Novel Bagian Tujuh : Kebas

Di ruang pemeriksaan lantai lima Polda Metro, Alya Yahya duduk di kursi dengan posisi agak condong ke depan --- Novel Kebas bagian tujuh.
Ilustrasi Novel Kebas Bagian 7. (Foto: Tagar/Pexels/thevibrantmachine)

Kebas

Ditulis oleh Siti Afifiyah*


"Bila kutitipkan dendamku pada gunung, pastilah gunung meluapkan api." – Ahmad Mustofa Bisri


*Genre: crime, thriller, mystery


Satu | Dua | Tiga | Empat | Lima | Enam | Tujuh | Delapan | Sembilan


TUJUH

Di ruang pemeriksaan lantai lima Polda Metro, Alya Yahya duduk di kursi dengan posisi agak condong ke depan. Ia letakkan dua telapak tangannya di atas meja. Di antara buku catatan dan pulpen. Matanya sejak tadi agak terbelalak melihat penampilan baru Cici Widjati yang duduk tegak di depannya.

Cici Widjati yang sekarang begitu kontras dengan foto-foto yang ia lihat sebelumnya. Cici Widjati yang terlihat sekarang sepintas seperti bintang film Korea. Gaun panjang warna merah dengan potongan-potongan di beberapa sisi membuatnya tampak seksi. Ditambah lagi dengan sepatu bot setinggi lutut. Dan rambutnya juga seperti baru dipotong. Rapi dengan layer pendek. Cici juga memakai lipstik dan perona untuk menutupi sayu pada mata. Badan Cici juga semerbak wangi melati.

Alya berusaha bersikap wajar melihat perubahan ekstrem itu. "Saya Alya Yahya, wartawan dari majalah Investigasi."

"Saya tidak boleh bicara dengan wartawan," kata Cici dengan wajah datar.

"Ya pasti Dame John yang melarang ya."

"Ya, Pak Dame John yang berhati malaikat. Ia mengirim Ruth, sekretarisnya, ke sini. Membawa lima potong baju baru dan tiga pasang sepatu baru."

Alya manggut-manggut. "Ruth bawa apa lagi selain baju dan sepatu?"

"Seperangkat make up, parfum. Penata rias. Ini pertama kali saya mempunyai model rambut sebagus ini."

Alya membuat catatan tentang apa yang ia lihat dan dengar. Cici tidak suka melihatnya.

"Saya tidak boleh menerima wartawan. Sebaiknya kamu minta izin ke Pak Dame John," Cici berdiri.

"Sebenarnya saya ke sini untuk berkunjung. Berkenalan. Berbicara layaknya teman."

"Tidak usah basa-basi. Ke Pak Dame saja. Apa keuntunganmu berteman denganku?"

Alya berdiri tegak, "Oke. Saya sedang menulis cerita di balik berita tentang Cici. Cici baca berita kan? Cici tidak mau disebut pembunuh berdarah dingin kan? Tidak mau disebut perempuan monster kan? Tidak mau disebut psikopat kan? Cici tidak mau dihujat netizen kan? Cici harus bicara supaya orang tahu. Cici sebagai seorang ibu, seorang perempuan. Cici sebagai manusia."

Cici diam sejenak, "Akan kupertimbangkan."

"Besok aku akan mengunjungimu lagi. Mungkin kamu mau dibawakan sesuatu?"

Cici hanya tersenyum dan membalik badan, mendekati petugas di dekat pintu, mengulurkan kedua tangannya untuk diborgol.

Alya meraih tas dengan perasaan tidak puas, berjalan ke arah tangga. Kalau ada pilihan antara tangga dan lift, Alya lebih suka memakai tangga. Ia punya trauma dengan lift. Pernah terperangkap sendirian dalam lift. Tombol darurat tidak berfungsi. Tidak ada sinyal. 15 menit yang sangat mengerikan. 

Di ujung tangga lantai empat, Alya melihat Seno, Yuri, dan Dame John berdiri di lorong tepat depan kantor Seno. Mereka seperti berada dalam ketegangan. Seperti sedang berdebat tentang sesuatu.

Alya terus menuruni tangga. Tak ingin terlalu merepotkan Seno yang pasti sudah sangat sibuk dengan urusannya. Alya punya rencana sendiri. 

Tapi Seno melihat pergerakan Alya. Tanpa ba bi bu ia mengejarnya. Membiarkan Dame John dan Yuri kebingungan di belakangnya.

"Alya," Seno berjalan di samping Alya. Alya yang setinggi bahu Seno menjadi tampak mungil.

Alya menoleh sekilas, "Aku mau ke TKP, mencari nuansa."

Seno menggeser badannya ke depan Alya, menyentuh lembut kedua pundaknya. "Bukan nuansa, tapi bahaya di luar sana. Kamu tidak tahu apa yang kamu hadapi."

Alya langsung paham. Seno yang sekarang adalah tetap Seno yang dulu. Protektif. Overprotektif kadang malah.

