Penulis: Petrus Hariyanto*

Setiap hampir tiba di Stasiun Jatinegara, aku selalu terbangun. Kereta api yang aku naiki dari Jawa Tengah biasanya berjalan lambat di sekitar LP (Lembaga Pemasyarakatan) Cipinang. Seperti terhipnotis, aku selalu memandangi penjara dengan bangunan tua tersebut. Dalam hati bertanya apakah ini nantinya akan menjadi "tempat tinggalku"? Apakah nantinya aku akan dipenjara di LP Cipinang?

Perasaan seperti itu muncul sekitar tahun 1992, ketika aku sudah menjadi aktivis mahasiswa. Saat itu, dunia yang kugeluti mengandung resiko, salah satunya harus siap dibui.

LP Cipinang di kawasan Jakarta Timur merupakan penjara paling populer di Indonesia. Banyak tokoh politik terkenal yang melawan Rezim Soeharto ditahan di sana. Penjara adalah alat koersif Orde Baru untuk membungkam para penentangnya.

Malam itu di Bulan Desember 1996, sekitar pukul delapan malam, benar-benar aku menginjakkan kaki di penjara tua itu. Aku baru dipindahkan penahanannya dari Rutan Salemba Cabang Kejagung (Kejaksaan Agung). Sejak bulan Agustus aku ditahan di sana, disidik sebagai tersangka kasus subversi (salah satunya dituduh ingin menggulingkan pemerintahan yang sah).

Setelah kerusuhan 27 Juli 1996 di sekitar Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, pemerintah mengumumkam PRD (Partai Rakyat Demokratik) sebagai dalang kerusuhan itu. Aku, semua pengurus dan anggota diburu. Beberapa tertangkap dan disiksa.

Petrus HariyantoPetrus Hariyanto (nomor dua kiri), Budiman Sudjatmiko (nomor tiga kiri) bersama aktivis PRD saat ditahan di LP Cipinang. Mereka juga berfoto bersama bendera PRD. (Foto: Petrus Hariyanto)

Sedangkan aku (sekjen), Budiman Soetjatmiko (ketua umum) dan beberapa pengurus ditahan di Kejagung dan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, untuk dilakukan penyidikan sebagai tersangka.

Sebelumnya, sempat diculik dan disekap selama seminggu di Markas BIA (Badan Intelijen ABRI), di daerah Pejaten.

Pertama-tama kami masuk Ke LP Cipinang harus melewati pintu gerbang utama yang pintunya selalu tertutup. Kemudian, aku, Victor da Costa, Putut Ariontoko, Ken Buda Kusumandaru, dan Mochtar Pakpahan ditahan sebentar di sebuah ruangan. Terjadi serah terima tahanan dari pihak kejaksaan kepada sipir LP Cipinang.

Kami semua diambil sidik jarinya. Barang-barang yang kami bawa diperiksa dengan teliti.

Setelah selesai, kami dibawa masuk melewati pintu gerbang utama dalam, yang juga selalu tertutup. Setelah beberapa langkah belok ke kiri terlihat pos jaga utama. Ada beberapa sipir penjara dengan seragam coklat menyapa kami.

Pandangan mataku kuarahkan sekeliling areal itu. Tak terlihat wajah napi di balik jeruji besi. Dalam hati bertanya di mana mereka ditahan?

Aku hanya menyaksikan areal yang kulewati dikelilingi tembok tinggi bercat putih. Setiap sudutnya ada pos jaga di atas tembok, dengan sipir yang mengarahkan lampu jarak jauh ke segala arah. Aku menyebutnya pos monyet

Lalu kami mengikuti langkah sipir penjara menuju ke sebuah tempat melewati jalan beraspal lumayan lebar. Setelah berjalan kira-kira dua ratus meter, kami melewati pintu gerbang berjeruji . Ketika sudah masuk ke dalamnya aku melihat sebuah gedung mirip aula. Belok kiri berapa meter kami memasuki areal sepertinya sebuah blok penjara. Terlihat ruangan sel berderet memanjang. Kuhitung sekitar 15 kamar sel.

Kamar 4

Kedatangan kami disambut ramah oleh sipir bernama Pak Ery. Orangnya berkumis, masih muda. Rasanya, wajah gantengnya membuat dia "tidak layak" menjadi sipir penjara.

"Nanti akan ada dua kamar sel yang bapak-bapak tempati. Silahkan dibawa masuk dulu barang-barangnya," ujarnya dengan ramah.

Aku, Ken Budha, Putut ditempatkan di kamar 4, sementara Pak Mochtar dan Victor di kamar 5. Dua orang napi yang ternyata pemuka blok membantu mengangkat barang kami yang sebenarnya tidak banyak.

Ruang sel kuperkirakan berukuran 2,5 x 3 m. Paling dalam kamar tidur, sementara yang depan ruang untuk duduk santai. Ada tempat duduk dan meja yang terbuat dari beton semen. Sementara kamar mandi terletak paling depan sebelah kiri pintu besi. Kamar mandi hanya dipagari tembok setinggi dada. Yang ada dalam kamar mandi akan terlihat bagian dada sampai kepala.

Yang membuatku tidak nyaman sel itu begitu kumuh. Lantainya banyak yang berwarna hitam serta semennya telah terkelupas sana-sini. Temboknya begitu kusam, seperti bertahun-tahun tidak pernah tersentuh cat tembok. Terlihat pula beberapa kaki seribu berkeliaran dalam sel itu.

Angin dari luar dengan bebasnya menghamtam masuk ruangan. Pintu dan jendela terbuat dari jeruji besi, dan tidak boleh ditutup. Kami yang di dalam harus terlihat dari luar. Katanya untuk memudahkan sipir mengawasi penghuni Lapas.

Yang paling menyiksa bagiku nyamuk begitu banyak. Tubuhku sangat sensitif digigit nyamuk. Semakin tersiksa karena katanya tidak boleh membawa autan ke dalam sel. Para Napi sering memakai autan dicampur kopi untuk mabuk.

Setelah beramah tamah dengan sipir piket malam ini dan pemuka blok, kami lantas masuk kembali ke kamar. Dari luar sipir menggembok pintu sel.

Kami bertiga hanya saling menggeleng kepala. Sedari siang belum makan. Tak ada makanan. Hanya air mineral dalam botol yang dibawa. Mau tidur juga bingung karena tak ada kasur atau tikar. Terpaksa beralas seadanya. Tas sementara kami jadikan bantal.

Sampai pukul 12 malam mataku belum terpejam. Sulit tidur di tempat baru. Suasana begitu hening. Terdengar jelas bunyi sirine palang pintu kereta api. Tak lama kemudian menyusul gemuruh suara kereta. Pasti kereta yang mau masuk ke Stasiun Jatinegara karena terdengar jalannya lambat.

Dalam lamunanku, entah berapa lama akan mampu naik lagi kendaraan besi itu? Entah berapa lama aku meringkuk di penjara ini, karena proses pengadilan kami belum dimulai.

Dan mulai malam ini aku akan selalu mendengar kereta lewat dan bunyi sirine palang pintu. Hidup di balik jeruji besi. (bersambung) []

*Petrus Hariyanto, Mantan Sekjen PRD

*Bagian 1 dari cerita berseri "Kisah-kisah di Balik Jeruji Besi"