Cerita Asap dan Omzet Tebal Pembuat Arang Tempurung di Aceh

Seorang pembuat arang dari tempurung kelapa di Aceh Tamiang memiliki omzet belasan hingga puluhan juta rupiah setiap 15 hari.
Proses pengolahan tempurung kelapa menjadi arang dengan cara membakar di dalam drum, Minggu, 25 Oktober 2020. (Foto:Tagar/Zulfitra)

Aceh Tamiang - Gumpalan asap tebal berwarna putih keluar dari celah-celah tempurung kelapa yang bertumpuk di dalam drum. Ada sekitar 10 drum berjajar panjang di sana. Semuanya berisi tempurung kelapa yang sedang dilalap api.

Di sebelah drum, seorang lelaki paruh baya bernama Muhammad Muhyi, 63 tahun, sibuk membenahi tumpukan tempurung yang terbakar di dalam drum, agar tempurung - tempurung di dalamnya terbakar dengan baik dan merata.

Aktivitas yang dilakukan warga Desa Landuh, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh pada siang itu, Kamis, 22 Oktober 2020 itu merupakan tahapan dalam pembuatan arang berbahan dasar tempurung kelapa.

Siang itu cuaca di lokasi pembuatan arang begitu cerah. Sekitar lima meter dari tempat pembakaran arang, terlihat air sungai yang mengalir sangat tenang. Angin yang bertiupan dari arah sungai menggoyangkan dedaunan puluhan pohon kelapa sawit di area itu.

Lokasi pembuatan arang itu terletak di tengah-tengah kebun kelapa sawit, tepat di pinggir aliran sungai Tamiang. Jarak terdekat dari rumah penduduk kurang lebih terpaut 300 meter.

Cerita Arang Aceh (2)Muhyi dan dua orang karyawannya sedang mulai melakukan pembakaran tempurung kelapa untuk dijadikan arang, Minggu, 25 Oktober 2020. (Foto:Tagar/Zulfitra).

Usaha pembuatan arang dari bahan dasar tempurung kelapa itu sudah dilakoni Muhyi, selama kurang lebih 4 tahun. Dia dibantu anak keempatnya yang laki - laki bernama, Sujianto, 25 tahun, serta dua karyawan yang merupakan warga desa setempat.

Muhyi mengaku dirinya sengaja memilih lokasi yang agak jauh dari pemukiman penduduk sebagai tempat memproduksi arang, karena di tidak ingin mengganggu kenyamanan warga akibat asap pembakaran tempurung.

"Awal-awalnya saya mengolahnya di rumah. Tidak lama setelah itu pindah, karena warga di sekitar rumah saya merasa terganggu dengan asap yang ditimbulkan," kata Muhyi, Minggu, 25 Oktober 2020.

Di lokasi sekarang, Muhyi harus membayar biaya sewa kepada pemilik tanah sebesar Rp 2 juta setiap tahunnya.

Dapat Ilmu di Medan

Muhyi mengisahkan awal mula dirinya tertarik menjadi pengusaha arang tempurung kelapa. Saat itu, sekitar empat tahun yang lalu, Muhyi masih bekerja sebagai sopir travel.

Sebelum menjadi sopir travel, Muhyi bekerja sebagai sopir pada seorang pengusaha. Tugasnya mengantar dan mengambil orderan dari Sumatera Utara ke Aceh, dan sebaliknya, dengan menggunakan truk roda 10 milik majikannya.

Saat bekerja sebagai sopir travel, Muhyi diminta oleh bekas majikannya untuk mengantar dan menemani anaknya yang bernama Beny ke Kota Medan, Sumatera Utara. Beny pergi untuk urusan bisnis pada sebuah perusahaan ekspor-impor arang tempurung kelapa.

Setibanya di sana, Beny mengajaknya untuk ikut masuk ke dalam area pabrik. Muhyi melihat peluang usaha di situ. Muhyi pun menggali informasi dari karyawan di pabrik itu cara pembuatan arang dan harga jual.

Ternyata, diam-diam Beny memperhatikan yang dilakukan Muhyi. Saat perjalanan pulang, Beny bertanya kepada Muhyi tentang apa yang dilihatnya ketika di dalam pabrik saat itu. Dia juga menanyakan apakah Muhyi berniat membuka usaha pembuatan arang.

Cerita Arang Aceh (3)Tempurung kelapa masih berada di atas becak siap untuk diturunkan dan diolah menjadi arang, Minggu, 25 Oktober 2020. (Foto:Tagar/Zulfitra).

Bukan hanya bertanya, Beny bahkan menjelaskan cara pembuatan dengan lebih detail, juga cara pemasaran. Hal itu membuat tekad Muhyi semakin bulat.

