Perjumpaanku dengan Si Bung Arief Budiman

Jumpa pertama dengan Bung Arief Budiman sebelum aku menjadi mahasiswa dan terlibat dalam gerakan. Ketika perpisahan lulusan SMAN 1 Salatiga, 1988.
Arief Budiman atau Soe Hok Djin. (Foto: Instagram/@gendovara)

Oleh: Petrus Hariyanto*

Jumpa pertama dengan Bung Arief Budiman sebelum aku menjadi mahasiswa dan terlibat dalam gerakan. Ketika perpisahan lulusan SMAN 1 Salatiga tahun 1988, aku pertama jumpa Bung Arief. Kebetulan anak perempuannya bernama Santi, satu kelas dengan aku, dan tempat acara digelar di rumahnya. Sebuah rumah yang menurutku beda dengan lainnya, sangat eksotis hasil rancangan Romo Mangun Wijaya.

Kesanku, orangnya ramah, didaulat memberi sambutan ia lakukan dengan semangat. Kami yang masih SMA ini sangat terkesan atas sambutannya. Walau beliau tokoh intelektual terkenal tapi mau memberi sambutan untuk acara kami yang mungkin baginya tidak penting.

Aku sudah mengaguminya sejak kelas satu SMA karena sering membaca pernyataannya di media massa (kalau tulisannya belum mampu). Kebetulan berita yang berbau menentang pemerintah paling aku sukai walau pemahamanku masih terbatas. Tokoh-tokohnya terbatas, bisa dihitung dengan jari.

Bung Arief Budiman salah satu intelektual yang bersedia menjadi saksi ahli bagiku. Saat itu (1996/1997) diriku didakwa dengan UU Subversi, ingin menggulingkan pemerintahan yang sah.

Si Bung datang di sidang tersebut. Di muka hakim dan para jaksa, Arief Budiman mengatakan dirinya mengkritik jaksa menggunakan UU Subversi untuk menjerat saya dan aktivis PRD lainnya.

“UU Subversi adalah peninggalan Orla. UU itu melanggar HAM, salah satu pasalnya memperbolehkan aparat menahan seseorang tanpa proses pengadilan,” kritiknya.

Si Bung juga membela aktivitas politik kami. Dia sampaikan bahwa negara demokratis harus ada oposisi dan kebebasan berpendapat.

“Saya selalu mengkritik pemerintah yang sering melontarkan stigma PKI kepada rakyat yang kritis terhadap penguasa,” ujarnya dengan tenang di hadapan pengunjung sidang yang mayoritas intel.

Walau beliau tokoh intelektual terkenal tapi mau memberi sambutan untuk acara kami yang mungkin baginya tidak penting.

Arief Budiman atau Soe Hok DjinArief Budiman atau Soe Hok Djin. (Foto: Instagram/@gwhydi)

Bagi kami saat itu, Arief Budiman, Gus Dur, Romo Mangun, Romo Magnis adalah figur-figur yang berani membela kami. Mereka berani melawan rasa takut dan berani menerima konsekuensi yang timbul dari tindakannya membela PRD, yang saat itu sedang mendapat hantaman dari pemerintah dan berbagai elemen masyarakat.

Setiap hari, setelah “Peristiwa 27 Juli” meletus, tak henti-hentinya ormas-ormas dimobilisasi untuk menghujat PRD sebagai dalang kerusuhan, dan menancapkan stigma sebagai PKI.

Pembelaan Arief Budiman dan lainnya bagaikan oase di padang gurun. Begitu menyejukkan hati kami tatkala mayoritas orang memusuhi kami.

Masih tergambar jelas deretan intelektual saat itu yang mengecam dan menyudutkan PRD, seperti Amin Raiz, Adi Sasono, Affan Gaffar, Yusril Ihza Mahendra.

Beberapa jam setelah kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro diserbu paksa dan jatuh banyak korban, terjadilah amuk massa. Batu berterbangan ke arah aparat. Saat situasi mencekam itu aku bertemu Arief Budiman yang datang bersama Budiman Sudtjatmiko, tepat di depan Megaria.

Ekspresi wajahnya menggambarkan si Bung marah. Mungkin baginya, hari itu rezim telah melukai hati rakyatnya sendiri. Dari nada khawatir saat berbicara dengan Budiman mendiskusikan situasi di depan matanya, aku menduga si Bung telah menganalisa situasi itu bisa menjadi kerusuhan hebat.

