Novel Bagian Enam : Kebas

Taman dan bangunan kedai dua lantai bergaya modern minimalis itu jauh dari kesan seram di markas polisi --- Novel Kebas bagian enam.
Ilustrasi Novel Kebas Bagian 6. (Foto: Tagar/Pexels/Tom Fisk)

Kebas

Ditulis oleh Siti Afifiyah*


"Bila kutitipkan geramku pada laut, pastilah laut menggiring gelombang." – Ahmad Mustofa Bisri


*Genre: crime, thriller, mystery


Satu | Dua | Tiga | Empat | Lima | Enam | Tujuh | Delapan | Sembilan


ENAM

Taman dan bangunan kedai dua lantai bergaya modern minimalis itu berada di seberang gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Sudut yang jauh dari kesan seram di markas polisi.

Di sebuah gazebo yang dipayungi pohon rindang, Seno dan Alya duduk berhadapan. Jutaan pertanyaan berlompatan di kepala mereka, tapi tak satu pun kata keluar dari mulut mereka.

Seno menarik napas dan menggeleng samar, "Ay... Ay... Ay...."

Suara itu berirama dan begitu lirih, namun begitu jernih dalam pendengaran Alya. Suara Seno yang membuat Alya jatuh cinta saat pertama kali mendengarnya. 

Mereka menggunakan panggilan sayang 'Ay' sejak menjadi sepasang kekasih ketika sama-sama duduk di bangku sekolah menengah pertama di Aceh. Mereka sama-sama menginginkan suatu hari kelak akan menjadi suami istri. Namun kenyataan tak seindah harapan. Bencana tsunami mengjungkirbalikkan keadaan. Mereka terlempar dalam perjalanan tak masuk akal. 

Seno mengalami koma selama tiga bulan. Dan ketika sadar, ia mendapati dirinya berada di sebuah rumah sakit di Semarang. Ia dirawat keluarga angkat yang mencintainya. Ayah ibu Seno meninggal. Begitu juga dua adiknya. 

Bencana itu juga membuat Alya kehilangan ayah ibunya. Mungkin Alya sedikit beruntung dibanding Seno karena adik perempuannya masih hidup. Alya dan adik perempuannya kemudian dirawat neneknya di Bandung. Adik Alya, Nina namanya, menikah tujuh bulan lalu dan kemudian tinggal bersama suami di Jakarta. 

Saat Alya menggerakkan tangan kanan, Seno sekilas melihat cincin melingkar di jari manisnya. Alya pun sudah memperhatikan Seno dari tadi. Alya tahu sebentuk cincin melingkar di jari yang sama pada Seno.

Tanpa bertanya mereka sama-sama tahu keadaan tak lagi sama. Namun pandangan mata mereka tidak berubah. Perasaan mereka masih sama. Getaran cinta itu masih sama seperti pertama kali mereka berjumpa. 

Seno ingin menyentuh tangan Alya, namun kekuatan lain mencegahnya. "Delapan belas tahun aku mencarimu."

"Kalau kamu sungguh-sungguh mencariku, kamu pasti menemukanku," pandangan Alya melayang.

Seno melihat ponsel Alya di meja bergetar. Sebuah panggilan masuk. Dari Denny Satria. Seno merasa cemburu.

Alya meraih ponsel itu dan bangkit dari duduk, ingin jalan menjauh untuk menerima telepon.

"Di sini saja. Tidak usah pergi," kata Seno seperti memerintah. Dan entah mengapa Alya menurut saja. Alya kembali duduk. 

Alya menempelkan ponsel di telinga, "Aku minta waktu seminggu, Denny. Aku akan buatkan cerita yang bagus."

"Tugasmu membuat daftar harga sembako," terdengar ketus di ujung ponsel.

"Ayolah, Denny. Ini penting buatku. Beri aku kesempatan memperbaiki reputasiku."

Denny melunak. Walaupun tidak pernah mengakui secara terang-terangan, ia menyadari punya salah dalam kasus tulisan Alya tentang pelecehan seks anak yang menjadi masalah hukum itu.

"Oke seminggu. Atau kamu libur selamanya," ucapan Denny ini membuat Alya tersenyum riang. 

Seno suka melihat senyum itu. Senyum yang sudah sangat lama ia rindukan. Senyum yang sering muncul dalam mimpinya.

Alya menutup ponsel, meletakkannya kembali di meja. 

"Denny itu bosmu?"

"Yap. Bosku."

Seno merasa lega. "Jadi kamu ke sini untuk mewawancarai Cici Widjati?"

"Yap. Aku harus berterima kasih pada Cici Widjati. Ia telah mempertemukan kita."

Seno lepas kendali. Ia mengangkat tangannya melewati meja, mengelus pipi Alya. Dan refleks Alya menahan punggung tangan Seno agar tetap melekat di pipinya.

Bibir Alya bergerak tanpa suara. Seno membaca gerak bibir itu, 'I love you.'


***


Seno berdiri di kejauhan. Punggungnya agak menyender pada dinding. Matanya lurus ke depan. Menembus jendela kaca. Memperhatikan Alya yang sedang berbicara dengan Cici Widjati. Rasanya ia tak ingin beranjak pergi. Ingin selalu berada di sekeliling Alya. Melihatnya saja sudah membuatnya bahagia. 

