UNTUK INDONESIA
Asal Mula Aceh Dijuluki Serambi Mekkah
Sebutan Serambi Mekkah menggambarkan Aceh pernah menjadi pusat peradaban dan khazanah keilmuan di Asia Tenggara.
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh menjadi salah satu ikon Bumi Serambi Mekkah. Foto direkam Minggu, 3 Februari 2019. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Banda Aceh - Aceh merupakan provinsi yang berada paling ujung barat Indonesia. Provinsi ini mendapat julukan sebagai daerah Serambi Mekkah. Tak diketahui persis tahun berapa julukan itu lahir. Namun, ada beberapa analisis mengapa Provinsi Aceh disebut-sebut sebagai Serambi Mekkah.

Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) Mawardi Umar mengatakan, julukan Serambi Mekkah untuk Provinsi Aceh tidak terlepas dari keberadaan dan pengaruh kerajaan Islam Aceh terhadap Nusantara dan dunia.

Menurut Mawardi, julukan Serambi Mekkah untuk Aceh sebenarnya apresiasi dari masyarakat di Asia Tenggara, terutama umat Islam seperti dari Filipina Selatan, Thailand Selatan, dan beberapa negara lain.

“Serambi Mekkah untuk Aceh sebenarnya apresiasi dari masyarakat di Asia Tenggara terhadap Aceh, terutama Islam di Asia Tenggara seperti Filipina Selatan dan Thailand. Karena yang pertama Islam di Asia Tenggara masuknya melalui Aceh melalui Perlak dan Pasai, kemudian baru menyebar ke Nusantara,” kata Mawardi saat ditemui Tagar di Banda Aceh, Aceh, Kamis sore, 16 Januari 2020.

Setelah Islam masuk, masyarakat bukan hanya menjadikan itu sebagai agama tetapi juga identitas. Sehingga, Islam dan Aceh merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Saat itu, sistem politik pemerintahan, ekonomi, dan lain-lain dijalankan bersumber dari Islam.

Sebutan Serambi Mekkah menggambarkan Aceh pernah menjadi pusat peradaban dan khazanah keilmuan di Asia Tenggara.

Aceh Serambi MekkahBekas bangunan Karantina Jemaah Haji Nusantara di Pulau Rubiah, Kota Sabang, Aceh, Senin, 24 Juni 2019. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

“Semua yang berlaku di Aceh itu bersumber dari Islam, politik pemerintahan, sistem ekonomi, semuanya, tata masyarakat juga Islam sejak masa kerajaan-kerajaan Aceh Darussalam,” ujar Mawardi.

Menurut Mawardi, dulu Aceh melahirkan cukup banyak intelektual Islam atau ulama-ulama besar yang berpengaruh menyebarkan agama ke seluruh Nusantara. Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam misalnya, Aceh memiliki ulama-ulama besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani, Syiah Kuala, Nuruddin Ar-Raniry, dan sejumlah ulama lain.

“Jadi karya-karya meraka itu betul-betul menjadi inspirasi bagi banyak aspek kehidupan di Nusantara. Kitab-kitab mereka tersebar, tidak hanya di Aceh tetapi hampir ke seluruh wilayah Asia Tenggara, sehingga setelah Mekkah bagi masyarakat Nusantara, Aceh jadi rujukannya,” tutur Mawardi.

Di sisi lain, kata Mawardi, asal muasal penyebutan Serambi Mekkah juga tidak terlepas dari aspek historis, di mana pada masa Kerajaan Aceh Darussalam provinsi ini menjadi tempat persinggahan rombongan jemaah haji dari berbagai wilayah di Nusantara.

Para jemaah tersebut, kata Mawardi, sebelum berangkat ke Mekkah, mereka yang berlayar menggunakan kapal laut singgah terlebih dahulu di Karantina Jemaah Haji Nusantara yang berada di Pulau Rubiah, Kota Sabang, Aceh. Di sanalah mereka dibekali atau melakukan persiapan sebelum menunaikan ibadah rukun ke-5 Islam itu.

“Pakai kapal laut, tidak langsung, apakah dari Jawa, Sulawesi, tidak langsung Mekkah, tetapi singgah di Aceh dulu,” ujar Mawardi.

