UNTUK INDONESIA
Tradisi Tolak Bala di Aceh Warisan Umar bin Khattab
Sejarah panjang tolak bala dan Rabu habeh di Aceh, diceritakan berpedoman dari kisah Umar bin Khattab yang tidak ingin Sungai Nil terbendung.
Ilustrasi Nabi Ibrahim (Foto: buletinmitsal.com)

Aceh Barat Daya - Setiap tahun pada akhir bulan Safar, dalam tarikh Islam, masyarakat pesisir pantai barat dan selatan Aceh menjalankan sebuah tradisi peninggalan Umar Bin Khattab yaitu tulak bala (tolak bala). Di Bumi Serambi Mekkah lebih dikenal dengan sebutan Rabu abeh (hari Rabu terakhir).

Pada tahun ini, pelaksanaan Rabu abeh yang selalu diikuti warga setempat, jatuh pada hari Rabu, 23 Oktober 2019. Tradisi ini ditandai dengan pembacaan doa dan ayat suci di masjid, musala, surau hingga di tempat terbuka, seperti di pantai maupun sungai.

Menjelang sore hari, masyarakat akan berduyun-duyun datang ke tepi pantai dan pinggir sungai untuk sekadar duduk, sambil makan bersama keluarga dan sanak famili. Setelah itu mereka menyisipkan doa sebelum bersuci, membasuh tubuh dengan air.

Berdoa dan pergi Rabu habeh memang sejak masih kecil saya sudah tahu dari orang tua.

Sudah turun temurun masyarakat Aceh meyakini bulan Safar identik dengan bulan yang beraura kurang baik bagi fisik manusia, karena rentan diserang berbagai jenis penyakit yang turun pada bulan tersebut.

Semua jenis penyakit dianggap bala. Untuk menghindari malapetaka, maka warga memanjatkan doa bersama-sama agar dijauhkan dari kemudaratan.

Warga Menjalankan Tradisi

Pantai AcehSejumlah warga Kabupaten Aceh Barat Daya memadati lokasi wisata melaksanakan tradisi Rabu habeh dan tolak bala, Rabu 23 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Syamsurizal).

Pantauan Tagar, Rabu, 23 Oktober 2019, menjelang petang, sejumlah lokasi wisata di Kabupaten Aceh Barat Daya mulai dipadati warga. Pantai Bali dan Pantai Jilbab di Kecamatan Susoh terlihat ramai pengunjung.

Tidak hanya lokasi pantai, destinasi wisata sungai atau krueng di Desa Babah Lhueng, Kecamatan Blangpidie, dan sungai di Kecamatan Lembah Sabil juga terlihat menyedot warga untuk bersantai, beberapa ada yang mandi.

Saya tahu tradisi tulak bala ini sudah sejak kecil. Waktu itu, tradisi ini memang sudah dilaksanakan.

Ansari, ibu rumah tangga asal Blangpidie, kepada Tagar saat dijumpai di lokasi wisata Desa Babah Lhueng, mengaku setiap tahunnya saat Rabu habeh, keluarganya tidak pernah absen dalam tradisi ini. 

Daerah wisata yang dipilih menjadi tempat favorit meskipun ramai pengunjung, karena lokasinya nyaman untuk disinggahi dan dekat dengan kediamannya.

“Tiap tahun kami ke sini saat Rabu habeh. Lokasinya dekat, tempatnya sejuk, indah, enak untuk makan-makan dan mandi,” kata Ansari.

Di daerahnya, kata dia, warga berdoa bersama pada malam hari di masjid, musala ataupun surau dan harus dilakukan, demi menolak bala. Tiap orang yang mengikuti tradisi ini membawa makanan ala kadarnya untuk disantap bersama seusai membaca doa, baru keesokan harinya ke pantai atau sungai.

“Di daerah kami memanjatkan doa bersama dilakukan malam hari. Warga setempat membawa makanan ke musala dan masjid. Keesokan harinya baru makan-makan di lokasi wisata,” ucapnya.

Ansari mengaku tidak tahu pasti bagaimana dan sejak kapan tradisi tulak bala dilakukan. Dia mengaku hanya mengikuti kebiasaan yang sudah turun-temurun dilaksanakan oleh orang tua, bahkan leluhurnya di Tanah Rencong.

“Saya tahu tradisi tulak bala ini sudah sejak kecil. Waktu itu, tradisi ini memang sudah dilaksanakan,” kata wanita paruh baya itu.

Sama halnya dengan Saiful, warga Kecamatan Lembah Sabil. Dia juga hanya bisa menggelengkan kepala seraya tersenyum begitu ditanyai soal tolak bala dan asal muasal Rabu habeh

Berdoa di dalam rumah ibadah dan mengunjungi lokasi wisata pada keesokan harinya dilakukan semata, karena sudah menjadi rutinitas tahunan orang tuanya.

“Tidak tahu bagaimana kisahnya. Berdoa dan pergi Rabu habeh memang sejak masih kecil saya sudah tau dari orang tua,” ucapnya singkat.

Tolak Bala dari Umar bin Khattab

Pantai AcehSejumlah warga Kabupaten Aceh Barat Daya memadati lokasi wisata melaksanakan tradisi Rabu habeh dan tolak bala, Rabu 23 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Syamsurizal).

