UNTUK INDONESIA
Irfantoro, Barista Berkursi Roda di Kafe Cupable Sleman
Duduk di kursi roda, memegang secangkir kopi, Irfantoro meluncur menuju sebuah meja di sudut Kafe Cupable di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Irfantoro menunjukkan cara menyeduh kopi untuk pengunjung di Kafe Cupable, Jl Kaliurang Km 13,5, Sleman, Sabtu, 24 Agustus 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sleman - Beberapa toples berisi biji kopi tertata di meja. Di belakangnya, dengan berkursi roda, Irfantoro, seorang pemuda difabel berusia 21 tahun, sibuk meracik biji kopi, untuk disajikan kepada pengunjung.

Irfantoro adalah barista atau peracik kopi di Cupable, kafe yang dikelola oleh Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum), di Jalan Kaliurang Km 13,5, Sleman.

Aroma wangi khas kopi menyebar di ruangan berukuran sekira 8 x 4 meter itu, saat Irfantoro menggiling biji kopi dan menyeduhnya.

Dengan tubuh mungil di atas kursi roda, Irfantoro seperti tidak kesulitan meracik kopi untuk disajikan. Mulai dari menghaluskan, menyeduh hingga menyaring.

Beberapa menit kemudian, secangkir kopi Arabica Gayo siap disajikan. Dengan kursi roda, Irfantoro mengantarkan secangkir kopi kepada seorang pengunjung yang duduk di sudut kafe.

***

Poster bergambar secangkir kopi menghiasi dinding Kafe Cupable, juga satu papan tulis berwarna hitam bertuliskan harga kopi dalam kisaran Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.

Selain menyediakan kopi untuk dikonsumsi di tempat, Kafe Cupable juga menyiapkan beragam kopi asli Nusantara kemasan 250 gram, seharga Rp 75 ribu per kemasan. Beberapa jenis kopi yang disediakan yakni kopi Kerinci, Mamasa, Bajawa, Aceh Gayo.

Seusai menyajikan kopi pesanan, Irfantoro menulis jumlah pesanan pengunjung pada buku yang disiapkan. Lalu dia terlihat asyik dengan ponsel, sebelum kemudian mengisahkan awal mula dia menjadi barista.

"Saya dulu ikut program pelatihan di Yakkum ini, program barista inklusif. Di situlah saya mulai belajar jadi barista, itu awal tahun 2019," katanya, Sabtu, 24 Agustus 2019.

Program pelatihan barista khusus difabel itu dilaksanakan selama 1,5 bulan. Hingga saat ini program itu sudah berjalan dua gelombang.

Difabel sering dipandang sebelah mata, kita bisa membuktikan bahwa kita bisa melakukan yang selama ini diragukan.

IrfantoroIrfantoro, seorang barista difabel di Kafe Cupable, Jl. Kaliurang Km 13,5, Sleman, dengan kursi roda membawakan secangkir kopi untuk pelanggan´╝îSabtu, 24 Agustus 2019. (Foto: Instagram/Kurniawan Eka Mulyana)

Pelatihan gelombang pertama telah mencetak delapan barista, sementara gelombang kedua menghasilkan enam barista, yang kesemuanya merupakan difabel.

Dalam pelatihan tersebut, para peserta diperkenalkan dengan kopi, mulai dari penanaman, panen, pascapanen, roasting atau penggorengan biji kopi, hingga penyajian.

***

Menurut Irfantoro, sebagian peserta pelatihan itu sudah bisa mandiri. Ada yang telah bekerja di kafe dan ada yang masih magang. Bahkan, ada peserta yang sudah mulai berwirausaha dengan membuka kafe.

Saat ditanya mengenai kendala yang dihadapi karena keterbatasan fisik, Irfantoro mengaku tidak menemui kendala yang berarti dalam meracik dan menyajikan kopi.

Hanya saja, dia terkendala saat pelatihan, yakni ketika belajar di kebun kopi, karena jalanan di sana tidak aksesabel untuk pengguna kursi roda.

"Saya sebagai pengguna kursi roda agak kesulitan di jalanan yang tidak rata," tuturnya.

Namun, kendala itu seolah musnah setelah dia mampu meracik kopi sebagai barista profesional, mengingat menjadi barista bukan hal mudah. Hal itu juga membuktikan keterbatasan fisik bukan penghalang untuk mandiri.

"Difabel sering dipandang sebelah mata, kita bisa membuktikan bahwa kita bisa melakukan yang selama ini diragukan," ujarnya.

Eko Sugeng, Rekan Irfantoro

Di tempat yang sama ada Eko Sugeng, rekan Irfantoro. Eko seorang difabel daksa, keluar dari pintu di belakang meja kasir. Kedua tangannya telah diamputasi hingga sebatas siku.

Eko berjalan menuju teras kafe, tempat dua pemuda tengah menikmati kopi hasil racikan Irfantoro. Sepertinya mereka sudah cukup akrab dengan Eko. Keduanya berdiri, menjabat dan memeluk Eko.

Dari balik kaca, ketiganya tampak berbincang. Sesekali mereka bertiga tertawa lepas.

