UNTUK INDONESIA
Tasnim Lowe: Ibuku Dibunuh Ayahku
Tasnim Lowe, perempuan Inggris berparas Timur Tengah. Ia membuka rahasia paling hitam dalam keluarganya. Tentang ibunya yang dibunuh ayahnya.
Tasnim Lowe menunjukkan foto dirinya yang masih bayi dalam gendongan ibunya, Lucy. (Foto: BBC)

Jakarta - Tasnim Lowe, perempuan Inggris berparas Timur Tengah. Ia bertubuh kecil dan baru berusia 19 tahun, tapi terlihat lebih tua. Pada usianya ini ia memiliki keberanian membuka rahasia paling hitam dalam keluarganya. Tentang Lucy, ibunya, yang dibunuh ayahnya, Azhar Ali Mehmood. 

Raut kesedihan bercampur bingung tampak jelas di wajah Tasnim Lowe saat menceritakan kembali peristiwa kebakaran di rumahnya di Telford, Shropshire, Inggris, pada Agustus 2000. 

Saat ditemui BBC di apartemennya di Telford, Tasnim berbicara dengan artikulasi sangat jelas. Ia terlihat pandai bicara dan mandiri, sehingga membuatnya terkadang tampak lebih dewasa. Di wajahnya terdapat sedikit bekas luka bakar di atas tulang pipi. Luka itu merupakan bekas peristiwa kebakaran di rumahnya dulu.

Tasnim mencoba menjelaskan, peristiwa menyedihkan yang menewaskan sang ibu, Lucy; bibinya, Sarah; dan sang nenek, Linda Lowe. Ia mengatakan, banyak informasi yang ia peroleh setelah peristiwa itu akan dibuat film dokumenter oleh BBC. Karena itu, ia harus memilah setiap informasi yang masuk dengan teliti. Kesempatan itu pun tak ingin dilewatkan Tasnim. Ia menggali lebih dalam mengapa serangan pembakaran itu terjadi serta mencari tahu lebih banyak tentang ibu dan dirinya sendiri.

“Saya menjadi lebih dekat dengan Lucy serta lebih memahami latar belakang dan identitas saya,” ujar Tasnim.

Pihak kepolisian mengembalikan buku harian atau diary sang ibu ketika proses pembuatan film dokumenter berjudul Why Dad Killed Mum: My Family's Secret itu berlangsung. Dalam diary itu terdapat banyak informasi yang mengungkapkan motif peristiwa tersebut dan informasi tentang sang ibu juga dirinya.

Hari Kejadian

Tasnim LoweRumah keluarga Tasnim Lowe di Telford, Shropshire, Inggris, terbakar pada 2000. Belakangan diketahui dalang pembakar adalah ayahnya sendiri, Azhar Ali Mehmood. (Foto: The Sun)

Malam itu, Agustus 2000, rumah keluarga Azhar Ali Mehmood di Telford, Shropshire, Inggris, terbakar. Di rumah itu kebetulan semua penghuninya berkumpul lengkap, yakni Azhar, Lucy, Tasnim, Linda Lowe, juga Sarah. Saat kejadian, keluarga itu tengah tertidur lelap.

Azhar yang tersadar sedang dikepung api langsung buru-buru membawa membawa lari sang putri keluar rumah. Ia membungkus bayi berusia 16 bulan itu memakai selimut dan meletakkannya di bawah pohon apel yang berada di taman dekat rumahnya. Sayangnya, Azhar tak dapat menolong sang istri, kakak iparnya, serta ibu mertuanya.

Si jago merah dengan cepat melahap sebagian bangunan bertingkat tersebut dan nyaris membuatnya ambruk. Azhar harus kehilangan ketiga orang terdekatnya itu, termasuk kehilangan calon anak keduanya. Lucy tengah mengandung anak keduanya. 

"Saya berusia 16 bulan saat kejadian dan tak ingat peristiwa itu," ucap Tasnim.

Selang setahun setelah peristiwa itu, kepolisian menetapkan Azhar sebagai tersangka pembunuhan terhadap sang istri, kakak ipar, dan ibu mertuanya. Polisi mengatakan, kebakaran itu sengaja dibuat demi menutupi tujuan utamanya membunuh ketiganya. Sejak peristiwa itu, surat kabar lokal menjulukinya sebagai 'Pembunuh Kobaran Api' dan 'Pembunuh Terkeji di Telford'.

Azhar divonis hukuman penjara seumur hidup. Namun, tak diketahui dengan jelas apa motif yang membuat Azhar tega menghabisi nyawa ibu dari anaknya itu serta kerabatnya itu. Kini, 19 tahun kasus itu berlalu, Azhar mendapat pembebasan bersyarat. Namun, anak perempuannya justru menentang putusan tersebut.

"Keluarga saya tidak ingin dia mendapat pembebasan bersyarat. Namun, jika dikabulkan, mereka tidak ingin dia berada di Telford," ujar Tasnim.

