UNTUK INDONESIA
Sejarah Panjang Sunan Kuning Semarang
Ketika mendengar Sunan Kuning, apa yang terbersit di benak Anda? Imajinasi melayang ke Walisongo atau tempat prostitusi di Semarang?
Ruas jalan di kawasan Sunan Kuning, Semarang, Jawa Tengah. (Foto: Tagar/Agus Joko Mulyono)

Semarang - Ketika mendengar 'Sunan Kuning', apa yang terbersit di benak Anda? Imajinasi melayang ke Walisongo yang nama-nama selalu didahului kata 'Sunan', atau melayang ke kawasan prostitusi di Semarang, Jawa Tengah?

Sunan Kuning atau Soen An Ing, nama tokoh penting dalam sejarah Indonesia abad ke-17.

Ia dimakamkan tak jauh dari kawasan lokalisasi prostitusi. Berjarak kurang dari 100 meter dari pusat lokalisasi. Tepatnya di puncak bukit kecil di sisi Barat Daya lokalisasi. 

Bukit itu dikenal warga dengan sebutan Gunung Pekayangan. Secara administrasi kewilayahan masuk di Jalan Sri Kuncoro 1 RT 6 RW 2 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Kota Semarang. Makam itu dikelilingi pekuburan umum warga sekitar.

Tidak terlalu sulit menuju makam Sunan Kuning. Setelah melewati gang-gang kompleks lokalisasi, akan bertemu sebuah gang cukup lebar, ukuran semobil dengan jalanan tidak terlalu menanjak. Tembok warna merah dengan gapura berarsitektur khas negeri China menjadi penanda lokasi makam. Lokasi makam ini berada di bawah pohon besar yang rindang, dikelilingi pekuburan warga Argorejo.

Di lokasi, ada tiga bangunan makam, dengan gaya khas China perpaduan rumah Jawa. Selain makam Sunang Kuning, di sekitarnya ada makam Sunan Ambarawa, dan Sunan Kali. Aksesoris serba China juga terpasang, ada lampion, tulisan China, juga dupa di depan pintu masuk tiga bangunan makam itu.

Catatan sejarah Semarang menyebutkan Sunan Kuning seorang pahlawan yang mengobarkan perlawanan kepada penjajah Belanda. Sunang Kuning atau Soen An Ing juga diyakini sebagai penyebar ajaran Islam pada abad ke-17.

Namun Sunan Kuning dalam perkembangannya identik dengan kawasan prostitusi terbesar di Semarang. Sampai kemudian Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi pada Jumat, 18 Oktober 2019, menyatakan tempat itu sebagai area bebas prostitusi.

Sehari menjelang penutupan prostitusi Sunan Kuning, Pemerintah Kota Semarang memasang papan pengumuman tentang Resosialisasi Argorejo sebagai kawasan bebas prostitusi.

Papan pengumuman bertuliskan "Wilayah Argorejo (SK) Kawasan Bebas Prostitusi" dipasang di tiga titik yang merupakan akses masuk ke Sunan Kuning.

Pada papan pengumuman tersebut juga dicantumkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2017 tentang ketertiban umum sebagai dasar pemasangannya.

Pemerintah setempat memutuskan menutup kegiatan prostitusi, dan Sunan Kuning akan disulap menjadi kawasan wisata religi.

“Sunan Kuning harus dilihat dari ragam pandang. Salah satunya soal sejarah, bahwa di situ ada sejarah makam Soen An Ing yang diyakini masyarakat kita sebagai penyebar agama Islam era dulu. Bahwa ada semangat religi yang terus kami bangkitkan di Sunan Kuning,” ujar Hendrar Prihadi kepada Tagar, Senin, 14 Oktober 2019.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunarita Rahayu, menambahkan Sunan Kuning mempunyai potensi wisata religi dengan keberadaan makam yang diyakini tempat peristirahatan terakhir tokoh Islam turunan Tionghoa zaman lampau, Soen An Ing.

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto, mengatakan proses penutupan kegiatan prostitusi berlangsung kondusif.