Mawardi UmarDirektur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) Mawardi Umar saat ditemui di ruang kerjanya di Banda Aceh, Aceh, Kamis, 16 Januari 2020 sore. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Dosen Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan bidang Sejarah di Universitas Syiah Kuala itu menambahkan, Karantina Haji Nusantara di Pulau Sabang memang sudah ada sejak masa kerajaan. Namun, bangunan tersebut kemudian diteruskan lagi pada masa kolonial Belanda. Konsepnya hampir sama dengan masa kerajaan, di mana seluruh jemaah di Nusantara singgah di sana.

“Masa kolonial juga sama memakai kapal uap. Sekarang juga sama, sebelum berangkat haji, dikarantina di Asrama Haji walaupun satu hari. Dulu karena pakai kapal butuh waktu lama, mempersiapkan fisik dan segala macam. Ya minimal ada dua alasan itu kenapa Aceh dijuluki Serambi Mekkah,” tutur Mawardi.

Peradaban yang Besar

Hal senada disampaikan Tarmizi Abdul Hamid, pemerhati sejarah dan budaya Aceh. Menurutnya, julukan Serambi Mekkah untuk Aceh tidak terlepas dari peradaban besar yang dimiliki provinsi ini pada masa lalu.

Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam yakni pemerintahan Sultan Iskandar Muda, semua muslim dari beberapa negara di Asia Tenggara tertuju ke Aceh. Saat hendak menunaikan ibadah haji, mereka berangkat menggunakan kapal milik kerajaan Aceh.

Dulu, kapal yang berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji hanya ada di Provinsi Aceh. Saat itu, ada tiga kapal laut yang terbuat dari kayu pilihan dan dibuat oleh tukang-tukang ahli di bidang perkapalan atas perintah Sultan Iskandar Muda. Namun, nama-nama kapal tersebut tidak tercatat dalam sejarah.

“Kapal itu tidak tersebut nama, dalam sejarah disebutkan kapal Aceh yang naik haji pada masa tersebut sebanding dengan kapal Cheng Ho, namun seberapa besar kapal Cheng Ho tidak disebutkan dalam sejarah,” kata Cek Midi, sapaan akrab Tarmizi A Hamid saat ditemui Tagar di Banda Aceh, Kamis malam, 16 Januari 2020.

Perjalanan dari Aceh ke Mekkah menggunakan kapal tersebut memakan waktu enam sampai delapan bulan. Sebelum berlayar, para jemaah terlebih dahulu dibekali cara menunaikan ibadah haji.

Tarmizi Abdul HamidPemerhati Sejarah dan Budaya Aceh, Tarmizi Abdul Hamid saat ditemui di salah satu warung kopi di Banda Aceh, Aceh, Kamis malam, 16 Januari 2020. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Pembekalan dilakukan di beberapa lokasi di sejumlah kawasan di Kota Banda Aceh yang saat itu dikenal sebagai Bandar Aceh Darussalam. Setelah dibekali, dari Kota Banda Aceh mereka diberangkatkan ke Pulau Rubiah, Kota Sabang. Di sana mereka kemudian dikarantinakan.

“Para jemaah tersebut belajar tentang manasik haji yang ditempatkan di Asoe Nanggore, Keudah, Kampung China, mereka belajar tentang rukun-rukun haji, ibadah untuk naik haji, setelah matang pengetahuan tentang ibadah haji, baru mereka diberangkatkan ke Pulau Rubiah, Kota Sabang,” kata Cek Midi.

Kolektor naskah kuno itu menambahkan, saat para jemaah haji pulang dari Mekkah, mereka yang non Aceh umumnya tidak lagi kembali ke daerah maupun negerinya. Para jemaah tersebut memilih menetap di Aceh karena nyamannya beribadah.

“Umumnya mereka tidak lagi kembali ke negerinya, sudah menetap tinggal di Aceh karena nikmatnya mereka ibadah,” ujar Cek Midi.

Karena itu, kata Cek Midi, saat ini banyak ditemui warga Aceh yang memiliki wajah mirip dengan warga daerah lainnya di Indonesia bahkan luar negeri seperti India, China, dan negara lain.

“Maka di Aceh ini banyak orang yang bukan asli Aceh, ada Makassar, ada yang dari Padang, China, India, makanya kita beda-beda fisik tubuh kita, semuanya muslim terhormat, maka dibuatlah kota-kota seperti Peunyong itu adalah kota para pendatang,” ujarnya.

