UNTUK INDONESIA
Karena Tak Ada Bioskop di Aceh
Tak ada bioskop di Aceh, pemuda Ichsan Maulana nonton film Hit and Run dan Joker di Medan, Sumatera Utara. Faisal Al-Banna nonton di internet.
Kondisi gedung Pasar Aceh di Banda Aceh, Senin, 11 November 2019. Dulu, lantai II gedung tersebut dipakai untuk bioskop Pas 21. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Banda Aceh - Faisal Al-Banna tersenyum. Pemuda berusia 23 tahun yang tinggal di kawasan Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Aceh, ini menggeleng-gelengkan kepala saat ditanya tentang keinginannya menonton bioskop.

Dengan wajah samar di antara cahaya monitor laptop, ia dengan khitmad menyaksikan sebuah film di kamar kosnya.

“Di Aceh kan tidak ada bioskop, maka terpaksalah saya nonton film di laptop,” kata Faisal. Ia menekan tombol pause saat Tagar menyambanginya, Senin, 11 November 2019.

Faisal Al-Banna lulusan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kimia Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Ia menetap di Banda Aceh. Di pusat ibu kota provinsi Aceh ini, ia menjadi seorang pekerja lepas.

Di sela waktu kosong, Faisal banyak menghabiskan waktu untuk menonton film. Di laptopnya, ada puluhan film tersimpan, di antaranya Captain Marvel, Avanger Infinty War, Avanger Endgame, Joker, Toy Story 4, Speder Man Far From Home, Instant Family, dan masih banyak lainnya.

Faisal mendapatkan film tersebut dengan cara mengunduh secara gratis dari internet. Hingga saat ini, sudah ratusan film ia tonton. Film itu rata-rata sudah terlebih dulu ditayangkan di bioskop.

“Ada film-film tertentu yang saya tertarik nonton langsung di bioskop saat pertama diluncurkan, namun apa boleh buat di sini tidak ada bioskop, maka harus bersabar sampai film tersebut tersedia di internet, baru kemudian saya nonton,” kata Faisal.

Hingga usia 23 tahun ini, Faisal mengaku baru pertama sekali menonton film di bioskop. Hal itu dilakukan pada 2015 di sebuah mall di Jakarta. Momen itu ia dapatkan saat liburan bersama keluarga.

“Itu pertama sekali, setelah itu tidak pernah nonton lagi,” kata Faisal.

Bagi Faisal, menyaksikan film di bioskop menghadirkan sensasi tersendiri. Karena di Aceh tak punya, maka alternatif salah satunya yaitu pergi ke Medan, Sumatera Utara. Namun Faisal belum pernah melakukannya.

“Alasannya karena biaya yang mahal dan waktu yang tidak cukup karena jauh,” tutur Faisal.

Faisal mengatakan sejatinya bioskop tidak akan melahirkan maksiat jika dikelola dengan baik. Misalnya dengan memisahkan antara penonton laki-laki dan perempuan. Ia pun sangat mendukung jika hal tersebut hadir dan diterapkan di Aceh.

“Tergantung niat kita masing-masing, apakah ke sana mau nonton film atau mau berbuat maksiat,” ujar Faisal.

Harus bersabar sampai film tersebut tersedia di internet, baru kemudian saya nonton.

Bioskop AcehKondisi gedung DILO di kawasan Blang Padang, Banda Aceh, Senin, 11 November 2019. Dulu, bangunan itu menjadi bagian dari bioskop Garuda Teater. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Nonton di Medan

Ichsan Maulana 25 tahun, warga Kota Lhokseumawe memandang bioskop biasa-biasa saja. Baginya bioskop bukan suatu kewajiban. Jika ada, ia akan memanfaatkannya. Jika tidak pun tidak menjadi masalah.

“Tapi dibilang gak penting, juga bisa saja. Mengapa? karena secara kultur orang Aceh lebih dari satu dua dekade terakhir sudah biasa tanpa bioskop dalam artian bentuk semisal XXI,” kata Ichsan kepada Tagar, Senin.

Ichsan mengaku tak ingat betul berapa kali sudah menyaksikan bioskop dalam tahun ini. Setidaknya akhir-akhir ini ia sudah dua kali melakukannya, yakni di Kota Medan, Sumatera Utara. Pertama usai Lebaran Idul Adha. Terakhir, sebulan yang lalu. Film yang ditonton adalah Hit and Run dan Joker.

“Yang pasti, satu yang mesti digarisbawahi bahwa banyak sekali orang bukan Aceh yang sok tahu tentang Aceh dan bioskop. Lalu dengan latah gampangan men-judge orang Aceh jumut hanya karena tak ada bioskop. Pun sama, ada beberapa orang Aceh ya oknum lah, yang entah sadar atau enggak jauh lebih latah mengolok-olok masyarakatnya sendiri hanya karena hasratnya untuk ada bioskop tak kunjung dipenuhi,” kata Ichsan.

