UNTUK INDONESIA
Perempuan Pelipur Lara Warga Kudus di Masa Pandemi
Di masa pendemi corona, profesi penyiar mampu memberikan hiburan tersendiri bagi warga Kudus.
Di usianya yang masih muda, Mia Karisma, penyiar Radio Yasika FM Kudus, tertantang untuk bisa memberi hiburan dan motivasi ke masyarakar dalam menghadapi pandemi corona. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Kudus - Di balik bilik siar, suara dan kreasi berkomunikasinya menjadi pelipur lara tersendiri bagi warga Kudus di tengah duka imbas pandemi corona. Ia juga menjadi jembatan kerinduan antarwarga yang tak bisa lagi bertatap muka karena imbauan physical dan social distancing

Siti Islamiyah, lebih dikenal warga Kota Kretek dan sekitarnya dengan nama udara Mia Karisma. Perempuan berparas ayu itu adalah penyiar Radio Yasika FM Kudus. Usianya tergolong masih sangat muda, baru 24 tahun. Namun perannya memberi semangat warga untuk tegar dan kompak menghadapi Corona tak bisa dianggap sebelah mata. 

Di kantor Yasika FM, di bilangan Jalan Kyai Ahmad Dahlan, Sabtu, 21 April 2020, kami bertemu. Tidak langsung ketemu memang, karena kebetulan saat Tagar tiba, Mia masih berada di bilik siar, cuap-cuap menyapa dan mengibur pendengarnya. 

Petugas resepsionis menyilakan menunggu di sebuah ruang tamu bernuansa warna hijau. Ruangan itu cukup nyaman dengan sofa merah bergaris hitam yang empuk diduduki.  

Tak lama menunggu, seorang gadis berjilbab hitam datang menghampiri Tagar. Baju berwarna merah jambu berpadu serasi dengan celana dengan warna hitam, membuat dia tampak anggun malam itu. Senyum manisnya mengembang, berlanjut uluran jabatan tangan. 

"Saya Mia Karisma, maaf kalau lama menunggu," ucapnya renyah sembari kembali menyilakan duduk di sofa.

Saling menyapa, berlanjut basa-basi perbincangan dan cara ngobrol Mia yang komunikatif memudahkan Tagar untuk mengarahkan materi pembicaraan ke suka dukanya jadi penyiar selama masa pandemi corona. 

Di tengah pandemi Covid-19, masyarakat pastinya kurang hiburan.

Karir perempuan asal Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus di dunia penyiaran terbilang baru seumur jagung. Dia bergabung menjadi penyiar lagu-lagu bergenre dangdut di Yasika FM sekitar bulan Desember 2019 lalu.

Dari segi usia dan pengalaman, memang tidak banyak yang bisa dia bagi. Namun, semangatnya dalam menghibur masyarakat di tengah pandemi  cukup menginspirasi.

Sebagai anak baru, dia harus bekerja ekstra dalam beradaptasi dengan lingkungan yang belum pernah disambanginya itu. Tidak hanya belajar olah vokal, di tempat kerjanya ia juga ditempa untuk menyajikan obrolan-obrolan seru edukatif dan tentunya menghibur pendengar.

Terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti ini. Banyaknya warga yang jadi pengangguran karena kena pemutusan hubungan pekerjaan (PHK), anak-anak belajar di rumah, tentu butuh sesuatu yang benar-benar bisa menjadi sarana penghiburan.   

"Di tengah pandemi Covid-19, masyarakat pastinya kurang hiburan. Karena objek-objek wisata di tutup, tidak boleh bepergian keluar kota, tidak boleh berkerumun, nongkrong dan menghabiskan waktunya di rumah. Kondisi itu tentu cukup membosankan,” tutur dia.

Tantangan ini yang menuntutnya berpikir keras untuk menyajikan ragam hiburan. Tak hanya melulu soal lagu sesuai kondisi sosial dan psikologi sosial warga, Mia juga harus dapat berkreasi di ragam trik dan tips aktivitas bernafas edukatif, seru dan menarik.

Lagu Didi Kempot

Penyiar kudus1Mia Karisma, penyiar Radio Yasika FM saat berbincang dengan Tagar di kantornya pada 21 April 2020. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Di sinilah, penyiar hadir sebagai penghibur masyarakat dalam melawan kejenuhan selama menjalani work form home. Semisal lewat alunan lagu Aku Ora Bisa Muleh yang didendangkan Arda, dengan gaya khasnya Mia mengedukasi masyarakat untuk tetap melakukan social dan physical distancing.

Lagu karya Didi Kempot itu, diakui Mia, akhir-akhir ini memang kerap diputar di sejumlah saluran radio, termasuk tempatnya bekerja. Tidak salah, sebab lagu itu menceritakan kisah seseorang yang tidak bisa pulang ke kampung halaman merayakan Lebaran. Sangat relevan dengan kondisi terkini mengikuti imbuan pemerintah di tengah pandemi Covid-19.

“Ini jadi lagu wajib, yang harus diputar sehari sekali di radio saya. Kalau jenuh dengan lagu yang saya putar masyarakat bisa request lagu lain sambil kirim-kirim salam,” kata dia.

Diakui dara kelahiran 25 November 1996 itu, intensitas masyarakat berkirim salam melalui radio selama corona meningkat. Dalam sehari dia bisa belasan kali menyampaikan kiriman salam.

Tidak hanya jumlahnya yang meningkat, tema kirim salam dari masyarakat kini mengalami pergeseran. Jika biasanya masyarakat dominan mengirimkan ucapan semangat untuk orang terkasih. Kini, kiriman salam dari masyarakat di dominasi ucapan kerinduan.