“Saat tempat lain terjadi perlawanan, rusuh, di Sunan Kuning berlangsung kondusif. Tidak ada ontran-ontran berujung kegaduhan. Kami berterima kasih kepada warga Sunan Kuning yang sangat dewasa menyikapi kebijakan ini,” kata Fajar.

Suwandi, Ketua Resosialisasi Argorejo atau lebih populer disebut Ketua Sunan Kuning, mengaku menyambut baik penutupan prostitusi. Ia menyebut kupu-kupu malam telah dientaskan dari lembah hitam esek-esek.

“Karena di sini anak-anak (para wanita pekerja seks) kami didik, kami arahkan untuk berdiri, buat usaha. Kami wajibkan untuk menabung sehingga ketika waktunya tiba mereka secara sadar diri keluar. Karena tentu tidak ada orang yang ingin hidup dengan cara seperti ini. Hanya masalah kesempatan dan waktu agar mereka bisa menapak masa depan lebih baik,” katanya.

Pendapat berbeda disampaikan Antoni Yudha Timor, seorang pegacara di Semarang. Antoni mengatakan prostitusi Sunan Kuning ditutup, potensi kejahatan pemerkosaan akan meningkat.

“Saat ini baru akan ditutup saja sudah muncul kasus perkosaan yang membuat kita miris. Kasusnya sedang kami tangani bersama kepolisian,” kata Antoni.

“Sekarang marak prostitusi online tapi apa bisa dijangkau seluruh lapisan pria hidung belang. Karena tarif WPS (wanita pekerja seks) online itu lebih mahal ketimbang di lokalisasi. Makanya ketika Sunan Kuning ditutup, perkosaan jadi aksi pintas,” lanjutnya.

Sumiyati, seorang relawan atau peer educator, lama akrab dengan dunia malam Sunan Kuning. Walaupun Sunan Kuning sudah ditutup, ia tetap mengingatkan pentingnya kondom.

Hampir 17 tahun mendampingi para wanita pekerja seks, satu hal yang selalu ia camkan adalah menggunakan alat kontrasepsi di antaranya kondom.

Ia mengatakan tidak bermaksud mendukung prostitusi, namun mengkampanyekan penggunaan kondom agar wanita pekerja seks terhindar dari penyakit menular seks.

***

Beragam jawaban masyarakat saat Tagar bertanya apa itu Sunan Kuning.

“Ziarah,” ujar Steve, seorang jurnalis yang aktif meliput aktivitas kota dan biasa mangkal di lingkungan Kantor Pemerintah Kota Semarang.

“Ziarah ke mbak-mbake WPS. Ya karena selama ini Sunan Kuning dikenal sebagai kawasan prostitusi. Tempat untuk berbagi kebahagiaan,” kata Steve.

Eko Haryanto, seorang aktivis anti-korupsi di Semarang mengaku simpatik pada para wanita pekerja seks.

“Simpatik dengan aktivitas mereka untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, itu salah satunya. Bukan dengan cara-cara instan seperti maling uang negara atau korupsi. Di mata saya, jelas mereka lebih terhormat dan mulia daripada koruptor,” kata Eko.

Pria berinisial LD, pelanggan Sunan Kuning, mengatakan kebijakan penutupan prostitusi Sunan Kuning membuyarkan harapan ekonomi ratusan warga sekitar.

“Ambyar. Bagaimana nanti usaha warung rokok, warung makan, dan usaha lain, tentu akan turun omzet bahkan bisa gulung tikar karena sudah tidak ada mbak-mbak WPS. Omzet penjualan Congyang juga bakal tergerus,” kata LD.

Widi 29 tahun, seorang ibu rumah tangga, warga Pucanggading mengenal Sunan Kuning sebagai tempat prostitusi.

Zainal, Satpam di DPRD Kota Semarang mengenali Sunan Kuning sebagai tempat karaoke. Selain dihuni banyak wanita pekerja seks, di Sunan Kuning bertebaran ratusan jenis usaha Karaoke.

Della 32 tahun, seorang wanita pekerja seks di Sunan Kuning. Perempuan berparas manis ini sudah enam tahun melakukan aktivitas tersebut di tempat ini dan merasa aman.

