Novel Bagian Delapan : Kebas

Psikiater itu seorang perempuan berusia 60 tahun. Namanya Herawati. Bedaknya tebal. Alisnya seperti bulan sabit --- Novel Kebas bagian delapan.
Ilustrasi Novel Kebas Bagian 8. (Foto: Tagar/Pexels/Mudassir Ali)

Kebas

Ditulis oleh Siti Afifiyah*


"Kan kusimpan sendiri mendung dukaku dalam langit dadaku." – Ahmad Mustofa Bisri


*Genre: crime, thriller, mystery


Satu | Dua | Tiga | Empat | Lima | Enam | Tujuh | Delapan | Sembilan


DELAPAN

Psikiater itu seorang perempuan berusia 60 tahun. Namanya Herawati. Bedaknya tebal. Alisnya seperti bulan sabit. Ia masih terlihat gesit saat menegakkan posisi tripod kamera di ujung meja. Ia mendongak saat Dame John mendekatinya. 

"Kita lakukan dengan caraku atau tidak sama sekali," kata Hera. 

Dame John mengangguk sekilas, "Ya lakukan secara profesional, Bu Hera. Tidak perlu ada rekayasa dalam kasus ini."

Cici Widjati muncul dengan sepatu boot selutut dan gaun merah. Herawati berbisik kepada Dame, "Kenapa kau mendandaninya berlebihan seperti itu?"

Dame John tersenyum, "Dia yang memintanya."

Cici Widjati mengambil posisi duduk berseberangan dengan Hera. 

"Oke Cici, santai saja ya dengan Bu Hera. Saya tunggu di luar," Dame John berjalan ke arah pintu. 

Cici mengangguk, "Iya, Pak."

Setelah Dame John menutup pintu rapat-rapat, Herawati menekan tombol record pada kamera, melemparkan senyum ke arah Cici. 

"Kenapa Cici pakai baju seperti itu? Apa itu jenis baju yang Cici pakai sehari-hari?"

Cici melempar pandangan ke lantai kemudian mengangkat wajahnya. "Tidak, Bu. Sehari-hari saya pakai daster, kadang rok biasa, atau celana panjang. Pak Dame John kasih saya kebebasan memilih, saya pilih model baju terbaik yang saya suka."

"Coba ceritakan apa yang Cici lakukan sebelum kejadian?"

"Ceritakan apa, Bu?"

"Apa saja yang Cici lakukan sebelum berangkat tidur."

"Mungkin sekitar jam 9 malam masih ada orang datang untuk makan. Saya melayaninya. Setelah orang itu pergi, saya menutup warung. Beres-beres. Saya menghitung penghasilan yang saya dapat pada hari itu. Menyisihkan sebagian di laci khusus untuk tabungan sekolah anak saya. Menyisihkan sebagian di dompet khusus untuk belanja besok. Saya agak kecewa karena banyak makanan tidak laku. Saya menghangatkannya untuk dijual lagi. Sebagian saya simpan di kulkas. Lalu saya ke atas, ke kamar bersama anak-anak saya."

"Anak-anak sudah tidur?"

"Lili anak saya yang kecil sudah tidur. Rido anak saya yang besar masih main games."

"Ada siapa lagi di rumah pada saat itu?"

"Hanya kami bertiga. Tidak ada siapa-siapa lagi."

"Setelah itu Cici langsung tidur atau bagaimana?"

"Saya sempat mengantar Lili pipis. Dia tidak berani ke toilet sendirian. Um, setelah itu Rido minta dibuatkan mi goreng, saya buatkan."

"Terus?"

"Setelah itu saya cepat tidur karena sudah sangat lelah seharian mengurus warung. Saya juga harus bangun jam dua pagi untuk dagang lagi. Begitu terus rutinitas saya setiap hari."

"Lalu Cici bangun jam berapa?"

"Saya mendengar alarm artinya jam dua pagi, saya bangun."

"Terus?"

"Saya keluar kamar dan...."

"Dan apa?"

"Ya itu. Saya sudah ceritakan ke polisi."

Hera sudah membaca keterangan Cici kepada polisi, dan sepertinya mengerti psikologis Cici. "Oke. Sesuatu di lantai. Ada sesuatu di lantai. Apa Cici sempat menyentuhnya?"

"Tidak, Bu."

"Apakah Surono, suamimu itu sering datang diam-diam?"

Mendengar nama Surono, mendengar kata 'suamimu', wajah Cici Widjati tiba-tiba berubah menjadi lain. Wajah yang tadinya datar itu perlahan mengeras. Kedua bola mata Cici juga menunjukkan keganjilan yang membuat Herawati bergidik. 

Herawati perlahan bangkit, bersiap untuk sesuatu yang tak terduga. "Apa yang telah dia lakukan padamu?"

Pelototan mata Cici perlahan kembali normal, gerak wajahnya seperti kebingungan. "Apa, Bu?"

"Apa yang telah dia lakukan padamu?"

"Oh. Nggak ada apa-apa, Bu," Cici mencopot sepatu dan seperti risih dengan baju yang dipakai. Ia mencakar-cakar gaun merah yang melekat di badannya. "Mana baju saya, Bu? Saya mau baju saya. Saya ini di mana? Saya mau pulang. Saya harus ketemu anak-anak. Mereka dalam bahaya."


***


Seorang pemuda bercelana pendek, kira-kira usianya 19 tahun, duduk di ruang pemeriksaan. Ia memegangi rahangnya yang remuk. Rahangnya kena jotos Rudi Liben gara-gara lari pas Rudi mendekatinya di tempat parkir ilegal dekat warung Cici Widjati. 