Haekal AfifaKetua Institut Peradaban Aceh, Haekal Afifa saat ditemui di salah satu warung kopi di Banda Aceh, Aceh, Rabu, 15 Januari 2020. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Selain nyaman beribadah, kata Cek Midi, mereka memilih menetap di Aceh karena bisa berdagang. Selain itu, mereka juga memanfaatkan tanah Aceh yang subur untuk bercocok tanam, seperti pohon kapas sutra, gaharu, cendana, dan tanaman lain.

“Dalam perjalanan Aceh ini yang dikatakan peradaban itulah yang sangat lengkap, termasuk transportasi laut, diplomasi, dagang, ilmu pengetahuan dan pendapatan, dan sebagainya, makanya Aceh dijuluki peradaban yang sangat tinggi,” kata Cek Midi.

Tiga Alasan Aceh Disebut Serambi Mekkah

Ketua Institut Peradaban Aceh, Haekal Afifa, menyebutkan setidaknya ada tiga alasan mengapa Provinsi Aceh dijuluki Serambi Mekkah. Alasan pertama yaitu Aceh pernah menjadi pusat peradaban keilmuan di Asia Tenggara.

Haekal menjelaskan, hal tersebut bisa dibuktikan dan tercatat di beberapa naskah, inskripsi batu nisan dan sejumlah bukti lain.

“Kajian dan analisis saya, sebutan Serambi Mekkah adalah menggambarkan Aceh pernah menjadi pusat peradaban dan khazanah keilmuan di Asia Tenggara,” kata Haekal saat ditemui Tagar Rabu, 15 Januari 2020.

Alasan kedua adalah Aceh pernah kedatangan ulama-ulama dari jazirah Arab yang berasal dari Dinasti Syarif. Menurut Haekal, kedatangan mereka saat itu untuk menjadi penasihat-penasihat dalam kerajaan Islam di Aceh.

“Secara genetik ada keturunan Arab yang memang menjadi para alim ulama, seperti Teungku Chiek Di Anjong, Sultan Sayyid Jamalul Alam. Ini juga mendeskripsikan bahwa Aceh selain punya ulama dari Jazirah Arab juga ada sultan yang berasal dari Dinasti Arab yaitu Dinasti Syarif,” ujarnya.

Aceh Serambi MekkahBekas bangunan Karantina Jemaah Haji Nusantara di Pulau Rubiah, Kota Sabang, Aceh, Senin, 24 Juni 2019. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Di sisi lain, Aceh dulu juga pernah mengirim cukup banyak intelektual Islam ke Arab Saudi. Setelah belajar di sana, lalu kembali dan mengembangkan ilmunya di Serambi Mekkah.

“Tafsir-tafsir dalam bahasa Melayu sendiri orang Aceh pertama yang menerjemahkan, yang menulis tafsir dalam bahasa Melayu itu orang Aceh,” kata Haekal yang juga peneliti pemikiran deklarator GAM, Tgk Hasan Muhammad Di Tiro.

Sedangkan alasan ketiga adalah Aceh pernah menjadi titik awal berangkatnya jemaah haji ke Mekkah. Haekal mengatakan, pada fase ini Aceh memiliki akses yang bisa dilalui untuk menuju Arab Saudi guna melaksanakan ibadah haji.

Bukan hanya jemaah dari Indonesia, saat itu Aceh juga memberangkatkan para jemaah lain dari berbagai wilayah di Asia Tenggara. “Artinya, akses dari Aceh ke Arab itu lebih dekat, dan Aceh juga intens mengirim jemaah haji setiap tahun pada masa lalu. Menurut saya tiga analisis itu yang menyebabkan Aceh disebut Serambi Mekkah.” []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Klitih dan Dua Geng Legendaris di Yogyakarta
Warga Yogyakarta membenci klitih dan berniat membasminya. Tapi dulu di Yogyakarta punya dua geng legendaris. Lalu apa yang membedakannya?
Keraton Agung Sejagat di Sleman Usai Raja Dipenjara
Pengikut Keraton Agung Sejagat yakin Toto Santoso yang dipenjara bukan raja mereka tapi hanya jelmaan. Begini kondisi keraton terkini di Sleman.
Kisah Pak Yesus Merawat Toleransi di Malang
Laki-laki yang suka sarungan dan berkopiah itu beragama Islam, tapi namanya sungguh ajaib, Slamet Hari Natal. Hidupnya pun dipenuhi keajaiban.
0
Kakek Pemerkosa Cucu Sendiri di Siantar Masih Buron
Kakek terduga pelaku cabul terhadap cucunya yang berusia 12 tahun, sejauh ini masih dalam pengejaran Kepolisian Resor Pematangsiantar.