Fitri Amelia, 22 tahun, warga Kabupaten Bireuen menginginkan adanya bioskop di Aceh. Sebab selama ini untuk menikmati film secara puas, harus ke Medan. Fitri mengaku sudah beberapa kali melakukannya.

“Biasanya pas ada film-film bagus aja dan filmnya booming,” kata Fitri.

Film yang ditonton Fitri antara lain Joker, My Stupid Bos 2, Dua Garis Biru. Menurutnya, bioskop menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk menghabiskan waktu akhir pekan.

Tips nonton bioskop kalau mau tiket murah nonton di hari Senin sampai Jumat, karena biasanya Sabtu dan Minggu tiketnya mahal, secara anak kos gitu ya,” ujar Fitri.

Menurut Fitri, tak ada bioskop di Aceh bisa jadi disebabkan beberapa hal. Pertama, bioskop identik dengan ruangan gelap, para penonton bercampur antara laki-laki dan perempuan. Kedua, jadwal pemutaran film di bioskop juga berpotensi melampaui waktu salat.

“Terus kenapa misalnya di Aceh tidak ada bioskop, mungkin kan karena kalau di sini cewek sama cowoknya bisa duduk bareng gitu, misalnya gak dipisah-pisah antara cewek sama cowok, habis itu jam tayang bioskop sih, jadi misalnya ada film yang diputar jam 5 kurang 10, otomatis kan siapnya jam 8 gitu kan, itu kan sudah lewat waktu magrib,” kata Fitri.

Bioskop AcehKondisi bangunan yang dulunya sebagai gedung bioskop Gajah Teater, Senin, 11 November 2019. Kini, kompleks tersebut sudah dipakai oleh TNI. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Pernah Ada Bioskop di Aceh

Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) Mawardi Umar mengatakan bioskop di Aceh sesungguhnya sudah ada sejak masa kolonial Belanda atau sejak tahun 1930-an. Saat itu Kota Banda Aceh memiliki dua bioskop yang disebut kumedi gambar yaitu Deli bioskop dan Rex bioskop.

Kedua bioskop tersebut, kata Mawardi, berada di Peunayong dan Jalan Muhammad Jam Kota Banda Aceh. Bahkan bioskop ini telah ada sebelum listrik masuk Banda Aceh. Film diputar menggunakan pijar yang ditembak ke layar. Pemutaran dilakukan secara manual dengan tangan.

Saat itu film yang muncul masih tanpa warna dan suara. Kedua bioskop itu dirintis pengusaha China dan India yang menganggap usaha tersebut merupakan investasi menguntungkan.

“Jika melihat sejarahnya, itu bioskop sudah ada sejak masa kolonial, terutama ada dua bioskop dulu, karena bioskop sebagai bentuk hiburan, karena televisi belum ada, jadi hiburan masyarakat itu di samping bioskop ada pertunjukan-pertunjukan,” kata Mawardi saat dijumpai Tagar di Banda Aceh, Senin, 11 November 2019.

Mawardi mengatakan, pada masa kolonial ada aturan khusus yang dibuat, yakni tentang perbedaan kelas saat menonton bioskop. Saat itu, ada tiga kelas yang ditetapkan, yakni kelas golongan kolonial, golongan pribumi dan golongan orang timur seperti China.

“Ini juga diaplikasikan, dipisah antara kelas kulit putih, kolonial, dengan pribumi, orang kolonial bioskopnya di kawasan Blang Padang, jadi gak boleh orang pribumi menonton di sana, orang pribumi bioskopnya ada di Peunayong, itu untuk kelas bawah, terutama untuk orang-orang timur asing, China dan orang-orang biasa boleh di sana,” ujar Mawardi.

Nama bioskop saat itu antara lain Deli Bioskop, Rex Bioskop, Garuda Theater, Bioskop Elang, Sinar Indah Bioskop (SIB), Jelita, dan Pas 21.

“Semua bioskop itu berdiri mulai tahun 1930 sampai 1980,” kata Mawardi.

Bioskop AcehDirektur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), Mawardi Umar saat ditemui Tagar di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Senin, 11 November 2019. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Revolusi Kemerdekaan

Pada masa ini, sambung Mawardi, bioskop di Aceh kerap digunakan sebagai tempat-tempat pertemuan para pejuang dalam merumuskan strategi perjuangan. Pertemuan biasanya dilakukan pada siang hari. Sedangkan malam hari kembali difungsikan sebagai tempat menonton film.

“Kenapa petremuan di bioskop? Karena saat itu kan ruang pertemuan gak ada yang luas, gak seperti sekarang kan ada dibuat ruang khusus untuk pertemuan, untuk perkawinan, dulu gak ada, jadi satu-satunya tempat hanyalah di bioskop yang bisa menampung banyak orang,” kata Mawardi.