“Satu kata untuk Sunan Kuning. Aman. Sejak 2013 kerja di sini tidak pernah ada pengalaman buruk, diteror pelanggan pun tidak pernah,” kata Della.

Budi, seorang office boy di perkantoran di Jalan Pemuda, Semarang. Ditanya tentang Sunan Kuning, ia menjawab, "Galau."

“Pengin ke sana tapi tak bisa karena tak ada uang. Jadinya galau,” katanya.

Sunan Kuning dalam Lintasan Sejarah

Sunan KuningMakam atau petilasan Sunan Kuning di bagian barat Kota Semarang, di atas bukit Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Semarang. (Foto: Tagar/Agus Joko Mulyono)

Meneruskan catatan Wikipedia Indonesia, Sunan Kuning punya banyak nama di antaranya Sri Susuhunan Amangkurat V. Ia adalah penguasa terakhir di Kasunanan Kartasura sebelum akhirnya direbut kembali oleh Pakubuwana II atas bantuan VOC (Bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie), tetapi tak lama Amangkurat V pun tersingkir. Kemudian Pakubuwana II mendirikan Kasunanan Surakarta.

Amangkurat V sebagai pemimpin persekutuan Tionghoa-Jawa melawan VOC dalam peristiwa Geger Pacinan dijuluki Sunan Kuning yang berasal dari kata cun ling (bangsawan tertinggi). Karena lidah orang Tionghoa susah mengejanya, Sunan Kuning menjadi Soen An Ing.

Tentang VOC. Hindia Belanda pada abad ke-17 dan 18 tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada 1602. Markasnya berada di Batavia, kini bernama Jakarta.

VOC bertujuan mempertahankan monopoli terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut.

Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala.

VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa itu, dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten.

***

Amangkurat V atau Sunan Kuning merupakan salah satu tokoh yang berperan penting dalam peristiwa Geger Pacinan bersama Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa). Dalam Geger Pacinan, Persekutuan Tionghoa-Jawa melawan VOC, Sunan Kuning bersama Kapitan Sepanjang (Khe Panjang) dan Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa) mengobarkan perlawanan sengit terhadap VOC di wilayah kekuasaan Mataram. Perlawanan ini disebut sebagai pemberontakan terbesar yang dihadapi VOC selama berkuasa di Nusantara.

Para pemberontak Tionghoa-Jawa menobatkan Raden Mas Garendi sebagai Sunan Kartasura bergelar Sunan Amangkurat V Senopati Ing Ngalogo Ngabdulrohman Sayidin Panotagomo pada 6 April 1742 di Kabupaten Pati. Ketika itu, cucu Amangkurat III yang dibuang VOC ini baru berumur 16 tahun, sumber lain menyebut 12 tahun. Dia pun dianggap sebagai 'Rajanya orang Jawa dan Tionghoa'.

Pengangkatan Sunan Kuning sebagai simbol perlawanan rakyat Kartasura yang dikhianati Pakubuwana II, yang bersekutu dengan VOC. Padahal, sebelumnya dia mendukung perlawanan Tionghoa-Jawa terhadap VOC. Dia meminta pengampunan VOC, karena orang-orang Tionghoa kalah perang, banyak pembesar Jawa tidak tertarik pada kebijakannya, dan bagian timur kerajaannya jatuh ke tangan Cakraningrat IV, raja Madura yang bersekutu dengan VOC.

Balatentara Sunan Kuning memasuki Kartasura pada Juni 1742 setelah sebelumnya bertempur dari Salatiga hingga Boyolali. Kapitan Sepanjang atau Khe Panjang yang bertugas di garis belakang sebagai pengawal Sunan Kuning, bertindak sebagai komandan tentara pendudukan.

Pakubuwana II melarikan diri dari Kartasura, dievakuasi Kapten Van Hohendorf (VOC) ke arah timur Kartasura, menyeberangi Bengawan Solo ke Magetan. Peristiwa itu oleh orang Jawa ditandai dengan Candrosengkolo atau penanda waktu yang berbunyi 'Pandito Enem Angoyog Jagad' artinya Raja yang telah kehilangan keratonnya.

