UNTUK INDONESIA
Bicara Seni Peran Bersama Jose Rizal Manua
Jose Rizal Manua merupakan sosok seniman yang setia mengabdi pada salah satu seni yakni, teater
Jose Rizal Manua di Galeri Buku Bengkel Deklamasi. Selasa, 11 Februari 2020.(Foto: Tagar/Husen Mulachela)

Jakarta - Jose Rizal Manua merupakan sosok seniman yang setia mengabdi pada salah satu seni yakni, teater. Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat, 14 September 1954, ini saat ini masih aktif mengelola dan membina salah satu grup teater seni miliknya, Teater Tanah Air. Bersama grup teaternya, ia sudah pernah tampil dan memenangkan berbagai pertunjukan. Salah satunya pada gelaran Festival Teater Anak-Anak Dunia di Jerman pada 2006 silam.

Selain itu, ia juga aktif menulis puisi, bermain monolog, dan berperan di beberapa film Indonesia seperti, Fiksi (2008), Kala (2007), Oeroeg (1992), Tropic of Emerald (1992), dan yang terbaru, ia tampil dalam film Danur: I Can See Ghost (2016).

Tagar berkesempatan mewawancarai salah satu seniman berjasa yang telah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Berikut hasil wawancara Husen Mulachela dari Tagar dengan Jose:

Tagar (T): Sekarang, apa kegiatan sehari-hari Pak Jose?

Jose Rizal Manua (J): Saya memimpin "Teater Tanah Air" namanya. Tahun lalu main di pertunjukan di Jerman. Saya juga menyutradarai di beberapa tempat. kemudian mengelola buku bengkel deklamasi ini.

T: Sebelumnya, sudah pernah membentuk teater Adinda tahun 1975, kenapa tidak dilanjutkan?

J:Ya karena mereka sudah besar-besar. Semua merasa memiliki grup itu jadi bias gitu. Jadi daripada kita ribut-ribut soal itu, sudah, saya bikin grup baru, "Teater Tanah Air".

T: Berarti peserta Teater Tanah Air yang sudah dewasa akan terus diregenerasi?

J: Iya regenerasi terus. Saya dirikan sejak tahun 1988 ya Teater Tanah Air.

T: Bagaimana cara Pak Jose beradaptasi dengan anak-anak peserta baru?

J: Iya, tantangannya di situ. Mereka dari nggak bisa sampai bisa, ya saya latih dengan pelan-pelan, dengan kesabaran tertentu. Karena nggak mudah untuk melatih anak-anak itu. Karena kalau salah kita melatihnya, kepribadiannya bisa terganggu.

T: Siapa saja peserta Teater Tanah Air ini?

J: Mereka datang dari mana-mana, ada yang dari Bekasi, ada yang dari Depok, ada yang dari Tanjung Priok, ada yang dari Tangerang, dari mana-mana, jauh-jauh.

T: Lebih milih mana, film atau teater?

J: Ya semuanya saling mengisi, saling melengkapi. Ada ekspresi yang tidak bisa ditampung oleh teater. Saya menganggapnya semuanya saling melengkapi, mana yang harus didahulukan saja. Kalau disuruh pilih film atau teater, yang semua sama saja. Kepentingannya yang beda-beda.

T: Sempat terjun di industri perfilman, apa ada sutradara favorit Pak Jose?

J: Ya semuanya keren, dengan keistimewaannya sendiri-sendiri. Tetapi pernah saya disutradarai oleh sutradara dari Belanda namanya Orlow Seunke, filmnya judulnya "Tropic of Emerald", "Zamrud Khatulistiwa". Dia hanya berpesan kepada saya, film saya ini kekuatannya pada timing, ketepatan action, jadi kamu mainkan saja timing di film ini. Gitu saja dipesan, segala sesuatunya saya cari sendiri tentunya (dengan) tetap berpegang (pada) naskah, skenario.

T: Dari sekian banyak aktor dan aktris yang pernah beradu akting dengan Pak Jose, siapa yang paling berkesan?

