UNTUK INDONESIA
Getaran Suara Beduk Menara Kudus Penanda Puasa
Tak ada kemeriahaan tradisi dhandhangan di Kudus. Namun tabuhan beduk di masjid Menara masih jadi penanda datangnya bulan puasa.
Suara tabuh beduk di menara Masjid Menara Kudus, Kamis sore, 23 April 2020, menjadi penanda datangnya Ramadan. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Kudus - Tabuhan beduk di Masjid Menara Kudus menjadi penanda dimulainya puasa Ramadan, Kamis sore, 23 April 2020. Tak ada kemeriahan di tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun tersebut. Virus bernama corona menjadi pangkal penyebab pemerintah melarang munculnya kerumunan.  

Bagi sebagian warga yang mendengarnya, alunan dang dang dang dari tabuhan beduk menimbulkan sensasi tersendiri. Ada rasa haru bernuansa bahagia yang menyelip di antara langit senja, merambat hingga menyentuh sanubari. 

"Rasanya bagaimana begitu setiap kali mendengar suara tabuhan beduk itu. Campur aduk jika dirasakan, antara bahagia dan haru. Sedih juga, suasana menyambut puasa kali ini beda dengan sebelumnya karena ada corona," ujar Slamet Gunawan, 40 tahun, sore itu. 

Senyum Gunawan langsung mengembang ketika melempar pandangan ke arah dua anak di sampingnya. Duduk santai di teras Masjid Menara bersama sang istri, keluarga itu terlihat menikmati alunan bertalu dari tabuhan beduk.  

“Awalnya, kami berpikir tradisi ini ikut libur karena pandemi Covid-19. Tadi selesai ziarah kami mendengar suara tabuhan beduk, makanya kami sempatkan ke sini untuk menikmatinya,” ujar warga Desa Krandon Kecamatan Kudus tersebut.

Meski sederhana, Slamet mengaku tradisi tabuh beduk menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anaknya di tengah kebosanan stay at home karena corona. Suara tabuhan beduk dari bagian atas bangunan Menara Kudus itu membangkitkan semangatnya untuk menatap optimis menjalankan ibadah puasa di masa pandemi. 

Awalnya, kami berpikir tradisi ini ikut libur karena pandemi Covid-19.

beduk menara kudus1Pengurus Masjid Menara Kudus menabuh beduk, menjadi penanda datangnya bulan puasa. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Ungkapan senada juga disampaikan Reza, 27 tahun, penduduk Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati. Ia sengaja datang ke kompleks makam Sunan Kudus itu untuk menyaksikan aksi penabuhan beduk, bagian dari tradisi yang dikenal dengan sebutan dhandhangan. 

"Suasananya memang beda," ujar dia setengah bergumam. Terlebih tidak ada hiruk pikuk dan lalu lalang warga di pasar dhandangan. Pasar menumental itu sengaja ditiadakan Pemerintah Kabupaten Kudus, sebagai upaya antisipasi penyebaran corona. 

“Biasanya banyak warga yang datang ke sini. Kali ini sepi sekali. Hanya beberapa orang yang menyaksikannya. Tapi lega juga, tradisi tabuh beduk penanda datangnya Ramadan tidak ikut hilang,” ucap dia. 

Dari pengamatan Tagar, pelaksanaan tabuh beduk dhandhangan sangat sederhana namun tetap khidmat. Ada tujuh anggota Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) yang menjalankan tradisi itu. Mereka semuanya mengenakan pakaian khas kudusan dan memakai masker berwarna hitam.

Tiga orang berjaga di bawah bangunan Menara Kudus, sedangkan empat lainnya naik ke bagian atas Menara Kudus. Mereka yang naik, dua di antaranya berdiri tegak berhadapan menabuh beduk kuno peninggalan Sunan Kudus. Sementara dua lainnya, duduk menunggui di sebelah penabuh. 

Selama pelaksanaan tradisi tabuh beduk dhandangan hanya ada sekitar sepuluh warga di teras masjid, yang juga jadi lokasi menara berada. Mereka adalah para peziarah Makam Sunan Kudus, menyempatkan diri untuk mendengar dan melihat aksi para penabuh beduk. 

Diketahui, tradisi tabuh beduk dhandangan merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan YM3SK. Tradisi ini tersebut sudah ada sejak zaman Sunan Kudus, menjadi media sang wali mengumumkan ke masyarakat akan datangnya Ramadan atau hari dimulainya puasa. []

Baca juga: 

Berita terkait
Nasib Dhandhangan Kudus di Tengah Pandemi Corona
Pemerintah Kudus memutuskan untuk meniadakan festival menyambut Ramadan, Dhandhangan, untuk mencegah penyebaran virus corona.
Catat Perubahan Jam Operasional Toko Swalayan Kudus
Selama pandemi corona, jam operasional toko swalayan di Kudus diperpanjang.
Guru SMP di Kudus Sumbang Rp 100 Juta untuk Covid
Guru SMP di Kudus secara sukarela menyisihkan sejumlah penghasilannya untuk membantu penanganan Covid-19
0
Ini Alasan Hotel Berusia 100 Tahun di Amerika Tutup
Hotel Roosevelt di New York yang telah beroperasi hampir 100 tahun akan tutup karena pandemi virus Corona.