Bukan hanya di Banda Aceh, kondisi itu juga terjadi hampir di seluruh provinsi Serambi Mekkah, seperti di Bireuen, Lhokseumawe, Lhoksukon Aceh Utara, Pidie dan sejumlah tempat lain.

“Di Lhokseumawe, Lhoksukon, Bireuen, Sigli, semuanya dilakukan di dalam bioskop, jadi pertemuan para pejuang itu merumuskan strategi perjuangan dilakukan di dalam bioskop, sampai selesai revolusi kemerdekaan,” ujarnya.

Pada masa itu, kata Mawardi, film yang diputar tak disensor alias tidak ada penyaringan. Tetapi, para pengunjung bioskop hanya dibolehkan yang berumur 17 tahun ke atas. Di bawah itu, mereka tak diizinkan masuk.

“Belakangan saat itu lahir banyak bioskop, sampai ke Darussalam, ada PHR, di kampung-kampung juga, termasuk di Panton Labu ada tiga bioskopnya, di mana-mana banyak pengunjung karena orang tidak ada hiburan lain,” kata Mawardi.

Balai Kota Banda AcehKantor Wali Kota Banda Aceh, Senin, 11 November 2019. Pemerintah setempat mewacanakan pembangunan bioskop di kota tersebut. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Mulai Tenggelam

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sejarah Universitas Syiah Kuala itu menjelaskan, pada tahun 1990 hingga tahun 2000-an bioskop di Kota Banda Aceh mulai tenggelam. Penyebabnya bermacam-macam, yakni masuknya teknologi yang canggih seperti televisi, serta munculnya pembajakan video tap.

“Zaman berubah, sistem media berubah, muncul televisi, saat muncul televisi orang lebih senang menonton televisi, mulai menurun peminat bioskop, maka satu per satu bioskop berguguran,” tutur Mawardi.

Di sisi lain, kata Mawardi, faktor yang menyebabkan bioskop tutup adalah konflik dan pemberlakuan Qanun Syariat Islam di provinsi paling barat Indonesia itu. Tak dipisah antara penonton laki-laki dan perempuan menjadi satu alasan bioskop tak boleh ada lagi.

“Biasanya bioskop gak dipisah, itu jadi persoalan, dengan demikian berakhirlah bioskop di Aceh. Berkurangnya jumlahnya penonton karena televisi, itu alamiah ditambah lagi penegakan Syariat Islam untuk Aceh, yang tidak memungkinkan bioskop cambur laki-laki sama perempuan,” kata Mawardi.

Ia menambahkan, jika di masa mendatang pemerintah ingin mendirikan bioskop di Aceh maka sah-sah saja, asal sesuai aturan yang ketat. Dengan demikian, pelanggaran syariat Islam tak akan terjadi.

“Bisa saja nanti kalau mau dikembangkan satu bioskop untuk laki-laki dan satu untuk perempuan, ini tontonan juga sangat nyaman karena dipisah,” ujar Mawardi.

Wacanakan Dirikan Bioskop

Pemerintah Kota Banda Aceh mewacanakan mendirikan bioskop di kota tersebut. Jika jadi dibangun, akan tetap disesuaikan dengan aturan syariah.

Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengatakan pembangunan bioskop merujuk kepada negara-negara Islam yang sudah memiliki tempat hiburan itu, seperti Arab Saudi dan Brunei Darussalam.

“Kita lihat negara-negara Islam bagaimana perlakuan terhadap bioskop, jadi supaya ini tidak menyalahi,” kata Aminullah Usman belum lama ini.

Sebelumnya, kata Aminullah, pihaknya telah membicarakan wacana itu bersama para ulama dan pihak terkait lain. Pembahasan tersebut menyimpulkan terkait perizinan bioskop akan dilakukan studi banding ke negara-negara Islam.

“Kami sepakat melakukan studi banding bersama ulama kita ke Arab Saudi atau negara Islam lain untuk mempelajari tata cara konser musik dan bioskop di sana,” tutur Aminullah. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Hantu Pocong Penunggu Lubang Buaya
Monumen Lubang Buaya jadi saksi kekejaman PKI saat tragedi G30S-PKI. Ditempat ini jasad tujuh jenderal dimasukkan dalam sumur.
Ratapan Hantu Mall Klender, Korban Tragedi Reformasi
Mall Klender terbakar pada awal reformasi. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Hingga kini cerita hantu masih menjadi bisik-bisik di mall tersebut.
Misteri Hantu Usil Toko Merah Kota Tua Jakarta
Toko Merah terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Bangunan itu menyimpan cerita misteri horor terkait Geger Pecinan di masa kolonial lampau.
0
Kapolda Sulsel Pastikan Aliansi MAKAR Penyusup Demo Omnibus Law
Kapolda Sulsel Irjen Pol Merdisyam pastikan, demo mahasiswa yang berakhir dengan pembakaran mobil ambulance milik NasDem di Makassar disusupi.