Untuk Indonesia
Pelajari Khasiat Air Hujan di Sekolah Banyu Bening
Ternyata mengkonsumsi air hujan dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Desa di Yogyakarta ini contohnya
Joglo tempat Sekolah Air Hujan Banyu Bening. (Foto: Tagar/Kurniawan eka Mulyana)

Sleman - Suara lirih Fentisia terdengar dari pengeras suara di sekitar lokasi Sekolah Air Hujan Banyu Bening, di Dusun Tempursari, Desa Sadonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Senin, 9 September 2019, pagi menjelang siang.

Disisipi isak yang sesekali turut terdengar, Fentisia memberikan testimoni tentang khasiat air hujan, yang selama beberapa waktu terakhir dikonsumsinya.

Fentisia mengaku dirinya mengidap penyakit lupus, yang menyebabkan sebagian kakinya bengkak dan dirinya tidak bisa berjalan. Tapi sejak mengonsumsi air hujan, kondisinya perlahan membaik.

Komunitas Bayu BeningSeorang anggota komunitas Banyu Bening, Irfan, menunjukkan alat pengolahan air hujan, Senin, 9 September 2019.(Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

"Saya terkena penyakit lupus, sempat tidak bisa jalan, kaki bengkak, tapi setelah minum air hujan, sekarang sudah baikan dan hasil laboratorium menunjukkan sudah mendingan," ucapnya.

Fentisia merupakan satu dari ratusan orang yang berkumpul di lokasi itu. Mereka terdiri dari peserta sekolah air hujan Banyu Bening dan orang-orang yang merasakan manfaat air hujan.

Sebagian duduk bersila di dalam joglo (rumah adat Jawa), sebagian lainnya duduk di halaman depan Joglo.

Di sisi lain halaman Joglo, tepatnya di sebelah kanan, beberapa bendera merah putih terpasang. Tak jarang bendera itu seperti berkibar genit, diterpa oleh angin yang seolah bertiup seperti menggodanya.

Hanya beberapa meter dari tempat bendera-bendera itu berkibar, berdiri satu unit tong yang berfungsi sebagai tempat pemanen air hujan.

Sri WahyuningsihKetua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Selain Fentisia, peserta lain yang juga merasakan manfaaat mengonsumsi air hujan adalah Febri, warga Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul.

Febri mengaku pernah menderita saraf otak, yang menyebabkan dirinya harus beristirahat total selama empat bulan. Dia bahkan tidak mengenal orang lain selain keluarganya. Itu terjadi karena Febri sering mengonsumsi narkoba.

Setelah mengonsumsi air hujan selama dua pekan, penyakitnya sembuh dan dia sudah bisa mengenal orang lain.

"Pikiran itu plong dan sehat. Tubuh itu rasanya segar. Alhamdulillah sembuh, pulih sakkabehe (pulih seluruhnya). Konsumsi sekitar satu galon biasanya satu minggu. Saya dua mingguan sampai sembuh," jelasnya.

Mengedukasi Warga

Ketua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, mengatakan, Sekolah Air Hujan Banyu Bening didirikan pada 2012 lalu, sebagai tempat berkumpul dan belajar bagi mereka yang ingin tahu atau memahami tentang air hujan sebagai solusi pemenuhan air bersih.

"Ini tidak sekedar mengatasi kerentanan air. Tapi juga mengedukasi, untuk menampung air demi generasi mendatang," jelasnya.

Dia menjelaskan, air hujan yang belum jatuh ke tanah memiliki beberapa kelebihan dan keunikan, karena polutannya tidak banyak.

Selain itu, air hujan turun di manapun, tidak memilih-milih lokasi, sehingga bisa dimanfaatkan oleh semua orang.

"Inilah yang dibangun oleh Banyu Bening, bagaimana kita mengedukasi masyarakat, agar mereka punya kesadaran bahwa saya butuh air ini, agar mandiri air," tegasnya.

Sekolah Banyu Bening, memiliki tiga visi, yakni mengolah air hujan, mengubah pola pikir warga tentang air hujan, dan meningkatkan kesadaran warga, bahwa air hujan bisa diminum dan mempunyai banyak manfaat.

Cara pengolahan air hujan untuk dikonsumsi pun, menurutnya sangat mudah dan murah, yakni dengan proses elektrolisa, yang memisahkan antara air basa dan asam.

Nantinya, air yang sifatnya basa akan dikonsumsi sebagai air minum, sementara yang bersifat basa, digunakan untuk pupuk cair organik, membantu pengobatan jerawat, sakit gigi, sariawan dan lain-lain.

Perbandingan antara air yang bersifat basa dengan asam adalah 80:20, atau 80 persen bisa dikonsumsi, sedangakn 20 persen sisanya bersifat asamnya. Karena PHnya sangat rendah, asam ini bisa untuk perawatan kulit wajah.

Kandungan mineral pada air hujan yang sangat rendah juga membuat orang tidak cepat kenyang saat mengonsumsi. "Kita bisa sekali teguk 5-6 gelas dan tidak merasa kenyang, dan langsung terserap oleh sel tubuh kita, sehingga kebutuhan tubuh bisa terpenuhi. Ada vitamin B12, kandungannya, bisa membantu metabolisme dan membangun jaringan sel baru," paparnya.

