UNTUK INDONESIA
Cerita Jam Malam dan Penutupan Ratusan Taman Surabaya
Sebanyak 571 taman di Kota SUrabaya masih ditutup untuk umum untuk mencegah penyebarab Covid-19. Di Taman Bungkul bahkan diberlakukan jam malam.
Suasana malam di kawasan Taman Bungkul, Surabaya, sejak pandemi Covid-19. Pemerintah Kota Surabaya menerapkan jam malam di kawasan itu. (Foto: Tagar/Adi Suprayitno)

Surabaya – Lampu-lampu di Taman Bungkul, Surabaya, menyinari area di bawahnya. Tidak terlalu terang, tapi mampu membuat wajah-wajah pengunjung dan jalur jogging di pinggir taman. Meski sebagian area terlihat temaram karena bayangan daun pepohonan.

Sejumlah pengunjung terlihat asyik menghabiskan waktu senggang mereka di situ. Hampir seluruh pengunjung datang bersama keluarga atau kerabatnya. Sebagian asyik mengobrol, ada yang memainkan ponselnya, dan ada yang berfoto di samping tulisan “taman bungkul”. Serumpun bunga berwarna putih menempel pada ranting pohon di atas tulisan.

Tidak jauh dari situ, tepat di jalur akses masuk ke dalam area taman, pita plastik berwarna kuning-hitam yang mirip garis polisi, terpasang. Pita itu dipasang zigzag pada pipa besi yang menjadi penanda akses masuk. Ujungnya diikat pada sebatang pohon, sementara ujung lainnya terikat pada pipa besi.

Taman Bungkul cukup popular untuk warga Surabaya. Lokasinya yang di tengah kota, menjadi daya tarik tersendiri, khususnya anak muda yang ingin menghabisakan waktu bersama kerabat atau kekasih hati.

Tepat di belakang taman seluas 10 ribu meter persegi tersebut, terdapat makam Ki Ageng Supa, yang dikenal juga dengan nama Mbah Bungkul.

Cerita Taman Surabaya (2)Pita berwarna kuning hitam yang sekilas seperti garis polisi, digunakan sebagai tanda penutupan Taman Bungkul, Surabaya. (Foto: Adi Suprayitno)

Sejak pandemi Covid-19, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menutup area taman yang memiliki arena sepeda BMX tersebut untuk umum . Namun penutupan itu tak mengurangi minat warga untuk bersantai di situ, meski tidak bisa masuk ke tengah area taman.

Pemberlakuan Jam Malam

Kini, selain ditutup untuk umum, Pemkot Surabaya juga memberlakukan jam malam di kasawan Taman Bungkul. Pengunjung dan pedagang di sekitar Taman Bungkul harus meninggalkan lokasi maksimal pukul 21.00 WIB.

Untuk memastikan dipatuhinya jam malam, personel Satuan Polisi Pamomg Praja (Satpol PP) dan Satgas Percepatan Penanganan covid-19 Surabaya menggelar razia di kawasan itu. Pengunjung dan pedagang yang terjaring razia akan diminta melakukan rapid test atau tes cepat.

Bagi yang hasil tesnya reaktif, tim gabungan akan membawanya ke rumah sakit atau tempat isolasi, untuk meminimalisir penyebaran virus Corona. Surabaya sendiri pernah masuk zona merah dan menduduki peringkat pertama dalam angka pasien positif, jika dibandingkan 37 kabupaten/kota lainnya di Jatim.

"Pernah mas, Satpol PP merazia diatas pukul 21.00. Semua akses keluar ditutup dan dijaga. Semua yang masih berkeliaran malam di-rapid test. Teman saya yang reaktif, langsung diangkut," kata Indra, seorang pengunjung taman Bungkul, Selasa, 24 Oktober 2020.

Waktu pelaksanaan razia yang digelar oleh tim gabungan itu tidak tentu. Sehingga para pedagang dihantui perasaan ketakutan dalam mengais rejeki. Mengingat Taman Bungkul biasanya bertambah ramai ketika jam beranjak malam.

Pedagang harus cepat mengemasi barangnya ketika waktu sudah mendekati pukul 21.00. Baginya yang ditakuti bukan rapid tesnya, tetapi rasa malu jika harus diisolasi.

Waktu razia tidak pasti, Mas. Sabtu kemarin sini dikepung Satpol PP sambil membawa truk. Kalau hasilnya reaktif, ya malu.

Indra mengaku dirinya berkunjung ke Taman Bungkul untuk melepas penat. Bagi Indra, Taman Bungkul merupakan tujuan utama ketika pikirannya butuh penyegaran. Selain tempatnya asri, tempat tersebut dikunjungi oleh semua kalangan.

Sebagian besar pengunjung Taman Bungkul sudah menerapkan protokol kesehatan, termasuk mengenakan masker, meski ada beberapa yang melepas maskernya saat berfoto.

"Kami kalau jenuh di rumah ke sini (Taman Bungkul). Jadi ada suasana yang berbeda kalau nongkrong di tengah kota," katanya.