"Cici Widjati tidak boleh menerima wartawan kecuali ada saya," suara Dame John Hutapea yang menggelegar dari ruangan samping merusak kedamaian Seno. 

Dame John muncul dengan tangan menunjuk ke arah Seno. "Saya akan menuntut Anda yang seenaknya saja membiarkan wartawan bertemu klien saya."

"Silakan saja," kata Seno dengan dingin. Seno tidak peduli dengan mulut besar pengacara itu. Pembual. Banyak omong.

Seno berjalan ke kantornya di ujung ruangan. Dame John mengikutinya dengan kesal. Di kantor Seno ini sudah ada Yuri yang sedang berbicara dengan dua anak Cici: Rido dan Lili. 

Rido, anak laki-laki dengan rambut keriting ini seperti cuek. Asyik mendengarkan musik di headseat. Tapi sebenarnya dia sedang sangat tertekan. Trauma melihat ayahnya mati mengenaskan dan ibunya dimasukkan dalam penjara. 

Sementara Lili, anak perempuan dengan rambut kuncir dua, asyik menggambar. Ia duduk di sofa dengan buku gambar di pangkuan dan krayon hitam di tangan.

Yuri berdiri di samping Lili, agak membungkuk, memperhatikan sebentuk gambar seperti wajah laki-laki tapi terlihat samar. 

"Siapa itu?" kata Yuri.

Lili menoleh sekilas, "Orang yang suka mencuri makanan di warung ibu."

Seno mendengarnya. Pikirannya langsung terhubung ke terowongan di bawah lokasi pembunuhan. Mister X. 

Dame John menarik kursi ke dekat Lili, "Bisa kamu gambarkan orangnya seperti apa?"

Lili diam kebingungan. 

"Apa dia yang membunuh ayahmu?"

Wajah Lili berubah menjadi ketakutan. 

Yuri memberi isyarat kepada Dame John untuk mengikutinya mendekati pintu keluar. "Jangan terlalu menekannya. Dia masih anak-anak," Yuri berbisik kepada Dame. 

"Apa yang sudah kamu dapat? Apa kamu sudah dapat petunjuk? Masih berpikir untuk menghukum mati Cici Widjati?"

"Situasi ini berbeda. Tolong jangan sinis. Aku rasa kamu setuju di sini kita sama-sama mencari kebenaran. Semangatnya bukan untuk menghukum mati Cici Widjati. Dan anak-anak itu masih trauma. Masih sulit diajak bicara. Perlu waktu. Kupikir sebaiknya kita pakai bantuan psikolog."

Dame John dengan wajah angkuh mendekati Seno, "Baiknya segera kau temukan pembunuhnya. Atau kutuntut kau telah salah tangkap orang. Bebaskan ibu itu biar bisa pulang bersama anak-anaknya."

"Lakukan tugasmu, aku lakukan tugasku," Seno berusaha sabar. 

Terdengar ketukan pintu. Rudi masuk mendekati Seno. "Rusdi, kakak Cici Widjati datang, mau membawa anak-anak itu ke Tegal."

Dame John menyela, "Mereka akan menjadi saksi di pengadilan."

Yuri tampak kurang setuju, "Jangan buru-buru. Mereka masih anak-anak."

Dame John tidak mau mengalah, "Kita semua tahu prosedurnya. Sidang tertutup. Tak ada pers. Apa yang dikhawatirkan?"

Seno berusaha menengahi, "Biarkan pamannya membawa mereka ke Tegal. Nanti lihat perkembangan kalau memang dibutuhkan. Untuk saat ini mereka akan lebih baik berada di tengah keluarga."

Dame John ngotot, "Mereka harus jadi saksi di sidang pertama. Tuntutan harus batal demi hukum. Aku ingin masalah ini cepat selesai."

Seno sudah malas mendengar ocehan Dame John. Ia menggandeng tangan Rido dan Lili. Membawa mereka kepada pamannya di ruang tunggu. 

Rusdi, laki-laki berperawakan sedang, sebagian rambutnya sudah memutih, bangkit dari posisi duduk begitu melihat kedatangan ponakannya. Ia membawa Rido dan Lili ke dalam pelukan dengan mata mengarah kepada Seno. "Adik saya tidak mungkin melakukan hal sekeji itu, Pak."

"Iya saya mengerti. Penyidikan belum selesai. Kami akan kabari perkembangannya," Seno berusaha menenangkan Rusdi, namun sebagian pikirannya berkata lain karena kaos biru yang dipakai Rusdi sama persis dengan kaos yang ia temukan di terowongan di bawah lokasi pembunuhan Surono. []


(Bersambung)


*Pemimpin Redaksi Tagar.id


Novel Kebas selengkapnya klik DI SINI






Berita terkait
Novel Bagian Lima : Kebas
Saat matahari bersinar terang, tampak jelas tempat pembunuhan Surono itu berada di sebuah bangunan yang ganjil --- Novel Kebas bagin lima.
Novel Bagian Empat : Kebas
Langit Jakarta cerah berawan pagi itu. Di parkiran gedung Kejaksaan Agung, Yuri Catalina turun dari sedan merah --- Novel Kebas bagian empat.
Novel Bagian Tiga : Kebas
Dame John Hutapea merapikan dasi bermotif kotak ungu di depan cermin. Rambutnya yang gondrong ia sisir klimis ke belakang --- Novel Kebas bagian 3.