UNTUK INDONESIA
Misteri Pusara Ulama Sufi Aceh, Syekh Hamzah Fansuri
Para ahli maupun sejarawan masih memperdebatkan soal keberadaan makam ulama Syekh Hamzah Al-Fansuri hingga saat ini.
Komplek areal makam Syekh Hamzah Fansuri yang berada di Desa Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Aceh, dimana tampak di sekitar areal makam terdapat sejumlah makam-makam kuno, Rabu 15 Januari 2020. (Foto: Tagar/Nukman)

Subulussalam - Syekh Hamzah Al-Fansuri sosok seorang ulama kharismatik yang terkemuka yang berdiam di Aceh. Ia hidup pada empat abad yang lampau atau tepatnya berkisar pada pertengahan abad ke-16 dan ke-17 Masehi. 

Hingga kini nama ulama sekaligus penyair itu tetap masyhur dan ketokohannya di era modern ini masih menjadi ternama atas peninggalan karangan-karangan sastranya yang diakui para sastrawan dunia masih bernilai tinggi.

Secara literatur sosok Syekh Hamzah Fansuri dapat terbilang masih misteri sebab tidak memiliki data empiris tentang asal muasal hingga tentang keberadaan pusaranya yang masih banyak mengklaim dimana-dimana. Tentang hal itu pun sempat ditulis "Syekh Hamzah Fansuri Orangnya Satu, Kuburnya Dimana-mana." yang dimuat oleh media lokal ternama di Aceh.

Namun sebagian penulis dari timur dan barat sependapat bahwa Syekh Hamzah Fansuri berasal dari Pancur sebuah tempat di pesisir Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Pancur dalam sebutan Arabisasi adalah Fansur sebagaimana yang menempel pada ujung nama Hamzah Fansuri.

Berdasarkan catatan yang disusun oleh penulis Francois Valentijn dalam bukunya Oud Ein Nieuw Oost-Indie (Hindia Timur Lama dan Baharu) bagian pembahasan Sumatera, menyebutkan Syekh Hamzah Fansuri sebagai seorang penyair yang dilahirkan di Fansur dan menetap di wilayah teritorial taklukan Kerajaan Aceh Darussalam pada kala itu.

Demikian juga dengan keberadaan letak pusaranya yang juga turut menjadi perdebatan. Ada yang mengklaim pusaranya berada di Ujong Pancu, Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, dan sebagian orang ada juga yang menyebutkan makam Syekh Hamzah Fansuri berada di Langkawi, Malaysia.

Keberadaan pusara Syekh Hamzah Fansuri hingga kini masih menjadi pertanyaan, sebagian sarjana atau penulis meyakini makam Syekh Hamzah Fansuri terletak di desa Oboh yakni sebuah desa yang berada di pinggir sungai Lae Suraya yang terdapat dalam wilayah Kecamatan Runding, Kota Subulussalam, Aceh atau sekitar 17 kilometer dari pusat kota Subulussalam. 

Di lokasi itu diperkuat dengan banyaknya peziarah yang berdatangan ke Desa Oboh termasuk beberapa kali makam Syekh Hamzah Fansuri  juga diziarahi oleh wisatawan yang berasal dari sejumlah mancanegara, seperti Malaysia dan Irak.

Sementara Dai kondang Ustad Abdul Somad (UAS) beberapa kali dalam kegiatan ceramahnya juga pernah mengatakan kalau makam Syekh Hamzah Fansuri itu berada di Desa Oboh. Dai jebolan Mesir itu pada tahun 2018 sudah menapak ke desa Oboh untuk berziarah ke makam ulama keramat tersebut.

Selaku warga disini saya pun tidak pernah melihat ada penelitian khusus.

Makam Syekh Hamzah Fansuri 3Yusludin Marbun (39) warga salah seorang peziarah tampak sedang khusyuk membacakan doa-doa berziarah tepat di nisan bagian kepala daripada pusara Syekh Hamzah Fansuri yang dibungkus dengan kain berwarna putih di Desa Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Aceh, Rabu 15 Januari 2020. (Foto: Tagar/Nukman).

Cerita Oboh sebagai tanah yang tak dusta adalah sebuah wasiat yang diutarakan oleh Syekh Hamzah Fansuri kepada pengikutnya, bahwa bila kelak ia meninggal dunia agar jasadnya dapat dikebumikan di tanah Oboh, karena sebagaimana yang diceritakan secara turun temurun bahwa tanah Oboh adalah tanah yang tiada dusta, sebab kalau bila menanam padi dengan benih satu kaleng maka panennya pun satu kaleng. Dari ikhwal itulah konon Syekh Hamzah Fansuri memilih tanah Oboh sebagai tempat pusaranya.