Diasuh Kakek

Tasnim LoweTasnim dan kakek. Tasnim Lowe diasuh kakek, George, sejak kecil. (Foto: The Sun)

Sejak peristiwa itu, Tasnim diasuh sang kakek, George, hingga dewasa. Hubungan keduanya sangat dekat. Tasnim masih terlalu muda untuk mengingat apa pun tentang kejadian naas itu dan sosok sang ibu. Ia hanya memiliki satu foto masa kecil bersama sang ibu serta satu potret sang ibu saat anak-anak. Foto itu pun sedikit terbakar dan hancur. Foto itu menjadi salah satu barang bukti yang dikembalikan polisi selain buku harian juga arloji.

Memandang foto itu, Tasnim merasa seperti melihat dirinya sendiri, tapi dalam versi kulit cokelat. Terkadang, kata Tasnim, saat ia memikirkan ibunya, ia seperti sedang memikirkan seorang remaja. Ia melihatnya bukan sebagai seorang ibu, sehingga tak ingin memanggilnya dengan sebutan ibu lantaran usianya yang masih belia, baik saat melahirkannya maupun meninggal dunia.

Ia juga tidak ingat pernah diberi tahu apa yang telah terjadi, tapi ia tumbuh dengan fakta-fakta bahwa ayahnya telah membunuh ibunya, bibi, serta neneknya. 

"Yang saya ingat adalah ibu saya ada di surga dan ayah saya jauh. Ayahku bukan orang yang baik," ujar Tasnim kepada The Guardian.

Beranjak remaja, timbul keinginan Tasnim mencari tahu identitas keluarga dan dirinya. Apalagi, teman-temannya di sekolah kerap menanyai dirinya tentang orang tuanya dan mengapa ia tinggal bersama sang kakek. Ia hanya diberi tahu sebagian saja. 

"Mereka memberi tahu saya tentang Alquran, kakek dan nenek, bibi, paman, dan sepupu saya, serta anggota keluarga di Pakistan," ujarnya.

Hingga akhirnya, ketika berusia 16 tahun, Tasnim memberanikan diri mengunjungi ayahnya di penjara. Ini merupakan pertemuan pertamanya dengan sang ayah. Sayangnya, ia tak mendapatkan apa yang dicarinya itu.

Lucy Menikah Usia 13 Tahun

Tasnim LoweLucy berusia 13 tahun saat menikah dengan Azhar Ali Mehmood, dan berusia 15 tahun saat melahirkan Tasnim Lowe. (Foto: The Sun)

Azhar dan Lucy bertemu di sebuah tempat perawatan remaja putri di Telford. Usia keduanya terpaut cukup jauh. Lucy berusia 13 tahun saat bertemu Azhar, seorang sopir taksi yang usianya 10 tahun lebih tua darinya, 23 tahun. Ketika melahirkan Tasnim, usia Lucy baru 15 tahun, usia yang sebetulnya belum ideal untuk menikah, apalagi melahirkan.

Banyak orang menyangsikan hubungan keduanya dan menyebut hubungan itu mudah rapuh lantaran perbedaan usia yang jauh, ditambah usia Lucy yang masih remaja. Bahkan beberapa di antaranya mengatakan hubungan itu sebagai pelecehan seksual terhadap anak. Meski demikian, Tasnim tak pernah terlalu memikirkan kesenjangan usia kedua orang tuanya.

Rupanya, George sejak awal tak menyukai menantu laki-lakinya itu. Ia menilai Azhar sosok arogan dan mudah tersulut emosi. Namun, ia juga tak bisa berbuat banyak. George menuturkan, Lucy dan Azhar kerap bertengkar.

Saat ditanya oleh Tasnim apakah pertengkaran itu karena sang ayah yang menuntut seks, George mengiyakannya. Menurut George, Azhar memang sering masuk ke kamar Lucy yang berada di lantai atas. Suatu kali, George pernah mendengar seseorang berteriak hendak diperkosa, lalu ia berlari masuk dan menendang pintu. Ternyata pelakunya adalah Azhar. Azhar berhasil kabur menuruni tangga, lalu dikejar oleh tetangga, tapi tak berhasil.

Dalam film dokumenter itu juga mengisahkan banyak pertengkaran yang terjadi antara Lucy dan Azhar serta hubungan keduanya yang penuh gejolak. Soal pertengkaran tersebut, juga menghiasi artikel-artikel pada masa itu. Dua teman Lucy mengatakan, Azhar merupakan sosok posesif dan hanya menginginkan Lucy untuk satu tujuan, yakni berhubungan seks.

Kejahatan Seksual Anak

Tasnim LoweAzhar Ali Mehmood ayah Tasnim Lowe. (Foto: The Sun)

Pada 11 Maret 2018 bertepatan Hari Ibu, halaman depan Sunday Mirror mengangkat skandal perawatan anak terburuk yang merinci pelecehan terhadap lebih dari ratusan remaja putri di Telford. Bahkan di halaman depan terpampang potret Lucy, yang mereka klaim telah dipersiapkan oleh geng seks.