Sunan Kuning bertahta di Kasunanan Kartasura, terhitung 1 Juli 1742. Dia mengangkat komandan perlawanan, seperti Mangunoneng sebagai patih dan Raden Suryokusumo atau Pangeran Prangwedana sebagai panglima perang.

Segera setelah itu, Sunan Kuning merencanakan menggempur pasukan VOC di Semarang. 1200 prajurit gabungan Tionghoa-Jawa dipimpin Raden Mas Said atau Mangkunegara I dan Singseh atau Tan Sin Ko menuju Welahan.

Di Welahan mereka bertempur melawan pasukan VOC dipimpin Kapten Gerrit Mom. VOC yang menyerang dari berbagai sudut berhasil memukul mundur pasukan gabungan Tionghoa-Jawa. Setelahnya berbagai kekalahan dialami pasukan gabungan Tionghoa-Jawa. Beberapa pimpinan terbunuh seperti Tan We Kie di Pulau Mandalika, lepas pantai Jepara dan Singseh tertangkap di Lasem dan dieksekusi mati di sana.

Pada November 1742, keadaan semakin tidak berpihak kepada Sunan Kuning. Kartasura diserang dari tiga penjuru: Cakraningrat IV dari arah Bengawan Solo, Pakubuwana II dari Ngawi, pasukan VOC dari Ungaran dan Salatiga. Sunan Kuning meninggalkan Kartasura dan mengungsi ke arah selatan bersama pasukan Tionghoa. Walaupun Kartasura telah jatuh, perlawanan terus berlangsung di berbagai tempat di wilayah Jawa.

Akhir dari perjalanan Sunan Kuning terjadi pada September 1743 saat tedesak di sekitar Surabaya bagian selatan. Terpisah dari kawalan Kapitan Sepanjang (pengawal Sunan Kuning), Sunan Kuning menyerahkan diri ke loji VOC di Surabaya di bawah pimpinan Reinier De Klerk, disusul banyak pemberontak lain. Setelah beberapa hari ditawan di Surabaya, ia bersama beberapa pengikutnya dibawa ke Semarang lalu ke Batavia, hingga akhirnya diasingkan ke Sri Lanka.

Sumber riwayat Semarang menyebutkan makam atau petilasan Sunan Kuning berada di bagian barat Kota Semarang, di atas bukit Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Semarang. 

Sekitar makam Sunan Kuning itu, sejak paruh kedua dasawarsa 1960-an dijadikan lokalisasi pelacuran, nama Lokalisasi Sunan Kuning pun lebih populer dibanding nama resmi kawasan Resosialisasi Argorejo dan ini terus dikecam banyak kalangan yang mengira sebutan Sunan niscaya berhubungan dengan Walisongo dan penguasa Kasunanan.

Kecaman demi kecaman akhirnya berhenti seiring keputusan Pemerintah Kota Semarang yang pada Jumat, 18 Oktober 2019, menyatakan Sunan Kuning terlarang bagi aktivitas prostitusi. Sunan Kuning akan dikembangkan sebagai kawasan wisata sejarah dan religi. []

Baca juga:

Berita terkait
Warung Mistis di Yogyakarta yang Mendunia
Terdapat Warung Makanan Roh Halus di Yogyakarta yang sudah 50 tahun berdiri. Tempat ini mendunia karena sempat diliput media Inggris dan Singapura.
Misteri Rumah Kolonial di Kaki Gunung Arjuno
Terdapat sebuah bangunan kuno bergaya kolonial Belanda di kaki Gunung Arjono Jawa Timur yang dinamakan Penginapan Kaliandra Sejati.
Gaji Pertama Wakil Rakyat Aceh untuk Anak Yatim
Anggota DPRD Aceh Barat Daya Azzam Awenk memberikan santunan kepada anak yatim dari gaji pertamanya sebagai wakil rakyat.
0
Anies Baswedan Diagendakan Buka Rakornas PKS
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diagendakan membuka Rakornas PKS di Hotel Bidakara Jakarta. Acara ini akan membahas sikap partai kepada Jokowi.