seperti menunggu ajal tiba. Ataupun kalau dibawa keluar penjara, biasanya sudah tak tertolong.

"Izin berobat keluar LP harus pakai duit. Belum lagi bayar pengawal dari dalam, termasuk sopir mobil. Harus dikawal polisi, dan mereka juga harus dijatah. Dan yang paling mahal biaya rumah sakitnya," jelas Andi, sang Voorman blok 3E.

"Kalau mau gratis ke Rumah Sakit Bhayangkara (milik Polri) di Kramatjati. Waktu ditembak kakiku, mereka membawa aku ke sana. Aku dimasukan ke sebuah bangsal yang isinya napi semua, rata-rata dengan luka tembak. Bangsalnya bau amis, banyak nanah kering tercecer di tembok. Jorok sekali," katanya.

Melarikan Diri dari Penjara

Banyak cara napi melarikan diri dari penjara. Membobol tembok atau menggergaji pintu besi, lalu melompat tembok keluar dari penjara. Cara ini sangat sulit sekali. Kalaupun bisa membobol tembok kamar sel, napi yang akan kabur masih menghadapi beberapa lapis penjagaan.

Ada cara lain, yakni menyamar menjadi pengunjung. Ketika ada besukan sang napi pura-pura menjadi pengunjung yang akan keluar LP. Ini juga sulit sekali, tetapi ada yang pernah berhasil. Yang paling mudah dengan modus pura-pura berobat keluar penjara.

Teringat kejadian kemarin, ada satu napi kabur lewat modus berobat keluar penjara. Idenya sangat kreatif. Sang napi bernama Agung, berasal dari Bali. Agar dokter merokomendasi dia berobat keluar, ia melakukan penipuan. Caranya, ia meminum broklax, obat pelancar BAB (buang air besar). Entah berapa banyak yang diminum sampai berkali-kali ia ke WC.

"Wah payah ini, aku terkena diare," ujarnya ke aku saat bertemu di ruang buang hajat masal di blok 3E.

Lantas, kulihat dia dibawa ke rumah sakit oleh teman-temannya sekamar sesama orang Bali juga.

Walau sudah diobati, BAB -nya terus terjadi tanpa henti. Masih bolak-balik ke WC. Wajahnya menjadi pucat dan tubuhnya mulai lemas. Kedatangan kedua ke rumah sakit, Agung mendapat rekomendasi dari dokter untuk dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kramatjati.

Sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit milik Polri tersebut. Ketika pulang, ia meminta mampir ke rumahnya untuk menengok istrinya. Katanya cuma minta waktu sebentar. Sudah bukan rahasia lagi, modus ke rumah sakit pulangnya bertemu keluarga sebelum masuk LP. Tentunya dengan menyogok sipir yang menjaganya.

Sang sipir dan mantri mengiyakan permintaan Agung. Dibawanya Agung ke rumahnya sebelum masuk ke penjara. Sang sipir dan mantri dipersilahkan menunggu di ruang tamu, ia sendiri mau menemui istri di kamar. Para pegawai LP tersebut sudah paham kalau Agung akan menyetubuhi istrinya, yang sudah beberapa bulan ini tidak dijamahnya.

Hampir satu jam Agung tidak keluar. Lantas dua pegawai LP ini mencari Agung ke dalam. Sang istri terlihat ketakutan ketika ditanya keberadaan Agung. Ternyata, ada pintu keluar di belakang rumah. Kedua pegawai LP Cipinang tersebut langsung pucat dan ketakutan karena napi kawalannya melarikan diri.

Cerita Agung melarikan diri ini terungkap setelah teman-teman sekamarnya yang semuanya orang Bali, bercerita kepada kami semua.

"Agung juga menipu kami semua. Nama sebenarnya bukan Agung, ngaku-ngaku kasta tertinggi. Kami semua selama ini harus melayaninya karena kasta kami di bawahnya. Kami baru kenal di blok ini," ujar Nyoman kepada kami semua yang saat itu sedang berkumpul di taman.

Kaburnya Sang Koruptor Kakap

Bulan Mei 1996, beberapa bulan sebelum "Kerusuhan 27 Juli" meletus, publik digegerkan dengan berita larinya Eddy Tanzil dari LP Cipinang. Berhari-hari semua media menjadikannya berita utama.

Ketika menyampaikan berita itu di hadapan awak media, wajah Menteri Kehakiman Oetojo Oesman tegang. Bagaimana tidak tegang karena yang kabur adalah napi mega korupsi sebesar Rp 1,5 triliun. Dari segi jumlah sangat fantastis sekali.

Untuk napol ada program resmi istri boleh mengunjungi suami di penjara untuk melepas hasrat kebutuhan seks.

Beberapa media berhasil menemukan data kronologi larinya koruptor kelas kakap tersebut. Modusnya lagi-lagi keluar penjara untuk berobat. Setelah mendapat rekomendasi dari dr. Ilham, dokter rumah sakit di LP Cipinang, sang napi meminta salah satu sipir penjara untuk mengantarkan keluar penjara.