Awalnya, Tasnim dan keluarganya bingung. Ia menduga itu cerita lama tentang peristiwa kebakaran yang diterbitkan ulang. Namun, belakangan ia sadar bahwa tidak akan ada informasi baru tentang kasus itu. Hal ini pun mengejutkan keluarga Tasnim dan masyarakat Inggris.

Hingga suatu hari Tasnim dihubungi jurnalis Mirror, Geraldine McKelvie, yang sedang melakukan investigasi mengenai lingkaran eksploitasi seksual anak atau child sexual exploitation (CSE) di Telford saat keluarga Tasnim terbunuh. Kasus yang dialami Lucy tampaknya sesuai pola yang diselidiki McKelvie.

Menurut McKelvie yang telah melakukan investigasi selama tiga tahun, para korban pelecehan seksual mengungkapkan, para pelaku kekerasan seksual menunjukkan kasus Lucy kepada mereka sebagai peringatan. Pelaku mengancam akan membakar rumah dan membunuh mereka jika melapor ke polisi, sama seperti yang mereka lakukan pada Lucy.

Hasil investigasi itu juga menunjukkan bagaimana gadis-gadis itu diperkosa, dipukuli, dijual, bahkan beberapa dibunuh. Hal itu berlangsung selama beberapa dekade. Para korban juga menceritakan bagaimana para pengasuh itu bekerja dan merayu mereka. Mulanya, mereka sangat ramah, membelikan hadiah, hingga membawa mereka ke The Wrekin, tempat kecantikan terkenal di pinggiran Telford, untuk diperkosa atau dibawa ke rumah-rumah orang untuk dijual dan diedarkan ke teman-teman mereka.

Tasnim LoweTasnim Lowe di pemakaman ibunda, Lucy Ann Lowe. (Foto: The Sun)

Terungkapnya kasus pelecehan seksual ini membuat Tasnim mulai mempertanyakan asal mula hubungan orang tuanya. Apakah ayahnya betul merawat ibunya? Atau ini yang menyebabkan sang ibu akhirnya dibunuh?

Dalam buku diary miliknya, Lucy menulis tentang The Wrekin, beberapa temannya, serta melakukan hubungan seks dengan pria yang lebih tua. Lucy juga menulis tentang ancaman Azhar kepadanya jika melapor ke polisi tentang pelecehan yang dilakukannya. 

"Itu indikasi jelas bahwa hubungan mereka tidak sah dan tidak benar," kata Tasnim.

Ditambah lagi, laporan teman Lucy dalam persidangan Azhar pada 2000 yang menyebut Azhar sangat posesif dan terobsesi dengan seks. Ia akan memeriksa tubuh Lucy untuk melihat apakah ia telah berhubungan dengan pria lain. Tak hanya itu, ia juga akan terus menelepon saat Lucy tengah berjalan-jalan dan mengatakan ia memiliki seseorang untuk mengawasi Lucy.

Namun, pengadilan tak pernah menyelidiki atau mendakwa Azhar atas kejahatan seksual yang dilakukannya terhadap Lucy dan remaja putri lainnya. Alasannya, tuduhan itu tidak pernah diajukan dalam persidangan awal. 

"Saya pikir itu adalah kegagalan sistem peradilan bahwa ayah saya tidak dituntut atas kejahatan seksual terhadap ibu saya," tuturnya.

Tasnim berharap kasus sang ibu dapat menjadi bagian dari penyelidikan berkelanjutan terhadap eksploitasi seksual anak yang terjadi di Telford. Untuk saat ini, ia hanya ingin beristirahat sejenak serta menjaga diri dan kesehatan mentalnya. Akan tetapi, Tasnim mengaku, pada masa depan, ia ingin terlibat dalam hal pemberantasan ekspolitasi seks anak atau pelecehan seksual terhadap anak.

"Saya dalam posisi yang sangat beruntung, tapi apa yang terjadi pada ibu saya telah memberi pengertian terhadap hal ini," tuturnya. []

Tasnim LoweKenyataan begitu pahit, namun Tasnim Lowe harus tetap berjalan. (Foto: The Sun)

Baca cerita menarik lain:

Berita terkait
Shalfa Avrila Siani dan Mereka yang Didiskualifikasi
Dalam pelukan ibunda, air mata Shalfa Avrila Siani mengalir deras. Tuduhan tidak perawan terlalu menyakitkan. Ini kisah mereka serupa Shalfa.
Mahasiswa UIN Jakarta Belajar Jadi Wartawan di Tagar
Dari Ciputat Tangerang Selatan, lima anak milenial mahasiswa UIN Jakarta itu melaju menuju kantor redaksi Tagar di kawasan Cawang, Jakarta Timur.
Chris Watts, Perselingkuhan dan Pembunuhan Keluarga
Chris Watts, perselingkuhan dan pembunuhan keluarga. Kisah tragis di Colorado yang mengaduk-aduk emosi dunia.
0
Es Pisang Ijo, Menu Buka Puasa Khas Makassar
Salahs atu takjil yang paling laris dan paling diburu warga Makassar saat berbuka puasa adalah es pisang ijo