Setelah PRD ditetapkan menjadi dalang kerusuhan, Bung Arief Budiman menyempatkan diri menelepon Danial Indrakusuma, yang saat itu aku di sebelahnya. Si Bung melakukan itu untuk memberi semangat karena ia yakin sebentar lagi PRD akan disapu bersih.

Seorang intelektual yang begitu empati kepada gerakan perlawanan. Lebih dari itu, kalau saya menilai si Bung juga melakukan praksis, dan tetap konsisten.

Arief BudimanKakak Soe Hok Gie, Arief Budiman atau Soe Hok Djin.(Foto: Instagram/grezine.kolektif

Bagi gerakan mahasiswa di Semarang, si Bung adalah guru, sekaligus sahabat dan tempat mengadu persoalan. Di Semarang sama sekali tak ada dosen yang seperti itu. Membuat kami berpaling ke Kota Salatiga, karena di sana ada tiga dosen yang dekat dengan kaum gerakan.

Boro-boro para dosen itu dekat dengan kami dan menyumbangkan ilmu, malah mereka sering mengecam kami sebagai demonstran, mahasiswa yang kurang kerjaan dan buang-buang waktu.

Tak hanya kami yang sowan ke rumah si Bung atau bertemu dan berdiskusi di Yayasan Geni, pernah dirinya datang ke Semarang. Bersama Romo Pujo (Almarhum, mantan Uskup Agung Semarang) ia menggelar nonton bareng dan diskusi. Tentunya secara klandestin, karena materinya film dokumenternya tentang “Peristiwa Penembakan Di Santa Cruz”.

Nonton dan diskusi tersebut telah membuka mataku bahwa ada persoalan yang serius di provinsi ke-27 itu. Ada persoalan pelanggaran HAM dan pemaksaan berintegrasinya bangsa Timor Leste ke pangkuan RI. Saat itu menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan rakyat secara terbuka.

Pernah suatu kejadian, malam-malam para mahasiswa Semarang datang ke rumahnya. Kami diterima dengan hangat. Si Bung dengan sabar mendengar cerita bahwa dua kawan kami ditangkap saat melakukan aksi teaterikal yang bersimbol ajakan golput (20 Mei 1992). Polisi merangsek ke kampus Fakultas Sastra Undip, dan menangkap beberapa mahasiswa.

Si bung justru memberi semangat agar kami tetap membela temannya. “Saya pikir bisa menggalang dukungan dari gerakan mahasiswa berbagai kota,” sarannya.

Sebagai mahasiswa kami merasa ada yang membela. Awalnya kami merasa sendirian. Setelah peristiwa penangkapan tersebut membuat kampus Undip tiarap. Represi dari aparat dan Menwa semakin meningkat.

Tak hanya berguru melalui diskusi, kami sering menjadikan buku-buku karyanya referensi bagi kami dalam mengkritisi kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintahan Soeharto. Bukunya tentang Jalan Demokrasi Menuju Sosialisme begitu enak dibaca dan mudah dicerna. Entah berapa kali aku membacanya sampai halamannya banyak yang lepas.

Sulit mencari intelektual seperti Bung Arief Budiman saat itu. Pemberani, ramah, egaliter, dekat dengan gerakan mahasiswa. Saya menduga, hampir semua kelompok gerakan mahasiswa yang beroposisi kepada orba pernah bertemu, bahkan dekat dengannya.

Itulah salah satu sumbangan besar seorang Arief Budiman kepada tanah airnya Indonesia. Jasanya begitu besar bagi proses politik menuju Indonesia yang demokratis.

*Mantan Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik

Baca juga:

Berita terkait
Petrus Hariyanto: Walau BJ Habibie Tidak Bebaskanku...
Eks Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD) Petrus Hariyanto turut berduka dengan meninggalnya Presiden ketiga RI BJ Habibie.
Wawancara Eksklusif Adian Napitupulu
Wawancara eksklusif Tagar dengan Adian Napitupulu di rumah dinasnya di kompleks DPR RI Kalibata, dari A sampai Z tentang berbagai isu terkini.
Wawancara Eksklusif Budiman Sudjatmiko
Bincang-bincang Tagar bersama Budiman Sudjatmiko tentang Inovator 4.0 Indonesia, berbagai isu terkini, kiprahnya di politik, dan kehidupan pribadi.
0
Sempat Diterpa Badai Seroja, Mensos Targetkan Pemulihan NTT Juni 2021
Menteri Sosial Tri Rismaharini, menargetkan dana bantuan sosial untuk pemulihan NTT yang terkena Badai Seroja dapat disalurkan Juni ini.