Kejadiannya Sabtu, 4 Mei 1996. Jadwal berobat hari Senin tanggal 6 Mei di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta Barat.

Sudah bukan rahasia lagi bagi penghuni LP Cipinang kalau napi kaya tersebut selama ini keluar masuk penjara dengan bebas. Uang dan koneksi di pemerintahanlah yang menyebabkan dia bisa memperoleh pelayanan seperti itu.

Baca juga: Disiksa Dulu Sebelum Masuk ke LP Cipinang

Kata Fauzi Isman, napol (narapidana politik) "Kasus Lampung", banyak keistimewaan yang didapat Eddy Tanzil.

"Kamar selnya di Blok 3G (bekas kamar sel H.R. Darsono), hanya satu bangunan, terpisah dari kamar sel napi lainnya. Berada persis di depan rumah sakit. Atap rumahnya berbentuk joglo, lebih tepat disebut bungalow," kata Fauzi.

"Selama 24 jam sel kamarnya tidak dikunci. Ia bebas menggunakan telepon genggam untuk berhubungan dengan dunia luar," ungkap napol lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Statitika ini.

Perlakuan istimewa itu diperoleh tentu dengan cara menyogok pegawai LP. Eddy Tanzil diganjar hukuman 20 Tahun karena "membobol" Bank Bapindo.

Pada tahun 1991, ia mendapatkan kredit dari Bapindo berkat kedekatannya dengan Sudomo, Menkopolkam dan Menteri Keuangan J.B. Sumarlin. Berkongsi dengan Tommy Soeharto, kredit yang diperoleh dari Bank Bapindo dipakai membangun pabrik petrokimia PT Hamparan Rejeki, anak perusahaan PT Golden Key Group. Cuma akal-akalan karena duitnya masuk ke kantong pribadi.

"Eddy Tanzil kabur dari Cipinang kita semua terkena imbasnya. Sekarang, semua aturan di penjara diterapkan dengan ketat. Aku sudah tidak bisa meniduri istriku lagi di dalam penjara. Kalau Eddy Tanzil tertangkap, akan kami cincang ramai-ramai," ujar Harnoko Dewantoro atau Oki, terdakwa kasus pembunuh sadis tiga orang di Los Angeles.

Oki mengatakan hal itu kepadaku saat berkunjung ke selku. Cerita darinya membuat aku tahu jika tahun-tahun sebelumnya merupakan puncak kebebasan di dalam LP Cipinang. Untuk napol ada program resmi istri boleh mengunjungi suami di penjara untuk melepas hasrat kebutuhan seks. Sementara napi umum, setiap malam, walau ilegal ada aktivitas semacam itu juga.

Katanya pula, pintu sel setiap malam juga tidak digembok. Bebas keluar kamar sebatas lingkungan blok. Beberapa napi berjualan indomie dan kopi, jadi tempat favorit nongkrong di malam hari.

"Aku sekarang punya anak ya buatnya di penjara. LP Cipinang ini udah jadi surganya penjara," ujar Oki, yang sedang menanti vonis yang diperkirakan dengan hukuman mati ini.

Terang saja semua napi marah karena kenikmatan mereka dirampas oleh "minggat"-nya Eddy Tanzil dari penjara.

Eddy TanzilEddy Tanzil (Foto: Istimewa)

Sejak saat itu semua berubah menjadi ketat. Termasuk berobat ke rumah sakit tidak sebebas sebelumnya. Berobat ke rumah sakit dicurigai sebagai modus agar sang napi bisa pulang ke rumah mereka, menikmati kebebasan sementara.

Tapi tidak dengan Eddy Tanzil, sampai hari ini dia sedang bahagia dengan kebebasannya. Entah di mana kini dia berada, seperti tertelan hutan belantara, tak ada yang tahu di mana kini dia berada. []

*Petrus Hariyanto, Mantan Sekjen PRD
Bagian 9 dari cerita berseri "Kisah-kisah di Balik Jeruji Besi"

Berita terkait
Di LP Cipinang, Dia Mengaku Membunuh Mayjen MT Haryono
Pengakuan seorang anggota Pasukan Cakrabirawa yang membunuh Mayjen TNI M.T Haryono di malam 30 September 1965.
LP Cipinang, Kisah Saat Dibesuk, Kopi Campur Autan, dan Kebutuhan Seks
Kisah Petrus Hariyanto, mantan Sekjen PRD, ketika mendekam di LP Cipinang sebagai tahanan Orde Baru karena dituding makar.
Hari Ketiga di LP Cipinang dan Cerita Pembantaian Talangsari
Hari ini hari ketiga aku mendekam di penjara Cipinang. Aku sudah berani keluar dari sel. Sudah mulai bersapa dengan sesama napi.
0
Mayat Warga Solok Tersangkut di Pintu Embung
Jasad lelaki ditemukan tewas tersangkut di pintu air Embung Nagari Panyakalan, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.