UNTUK INDONESIA
Bertahan Hidup dengan Jalan Prostitusi di Aceh
Meski Kota Lhokseumawe Aceh kaya gas alam melimpah, namun sangat banyak persoalan di antaranya perempuan memilih bekerja di jalan prostitusi.
Kepolisian Resor Lhokseumawe saat berhasil mengungkap praktik prostitusi online di kota itu pada tahun 2018 lalu. (Foto: Tagar/Agam Khalilullah)

Lhokseumawe – “Hanya seperti inilah Bang aku bekerja agar bisa mendapatkan uang, kalau tidak seperti ini dari mana aku bisa makan dan membayar uang kos. Meskipun memang dianggap buruk sama orang lain.”

Begitulah kalimat yang keluar dari mulut Kasih (bukan nama yang sebenarnya) yang berusia 23 tahun, kesehariannya ia bekerja melayani syahwat para pria hidung belang di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh.

Agar bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah, Kasih merelakan keindahan tubuhnya dijamah para pria yang haus akan kepuasan syahwat. Namun apa yang hendak dikata, hanya pekerjaan itulah yang mampu dijalaninya.

Malam akan segera menanjak ke puncak dan dinginnya malam seakan-akan menjadi terasa hangat, karena di salah satu kafe di sudut kota julukan “Petro Dolar”, terlihat perempuan perempuan berkulit putih yang sedang asyik mengutak-atik gawainya. Sesekali ia melihat ke kiri dan kanan sambil menebar senyum.

Seharusnya wilayah yang masuk negeri syariat Islam ini menjelang tengah malam anak dara itu sudah tidak lagi berkeliaran. Tapi mereka bukan dara biasa, mereka memang sudah terbiasa pulang telat, karena mencari penghasilan dengan menggaet pria-pria hidung belang.

Jangan bayangkan anak dara ini tampil dengan riasan wajah menor, dada terbuka dan mengenakan rok mini. Pakaian mereka tak beda dengan gadis-gadis Aceh pada umumnya, berjilbab, menutup dada dan mengenakan jeans ketat.

Ketika setiap pria mulai mendekat, seolah-olah ia menyambutnya dengan akrab. Senyum sumringah dari bibir manisnya membuat dara-dara itu tampak mempesona.

Kepada Tagar dirinya bercerita, Kasih tidak suka mangkal di tempat-tempat lain, apabila ada tamu yang ingin mendapatkan layanannya maka harus jemput di rumahnya.

Tidak pernah sama sekali aku membayangkan seperti ini, kadang sedih lho bang. Hanya aja aku tidak punya pilihan lain, aku jalani saja lah. Lagipula untuk kerja lain juga tidak ada.

Sekarang ini Kasih tinggal di salah satu rumah kos yang ada di Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Sebenarnya Kasih merupakan warga Kabupaten Aceh Utara, hanya saja saat ini sedang mengadu nasib di kota Lhokseumawe.

Untuk menggaet para tamu, Kasih mengandalkan aplikasi WhatsApp dan Michat. Apalagi untuk aplikasi Michat bisa dilakukan pencarian teman untuk daerah sekitar, sehingga sangat mudah untuk mendapatkan tamu, serta tidak membuat perhatian orang lain.

Untuk sekali mencicipi keindahan tubuhnya itu, maka harus mengeluarkan sejumlah Rp 600.000, namun ada juga sebagian pelanggan yang memberikan uang lebih, karena dianggap telah memberikan pelayanan yang baik dan puas.

Saat sendirian di kamar kos, di pikiran Kasih sering terlintas mengapa sampai ia bisa menjadi wanita pemuas nafsu laki-laki, karena sebelumnya perbuatan itu tidak pernah dicita-citakan sama sekali.

“Tidak pernah sama sekali aku membayangkan seperti ini, kadang sedih lho Bang. Hanya aja aku tidak punya pilihan lain, aku jalani saja lah. Lagipula untuk kerja lain juga tidak ada,” ujar Kasih.

Kasih terjun ke dunia gelap itu, pemicunya terjadi pada tiga tahun yang lalu, kala itu dirinya menjalin hubungan cinta dengan seorang pria asal Kabupaten Aceh Utara. Hubungan itu dijalaninya sampai satu tahun lebih.

Seiring perjalanan waktu, kekasih hatinya itu mengajak melakukan hubungan intim dan dijanjikan akan segera menikahinya. Sehingga dirinya luluh atas bujuk dan rayuan itu.

“Mana ada aku ingat sudah berapa kali, soalnya waktu itu ya adalah beberapa kali aku melakukannya. Apalagi waktu dibilang mau nikahi aku, makanya aku mau buat gituan sama dia ternyata setelah aku kasih dianya malah hilang,” kata Kasih dengan wajah kesal.

Ibarat nasi yang sudah menjadi bubur, akhirnya ia memutuskan merantau ke Kota Lhokseumawe dan ia berkomunikasi dengan temannya yang sudah duluan menetap di kota tersebut.

Melalui teman wanitanya itulah Rindu bisa mendapatkan rumah kos. yang layak untuk ditempati dan juga memperkenalkan kepada jaringan-jaringan pria hidung belang yang siap mencicipi tubuhnya.

Namun Kasih lebih banyak mendapatkan jaringannya sendiri dengan mengandalkan aplikasi Michat, sehingga dirinya lebih banyak menerima tamu dari hasil kerjanya sendiri, bukan bantuan dari temannya.

