UNTUK INDONESIA
Atap Sekolah Runtuh, di Mana Nadiem Makarim?
SD Negeri di Pasuruan, Jawa Timur, atapnya runtuh, dua korban jiwa melayang, di mana Mendikbud Nadiem Makarim? Tulisan opini Bagas Pujilaksono.
Nadiem Makarim. (Foto: Nadiem Makarim Official)

Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Pasuruan, Jawa Timur, kemarin atapnya runtuh, dua korban jiwa melayang: guru pengganti dan murid. Negara harus bertanggung jawab. Meminta maaf tidak cukup. Saya tidak melihat respons cepat dari Mendikbud Nadiem Makarim atas katastrofa ini. Sikap ini jelas bertentangan dengan etos kerja Presiden Jokowi yaitu kerja, kerja, dan kerja.

Kejadian tersebut adalah potret buram wajah pendidikan nasional. Negara gagal memberi rasa aman bagi guru dan murid untuk melaksanakan proses pembelajaran.

Dalam scope yang lebih luas, negara gagal membangun sistem pendidikan nasional yang komprehensif, koordinatif, dan berkesinambungan.

Saya ingin memilah-milah permasalahan pendidikan nasional, dengan harapan pada tahapan inventarisasi permasalahan ini bisa membantu Pemerintah keluar dari permasalahan ini dan mampu memerankan tanggung jawabnya secara layak. 

Saya tidak melihat respons cepat dari Mendikbud Nadiem Makarim.

Permasalahan pendidikan nasional saat ini adalah sebagai berikut:

1. Kurikulum nasional overloaded, tidak sesuai usianya dan tidak manusiawi. Anak murid dibebani banyak pelajaran seolah-olah ditarget akan dapat hadiah Nobel ketika lulus SD. Ini sangat menggelikan.

2. Pemerintah salah urus dalam menyelenggarakan pendidikan calon guru dengan jalur keguruan. Mestinya proses pendidikan calon guru murni jalur akademik di universitas. Sebagai contoh: perintahkan UGM mencetak guru fisika, kimia, matematika, dan biologi lewat FMIPA dan Fakultas Biologi, UGM, hasilnya pasti jauh lebih baik dibandingkan lewat jalur keguruan.

3. Data pemerintah tidak valid soal fasilitas-fasilitas sekolah termasuk gedung sekolah. Gedung sekolah dianggap aman, kenyataannya banyak gedung sekolah yang tidak aman. Kejadian runtuhnya atap gedung sekolah SDN di Pasuruan bukan kali pertama, namun kali yang banyak sekali. 

Pemerintah selalu kecolongan dan gagal paham. Tidak ada mekanisme perawatan gedung sekolah yang memadahi, sehingga runtuhnya atap sekolah terus saja terjadi dan selalu menelan tumbal. Pemerintah lebih getol membangun jalan tol dibandingkan membangun gedung sekolah yang aman dan modern. Padahal sangat jelas, sekolah adalah jalan tol menuju kemajuan peradaban.

4. Radikalisme di sekolah hingga hari ini tidak ada penanganan yang nyata dan serius dari Pemerintah. Sekolah-sekolah begitu sangar dan angker karena anak murid kehilangan roh kebebasan dan berpikir rasional akibat dijejali dogma-dogma sesat. Lebih parah lagi, perilaku anak murid menafikan budayanya dan tidak paham sejarah perjalanan bangsanya sendiri.

5. Paradigma pemerintah keliru soal pendidikan nasional. Pendidikan nasional tidak pernah ditujukan untuk hanya mencetak tenaga kerja. Sekolah mempunyai fungsi yang lebih luas dibandingkan hanya mencetak tenaga kerja. Sekolah memberi bekal pengetahuan bagi anak murid agar bisa lincah beradaptasi di dunia kerja, bukan siap kerja. Sekolah bukan tempat kursus atau tempat anak murid singgah sebentar untuk bermain handphone cari ojek ngantar pulang sekolah.

Jelas, bahwa permasalahan pendidikan nasional tidak bisa dituntaskan hanya melalui pendekatan anggaran, namun juga pembenahan segala hal yang dibiayai oleh anggaran tersebut.

Revolusi mental paling efektif adalah lewat sekolah.

*Akademisi Universitas Gadjah Mada

Baca tulisan lain:

Berita terkait
Kenapa Mendikbud Nadiem Makarim Bekerja Tanpa Wamen?
Hingga saat ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim belum mendapat jatah wakil menteri dari Presiden Joko Widodo, kenapa?
Menanti Formula Nadiem Makarim di Dunia Pendidikan
Penunjukan Nadiem Makarim merupakan keputusan yang sangat berani dari Bapak Presiden Jokowi untuk dunia pendidikan.
Abdul Fikri Optimis Nadiem Makarim Majukan Pendidikan
Abdul Fikri Faqih mengaku optimis dengan dipilihnya Nadiem Anwar Makarim menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
0
Ahok Masuk BUMN di Mata Dosen UGM Yogyakarta
Ahok dikabarkan mengisi jabatan tinggi di BUMN. Statusnya mantan napi tidak masalah, yang menjadi masalah statusnya sebagai kader partai politik.