J: Ya yang paling berkesan saya main dengan aktor Hollywood. Namanya Jeroen Krabbe. Waktu itu main bareng di film "Oeroeg". Dia bintang besar, dan saya satu frame dengan dia. Dia jadi mandor dan saya jadi pelayannya. Jadi kami selalu berdua mainnya.

T: Pernah ada keinginan untuk "banting setir" ke industri perfilman?

J: Saya menyadari keterbatasan. Jadi kalau saya tidak mendalami betul saya tidak mau memaksakan diri. Jadi itulah keterbatasan saya. Kalau saya kemampuannya hanya di akting, ya itu saja saya olah, jangan melakukan apa yang tidak kita kuasai.

T: Kenapa suka film "Kon Tiki"?

J: Iya "Kon Tiki" itu film luar yang bicara tentang perjalanan keliling dunia melalui rakit yang dibikin sendiri. Itu saya pikir unik petualangannya. Petualangannya unik dan filmnya bagus. Kita seperti melihat peristiwa yang sebenarnya terjadi. Saya membayangkan itu dengan rakit yang dibikin sederhana (lalu) keliling dunia dengan ombak dari laut yang berbeda-beda.

T: Terkait puisi, Kenapa puisi Pak Jose sering kali berbicara tentang persatuan, perdamaian, dan perempuan?

J: Sebetulnya tujuannya untuk mengingatkan sesama insan bahwa ada persoalan seperti ini, ada pandangan seperti ini. Jadi saya sangat terbuka kepada teman-teman yang protes segala macam ya silakan. Kebebasan itu yang saya pegang. Jadi melalui puisi saya mencoba mengingatkan tentang hal-hal yang mungkin luput dari perhatian orang, luput dari pandangan orang. Tentang kejujuran, tentang keikhlasan, tentang kasih sayang, macam-macam. Itu sendiri mungkin jadi inspirasi dalam menulis dan saya mencoba mendekatinya, saya kemas dalam bentuk humor. Jadi sering kali orang tidak menyadari kalau dia sedang dikritik.

Misalnya, saya mengkritik tentang keserakahan, bagaimana orang itu sudah punya ini, ingin ini, tidak ada puas-puasnya ingin memiliki harta benda. Padahal itu akan kita tinggalkan ketika kita wafat. Nah saya kritik orang-orang itu melalui puisi misalnya yang judulnya "Manusia kepingin Kalau Bisa".

Kata-katanta begini, "Setelah lepas dari sekadar jadi pedagang, dan punya rumah toko. Manusia kepingin televisi, kulkas, dan honda bebek. Setelah lepas dari sekadar jadi pengusaha dan punya supermarket manusia kepingin laser disk, baby benz, dan kebun anggrek. Setelah lepas dari sekadar jadi konglomerat dan punya kondominium manusia kepingin kapal pesiar, hotel terapung dan lapang golf. Setelah lepas dari sekadar jadi pedagang, setelah lepas dari sekadar jadi pengusaha, setelah lepas dari sekadar jadi konglomerat, manusia kepingin tak mati-mati, kalau bisa..."

Ada puisi saya juga yang mengkritik tentang koruptor. Puisi itu saya tulis tahun 1980. Judulnya "Doa Orang Waras". Tuhanku lindungilah aku, aku ingin korupsi. Tuhanku hanya kepadamu aku memohon, hanya kepada aku memohon perlindungan. Tuhanku lindungilah aku, aku mau korupsi.

Gedek banget sama koruptor itu.

T: Puisi bapak ada beberapa yang dibawakan dalam bentuk musikalisasi, itu semua cara menyelaraskannya dengan musik bagaimana?

J: Iya itu kita lihat bait-baitnya, baris-barisnya, kemungkinannya dimusikalisasikan gitu ya. Musiknya itu saya yang bikin, saya sering juga bikin musikalisasi puisi.

T: Berarti Pak Jose termasuk penikmat musik juga, ada tidak band-band yang saat ini Pak Jose gemari?