Meskipun demikian, ia tetap memilih-milih tamunya itu agar terhindar dari penyakit menular seksual, bahkan saat ingin melakukan hubungan intim, tamunya tersebut diwajibkan menggunakan alat pengaman alias kondom.

“Aku tidak mau terkena penyakit makanya setiap tamu aku wajibkan untuk pakai pengaman. lihat-lihat orangnya juga bersih atau tidak. Untuk masalah kondom wajib itu, adik takut ketularan penyakit,” katanya.

Saat melakukan hubungan intim, Kasih lebih sering dibawa ke rumah tamu-tamunya itu, karena lokasi tersebut dianggap sebagai tempat yang aman, apalagi untuk kompleks perumahan yang sama sekali tidak menarik perhatian warga setempat.

Praktik prostitusi tersebut memang terjadi, maka semua pihak harus berperan besar untuk mengantisipasi persoalan itu. Terutama untuk menyelamatkan moral para generasi muda di Aceh.

Hal yang tak terlupakan baginya adalah ketika ia di pesan seorang oknum pegawai pemerintah yang datang dari Jakarta, karena sedang ada tugas di Kota Lhokseumawe. Kala itu dirinya mendapatkan layanan long time, dengan bayaran Rp 1 juta.

Apabila melakukan dengan tamu-tamu lokal, maka hanya mendapatkan bayaran seadanya saja namun tidak ada pilihan lain dan memang harus diterimanya agar bisa bertahan hidup, serta membeli kebutuhan sehari-hari.

Kasih juga mengaku sudah sangat benci melihat laki-laki, karena faktor masa lalu yang selalu menjadi korban rayuan manis dan dibohongi. Apalagi saat berhubungan intim kebanyakan tamunya mengalami ejakulasi dini, sehingga ia pun jarang sekali untuk mendapatkan kenikmatan.

Semuanya itu ia lakoni karena tidak ada pilihan lain, meskipun benci kepada lelaki dirinya tetap harus melayani syahwat para kaum adam tersebut, agar Kasih bisa dapat melangsungkan hidupnya.

“Saya tidak punya pilihan lain dan dari hasil kerja seperi inilah saya bisa mendapatkan uang. Kalau lagi banyak tamu, termasuk enak lah untuk beli beberapa hal dan juga untuk bayar uang kos,” ungkap Kasih.

Kota Lhokseumawe yang kaya gas alam memang dibelit banyak persoalan, satu di antaranya bisnis prostitusi.

Praktik prostitusi di kota ini sangat terselubung dan tersusun sedemikan rapi. Banyak kalangan yang gemar menggunakan layanan para wanita pemuas syahwat tersebut, namun dilakukan dengan cara serapi mungkin agar tidak ketahuan.

Perlu Pengawasan Orang Tua

Praktik prostitusi dinilai sudah sering terjadi di kawasan Aceh. Maka setiap orang tua harus mampu menjaga anak-anaknya agar tidak terjerumus dalam dunia yang terlarang, apalagi yang telah dilarang oleh agama Islam.

Pengamat Sosial dan Akademisi Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Masriadi Sambo, mengatakan hal tersebut sudah sering terjadi. Bahkan pihak kepolisian juga telah berhasil mengungkap hal itu selama beberapa kali.

“Praktik prostitusi tersebut memang terjadi, maka semua pihak harus berperan besar untuk mengantisipasi persoalan itu. Terutama untuk menyelamatkan moral para generasi muda di Aceh,” ujar Masriadi.

Masriadi menambahkan, hal yang terpenting adalah, peranan orang tua harus lebih besar. Setiap apa pun aktivitas anak-anaknya harus diawasi dengan baik, terutama kalau sering pulang malam.

Sehingga pendidikan keluarga hal terpenting yang harus dilakukan oleh setiap orang, karena melalui pendidikan tersebut, merupakan sebagai salah satu hal yang membentengi agar anak-anak tidak melakukan hal yang tidak diharapkan.

“Maka salah satu cara untuk mencegahnya adalah pendidikan keluarga, sehingga setiap anak-anak akan selalu terawasi oleh orang tuanya. Maka peranan orang tua sangat penting untuk hal ini dan semua pihak harus ikut berkontribusi untuk mengawasi,” kata Masriadi. []

Baca juga cerita:

Berita terkait
Tempat Mandi Tiga Sosok Dewi Kayangan Aceh
Menurut penduduk Aceh Barat Daya, Alue Meujen sempat dijadikan tempat mandi tiga dewi kayangan. Sosok tersebut masih melegenda hingga kini.
Nasib Perempuan Aceh Tersudut Pelecehan Seksual
Kekerasan seksual terhadap perempuan Aceh terus meningkat dari tahun ke tahun. Adanya Qanun belum terimplementasikan dengan maksimal.
Momok Pengendara Motor di Aceh Adalah Pulau Hantu
Pulau Hantu di Desa Mata Ie, Kemukiman Kuta Tinggi, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh, menjadi momok pengendara motor.
0
Orang Batak Sudah Mulai Malu Berbahasa Batak
Trisna Pardede menggelar diskusi soal bahasa Batak bersama Saut Poltak Tambunan, penulis novel berbahasa Batak Si Tumoing Manapu Nipi.