Novel Bagian Dua : Kebas

Kantor majalah online Investigasi di Bandung itu berbentuk ruangan terbuka dengan meja-meja dibatasi sekat pendek --- Novel Kebas bagian dua.
Ilustrasi Novel Kebas Bagian 2. (Foto: Tagar/Pexels/Anthony Macajone)

Kebas

Ditulis oleh Siti Afifiyah*


"Jangan menganggap diamnya seseorang sebagai sikap sombongnya. Bisa jadi dia sedang sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri." – Ali bin Abi Thalib


*Genre: crime, thriller, mystery


Satu | Dua | Tiga | Empat | Lima | Enam | Tujuh | Delapan | Sembilan


DUA

Kantor majalah online Investigasi di Bandung itu berbentuk ruangan terbuka dengan meja-meja dibatasi sekat pendek. Masih pagi. Masih sepi. Hanya ada beberapa orang di dalamnya.

Duduk di posisi bagian tengah, Alya Yahya menggerakkan kursor di layar laptopnya. Terbaca judul berita, 'Cici Widjati Diduga dengan Dingin Membunuh Suami di Depan Dua Anaknya'.

Perempuan berusia kepala tiga dengan rambut hitam sebahu, dengan wajah perpaduan Aceh dan Arab itu menggerakkan kursor lagi. Membaca judul berita lain, 'Cici Widjati Diduga Bunuh Suami, Terancam Hukuman Mati'.

"Ada yang menarik?" suara terdengar di belakang punggung Alya. Suara Marta, wartawan senior berambut keriting, bertubuh agak besar, yang sering mendukungnya. 

"Yap, mungkin," Alya terus membuka-buka berita tentang Cici Widjati di berbagai situs surat kabar online.   

Marta turut membaca berita yang sedang dibaca Alya, "Dia mengatakan kepada penyidik, tidak mendengar suara apa-apa. Sleepwalking? Membunuh suami saat sedang berada di bawah alam sadar, sambil tidur berjalan?"

Sleepwalking, kebiasaan tidur sambil berjalan. Sindrom, perilaku menyimpang yang dilakukan ketika tidur. Orang yang mempunyai kebiasaan sleepwalking, sering kali bangun di tengah tidur. Dan kemudian berjalan-jalan dalam keadaan berada di bawah alam sadar.

Alya menoleh kepada Marta, "Kebencian macam apa hingga ia sanggup membunuh suami."

"Mm. Kita tidak tahu apa yang terjadi dalam keluarga itu. Bagaimana kalau anaknya yang membunuh ayahnya dan Cici berusaha menutupi?" Marta berspekulasi. 

Alya tambah bersemangat, "Aku harus ke Jakarta. Harus bertemu Cici Widjati. Ini kesempatanku."

Marta tersenyum penuh makna. Alya tahu apa maksudnya. Enam bulan belakangan ia dikasih tugas tidak penting oleh Denny Satria, redaktur pelaksananya. Tugas membuat daftar harga harian tujuh kebutuhan bahan pokok. 

Sesuatu yang bukan Alya banget. Alya tipikal petualang. Senang melakukan perjalanan reportase ke mana-mana. Membuat tulisan feature story secara mendalam.

Denny melakukan itu karena Alya telah membuat kesalahan. Tulisannya tentang kisah pelecehan seksual anak digugat secara hukum oleh pihak keluarga korban. Membuatnya repot harus bolak-balik ke dewan pers dan kantor polisi. 

Sementara Alya merasa itu bukan hanya dosanya. Denny juga punya dosa. Waktu itu dalam keraguan ia menunjukkan tulisan itu kepada Denny. Denny membacanya dan mendorong tulisan itu di-publish.

Aman. Tidak akan ada masalah. Kata Denny waktu itu. Tapi yang kemudian terjadi, Alya terkenal dengan sebutan wartawan ceroboh. Wartawan yang menghalalkan segala cara demi rating. Jejak digital negatif ini membuat Alya merasa terancam. Tidak bakal bisa diterima bekerja di perusahaan media mana pun.

Alya bangkit dengan wajah beku, menatap lurus ke mata Marta. "Ini kesempatanku memperbaiki nama baik."

Tanpa menunggu komentar Marta, Alya berjalan cepat ke arah kantor Denny di sudut ruangan.

Denny tipikal perfeksionis. Ruang kerjanya rapi. Segala sesuatu tertata di tempatnya. Ia senang memakai pakaian formal dan dasi. Denny menatap curiga kepada Alya yang bersender di dinding depan mejanya. Alya dengan wajah khasnya yang kaku dan tangannya seperti berkeringat, terus saja mengusap ujung blazernya.

"Aku lihat tugasmu belum masuk," tatapan mata Denny ke layar komputer.

Alya menjawab asal-asalan, "Sedang dibuat."

Denny melepas kacamata, "Kamu melewati deadline."

Alya hilang kesabaran. Ia menyodorkan ponsel kepada Denny. Di layar ponsel terpampang wajah Cici Widjati.

"Aku akan menemuinya. Wawancara eksklusif," Alya mendongak penuh percaya diri.

Denny mengembalikan ponsel kepada Alya, "Tidak perlu. Kita ada koresponden di Jakarta."

