Nestapa Pemulung Aceh Diusir Camat Hingga Tak Terima Bantuan

Saban hari, bersama becak barangnya, Lek Rohim akan berputar-putar di kawasan Jalan Nasional, mengais setiap tong sampah yang ada di Aceh Barat.
Lek Rohim, 56 tahun, pencari kardus serta barang loak di Meulaboh, Aceh Barat, sedang memilah-milah hasil temuannya. (Foto: Tagar/Rino Abonita)

Aceh Barat – Menjelang magrib, Jumat, 30 Oktober 2020, persimpangan yang salah satu jalurnya merupakan jalan keluar dari Kantor Kepolisian Resor Aceh Barat itu terlihat ramai oleh lusinan kendaraan roda dua dan empat. Sesekali, kendaraan-kendaraan tersebut berhenti di lampu merah, menunggu isyarat boleh jalan.

Sinaran lampu dari sebuah retail waralaba di sudut simpang ditambah cahaya lampu jalan yang kuning terang, membuat jalanan semakin bermandikan cahaya. Kesibukan yang tampak di tempat itu seolah menjadi pengantar bagi kota berjuluk 'Bumoe Teuku Umar' untuk segera menyambut malam, setelah melewati penatnya hari.

Orang-orang yang keluar masuk dari retail tersebut semakin lama semakin ramai. Sepasang suami istri tampak tersenyum ketika anak perempuan mereka melompat riang sambil memegang bungkusan berisi sesuatu yang baru saja mereka beli dari minimarket tersebut.

Gerobak sorong yang menjajakan makanan sejenis kebab di samping retail itu pun mulai didatangi pelanggan. Di dekat gerobak tersebut, seorang remaja yang sedang menunggu pesanannya siap tampak bertinggung dengan cara merapatkan panggulnya ke tepi undakan lantai sembari merokok.

Di seberang retail, berdiri sebuah kedai kopi. Belum terlihat ada pelanggan yang datang ke kedai kopi tersebut kendati uap yang berasal dari penanak air sudah mengepul sejak tadi, sementara itu, layar televisi dibiarkan menyala tanpa penonton.

Tidak jauh dari kedai kopi itu, tepatnya, di dekat halte yang siang harinya selalu dipenuhi siswa sekolah dasar serta penjaja pelbagai jenis makanan dan minuman ringan, kecuali hari libur, terparkir sebuah becak barang butut. Becak tersebut dipenuhi gunungan kardus serta barang loak yang sebagiannya ditutupi dengan plastik.

Pemulung di AcehLek Rohim, 56 tahun, pencari kardus serta barang loak di Meulaboh, Aceh Barat. (Foto: Tagar/Rino Abonita)

Pemilik becak itu ialah Lek Rohim, 56 tahun. Ketika itu, Tagar mendapatinya tengah menyusun kardus bekas serta memasukkan sejumlah barang rongsokan ke dalam goni.

Kardus bekas yang sudah diikat menjadi satu tumpukan ditaruhnya terpisah dari barang loak berbahan sintetis atau besi. Lek Rohim sengaja memilah-milah tumpukan tersebut agar lebih mudah menentukan jenisnya sewaktu dijual ke pengepul nanti.

"Kemana dijual, Lek?" tanya Tagar kepadanya.

"Ke sana," ia menjawab sambil mengangkat telunjuk ke arah barat kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

Lelaki itu tampak tidak ambil peduli dengan kendaraan yang lalu lalang atau sorotan lampu pengendara yang sesekali mengarah ke wajahnya. Ketika seorang sopir pikap mengklakson dengan keras disertai hardikan karena merasa terganggu oleh tudung kipas angin yang tidak sengaja menggelinding ke tengah jalan, Lek Rohim segera menyusul tudung kipas tersebut tanpa menjawab sedikit pun.

Pas lagi duduk-duduk di situ. Disuruh minggir, kalau enggak minggir, nanti diangkat pakai mobil.

Ia lantas beristirahat sejenak dengan cara duduk di pedestrian tidak jauh dari becaknya berada. Hampir semenit tatapannya membatu ke seberang jalan, melihat orang-orang yang keluar masuk silih berganti dari dalam retail.

