Novel Bagian Empat : Kebas

Langit Jakarta cerah berawan pagi itu. Di parkiran gedung Kejaksaan Agung, Yuri Catalina turun dari sedan merah --- Novel Kebas bagian empat.
Ilustrasi Novel Kebas Bagian 4. (Foto: Tagar/Pexels/Rafael Pires)

Kebas

Ditulis oleh Siti Afifiyah*


"Bila kutitipkan dukaku pada langit, pastilah langit memanggil mendung." – Ahmad Mustofa Bisri


*Genre: crime, thriller, mystery


Satu | Dua | Tiga | Empat | Lima | Enam | Tujuh | Delapan | Sembilan


EMPAT

Langit Jakarta cerah berawan pagi itu. Di parkiran gedung Kejaksaan Agung, Yuri Catalina turun dari sedan merah kemudian berjalan melintasi taman. Embusan angin menerpa rambut panjangnya yang bergelombang.

Ia melangkah dengan dagu tegak. Menjinjing tas hitam berbentuk kotak yang sepertinya agak berat.

Kalau diperhatikan cara jalannya seperti pramugari sedang berlenggak-lenggok di atas catwalk. Dengan rok selutut dan sepatu berhak tinggi. Seperti seorang model yang sedang mengkampanyekan baju formal.

Tidak aneh juga sebenarnya. Dalam riwayat hidupnya, saat remaja ia pernah menjuarai kontes kecantikan di Manado. Pernah jadi model iklan sampo dan pasta gigi.

Lulus sekolah menengah atas di Manado, ia kuliah hukum di Universitas Indonesia. Ia ingin jadi jaksa. Dan itulah yang dikerjakannya sekarang.

Yuri mengangguk tersenyum saat seorang bapak tukang kebun menyapanya. Yuri seorang yang ramah. Ia mengenal karyawan kejaksaan dari lapisan bawah sampai atas.

Usianya 40 tahun tapi terlihat seperti 30 tahun. Pakaian yang ia pakai tidak harus mahal. Tapi ketika pakaian itu ia yang pakai, pakaian itu menjadi terlihat mahal. Ia jaksa primadona di lingkungan kerjanya. Bukan hanya cantik, otaknya juga berisi.

Yuri bahagia dengan hidupnya. Walaupun ibunya tidak bahagia. Ibunya resah melihat anaknya ini di usia kepala empat belum menikah juga. Ibunya berpikir anaknya ini punya kelainan.

Sedangkan Yuri sangat sadar dengan pilihannya itu. Yuri sewaktu kecil sering melihat ibunya menangis pada malam-malam karena ayahnya tidak melakukan hal-hal sesuai harapannya. 

Ibunya bilang mungkin itu takdir dan tetap meminta Yuri menikah. Yuri memutuskan untuk menabrak standar kebahagiaan ibunya. Ia pernah menyarankan ibunya bercerai, tapi ibunya tetap bertahan walaupun tetap saja sering menangis. Yuri tak habis pikir.

Yuri kadang malas berbasa-basi. Tapi yang terjadi ia harus selalu tersenyum dan balik menyapa orang-orang yang mengenalinya, mengucap salam menyapanya. Seperti sekarang ini saat ia berjalan menuju lift.

"Pagi Ibu Yuri yang selalu cantik. Saya mengikuti saran Ibu untuk lari 30 menit setiap pagi. Apa saya sudah terlihat langsing?" kata Ruroh, seorang office girl yang seperti sedang hamil anak kembar.

Yuri tersenyum sambil memencet tombol angka tujuh dekat pintu lift.

"Iya Ruroh, kamu terlihat langsing. Lanjutkan. Nanti lihat hasilnya lagi tiga bulan ke depan. Jangan lupa perhatikan kebutuhan kalori."

Ruroh memencet tombol angka tiga dan kepo kenapa Yuri memencet angka tujuh, padahal Yuri berkantor di lantai tiga. Sama seperti dirinya.

"Ibu mau ke mana?"

"Ketemu Pak Tirtawinata," Yuri menyebut nama orang nomor satu di kantornya itu.

"Ooohhh," kata Ruroh dengan bibir monyong.

Sejam lalu saat berada dalam sedan merah di tengah kemacetan, Yuri mendapat telepon dari Tirtawinata agar segera menemuinya begitu sampai di kantor. 

Tirtawinata memintanya menangani kasus pembunuhan Surono. Suami luntang-lantung yang tak jelas pekerjaannya yang diduga dibunuh istrinya, Cici Widjati, penjual warung tegal.

Kasus yang sepintas menurutnya biasa-biasa saja. Tidak ada keistimewaannya. Yang menjadi korban orang biasa. Yang menjadi pelaku orang biasa. Ah paling urusan rumah tangga, cekcok, pertengkaran, berakhir pembunuhan tanpa sengaja. Pikirnya.

Yuri mengatakan iya. Ia tidak pernah memilih-milih kasus. Ia siap saja dengan tugas yang diberikan atasannya. 

Tapi ia kemudian menjadi sedikit heran. Kalau kasus itu biasa-biasa saja, kenapa Tirta memintanya menanganinya. Ia sudah terbiasa dengan kasus-kasus rumit sebelumnya.


***


Tirtawinata tidak terlalu tinggi tapi aura wajahnya memancarkan kharisma tersendiri. Gerak-geriknya terukur. Tidak pernah berlebihan. Kalau sudah bilang A ya A. Tidak ada kompromi. 