"Kamu tahu bagaimana kemampuannya," suara Alya terdengar agak sombong.

"Kita tidak ada bujet."

Alya menghela napas, "Aku akan tetap ke Jakarta."

"Selesaikan tugasmu, Alya. Yang lain biar aku yang urus."

"Menulis daftar harga sembako?"

"Ya."

Alya angkat tangan, "Oke. Saya kerjakan." Alya meninggalkan ruangan Denny dengan perasaan kesal.

Ia berjalan cepat ke mejanya. Memasukkan laptop ke dalam tas. Pergi meninggalkan kantor.


***


Duduk di dalam kereta Argo Parahyangan yang sedang melaju, Alya menatap ponsel dengan screensaver foto anaknya, Kayla, yang dua hari lagi genap berusia dua tahun. Kayla yang membuatnya tetap bertahan dalam pernikahan yang tidak bahagia.

Usianya sudah 30 tahun. Dan ia tidak bahagia dengan apa yang dimilikinya. 

Alya tidak pernah cerita kepada siapa pun tentang pernikahannya yang tidak bahagia. Wujudnya seperti apa ketidakbahagiaan itu, ia tidak pernah cerita kepada siapa pun. 

Yang ia tahu, ia melarikan diri dari ketidakbahagiaan itu dengan sesering mungkin pergi ke luar kota untuk reportase. Termasuk sekarang ini. Diam-diam ke Jakarta untuk menemui Cici Widjati. Diam-diam menentang Denny atasannya.

Ponsel di tangan Alya kini berganti foto Cici Widjati bersama dua anaknya. Entah mengapa ia merasa dekat dengan Cici. Ia merasa Cici tidak bahagia dengan pernikahannya. Sama dengan dirinya. 

Alya sebenarnya agak khawatir apakah Cici mau menerima kunjungannya. Ia mendapat informasi Cici tidak mau didampingi pengacara. Cici juga tidak mau menerima wartawan. Alya pada tahap awal ini berencana akan melakukan kunjungan ke Polda Metro, mengaku sebagai temannya atau saudaranya. 

Ia berencana nanti sengaja tidak mengaku wartawan. Karena pasti ribet birokrasi. Pengalaman yang sering dialami Alya.

Walau tidak terlalu religius, Alya berdoa semoga keberuntungan menyertainya.

Laju kereta perlahan melambat dan berhenti. Petugas mengumumkan perjalanan sudah sampai di Stasiun Gambir. Alya berjalan mengikuti aliran penumpang menuju pintu keluar. 

Dengan taksi Alya melaju ke arah Polda Metro Jaya di kawasan Sudirman.

Gedung Polda Metro Jaya menjulang tinggi. Alya berjalan di antara banyak orang di lobi. Tiba-tiba ia mendengar suara seseorang menyebut namanya. Di balik punggungnya. Suaranya pelan, besar, dan dalam. Alya menghentikan langkah. Entah mengapa seketika jantungnya berdegup kencang. Ia seperti sudah sangat mengenal suara itu.

Alya membalik badan dan sekian detik hanya bisa terpaku mendapati seorang berdiri satu meter di depannya. Seorang pria jangkung. Berambut cepak. Dalam balutan jins dan kaos putih berbalut jaket hitam. Seno Aji Perkasa.

Sesaat Alya lupa apa tujuannya datang ke Jakarta. 

Seno menatap lekat ke dalam mata Alya. Ingin rasanya ia memeluk perempuan itu. "Aku sudah mengawasimu dari tadi. Sejak kamu turun dari taksi di depan lobi. Aku langsung tahu kamu Alya Yahya. Perempuan buronanku selama 18 tahun. Kamu calon istriku yang hilang."

Alya tanpa bisa menahan diri, matanya berkaca. Apa yang barusan Seno katakan adalah nyanyian terindah yang pernah ia dengar sepanjang hidup. Alya menggigit bibir untuk menahan jangan sampai air matanya jatuh. 

Seno melihat genangan di mata Alya. Refleks ia mengeluarkan sapu tangan dan mengusapnya perlahan. Alya membiarkannya. 

Delapan belas tahun lalu tepatnya 25 Desember 2004, Alya dan Seno bertemu terakhir kali di Aceh. Keesokan harinya, pagi, gelombang tsunami menghancurkan segalanya. Sejak saat itu Alya dan Seno tidak tahu keberadaan masing-masing. Saling tidak tahu apakah masing-masing masih hidup atau sudah mati. []


(Bersambung)


*Pemimpin Redaksi Tagar.id


Novel Kebas selengkapnya klik DI SINI






Berita terkait
Kisah Kesehatan Mental, Novel The Other Side Diadaptasi Jadi Film
Cerita dari Novel The Other Side sudah banyak menarik rumah produksi untuk mengangkatnya sebagai film layar lebar. Simak ulasannya.
Novelis Abdulrazak Gurnah Pemenang Nobel Sastra 2021
Novelis asal Tanzania, Abdulrazak Gurnah, berhasil meraih Hadiah Nobel Sastra 2021
Film Once Upon a Time in Hollywood, Diadaptasi Jadi Buku Novel
Film yang disutradarai oleh Quentin Tarantino, yakni Once Upon a Time in Hollywood akan diadaptasi menjadi sebuah novel.