"Seno, ini pekerjaanku. Aku akan baik-baik saja "

"Tidak. Kamu ikut denganku. Sumber A satu. Dan kamu tetap dapat nuansa. Asal jangan sebut namaku. Apalagi fotoku. Aku tidak mau kelihatan."

"Ya aku tahu kamu seperti itu. Kalau kamu kelihatan pasti aku sudah menemukanmu sejak dulu. Kamu memang tidak ingin ditemukan."

"Ay... Ay... Ay...."


***


Siang menuju sore hujan ringan di kawasan Jakarta Timur. Alya merasa nyaman duduk di samping Seno di dalam jip tua. Seno menoleh kepadanya sekilas kemudian matanya lurus ke depan. "Gimana dengan Cici Widjati? Kamu dapat apa yang kamu cari?"

"Dia belum mau diwawancara. Tapi ini awal yang baik. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu, Seno."

"Aku akan melakukan apa saja untukmu."

Alya menoleh sekilas. Perasaannya mengharu biru. "Benarkah?"

"Ya." Suara Seno tanpa ragu.

Alya membiarkan saat tangan kiri Seno menggenggam tangan kanannya.

"Maafkan aku, Alya, kita harus bertemu dalam situasi seperti ini. Kalau tidak memikirkan kasus ini, rasanya aku ingin menculikmu. Membawamu ke tempat di mana tak ada seorang pun yang mengganggu."

Alya merasakan hal yang sama. Ia mengeratkan genggaman Seno di tangannya.

Dua puluh menit kemudian jip tua berbelok ke halaman Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Walau merasa aman di samping Seno, Alya merasa tidak nyaman saat melewati lorong menuju kamar mayat. Aroma yang menguar membuat perutnya mual. 

Hanya ada satu dua orang yang melintas. Rasanya seperti sedang berjalan di kuburan.

"Kamu tidak takut?" kata Alya.

"Tidak. Sudah biasa," Seno menghentikan langkah, berdiri menghadap Alya, "Kamu mau menunggu di luar?"

"Tidak," jawab Alya cepat. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Ia akan hadapi rasa takutnya.

Seno membuka pintu laboratorium forensik, Alya mengikutinya. Tercium aroma kimia meski baunya tidak terlalu menyengat. Di sisi sebelah kanan terdapat pintu bertuliskan Ruang Scan. Hanya ada satu alat scan di dalamnya. Scan khusus untuk jenazah. 

Mereka terus berjalan menuju ruang di mana terdapat dua sisi pintu saling berhadapan, tertulis Ruang Otopsi. Tercium aroma khas yang tidak disukai Alya. Ini pertama kali baginya masuk tempat semacam ini. 

Ruangan berwarna biru itu tertata rapi dengan jejeran meja otopsi jenazah. Terdapat peralatan medis seperti alat pengukur panjang, gunting, cairan antiseptik, tersedia rapi di setiap meja yang sudah tersambung di sisi kiri dan kanan. Tiap-tiap meja juga terpasang lampu.

Ada 13 meja jenazah di ruang otopsi ini. Di ruang yang sama terdapat satu pintu bertuliskan Ruang Jenazah. Di atas pintu tersebut ada indikator suhu. Indikator yang terpasang di atas pintu ruang jenazah menunjukan suhu di dalamnya di angka 20. Ruangan itu bisa menampung 50 jenazah.

Seno mendekati meja di tengah ruangan di mana seorang dokter sedang melakukan autopsi terhadap jenazah Surono. Dokter berusia lima puluhan itu rambut bagian depannya sudah mulai botak. Namanya Hasan Sadikin. Ia sering mengautopsi korban-korban yang mati secara tidak wajar yang kasusnya ditangani Seno. 

Dokter Hasan Sadikin menoleh, tersenyum sekilas pada Seno dan Alya, sambil terus menjahit dada jenazah Surono.

Alya bergidik melihat mulut jenazah itu ternganga lebar. Ia ingin memegang erat jemari Seno untuk meredam rasa ngeri, tapi tak dilakukannya. Saat menoleh ke kanan, Alya melihat sapu tangan merah bermotif singa menangis terhampar dalam sebuah wadah semacam nampan di atas meja.

"Apa ada sesuatu yang baru yang perlu saya tahu, Dok?" Seno berdiri di sisi meja berhadapan dengan posisi Hasan Sadikin.

Hasan Sadikin mendongak sekilas kemudian terus saja menjahit sampai bawah dagu. "Ada DNA asing di kain, sapu tangan yang digunakan untuk menyumpal mulutnya," Hasan Sadikin berhenti menjahit, "Juga ada DNA lain di gagang pisau, selain sidik jari Cici Widjati."

Setiap sel dalam tubuh manusia tersusun dari DNA - Deoxyribonucleic acid - rantai molekul berisi materi genetik yang khas pada setiap orang. DNA inti merupakan perpaduan dari DNA ayah dan ibu. DNA inti berperan dalam ekspresi genetik dan pewarisan sifat. DNA inti akan menentukan karakter fisik dan sifat seseorang. Di antaranya menentukan warna kulit, mata, dan rambut seseorang. 