J: Saya dulu megang God Bless, bandnya Ahmad Albar. Dari tahun 1973 sampai tahun 1981 saya pegang lampunya, saya yang bikin atraksi-atraksinya, saya yang merancang. God Bless, band paling top dulu di Indonesia. Kalau sekarang saya senang dengan band-band sekarang. Bagi saya unik ya yang sekarang juga kadang-kadang yang tidak terduga oleh saya, kadang-kadang menggumam-gumam gitu lagunya, tapi menarik juga. Semua punya cara berekspresi yang beragam, dan saya senang dengan keberagaman.

Salah satunya Ariel, itu juga kan nyanyinya kalimatnya artikulasinya kurang bagus, tapi nggak apa-apa, asyik-asyik saja.

Band-band indie saya mendengarkan juga tapi nama-namanya nggak hafal. Saya bisa mengapresiasi. Menarik, ada yang suka disetel oleh anak saya, itu justru seperti menggumam itu nyanyinya, repetitif, dan cenderung monoton, tapi ya nggak apa-apa. Itu mungkin cara berekspresi anak-anak sekarang, kita coba menikmati karya-karya mereka.

T: Kalau dalam menulis apa ada metode tersendiri? Misalnya dalam menghadapi writing block?

J: Ya biasa kalau macet, segala macam itu hal yang biasa ya. Ya mengerjakan yang lain. Saya pekerja, jadi tidak ada masalah kalau buntu atau terhambat jadi ya sudah kerjakan yang lain saja. Bisa mengerjakan yang lain, latihan teater (misalnya), jadi tidak menjadi frustrasi kalau terhambat.

T: Alasan sering membawa tradisi Indonesia dalam karya-karya Pak Jose?

J: Ya selalu, selalu karya-karya saya unsur-unsur tradisi itu kuat sekali, apakah itu tradisi Jawa, Bali, Minang.

T: Bagaimana cara memadukan tradisi dalam setiap karya bapak sehingga diterima oleh masyarakat baik dari dalam maupun luar negeri?

J: Iya itu diaktualisasi, kekinian. Jadi ada satu ilmu yang saya sebut itu memori kolektif. Jadi bagaimana kita menangkap memori kolektif dari masyarakat yang diekspresikan dalam kesenian, sehingga ketika kita mengekspresikannya, orang dari seluruh dunia paham.

Contoh Aktualisasi itu misalnya, lampu saja. Lampu kuning, merah, hijau. Kita pergi ke Rusia begitu lampu merah orang semua berhenti, ke jepang semua berhenti, nah itu memori kolektif. Bagaimana kita menggunakan simbol-simbol memori kolektif itu di dalam berkarya. Pasti komunikatif pertunjukan kita.

Kalau kita menggunakan memori kolektif, pasti komunikatif karyanya. Saya menggunakan itu dengan menggali tradisi-tradisi yang ada di negara kita.

T: Termasuk salah satu teater yang bapak mainkan dengan menggunakan gambar Mahatma Gandhi di akhir pertunjukan?

J: Nah itu, orang terkejut. Di mainkan di India wah itu orang terkejut, gemuruh gedung itu. Ada adegan berikutnya, (gambar) Gandhi-nya dirobohkan, itu ngamuk penontonnya. Itu kan orang yang didewakan sama mereka kok dirobohkan. Terus nanti dalangnya bilang, kalau kamu cinta sama Gandhi, kalau kamu cinta sama perdamaian, ya kamu bangun lagi itu Gandhi-nya, kamu pasang lagi. Rebutan mereka ke panggung. Nah itu memori kolektif.

T: Bagaimana cara bapak menghafal dialog yang panjang, dalam pertunjukan monolog misalnya?

J: Ada satu ilmu juga, ilmu kedokteran yang diadopsi oleh orang-orang teater. Ilmu itu namanya refleksi terkondisi. Jadi ada satu dokter di Rusia, dia membuat eksperimen. Dia membuat kurungan, kemudian di sudut kurungan itu dia pasang lampu, terus dia taruh tempat makanan. Jadi ada kandang besar, dia taruh anjing di dalam kandang itu.