Merunut sejarah lain, Syekh Hamzah Fansuri merupakan ulama yang berpengaruh. Hamzah Fansuri adalah ahli tasawuf sekaligus menjadi tokoh penting bagi peradaban Islam di tanah Nusantara terutama di jazirah negeri Melayu lewat ajaran-ajaran yang ia bawakan. Salah satu ajaran yang paling santer yang dikenal secara luas yaitu ajaran tarekat Wahdatul Wujud. 

Ajaran Wahdatul Wujud ini pada masa itu sempat mendapat pertentangan karena dianggap menyesatkan umat tentang konsep cara berketuhanan (ajaran tauhid).

Kemudian, Ali Hasmy, Gubernur Aceh pertama juga turut merunutkan sejarah tentang perjalanan Syekh Hamzah Fansuri. Menurutnya, Hamzah Fansuri dilahirkan di tanah Fansur (Arabisasi Pancur), Barus, pesisir Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. 

Hamzah Fansuri bersama saudaranya Ali Fansuri di akhir abad ke-16 sempat mendirikan sebuah dayah (pesantren) besar di daerah Singkil, sebuah daerah yang tempatnya tidak jauh dari tanah kelahirannya di Fansur, Barus.

Dalam ulasannya, Ali Hasmy menjelaskan mula-mula Hamzah Fansuri belajar tasawuf di sebuah pengajian tarekat Qadriyah yang konon didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani. Dilanjutkan Hamzah Fansuri berkelana ke berbagai pusat pendidikan Islam di jazirah Arab, seperti Bagdad, Mekah, Madinah dan hingga ke negeri Yerusalem

Setelah mengenyam pendidikan di sana ia pun kembali ke tanah airnya. Seiring waktu ia kembali mendirikan ajaran tasawuf sendiri sebagaimana yang dikenal dengan ajaran yang banyak dipengaruhi pemikiran wujudiyah ibn Arabi, Sadrudin al-Qunawi dan Fakhrudin Iraqi. Sedangkan karangan sastranya banyak dipengaruhi oleh Fariduddin al-Aththar, Jalaluddin al-Rumi dan Abdur Rahman al-Jami.

Makam Syekh Hamzah FansuriGedung Makam Syekh Hamzah Fansuri di Desa Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Aceh, Rabu 15 Januari 2020. (Foto: Tagar/Nukman)

Oleh Profesor A Teeuw seorang pakar sastra dan budaya Indonesia berkewarganegaraan Belanda (1921-2012) menyebutkan bahwa Syekh Hamzah Fansuri adalah sebagai sang pemula puisi Indonesia.

Begitu banyak syair-syair yang diciptakan oleh Hamzah Fansuri. Di antara syair-syairnya yang paling terkemuka adalah karyanya yang berjudul Syair Perahu, Petikan Syair Dagang, Syair si Burung Pingai dan Man 'Arafa.

Di sisi lain, menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat Syekh Abdurrauf as-Singkili yakni seorang ulama yang pertama menyusun terjemahan Alquran ke dalam bahasa Melayu itu dikisahkan juga merupakan murid daripada Syekh Hamzah Fansuri sendiri. 

Berkat keilmuan yang ia timba dari Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Abdurrauf as-Singkili pun mengembara melakukan dakwah Islam ke berbagai penjuru negeri hingga akhirnya pun ia pernah didapuk oleh Kerajaan Aceh Darussalam sebagai mufti kerajaan.

Sewaktu meninggikan posisi makam ini (Syekh Hamzah Fansuri) kami warga disini pernah diajak oleh para pekerja proyek pemutaran makam untuk menaikkan batu nisan makam.

Dari sekian banyak buku yang mengulas tentang biografi dan literatur Syekh Hamzah Fansuri sangat jarang diterangkan silsilah keturunannya, dan juga tidak pernah secara rinci dituliskan siapa nama isteri dan anaknya.

Padahal bila kita berziarah ke areal makam Syekh Hamzah Fansuri, tepat di pusara itu turut juga sejajar dua pusara di sisi kiri makam daripada Syekh Hamzah Fansuri, di antaranya terdapat satu makam kecil tepat di tengah yang diyakini kalau itu adalah pusara anak dan isteri daripada Syekh Hamzah Fansuri dan di sekelilingnya juga terdapat puluhan makam kuno yang katanya kalau itu adalah pusara para pengikut-pengikut dan kerabat Syekh Hamzah Fansuri yang berukuran panjang sama halnya dengan makam Syekh Hamzah Fansuri yang juga berukuran panjang.