Seno ingat sesuatu, "Percikan darah di kaos biru?"

"Darah Surono dan DNA asing. Bukan DNA Cici Widjati." 

Seno mundur dua tiga langkah, berjalan ke arah pintu, meraih ponsel di saku, menelepon Rudi Liben. Rudi Liben adalah pria asal Papua. Ia sudah lima tahun menjadi partner Seno. 

"Posisi di mana?" kata Seno.

"Di dekat TKP. Ada seseorang yang harus kuajak bicara."

"Yap. Terus cari petunjuk yang mengarah ke Mister X," Seno menutup ponsel. Dan saat ia membalik badan, ia melihat Alya sedang berbicara dengan Hasan Sadikin.

Seno hanya diam mematung. Memberikan kesempatan Alya berbicara sepuasnya dengan Hasan Sadikin. Ia senang melihat antusiasme Alya dalam bertanya. Hasan Sadikin juga tampaknya tidak keberatan melayani pertanyaannya. Seno tidak akan menyela. Ia akan menunggu saja.

Dan memang sampai akhirnya Alya merasa cukup dengan apa yang ingin diketahuinya.

"Telepon saja kalau ingin wawancara lagi. Banyak cerita menarik. Kita bisa bertemu di tempat yang lebih nyaman sambil seruput kopi," Hasan Sadikin tersenyum sambil melepas sarung tangan. 

Alya sangat senang mendengarnya, "Makasi, Dok. Pasti. Saya ingin bertemu Dokter Hasan lagi."

Hasan Sadikin menoleh kepada Seno yang datang mendekat, "Kapan kita mancing lagi? Ada tempat baru yang asyik di Pulau Seribu. Aku akan menunjukkan padamu."

Tawaran yang menarik, pikir Seno. "Setelah semua ini selesai."

"Pekerjaan tidak akan pernah selesai. Jangan lupa bahagia," Hasan Sadikin menoleh sekilas pada Alya yang tampak sibuk memasukkan buku catatan dalam tas sambil berdiri lima atau enam meter jauhnya. 

Hasan berbicara setengah berbisik kepada Seno, "Apakah dia seseorang yang istimewa?"

Seno terkesiap. Perasaan bahagia menjalari hatinya. "Kenapa dokter Hasan berpikir begitu?"

Hasan menggerakkan kedua pundaknya secara ringan. "Entahlah. Insting? Kamu tak pernah membawa wartawan ke sini."

Seno tak tahu harus berkata apa. Tapi raut wajahnya membuat Hasan Sadikin semakin yakin dengan instingnya. "Ikuti kata hatimu. Jangan dengar kata orang lain. Dunia menawarkan jutaan kemungkinan. Jangan takut dengan kemungkinan-kemungkinan baru," Hasan menepuk pelan pundak Seno kemudian berjalan meninggalkan ruangan.

Seno menoleh kepada Alya yang tak sabar ingin segera meninggalkan tempat ini. 

Saat keduanya berada di halaman rumah sakit menuju parkiran, Seno menyentuh sekilas lengan Alya. "Kamu kelelahan. Kamu menginap di mana?"

"Di rumah adikku."

Seno menghela napas berat. Ingin rasanya ia membawa Alya ke rumahnya. Ia tinggal sendiri. Istri dan anaknya di Semarang. "Ya bagus. Aku lega mendengarnya. Pilihan yang bijak menginap di rumah adik. Izinkan aku mengantarmu ke rumah adikmu."

Tata bahasa Seno yang santun sungguh membuat Alya terpesona. "Nina akan sangat terkejut bertemu denganmu. Kamu tahu aku dan Nina beda satu tahun. Sudah seperti anak kembar. Ia tahu segala rahasia terdalamku. Tidak ada ayah dan ibu membuat kami menjadi sangat dekat."

"Ya," Seno merasa damai. Ingin rasanya ia menghentikan waktu pada momen ini saja. []


(Bersambung)


*Pemimpin Redaksi Tagar.id


Novel Kebas selengkapnya klik DI SINI





Berita terkait
Novel Bagian Enam : Kebas
Taman dan bangunan kedai dua lantai bergaya modern minimalis itu jauh dari kesan seram di markas polisi --- Novel Kebas bagian enam.
Novel Bagian Lima : Kebas
Saat matahari bersinar terang, tampak jelas tempat pembunuhan Surono itu berada di sebuah bangunan yang ganjil --- Novel Kebas bagin lima.
Novel Bagian Empat : Kebas
Langit Jakarta cerah berawan pagi itu. Di parkiran gedung Kejaksaan Agung, Yuri Catalina turun dari sedan merah --- Novel Kebas bagian empat.
0
Elon Musk Tangguhkan Pembelian Twitter 44 Miliar Dolar AS
Saham perusahaan media sosial itu turun 20% dalam perdagangan prapasar. Twitter tidak segera menanggapi permintaan komentar.