“Banyak, ada yang rindu kepada orang tuanya yang berada di kampung halaman. Minta maaf tidak bisa pulang mudik. Lalu ada juga yang rindu berkumpul bercengkrama dengan teman sekolah ataupun rekan kerja,” sebutnya.

Pernah suatu ketika, hatinya merasa terenyuh usai menyampaikan sebuah salam dari pendengar setianya. Salam itu disampaikan oleh seseorang perantau asal Timika, Papua, yang bekerja di Kecamatan Karangayar, Kabupaten Demak.

Ini jadi lagu wajib, yang harus diputar sehari sekali di radio saya

Setiap tiga hari sekali, lanjut Mia, perantau ini mengirimkan salam untuk keluarganya tercinta yang ada di Papua. Ucapan maaf, karena belum bisa pulang ke kampung halaman dan berkumpul kembali dengan orang-orang terkasih selalu disampaikan perantau itu melalui Yasika FM.

“Setelah kiriman salam dia saya bacakan. Dia selalu mengucapkan terimakasih melalui pesan singkat ke nomor ponsel Yasika FM. Di sini saya kerap merasa terenyuh, ternyata saya bisa bermanfaat untuk orang lain di tengah wabah Covid-19,” tutur dia.

Dari sekelumit pengalaman itu, Mia menjadi sadar akan pentingnya peran penyiar radio di tengah wabah corona. “Di sini, saya juga menyadari ternyata profesi penyiar radio juga ikut andil dalam penanganan Covid-19. Kami memang bukan sebagai garda terdepan, tetapi kami juga ikut berperan membuat masyarakat terhibur dan betah tinggal di rumah selama pandemi Covid-19,” beber dia. 

Kepada masyarakat, saat di ruang siar, Mia kerap berbagi kegiatan menyenangkan yang bisa dilakukan di rumah untuk mengatasi kebosanan. Bukan main game atau nonton drama korea. Tetapi dengan menjalankan berbagai hobi yang mungkin selama ini belum tersalurkan karena kesibukan kerja.

Di antaranya dengan memanfaatkan halaman rumah sebagai tempat bercocok tanam, mencoba berbagai resep menu makanan baru, memadupadankan baju, menulis puisi ataupun cerpen hingga mendekorasi rumah. 

Menjalani aktivitas-aktivitas semacam ini, diakuinya sarjana Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Universitas Negeri Semarang itu, sangat efektif dalam mengurangi stres dan kebosanan di masa libur corona. 

“Bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah, juga bisa membantu anaknya belajar. Tidak melulu belalar akademik, bisa juga mengajak anak belajar mengenal lingkungan di sekitarnya dan olahraga ringan. Kegiatan seperti ini akan menciptakan keakraban dan kehangatan di dalam keluarga,” katanya.  

Berkenanaan dengan momentum Hari Kartini yang peringatannya jatuh di hari itu, Mia punya pandangan tersendiri. Baginya, perjuangan Kartini tidak lagi diperingati dengan seremonial yang menampilkan perempuan-perempuan cantik berbalut busana adat. Tetapi lebih menitikberatkan pada jasa dan pengorbanan perempuan demi kemaslahatan banyak orang.

Ada tenaga kesehatan medis mempertaruhkan nyawanya untuk mengobati para penderita Covid-19. Lalu para pemudik yang rela belasan hari diisolasi di tempat karantina demi kesehatan keluarganya dan warga lain. Kemudian pedagang kaki lima, yang rela tidak berjualan dan mati pendapatan selama libur corona. Itu semua adalah semangat yang hanya bisa didapat dari seorang pahlawam

“Bagi saya, semua perempuan yang berperan aktif menjalankan imbuan pemerintah melakukan upaya pemutusan mata rantai penyebaran virus corona, layak dijuluki sebagai Kartini masa kini. Karena musuh kita saat ini virus corona,” ujar dia.

Untuk itu, dia mengajak masarakat Kudus tetap menjalankan imbuan pemerintah melakukan social dan physical distancing dengan hati yang gembira. Menurutnya, hati yang gembira akan meningkatkan kekebalan tubuh dan bisa menangkal paparan virus corona

“Dari beberapa literasi yang saya baca begitu. Kesehatan tubuh dimulai dari kesehatan pikiran. Kalau hati kita bahagia, tubuh kita akan sehat. Antibodi dalam tubuh kita akan bekerja maksimal dalam menangkal berbagai serangan virus yang mencoba masuk kedalam tubuh,” ucapnya. []

Baca cerita lainnya: 

Berita terkait
Wajah Kecewa Warga Kudus di Pembagian Bansos Covid
Ratusan warga kecewa karena tak kebagian bansos Covid-19 PT Pura Kudus. Paket sembako dibagikan sebelum jadwal.
Buah Manis Pemudik Kudus Jalani Masa Isolasi
Para pemudik Kudus di karantina Rusunawa Bakalankrapyak akhirnya menyadari pentingnya langkah isolasi sebelum kumpul keluarga.
Getaran Suara Beduk Menara Kudus Penanda Puasa
Tak ada kemeriahaan tradisi dhandhangan di Kudus. Namun tabuhan beduk di masjid Menara masih jadi penanda datangnya bulan puasa.
0
Kata PKS, Presiden Jokowi Lemah dan Plin Plan
Pemerintahan Jokowi periode dua ini masih saja seperti dulu. Lemah dan plin plan. Terlihat saat wabah Covid-19 melanda negara ini. Kata orang PKS.