Ia meringis saat Rudi Liben yang duduk di depannya mengepalkan tinju. "Ampun, Pak. Ampun. Cukup, Pak."

"Siapa nama kamu?" suara Rudi menggelegar di dalam ruangan berukuran dua kali dua meter ini.

"Tono, Pak."

"Tono siapa?"

"Tono Suhartono."

"Kenapa kamu lari?"

"Anu, Pak. Um, saya takut, Pak."

"Takut apa?"

"Ya takut aja, Pak."

"Di mana kamu jam dua tadi pagi?"

"Saya tidur, Pak. Di rumah."

"Bohong."

"Benar, Pak."

"Ada yang melihat kamu pada jam itu di tempat parkir."

"Woh saya lupa, Pak. Saya tidak memperhatikan jam."

"Jangan main-main kamu. Di mana kamu jam dua tadi pagi?"

"Sumpah, Pak. Saya tidak tahu apa-apa."

"Tidak tahu apa?"

"Oh."

Rudi Liben menggeram. "Apa yang kamu lihat jam dua tadi pagi di tempat parkir itu?"

Tenggorokan Tono tercekat, "Saya melihat bayangan...."

"Bayangan apa?"

"Gelap, Pak. Tidak jelas. Jauh."

"Coba ingat baik-baik."

"Laki-laki. Dia berjalan dari rumah setan itu terus menyeberang."

"Rumah setan?"

"Rumah tempat pembunuhan itu, Pak. Orang-orang tua di lingkungan kami menyebut tempat itu rumah setan."

"Seperti apa laki-laki itu?"

"Memakai jaket hitam berlengan panjang. Jaket yang ada penutup kepalanya. Hoodie, Pak."

"Kurus? Gemuk? Pendek? Tinggi?"

"Tidak terlalu kurus. Tidak terlalu gemuk. Tidak terlalu pendek. Tidak terlalu tinggi."

"Kulit putih? Sawo matang? Hitam?"

"Tidak kelihatan, Pak. Jauh."

Tono tiba-tiba berdiri, berjalan menunduk memutari meja  dengan kedua tangan mengepal di pinggang. "Seperti ini, Pak, jalannya." Tono kembali duduk dan memegangi rahangnya yang nyeri.

"Ke arah mana dia pergi?"

"Saya tidak perhatikan. Saya pikir itu tidak penting. Saya bukan orang yang kepo urusan orang lain. Kalau orang macam-macam sama saya, baru saya kepo. Kalau dia tidak mengganggu saya, buat apa saya kepo."

"Ke arah mana dia pergi? Apa ke jalan besar? Menyusup ke gedung perkantoran? Atau ke arah hutan?"

Ada hutan buatan, semacam taman dengan banyak pohon besar, berlokasi sekitar lima kilometer dari lokasi pembunuhan. Orang-orang menyebutnya hutan kota.

"Saya enggak memperhatikan, Pak. Saya lagi kebingungan mencari korek. Rokok tinggal satu batang, korek ternyata habis gasnya. Tapi, mungkin dia masuk ke gedung perkantoran, tapi saya tidak tahu gedung yang mana." 

 "Kamu kenal Surono?"

"Laki-laki yang mati itu? Oh tidak, Pak."

"Kamu tidak pernah makan di warteg itu?"

"Aduh. Hanya orang jauh, orang asing, yang mau mampir makan di situ, Pak. Kalau orang-orang asli mah gak bakalan mau makan di situ."

"Kalau Cici Widjati istri Surono? Dia kan cantik. Kamu gak pernah memperhatikan?"

"Ya memperhatikan sih pernah juga sih, Pak. Tapi, ya gitu deh."

"Ya gitu deh apa?"

"Dia jarang keluar."

"Bukankah dia harus belanja ke pasar?"

"Gak tahu juga saya, Pak."

"Apa pernah mendengar suami istri itu berantem?"

"Tidak pernah."

"Apa yang kamu tahu tentang rumah setan itu?"

"Tidak tahu apa-apa, Pak. Orang datang dan pergi di tempat itu."

"Datang dan pergi gimana?"

"Ya tiba-tiba orang datang. Sebulan dua bulan, paling banter tiga bulan di situ terus pergi. Banyak cerita aneh di situ."

"Cerita aneh?"

"Ada tetangga saya pernah lewat situ pas malam. Tempat itu seperti tertutup kabut. Seperti tidak ada bangunan apa-apa di situ."

"Kamu sendiri apa pernah mengalami cerita aneh itu?"

"Alhamdulillah enggak pernah, Pak."

"Siapa yang menyewakan tempat itu?"

"Tidak tahu, Pak."

"Pas kamu di tempat parkir jam dua tadi pagi, kamu mendengar suara tertentu? Teriakan? Jeritan? Suara benda jatuh?"

"Saya tidak mendengar apa-apa sampai saya pulang. Pagi saya dengar ramai tetangga membahas pembunuhan di rumah setan itu." []


(Bersambung)


*Pemimpin Redaksi Tagar.id


Novel Kebas selengkapnya klik DI SINI





Berita terkait
Novel Bagian Tujuh : Kebas
Di ruang pemeriksaan lantai lima Polda Metro, Alya Yahya duduk di kursi dengan posisi agak condong ke depan --- Novel Kebas bagian tujuh.
Novel Bagian Enam : Kebas
Taman dan bangunan kedai dua lantai bergaya modern minimalis itu jauh dari kesan seram di markas polisi --- Novel Kebas bagian enam.
Novel Bagian Lima : Kebas
Saat matahari bersinar terang, tampak jelas tempat pembunuhan Surono itu berada di sebuah bangunan yang ganjil --- Novel Kebas bagin lima.