Hal paling menyenangkan dan berkesan untuk pria berusia 34 tahun dari Taman Bungkul adalah bermain sepeda BMX di arena hingga tengah malam.

Kini Indra hanya bisa memandang arena sepeda BMX itu dari luar, karena pita yang dipasang Pemkot Surabaya masih mengelilingi taman itu.

"Kami hanya bisa nongkrong di depan taman atau berfoto ria saja," ucapnya dengan wajah memelas.

571 Taman di Surabaya

Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya, Anna Fajriatin menjelaskan, di Surabaya ada 571 taman, seluruhnya ditutup untuk umum.

Taman Bungkul memang sengaja mendapat perhatian utama untuk dijaga, karena tidak memiliki pagar penutup. Beda halnya taman lainnya dikelilingi pagar sehingga pengawasannya mudah.

Cerita Taman Surabaya (3)Area jogging di Taman Bungkul, Surabaya, terlihat sepi. Pemerintah Kota Surabaya menutup tempat itu untuk meminimalisir penyebaran Covid-19. (Foto: Tagar/Adi Suprayitno)

Anna menyebut, pihaknya sengaja meminta bantuan Satpol PP untuk menjaga pita penanda ditutupnya lokasi itu untuk umum. Dia mengakui, para personel Satpol PP juga menyisir taman untuk menghalau masyarakat yang nekad masuk. Mengingat masyarakat terkadang mencuri kesempatan, jika tidak dijaga.

"Karena kadang-kadang ngumpul terus mlebu (masuk) mencuri kesempatan. Kalau mendapati warga masuk, monggo (silahkan) dilaporkan ke kami. Yang penting tidak ngumpul di taman," pintanya.

Dari ratusan taman yang ada di Surabaya, Taman Harmoni yang terletak di Jalan Keputih Tegal merupakan yang terluas, yakni 40 hektare. Taman ini dulunya merupakan tempat pembuangan sampah.

Anna menegaskan, penutupan seluruh taman tersebut akibat adanya pandemi covid-19, dan ditutupnya taman-taman itu merupakan upaya pencegahan terjadinya klaster baru penularan Covid-19.

Mengenai pembukaan kembali ratusan taman tersebut, Anna tidak dapat memastikan. Dia hanya mengatakan , jika dipaksakan dibuka, dikhawatirkan masyarakat tidak menerapkan protokol kesehatan dan menjadi klaster baru.

"Sementara masih ditutup sampai betul-betul dimungkinkan bisa dibuka agar tidak terjadi klaster baru. Kalau dibuka kuatirnya masyarakat tidak menerapkan protokol kesehatan," ucapnya menegaskan.

Selain ratusan taman yang menjadi lokasi melepas penat sekaligus tempat wisata dalam kota sebelum pandemi, Surabaya juga memiliki tempat nongkrong atau rekreasi lainnya, berupa hutan bakau atau mangrove. Letaknya di Jalan Wonorejo 1, Surabaya, dengan luas 200 hektare.

Berbeda dengan ratusan taman yang ditutup untuk umum, di hutan mangrove yang dikelola oleh Dinas Pertanian Kota Surabaya ini masih dibuka untuk umum, dengan jam buka mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Meski tetap dibuka untuk umum, pengunjung yang akan masuk harus diperiksa suhu tubuhnya dengan thermal scanner. Mereka juga harus masuk melalui bilik penyemprotan desinfektan.

Seorang pengunjung hutan mangrove, Indah, berpendapat temat itu cocok dijadikan sebagai lokasi berswafoto dan prewedding atau foto pranikah.

"Suasana sejuk, dan bagus kalau buat dokumentasi. Apalagi gratis masuknya," kata perempuan asal Bulak Banteng Surabaya ini.

Indah sengaja datang ke Mangrove bersama keluarga karena tidak ada lagi tempat alam terbuka yang dapat dikunjungi di Surabaya. Dampak Covid-19, kata Indah memang mengharuskan dirinya untuk refreshing di tempat terbuka. Mengingat aktivitas kesehariannya lebih sering dilakukan di rumah untuk mencegah penularan Covid-19.

"Kalau jenuh di rumah kami jalan-jalan meskipun hanya sebentar, biar terhibur aja," ujarnya. []

Berita terkait
Kebun Bunga Amarilis di Yogyakarta yang Rutin Viral
Bunga Amarilis yang dulunya dianggap sebagai gulma oleh petani di sekitarKecamatan Patuk, Gunungkidul, kiini dibudidayakan untuk wisata.
Endog-endogan, Tradisi Arak Telur Maulid di Banyuwangi
Umat Islam di Banyuwangi memiliki tradisi unik dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, yakni mengarak telur keliling kampung, atau Endog-endogan.
Remaja Makassar Tanam Sayuran Hidroponik di Balkon Rumah
Seorang remaja di Kota Makassar mengisi waktu luangnya seusai belajar daring dari rumah dengan menanam sayuran hidroponik di balkon rumahnya.
0
UMP 2021 Tidak Naik, Buruh: PDIP Bohongi Wong Cilik
Ketua Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) Ilhamsyah secara tegas mengatakan PDIP jargon wong cilik hanya bohong semata.