Wajahnya terkesan lelah, napasnya agak tersengal. Masker yang dikenakannya menggelantung di atas dada, bergerak mengikuti ritme gerakan tulang selangkanya yang naik turun.

Ia memindahkan pandangannya ke sebuah minibus yang baru saja berbelok ke dalam losmen yang bangunannya masih satu blok dengan retail. Dari dalam mobil turun beberapa lelaki berwajah orientalis yang segera menuju ke lobi, sepertinya merupakan teknisi untuk proyek pembangunan pembangkit listrik di kabupaten tetangga.

Kalau masyarakat, biasa, ini pemerintah sendiri.

Setelah berbincang-bincang dengan Tagar, Lek Rohim bangkit lantas kembali merapikan tumpukan kardus yang masih berserakan. Lebih kurang sepuluh menit kemudian, ia telah menghilang di pengkolan bersama becaknya, ditelan gegap gempita pengendara yang lalu lalang, sementara itu, pelantang dari kedai kopi memperdengarkan lagu lawas yang terasa akrab di telinga.

Pemulung di AcehBecak milik Lek Rohim, 56 tahun, yang saban hari dapat dilihat terparkir di depan halte sebuah sekolah di persimpangan Jalan Nasional. (Foto: Tagar/Rino Abonita)

Hidup di Jalanan

Nama asli Lek Rohim adalah Rohim, kelahiran Banyumas, 1964. Ia merantau ke Aceh Barat pada 1999 serta sempat menyewa rumah di Gampong Ujong Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan, lalu mendapatkan rumah bantuan di Kompleks Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi, sebagai salah satu korban bencana gempa dan semong yang terjadi pada 2004 silam, sebelum akhirnya pindah ke Gampong Rundeng setelah menjual rumah bantuan miliknya ke seseorang.

Ia memiliki seorang istri serta dua orang anak, yang salah satunya bekerja di sebuah Perkebunan Kelapa Sawit (PKS) Kabupaten Nagan Raya. Lek Rohim mengaku sudah lama tidak tinggal serumah dengan istrinya, namun, ia enggan menjelaskan lebih detail tentang kehidupan rumah tangga mereka.

"Iya, tapi, belum ingat sama kita, kadang dipengaruhi mamanya," kesah Lek Rohim tentang anaknya yang kini lumayan sukses dengan pekerjaannya di PKS.

Sebelum menjadi pencari kardus serta barang loak, ia menafkahi keluarga dengan cara mendayung becak. Ketika becak dayung mulai tersingkir oleh kehadiran becak motor, dirinya terpaksa banting setir.

"Mau bagaimana lagi, mau beli becak motor, mana ada duit. Ini saja, becak yang ini, si Ihsan, anak saya satu lagi yang beli dari orang Rp 350.000. Yang dulu sudah rusak," keluhnya.

Saban hari, bersama becak barangnya, Lek Rohim akan berputar-putar di kawasan Jalan Nasional, mengais setiap tong sampah yang ada, berharap menemukan kardus, botol air mineral, atau barang rongsokan lain, yang telah dibuang oleh pemiliknya. Kardus serta barang rongsokan tersebut dijual sesuai berat dacin kepada pengepul di Gampong Seuneubok.

"Kalau kardus Rp 900 satu kilogram, botol air mineral, ada yang Rp 5000, yang ketek-ketek itu, kalau yang besar Rp 2000. Kadang ada besi, kalau besi satu kilo Rp 2.500," sebut Lek Rohim.

Jumlah uang yang didapat terbilang tidak sebanding dengan jerih payahnya. Gunungan kardus serta barang loak yang menumpuk di atas becaknya itu paling banter dapat ditukar dengan uang sebanyak Rp 30.000.

"Tapi, ini, kan ikhlas, halal," dalihnya.

Ia hidup di jalanan. Apabila malam hari tiba, Lek Rohim akan menaruh becaknya di salah satu emperan pertokoan agar tidak kebasahan ketika hujan sementara itu, ia akan mencari kursi yang bisa ditiduri di kedai-kedai terdekat, tidak jauh dari becaknya berada.