Ia sedang berdiri di samping jendela kaca di ruang kerjanya. Berbicara dengan Gatot, pria muda berkepala botak, jaksa yang ia plot bersama Yuri menangani kasus pembunuhan Surono.

Dengan ekor mata sekilas Tirta melihat kedatangan Yuri. Serta merta ia mempersilakan Yuri dan Gatot duduk di kursi di depan meja kerjanya.

Tirta berkata kepada Yuri, "Aku mengandalkanmu. Aku minta hukuman mati."

Yuri diam beberapa saat sampai kemudian berkata, "Saya pelajari latar belakangnya sebelum sampai pada tuntutan hukuman mati."

"Silakan. Tapi perintah saya bukan untuk diperdebatkan."

Gatot melihat keraguan di wajah Yuri, "Ini kasus mudah. Bukti-bukti jelas. Hanya ia belum mengaku apa motifnya."

Yuri menoleh agak sinis kepada Gatot, "Kalau mudah, kamu gak akan minta bantuanku."

"Ini mudah tapi bisa menjadi susah karena penasihat hukumnya," kata Tirta menengahi.

"Penasihat hukumnya? Ia punya penasihat hukum? Siapa?" Yuri condong kepada Tirta dengan wajah penuh tanya. 

Gatot meraih remote di ujung meja Tirta, mengencangkan volume televisi di sudut ruangan. 

"Itu penasihat hukumnya."

Layar televisi menunjukkan Dame John Hutapea dikerumuni banyak wartawan. Dame John berbicara dengan mata berbinar-binar mengarah pada kamera.

"Penangkapan Cici Widjati ini salah. Polisi tidak cermat dalam melihat bukti-bukti. Ini sebuah tragedi. Saya tidak bisa melihat seorang ibu dipisahkan dari dua anaknya begitu saja. Dua anaknya yang ayahnya dibunuh entah oleh siapa dan kini ibunya harus dipenjara? Saya kira ada sesuatu yang salah dalam kasus ini. Berangkat dari keprihatian tersebut, saya putuskan untuk membela Cici Widjati," Dame John mau beranjak pergi tapi kemudian ia berbalik ke arah kamera lagi. "Satu hal lagi. Tim kami akan menyediakan psikiater untuk memeriksa kejiwaan Cici Widjati. Kami lihat segala kemungkinan."

"Anda menuduh polisi tidak cermat?" seorang wartawan berseru.

Dame John tersenyum melambaikan tangan sambil beranjak pergi. Ia mengabaikan berondongan pertanyaan dari wartawan. 

Bibir Yuri terkatup rapat. Ia punya sejarah dengan Dame John Hutapea. Yaitu hubungan satu malam yang gila. Saat itu Dame John masih bekerja di kejaksaan. Suatu kali dalam pesta, ia mabuk dan tahu-tahu pagi bangun berada dalam kamar hotel bersama Dame John. 

Momen itu bagi Dame John adalah sebuah prestasi. Kebanggaan. Mampu meruntuhkan kesombongan Yuri. Sedangkan Yuri tidak akan pernah memaafkan Dame John yang mengambil keuntungan di tengah kelemahannya. Sejak itu Yuri tidak mau lagi menyentuh minuman keras. Ia juga tidak mau bicara dengan Dame John kecuali pekerjaan mengharuskan demikian.

Yuri bersyukur setahun kemudian Dame John keluar dari kejaksaan untuk membangun firma hukum sendiri. Ia menolak mentah-mentah ketika Dame John mengajaknya bekerja di firma hukumnya itu.

"Saya akan periksa TKP," Yuri bangkit sambil menyelempangkan tas di pundak.

"Jangan jadikan masalah personal atau kamu akan kalah lagi," suara Gatot terdengar menyindir.

Yuri yang berjalan di dekat pintu langsung berhenti, menoleh kepada Gatot dengan wajah tidak senang. "Pertarungan belum selesai." 

Sebulan lalu Yuri harus bertekuk lutut di pengadilan negeri. Seorang pejabat korupsi 700 miliar hanya dihukum percobaan satu tahun. Koruptor yang dibela Dame John Hutapea. Pejabat yang tidak pernah merasakan dinginnya lantai penjara karena mampu membayar jaminan mahal. Yuri mengajukan banding. Kasus itu masih menggantung.

Di dalam sedan merah di tengah perjalanan, Yuri menelepon Seno Aji Perkasa, penyidik yang menangkap Cici Widjati. Yuri dan Seno sebelumnya beberapa kali bekerja sama dalam urusan pemberkasan perkara. 

Seno sedang memperhatikan Rudi, partner-nya, berbicara dengan tetangga Cici Widjati, di lingkungan perumahan padat di daerah Karet Setiabudi, ketika ponselnya berdering. Seno berjalan menjauh dan membaca nama Yuri Catalina di layar ponsel. [] 



(Bersambung)


*Pemimpin Redaksi Tagar.id


Novel Kebas selengkapnya klik DI SINI






Berita terkait
Kisah Kesehatan Mental, Novel The Other Side Diadaptasi Jadi Film
Cerita dari Novel The Other Side sudah banyak menarik rumah produksi untuk mengangkatnya sebagai film layar lebar. Simak ulasannya.
Novelis Abdulrazak Gurnah Pemenang Nobel Sastra 2021
Novelis asal Tanzania, Abdulrazak Gurnah, berhasil meraih Hadiah Nobel Sastra 2021
Film Once Upon a Time in Hollywood, Diadaptasi Jadi Buku Novel
Film yang disutradarai oleh Quentin Tarantino, yakni Once Upon a Time in Hollywood akan diadaptasi menjadi sebuah novel.