UNTUK INDONESIA
Optimis Legalkan Ganja Kurangi Kemiskinan di Aceh
Jika ganja di Aceh mampu dimanfaatkan dengan baik Profesor Musri Musman optimis ganja bisa mengentaskan kemiskinan
Seorang jurnalis sedang melewati ladang Ganja di Kawasan Aceh Besar, Aceh. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Banda Aceh - Peneliti ganja sekaligus Guru Besar di Univeristas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Aceh, Profesor Musri Musman optimis apabila ganja dilegalkan dan dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat maka bisa mengentaskan kemiskinan di Tanah Rencong.

“Bila setiap penduduk memiliki kesempatan untuk bisa diberi misalnya sekian satu hektare untuk menanam, dan ada regulasi-regulasi yang mengatur itu, saya sangat berkeyakinan wilayah Aceh dan penduduknya ini tidak perlu disubsidi oleh negara. Mereka dapat membiayai diri dan justru menyumbang ke daerah-daerah lain,” kata Musri kepada wartawan usai menjadi pemateri dalam diskusi “Potensi Industri Ganja Aceh, Strategi Pengentasan Kemiskinan” di Kamp Biawak, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Jumat, 31 Januari 2020.

Musri menjelaskan, upaya dalam mengentaskan kemiskinan dengan memanfaatkan tanaman ganja harus dilakukan dengan serius. Artinya, masyarakat dari kalangan bawah harus dilibatkan dalam mengelola hasil dari komoditas ganja tersebut.

“Kita mengharapkan pemerintah memberi kesempatan kepada masyarakat, jangan banyak-banyak, lima tahun ini saja beri kesempatan (untuk menanam ganja), kalau kita gagal berarti tidak mampu menangani potensi kita sendiri,” ujar Musri.

Menurut dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsyiah ini, tanaman ganja sebenarnya memiliki kegunaan yang cukup besar, salah satunya yaitu untuk minyak yang bisa dimanfaatkan untuk dunia medis.

“InsyaAllah kemudian mereka (masyarakat) dapat menyuling sendiri dengan menggunakan ketel sederhana akan keluar minyak, minyak inilah yang berharga, 10 mili liter itu harganya 60 USD,” ujar Musri.

Selain untuk medis, ganja juga bisa dimanfaatkan untuk makanan, pakaian, bahan bangunan, kertas dan lain-lain. Oleh karena itu, sudah saatnya tanaman tersebut dilegalkan.

Beri kesempatan kepada masyarakat, jangan banyak-banyak, lima tahun ini saja beri kesempatan (untuk menanam ganja), kalau kita gagal berarti tidak mampu menangani potensi kita sendiri.

Peneliti Ganja di AcehPeneliti ganja sekaligus Guru Besar Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Profesor Musri Musman saat diwawancarai wartawan usai menjadi pemateri dalam sebuah diskusi di Banda Aceh, Aceh, Jumat, 31 Januari 2020 sore. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

“Selain kesehatan, itu semua untuk makanan, pakaian, bahan bangunan, kertas, itu dapat dipenuhi oleh ganja, karena seratnya akarnya, kayunya, bunganya itu semua dapat digunakan, kosmetik juga dapat digunakan,” ujarnya.

Dengan demikian, maka diyakini angka kemiskinan di provinsi paling barat Pulau Sumatera itu bisa diturunkan. Seperti diketahui, berdasarkan data yang dirilis BPS Aceh pada 2019, jumlah penduduk Aceh yang masih berada di bawah kemiskinan mencapai 15,01 persen atau 810 ribu orang. Kenyataan itu menjadikan Tanah Rencong sebagai provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Sumatera

“Syarat untuk menurunkan angka kemiskinan yaitu utamakan keterlibatan bersama, jangan ada monopoli-monopoli, masyarakat harus dilibatkan dan masyarakat memiliki kesempatan untuk itu,” kata Musri. []

Baca Juga: 

Berita terkait
Pemko Banda Aceh Sementara Waktu Tata Masjid Oman
Wakil Wali Kota Banda Aceh, H Zainal Arifin membantah bahwa Pemko akan mengambil alih kepemilikan Masjid Agung Al-Makmur atau Masjid Oman.
Tidak Ada Warga Aceh di China Selain Mahasiswa
Sejauh ini tidak ada warga Aceh di China selain mahasiswa.
Aceh dan UEA Bakal Ketemu Investasi Rp 42 Triliun
Pemerintah Aceh menargetkan dana investasi dari Uni Emirat Arab sebesar US$3 miliar atau sekitar Rp 42 triliun.
0
Polisi Usut Aksi Penyerangan Wanita di Deli Serdang
Lamria boru Manullang, warga Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, resmi membuat pengaduan ke kepolisian.