UNTUK INDONESIA
Toilet Dekat Makam Kerajaan Aceh Diminta Dirobohkan
Pemerintah Kota Banda Aceh diminta menjaga dan menata kembali kawasan situs Makam Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail di Banda Aceh
Makam Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail (1703-1726) di Jalan Muhammad Jam, Banda Aceh, Senin 18 November 2019. (Foto: Tagar/Istimewa)

Banda Aceh - Ketua Peubeudoh Adat dan Budaya Aceh (Peusaba), Mawardi Usman meminta Pemerintah Kota Banda Aceh untuk menjaga dan menata kembali kawasan situs Makam Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail. Karena itu, bangunan-bangunan dan toilet di sekitar makam harus dirobohkan dan diratakan.

"Langkah ini untuk menjadikan kawasan situs Makam Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul sebagai kawasan cagar budaya sejarah mengingat jasa-jasa besar Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail untuk Aceh dan dunia Melayu serta Asia Tenggara," kata Mawardi dalam keterangan diterima Tagar, Selasa 3 Desember 2019.

Dia juga meminta agar setelah dirobohkan maka seluruh kawasan kompleks Makam Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail dikembalikan menjadi asalnya sebagai Taman Sayidi Jeumaloy. Pada masa lalu, katanya, lokasi itu adalah kawasan ziarah yang terkenal di Aceh. Apalagi ada taman yang dikenal nama lampoh Poteu Jeumaloy.

"Maka Peusaba meminta kawasan Makam Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail dikembalikan sebagaimana asalnya sebagai bagian penting dari kampanye menjadikan kawasan Banda Aceh sebagai kawasan situs Wisata Islam di Asia Tenggara," ujar Mawardi.

Maka sudah kewajiban kita semua untuk menjaga makam Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail.

Mawardi menyebutkan, banyak sekali sejarah besar yang terdapat di Banda Aceh namun tidak ada di negeri lain. Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan.

Karena itu, pada momentum bulan ini, sudah saatnya semua pihak memuliakan makam keturunan Rasulullah SAW yakni Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail yang pada masa lalu aktif mengirimkan para pendakwah ke seluruh kawasan Asia Tenggara untuk menyebarkan Islam.

"Maka sudah kewajiban kita semua untuk menjaga makam Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail," katanya.

Sebelumnya diberitakan, Ketua Peubeudoh Adat dan Budaya Aceh (Peusaba), Mawardi Usman mengecam terkait penghancuran kawasan situs Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail (1703-1726).

Situs yang berada di Jalan Muhammad Jam, Banda Aceh itu merupakan bagian dari Sultan Aceh Darussalam dan juga Keturunan Nabi Muhammad SAW.

“Dalam bulan Maulid yang mulia ini kita melihat penghancuran kawasan sejarah Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail terus terjadi tanpa henti, sedangkan pemerintah Banda Aceh memilih berdiam diri dan tidak peduli,” kata Mawardi dalam keterangan pada Tagar, Selasa 19 November 2019.

Ia menjelaskan, kurang pedulinya Pemerintah Kota Banda Aceh terhadap situs itu dapat dibuktikan dengan kondisi jalan menuju makam dipenuhi tempat penjualan yang tidak tertib. Selain itu, pembangunan hotel di samping makam juga terus berlanjut.

“Peusaba mengingatkan bahwa orang yang sengaja menghancurkan dan menutup makam aulia cucu Nabi Muhammad SAW akan tertimpa bala bencana dunia dan akhirat, apalagi Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail juga seorang raja yang salih dan alim yang disebut Raja Aulia dalam hikayat Aceh zaman dulu,” ujar Mawardi. []

Baca juga: 

Berita terkait
Dua Polisi Aceh Dipecat Karena Narkoba
Dua personel polisi dari kesatuan Polisi Resor (Polres) Aceh Utara, Aceh dipecat karena mengkonsumsi narkoba dan disersi.
Seratusan Masa Demo Tuntut Janji Bupati Aceh Singkil
Seratusan warga Aceh Singkil berunjuk rasa menagih janji bupati untuk menyelesaikan tapal batas eks transmigrasi dengan perusahaan PT Nafasindo.
Ibu yang Seret Anak Belasan Meter di Aceh Menangis
Pelaku ditangkap di rumahnya di Dusun Jambu Air, Gampong Pie, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Aceh pada Sabtu 30 November 2019.
0
Jokowi Minta Belanja Kementerian Utamakan Produk Dalam Negeri
Jokowi minta pengendalian inflasi saat ini tidak bisa hanya berfokus pada upaya pengendalian harga, tetapi harus diarahkan untuk penguatan UMKM.