Abdullah (60 tahun) warga Desa Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Aceh salah seorang penjaga makam yang ditemui Tagar mengaku belum pernah mendapatkan informasi terkait adanya kegiatan penelitian khusus di lokasi makam.

"Saya tidak tau apakah peneliti pernah masuk kemari. Kalaupun ada mungkin saja penjaga makam yang lain atau penjaga makam sebelumnya mungkin pernah menerima tamu peneliti. Selaku warga disini saya pun tidak pernah melihat ada penelitian khusus," ucap Abdullah.

Makam Syekh Hamzah Fansuri 2Situs makam Syekh Hamzah Fansuri di Desa Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Aceh dijadikan sebagai situs Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala oleh Pemerintah Kota Subulussalam. Rabu, 15 Januari 2020. (Foto: Tagar/Nukman)

Menurut Abdullah, semasa pemerintahan Kabupaten Aceh Singkil sebelum mekarnya Pemko Subulussalam menjadi daerah otonom baru dari Kabupaten Aceh Singkil dirinya pernah terlibat disaat dilakukannya pemugaran makam Syekh Hamzah Fansuri tersebut.

"Sewaktu meninggikan posisi makam ini (Syekh Hamzah Fansuri) kami warga disini pernah diajak oleh para pekerja proyek pemugaran makam untuk menaikkan batu nisan makam, karena posisi makamnya sekarang kan sudah ditinggikan sejajar dengan dada kita," ujarnya.

Berkaitan dengan hal itu, kata Abdullah menambahkan bahwa mereka sebagai warga setempat pada waktu itu sempat merasa terkejut dan bertanya-tanya tentang ditinggikannya posisi makam Syekh Hamzah Fansuri. Karena menurutnya dengan ditinggikannya posisi makam daripada Syekh Hamzah Fansuri dirasa telah mengurangi nilai.

"Kami heran saja, kenapa makam ini kok ditinggikan pula. Ya, kami pun pada waktu itu juga tidak ada yang komplain. Dan kami warga disini ikut membantu untuk mengangkat batu nisan Syekh ini, karena barunya besar dan cukup berat," pungkasnya.

Sementara itu, guna memuliakan makam Syekh Hamzah Fansuri, Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam saat ini tampak sedang giat-giatnya melakukan pemeliharaan dan perawatan pada areal makam dengan cara pemugaran makam dan pembangunan sejumlah fasilitas fisik di areal komplek makam Syekh Hamzah Fansuri.

Pemerintah Kota Subulussalam melalui Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata bertujuan menjadikan situs makam Syekh Fansuri itu menjadi ikonik daerah dengan menatanya sebagai kawasan wisata religi.

"Bangunan saat ini jauh lebih bagus lagi. Sejak terbangunnya bangunan baru ini, jumlah orang yang berziarah kemari pun bertambah ramai," katanya.

Syekh Hamzah Fansuri yang hikayatnya hingga kini masih menjadi cerita kisah yang membumi di negerinya dan membekas di berbagai belahan dunia.

Dan atas karya-karyanya itu, ia pun dijuluki sebagai pujangga Melayu berkaliber internasional dan sekaligus membawa peradaban terhadap kehidupan manusia melalui ajaran Tauhid-nya yang dibumbui dengan amanat-amanat yang mengandung nilai-nilai sufistik yang ia rangkai lewat gubah-gubahan syairnya.

Seiring pada tahun 2013 tepatnya di hari Selasa tangga 12 bulan Agustus, guru Syekh Abdurrauf as-Singkili itu mendapat Anugerah Bintang Budaya Parama Dharma dari negara yang diserahkan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara penganugerahan Bintang Maha Putera dan Tanda Jasa di Istana Negara.[]

Baca Cerita Menarik Lainnya: 

Berita terkait
Karena Tak Ada Bioskop di Aceh
Tak ada bioskop di Aceh, pemuda Ichsan Maulana nonton film Hit and Run dan Joker di Medan, Sumatera Utara. Faisal Al-Banna nonton di internet.
Cerita Jeurat Panyang, Kuburan 17 Meter di Aceh
Sepanjang jalan menuju Jeurat Panyang di Desa Blang Raja, Kecamatan Babahrot Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh kondisinya bebatuan dan berlubang.
Sejarah Awal Masuknya Islam di Aceh
Membicarakan sejarah awal masuknya Islam ke Nusantara tidak terlepas dari provinsi paling barat di Indonesia, Aceh.
0
Sebar Hoax Corona WNI Dihukum Penjara di Malaysia
Seorang perempuan WN Indonesiak Fui Lina, 31 tahun, dihukum satu minggu penjara dan didenda RM 1.000 (Rp 3,2 juta) karena sebar hoaks virus corona