Diusir Camat

Hidup dari satu tong sampah ke satu tong sampah tentu banyak pahitnya. Lek Rohim sering mendapat pandangan yang merendahkan dari orang-orang, namun, yang paling membuatnya sedih adalah kata-kata yang pernah dilontarkan oleh seseorang yang menurutnya adalah camat daerah itu.

Dirinya masih ingat betul perlakuan sang camat kepadanya. Kejadian itu bermula ketika sang camat sedang blusukan dengan cara berjalan kaki untuk melihat-lihat situasi kota bertepatan dengan penyambutan Hari Ulang Tahun ke - 75 Kemerdekaan RI.

Pemulung di AcehLek Rohim, 56 tahun, pencari kardus serta barang loak di Meulaboh, Aceh Barat, sedang memilah-milah hasil temuannya. (Foto: Tagar/Rino Abonita)

Seperti biasanya, hari itu Lek Rohim sedang beristirahat serta memarkirkan becak barangnya di depan halte. Ia tak sadar ketika camat tersebut sekonyong-konyong datang menghampiri kemudian mengatakan sesuatu dengan nada tinggi kepadanya di depan orang ramai.

"Pas lagi duduk-duduk di situ. Disuruh minggir, kalau enggak minggir, nanti diangkat pakai mobil, katanya. Kita, kan cari makan. Saya, kan, memang selalu taruh becak di sini," tuturnya.

Sebagai orang biasa, ia tidak bisa berbuat apa-apa kendati telah berusaha menjelaskan bahwa dirinya sedang mencari sesuap nasi waktu itu. Mungkin becak Lek Rohim telah menganggu ketertiban lalu lintas jika bukan merusak pandangannya karena kondisi becak tersebut yang rombeng, penuh tumpukan kardus serta barang loak yang tentu saja nirguna bagi orang-orang sekelas camat.

Baca juga: 

Pada kesempatan yang sama, Tagar sempat bertanya apakah dirinya pernah mendapat bantuan dari Pemerintah Aceh Barat karena statusnya yang masuk dalam kategori fakir miskin. Ia menjawab dengan tegas, "enggak ada!"

Lek Rohim sering menerima welas asih dari para pengguna jalan yang membantunya dengan cara memberikan uang kendati dirinya tidak pernah menyodorkan tangan alias mengemis kepada mereka. Namun, hal semacam itu tidak didapatkannya dari pemerintah yang notabene memiliki tanggung jawab untuk memedulikan orang-orang seperti dirinya.

"Kalau masyarakat, biasa, ini pemerintah sendiri...," ia menghentikan kalimatnya, kemudian menatap ke arah tumpukan kardus serta barang rongsokan di atas becaknya, sementara itu, jalanan semakin hiruk dengan suara kendaraan yang terdengar kakofoni.

Tagar sempat pula bertanya apa yang dipikirkan oleh Lek Rohim ketika sedang berbaring sembari menunggu mata berat hingga terlelap. Ia terkekeh, saat-saat seperti itu, dirinya lebih banyak mengenang kampung halaman, di samping doa yang selalu terselip, agar hari esok lebih baik daripada hari ini. []

Berita terkait
Cerita Asap dan Omzet Tebal Pembuat Arang Tempurung di Aceh
Seorang pembuat arang dari tempurung kelapa di Aceh Tamiang memiliki omzet belasan hingga puluhan juta rupiah setiap 15 hari.
Remaja Aceh Barat Pembuat Batako dengan Upah Rp 1.000
Dua remaja di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, bekerja sebagai pembuat batako dengan upah Rp 1.000 per batang.
Pembuat Kelapa Jeli di Aceh Enggan Gunakan Mesin
Seorang pembuat kelapa jeli di Aceh Barat, Agus, 37 tahun, enggan menggunakan mesin dalam proses pembuatan, agar tenaga manusia tetap dipakai.
0
Biden Ingatkan Rakyat Amerika Terkait Pengorbanan Tentara
Presiden Biden beri penghormatan kepada korban perang AS dengan mengingat pengorbanan mereka untuk kebebasan Amerika