Beberapa belas menit berlalu, Eko kembali masuk. Dengan senyum ramah dan bersahabat, Eko mengisahkan awal dirinya menjadi difabel hingga bergelut dengan dunia barista.

Eko menjadi barista sejak dua tahun lalu, setelah mengikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh Yakkum. 

"Belajarnya dari pelatihan yang diadakan pusat rehabilitasi Yakkum juga, bagian dari Program Peduli," ujarnya.

Program peduli, kata dia, merupakan program yang diperuntukkan bagi orang-orang minoritas. Bukan hanya difabel, tetapi juga waria, anak korban kekerasan, serta anak korban trafficking atau perdagangan manusia.

Menurutnya, pemilihan pelatihan barista sebagai bagian dari program peduli, karena saat ini kopi sedang booming, khususnya pada generasi muda.

"Kenapa kok tercetus bidangnya di kopi? karena, pertama, kopi sekarang lagi booming dan penggemarnya anak muda. Kami juga di sini ingin mengkampanyekan dan mengadvokasi anak muda, khususnya mereka yang mau peduli tentang isu inklusi," tuturnya.

Eko SugengEko Sugeng, seorang barista difabel di Kafe Cupable, meracik kopi untuk disajikan kepada pengunjung, Sabtu, 24 Agustus 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Eko berharap, dengan adanya Kafe Cupable, yang notabene dikelola oleh difabel, kampanye dan advokasi ini bisa tersebar di masyarakat, agar mereka juga peduli tentang inklusi.

"Jadi, ya nek gampange (kalau gampangnya), tidak ada perbedaan satu dengan yang lain, kita ini sama," tuturnya.

***

Eko mengatakan Kafe Cupable merupakan kafe inklusi pertama di Yogyakarta, diharapkan mampu menebarkan semangat kebersamaan dan inklusifitas. Serta membuka pola pikir masyarakat, bahwa difabel bisa mandiri dan berkarya. Terlebih jika mereka diberi ruang untuk membuktikan kemampuan dan kemandirian.

Meski demikian, Eko mengakui keterbatasan fisik yang dimilikinya terkadang menjadi kendala untuk melakukan aktivitas, terlebih untuk meracik secangkir kopi.

Tangannya diamputasi pada 2002 karena kecelakaan. Dia tersengat listrik. Setelah kejadian itu, selama beberapa tahun dia hanya berdiam di rumah, hingga akhirnya Eko belajar di Yakkum pada 2004.

Di situ dia mulai belajar dari nol untuk bisa mandiri dan menyelesaikan pendidikan, bahkan sempat bekerja pada salah satu dealer sepeda motor. Tapi itu hanya berjalan selama beberapa bulan.

"Kemudian di sini ada lowongan, jadi saya kerja di pusat rehabilitasi Yakkum. Waktu itu saya posisinya masih resepsionis. Tahun 2007 kalau tidak salah, ini Cupable berdiri. Saya sering ke sini main, ngopi, ya itulah awal mula saya mengenal kopi," tuturnya.

Seiring waktu berjalan, pemilik Cupable saat itu, Banu, sering mengajak Eko belajar meracik kopi. Tetapi Eko masih ragu dengan kemampuannya, terlebih dengan keterbatasan yang dimilikinya. Namun Banu terus memberi motivasi.

Eko lalu mulai mencoba belajar menggunakan peralatan yang ada, meski harus berpikir bagaimana caranya bisa untuk mengakali keterbatasan itu.

Eko pun mulai terbiasa menggunakan peralatan dan mengerjakan hal-hal yang awalnya dianggap sebagai hambatan.

"Jadi kadang sambil jalan, ya, inovasi, coba-coba sendiri, ternyata ini nyaman, bisa dipakai. Selain itu saya juga kolaborasi dengan teman-teman nondisabilitas, juga kadang konsultasi dengan teknisi alat bantu yang dimiliki Yakkum," kenangnya.

Eko menunjukkan kemampuan meracik kopi, mulai dari membuka tutup toples. Sekilas terlihat dia tidak lagi menemui kesulitan yang berarti dalam menjalani profesinya.

"Semoga ini bisa mengedukasi dan meningkatkan kesadaran tentang isu inklusifitas," tuturnya. []

Berita terkait
Asyiknya Menikmati Kopi Buatan Barista Napi di Bantul
Ini tentang sebuah kafe di lingkungan rumah tahanan Bantul, Yogyakarta. Narapidana menjelma barista siap menyajikan kopi bercita rasa wow.
Menjadi Barista Es Kopi Ala Kafe
Minum kopi telah menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan. Tidak lengkap rasanya sehari tanpa menyeruput kopi.
Tiga Barista Terbaik Kota Siantar
Kisah Ricky Abraham Sigalingging, Fikry Azdadin, Richa Ivo Hasibuan, tiga milenial barista terbaik dari Kota Siantar.
0
Polda Banten Pastikan Pilkades di Lebak Kondusif
Pastikan Pilkades aman, Polda Banten melakukan pengecekan di 10 desa dalam tujuh Kecamatan yang menggelar Pilkades serentak.