Kalau pagi dia nyalakan lampu, dia kasih makanan, anjing datang makan. Sore begitu juga. Terus berminggu-minggu, berbulan-bulan dia lakukan itu. Nah pada suatu ketika setelah sekian bulan, lampunya tidak dinyalakan. Dia kasih makanan, anjing nggak datang. Besoknya lagi dia coba, lampu dia nyalakan (tapi) makanan nggak dikasih, anjing datang.

Nah itu namanya refleksi terkondisi. Orang teater harus memperlakukan latihan itu seperti itu, harus memperlakukan naskah itu seperti itu, seperti refleksi terkondisi itu. Sehingga ketika dia bermain sudah ngelontok semuanya. Itu kalau nggak latihan berminggu-minggu, berbulan-bulan, nggak bisa. Jadi ulang terus sampai ngelontok, sampai nggak lupa-lupa lagi.

Nah aktor itu harus kaya gitu, memperlakukan peran, kalimat, kata, adegan, sehingga kapan saja main, di mana saja, sudah siap. Nah ini kan banyak teman-teman yang sekali dua kali latihan sudah bosan. Ya akhirnya pertunjukannya segitu-gitu aja, nggak maju-maju.

T: Padahal bapak tidak ada turunan darah seni, sejak kapan bapak menyadari kalau seni teater adalah minat bapak?

J: Ayah saya dulu tentara. Jadi ditugaskan di Kalimantan. Nah di sana ada wayang orang, wayang Jawa, jadi masyarakat Jawa yang tinggal di situ (di Kalimantan). Saya sering nonton mereka latihan, nah terus diajak main jadi monyet kecil, dikasih pakaian Hanoman. Pengalaman itu membekas sampai dewasa.

Ketika saya di Taman Kanak-Kanak juga gurunya senang menyanyi, jadi kita sering menyanyi, menari di RRI, nah pengalaman-pengalaman itu membekas sampai sekarang.

T: Mengingat bapak pernah tergabung dalam klub sepak bola, apa dahulu tidak ada minat untuk menjadi pesepak bola?

J: Ya dulu. Karena saya main bola dari bocah. Di MBFA itu ada tingkatan, (tingkatan) bocah itu yang paling kecil, (tingkatan) anak itu yang sudah agak remaja, kemudian (tingkatan) sub-junior yang sudah menjelang matang. Nah saya sampai tiga tingkat itu di MBFA. MBFA itu di Lapangan Banteng latihannya. Salah satu klub sepak bola terbaik di Jakarta, MBFA, Merdeka Boys Football Association.

Minat ada, teknik masih bisa sih, tapi nafas nggak mendukung.

T: Terakhir, Pak Jose punya prinsip "Merenung Seperti Gunung, Bergerak Seperti Ombak" apa maknanya?

J: Kalau kita diam, jangan pasif, tapi aktif. Nah gunung itu, seperti itu. Gunung itu kelihatannya diam tapi di dalamnya ada magma yang bergejolak. Setiap saat bisa meledak. Jadi kalau kita diam, pikiran harus tetap bekerja, jangan diamnya diam orang malas, kosong (pikirannya).

Kemudian bergerak seperti ombak. Ombak itu dari tengah laut bergerak, nggak mau berhenti sampai menyentuh pasir, dia terus bergerak, terus bergerak sampai menyentuh pasir, baru dia balik ke laut. Nah kalau kita punya tujuan, punya cita-cita, punya keinginan. Harus tuntas, harus kita raih cita-cita itu. walaupun pelan tapi pasti. []

Berita terkait
Bamsoet: Cerita Teater Panembahan Reso Masih Relevan
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) hadir dalam pementasan ulang satu karya teater mendiang WS Rendra bertajuk Panembahan Reso di Jakarta.
0
Jenis Olahraga yang Aman Selama Puasa
Namun, saat menjalani puasa Ramadan banyak orang yang malas berolahraga karena takut kelelahan, dan batal puasanya.