Begitu ditelusuri, ternyata ritual Rabu habeh zaman dahulu dengan sekarang sudah sangat jauh berbeda. Masyarakat terdahulu ketika ke lokasi wisata dapat dipastikan bakal membawa tujuh ayat dari kitab Alquran.

Huruf kaligrafi berisikan tujuh ayat suci ditulisnya ke secarik kertas, kemudian dibawa ke sungai dan diletakkan pada batu dalam sungai. Setelah itu manusia akan menyarat, layaknya air mengalir, begitulah bala mengalir. 

Mereka berharap kemalangan tidak berhenti di daerahnya, lenyap terdorong arus sungai yang deras. Hal tersebut dijelaskan Tengku Asnawi, seorang ustaz asal Kecamatan Blangpidie. 

Bulan (Safar) ini, Allah menurunkan bala ke bumi. Masyarakat memanjatkan doa agar jauh dari bala.

Saat dijumpai di kediamannya, Kamis siang, 24 Oktober 2019, Tengku Asnawi tidak keberatan meskipun waktunya tersita untuk menerangkan kisah Rabu habeh, juga pandangannya terhadap tradisi dan sejarah tolak bala, yang hingga kini masih dilakukan masyarakat Aceh.

Tengku Asnawi menceritakan, memang benar adanya, leluhurnya dari dulu, ketika tiba hari Rabu habeh maka membaca tujuh ayat Alquran tentang doa turunnya bala. 

Ayat ini dibaca bersama-sama, baik di masjid maupun musala daerah masing-masing. Bedanya dengan saat ini, hanya tidak ada rekreasi ke pantai.

“Di bulan (Safar) ini, Allah menurunkan bala ke bumi. Masyarakat memanjatkan doa agar jauh dari bala. Doa dipanjatkan biasanya di masjid dan musala,” kata pria kepala enam itu.

Sayangnya, hal ini tidak lagi dilakukan oleh seluruh masyarakat. Bahkan tradisi ini sudah sangat jauh berbeda di mata Tengku Asnawi. Dia memandang, pelaksanaan Rabu habeh sudah jauh menyimpang dengan yang dilakukan orang tuanya terdahulu.

Saat Rabu habeh, sungai nil saat itu terbendung sendiri. Gubernur yahudi memiliki tradisi menghias remaja putra dan putri layaknya pengantin untuk dikorbankan.

“Dulu ayat ini di bawa ke sungai, kemudian diletakkan di bawah batu seraya bersyarat bagaimana air mengalir, begitulah bala mengalir. Sekarang sudah tidak seperti itu, warga ke lokasi hanya makan-makan dan mandi saja,” kata Tengku Asnawi yang mengaku tidak habis pikir.

Menurut dia, kisah mulanya Rabu habeh berpedoman dan harus menarik sejarah kepemimpinan Umar bin Khattab. 

Saat itu, kata Tengku Asnawi, Sungai Nil di Mesir terbendung dengan sendirinya saat Rabu akhir di bulan Safar. Gubernur Yahudi di Mesir sebelumnya, punya tradisi menghias remaja putra dan putri layaknya pengantin untuk dibuang ke sungai, dengan tujuan, agar aliran sungai kembali terbuka. 

Ketika berganti tampuk kepemimpinan, saat Mesir dipimpin gubernur muslim, tradisi itu hilang. 

Tengku Asnawi berujar, Umar bin Khattab sempat menyurati gubernur muslim Mesir untuk mengganti tradisi itu dengan melempar ke Sungai Nil tujuh ayat Alquran tentang bala, dengan cara ditulis pada selembar kertas sebagai ganti pengantin, supaya jin yang membendung sungai kembali membuka aliran. 

Instruksi Umar bin Khattab yang dijalankan gubernur Mesir terbukti ampuh. Sejak saat itu, Sungai Nil tidak lagi terbendung sendiri kala Rabu akhir di bulan Safar.

“Saat Rabu habeh, sungai nil saat itu terbendung sendiri. Oleh gubernur yahudi memiliki tradisi menghias remaja putra dan putri layaknya pengantin untuk dikorbankan dengan kepercayaan sungai nil akan mengalir normal kembali," kata dia. 

"Ketika Umar bin Khattab memimpin kerajaan Islam di Madinah dan Gubernur Mesir dipimpin oleh muslim, tradisi itu berubah,” ujar Tengku Asnawi di Aceh. []

Berita terkait
Idul Adha Mengingat Kisah Nabi Ibrahim
Lebaran Haji atau Hari Raya Idul Adha mengingat pada kisah Nabi Ibrahim yang mengorbankan putranya, Ismail.
Kisah Tunanetra Aceh Penembus Batas Mimpi
Tunanetra di Aceh Barat Daya diberikan keterampilan memijat demi mengubah nasib, agar tidak lagi terjun di jalan menjadi pengemis.
Setan Geunteut, Usai Magrib Culik Anak Kecil di Aceh
Hantu geunteut boleh saja dianggap sebagai mitos belaka. Namun, kesaksian korban yang diculik di Aceh, membuktikan jika makhluk gaib ada di sana.
0
Ahok Masuk BUMN di Mata Dosen UGM Yogyakarta
Ahok dikabarkan mengisi jabatan tinggi di BUMN. Statusnya mantan napi tidak masalah, yang menjadi masalah statusnya sebagai kader partai politik.