Dia menjelaskan, ketika itu terpenuhi, maka makanan terdistribusi dengan baik, di situlah daya tahan tubuh meningkat, dan mampu membantu pengobatan.

Saat ini sekitar 90 persen warga dusun tersebut sudah mengonsumsi air hujan. Namun pada awalnya bukan hal mudah untuk mengajak mereka mengonsumsi air hujan. Karena mereka menganggap itu merupakan hal yang tidak lazim.  Sri butuh waktu selama 5 tahun untuk mengedukasi mereka.

Seorang anggota Komunitas Banyu Bening, Irfan, menambahkan, proses pengolahan tidak memakan waktu lama. Yang harus disiapkan adalah alat panen air hujan berupa tong penampungan, dengan desain sedemikian rupa.

Air hujan dari atap dialirkan menuju pipa setinggi kurang lebih dua meter. Dalam pipa tersebut terdapat bola pelampung, yang akan terapung dan menutup saluran setelah pipa penuh. Kemudian air akan mengalir melalui pipa yang berbelok menuju tong pemanen.

"Jadi kita desain supaya air hujan 10 menit pertama tidak ditampung. Sistemnya dengan pipa berbola pelampung. Bola itu akan naik dan menutup lobang setelah air pada pipa awal penuh. Kemudian air selanjutnya masuk ke dalam tong," jelasnya.

Jika tong pemanen itu sudah penuh oleh air hujan, secara otomatis air akan mengalir menuju semacam sumur yang berfungsi sebagai biopori raksasa, berdiameter sekitar 100 sentimeter.

Air yang terkumpul kemudian diolah dengan elektrolisa, dan siap untuk dikonsumsi.

Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lilik Kurniawan, yang hadir pada kegiatan itu, mengatakan, Sekolah Air Hujan Banyu Bening tersebut merupakan bagian dari Sekolah Sungai yang dicanangkan oleh BNPB sejak 2016 lalu.

Sekolah Sungai sendiri merupakan program yang mengajak masyarakat di level bawah, yang kebetulan tinggal di daerah rawan banjir, rawan longsor, rawan kekeringan, untuk turut dalam penanganan bencana. "Ini kita ajak bersama-sama untuk membuat inovasi-inovasi, sehingga saat ada bencana, mereka semua tidak terpapar dengan rentan," jelasnya.

BNPB juga mencoba mendorong komunitas-komunitas seperti itu untuk tumbuh. Tidak hanya di Jogja saja, tetapi di beberapa tempat di Indonesia sudah melaksanakan ini.

"Tetapi memang pusatnya ada di sini. Nah ini yang kemudian didorong bersama-sama, tidak hanya untuk masalah banjir saja, tapi lebih banyak kekeringan," lanjutnya.

Hal itu sejalan dengan kekhawatiran BNPB terhadap bencana yang sifatnya slow on set, atau bencana yang datang perlahan, tapi penanganannya cukup lama. Salah satunya adalah kekeringan.

"Kalau di level nasional, ada provinsi Nusa Tenggara Timur, yang setiap tahun terpapar oleh kekeringan. Nah, daerah sepeti inilah yang akan kita intervensi dengan program seperti ini, memanen air hujan. Kita akan kembangkan yang seperti ini untuk kemudian kita terapkan di sana, juga masyarakat dan para tokoh di NTT, nanti kita ajak ke sini," paparnya.

Mengenai kelayakan air hujan untuk dikonsumsi, Lilik mengaku pihaknya telah menggandeng beberapa pihak, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk melakukan uji laboratorium air hujan, dan hasilnya dinyatakan layak untuk dikonsumsi.

"Bahkan tadi ada testimoni dari beberapa orang yang memanfaatkan air hujan untuk pengobatan. Kami juga melihat dari sisi kecantikan, misalnya ada produk yang bisa mengurangi masalah jerawat," pungkasnya. []

Baca juga:

Berita terkait
Irfantoro, Barista Berkursi Roda di Kafe Cupable Sleman
Duduk di kursi roda, memegang secangkir kopi, Irfantoro meluncur menuju sebuah meja di sudut Kafe Cupable di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bawaslu Sleman Terancam Tak Bisa Awasi Pilkada 2020
Bawaslu kabupaten/kota terancam tak bisa mengawasi pelaksanaan Pilkada Tahun 2020 tersebut, tak terkecuali Bawaslu Kabupaten Sleman.
KPU Sleman Ajukan Anggaran Pilkada Jadi RP 33 Miliar
KPU Sleman ajukan anggaran Rp 33 Miliar untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Sleman tahun 2020
0
Sah! DPR Resmikan Revisi UU KPK Meski Berpolemik
Polemik revisi revisi UU KPK yang masih bergejolak tetap tidak membuat DPR dan pemerintah bergeming. DPR resmi mengsahkan Revisi UU KPK hari ini.