Sepulang kerja, saat tiba di rumah, Muhyi menceritakan niatnya pada sang istri, Sunarti. Gayung bersambut. Sunarti merespons positif niat Muhyi, meski di dalam hati Sunarti masih terselip rasa ragu. Sebab, kondisi ekonomi keluarga mereka saat itu masih belum stabil.

Akhirnya istri memberikan perhiasan emasnya seberat 1 mayam kepada saya untuk dijual dan dijadikan modal usaha.

Saat itu, uang yang diperoleh dari menjual emas istrinya sebesar kurang lebih Rp 1,5 juta. Muhyi kemudian mengambil kembali tabungan miliknya sebesar Rp 1 juta untuk digabungkan sebagai modal usaha.

Dengan uang Rp 2,5 juta, Muhyi membeli semua peralatan yang di butuhkan untuk menjalankan usaha pembuatan arang itu, seperti drum, terpal, dan tempurung.

"Hanya bisa membeli 3 buah drum, beberapa meter terpal. Sementara tempurung lumayan banyak yang saya dapat," katanya lagi.

Setelah semuanya tersedia, Muhyi pun mulai menjalankan usahanya. Setiap 15 hari sekali dirinya dapat menjual arang sebanyak 3 ton. Dengan harga jual ke pabrik Rp 6.500 per kilogram nya, atau rata-rata setiap kali penjualan Muhyi memperoleh omzet kotor berkisar Rp 19 juta hingga Rp 25 juta.

Muhyi mengakui bahwa selain Beny, orang yang paling berjasa dan berpengaruh dalam menjalankan usahanya itu adalah Sunarti, yang bersedia menghabiskan dan menjalani hidup bersama dirinya.

Selama puluhan tahun Sunarti tidak pernah mengeluh, meskipun perjalanan yang mereka jalani terkadang harus terseok-seok dihantam gelombang kehidupan, khususnya terkait masalah ekonomi.

Cerita Arang Aceh (4)Proses pemisahan antara serbuk dan arang kasar dengan cara mengayak, Minggu, 25 Oktober 2020. (Foto:Tagar/Zulfitra)

Saat usaha mereka berjalan empat bulan, Sunarti yang telah memberinya lima anak itu meninggal dunia akibat penyakit asam lambung akut.

Sejak itu Muhyi menjalankan usahanya tanpa sosok wanita yang memberikan semangat kepada dirinya. Kendati demikian, Muhyi tetap tegar, dan terus berusaha untuk memajukan usahanya itu, meskipun tanpa sang istri.

Tak Tersentuh Bantuan

Walaupun usaha yang dijalankan Muhyi termasuk usaha kecil, namun Muhyi mengaku, selama ini dirinya tidak pernah mendapatkan bantuan dari pihak manapun, termasuk bantuan dari pemerintah daerah.

"Sekalipun belum pernah saya mendapatkan bantuan usaha dari manapun, apalagi dari pemerintah," katanya.

Saat ini pemerintah telah meluncurkan program bantuan modal usaha bagi pelaku usaha mikro, yang disebut dengan bantuan presiden (Banpres) Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM), yang disalurkan melalui kementerian koperasi dan UKM RI . Namun Muhyi pun luput dari penerima bantuan itu.

Pemerintah desa berperan penting dalam pengajuan bantuan itu, sebab, yang paling mengetahui siapa saja masyarakat yang menjalankan usah adalah desa masing - masing. Pihak desa mendata dan selanjutnya mengusulkan warganya yang memiliki usaha tersebut ke pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) pada kabupaten setempat.

Sementara, Sujianto, anak keempat Muhyi yang turut membantunya menjelaskan bahwa dalam memproduksi arang tersebut dirinya dan dua karyawan lain memiliki tugas masing-masing.

Cerita Arang Aceh (5)Penjemuran arang yang telah melewati proses pembakaran sebelum dikemas, Minggu, 25 Oktober 2020. (Foto:Tagar/Zulfitra)

Dua orang bertugas mengayak tempurung yang sudah menjadi arang, untuk memisahkan arang serbuk dengan arang kasar. Nantinya hanya arang kasar yang akan diambil dan dipasarkan.

Empat hari sebelum proses pembakaran, Sujianto mempunyai tugas tambahan, yakni mengambil dan mengumpulkan tempurung dari pedagang kelapa di seluruh pasar di Kabupaten Aceh Tamiang. Dari para pedagang, Muhyi membeli tempurung seharga Rp 1.000 per kilogram.

Untuk mendapatkan 1 kilogram arang yang sudah jadi, rata-rata dibutuhkan 3,5 kilogram tempurung kelapa.

Sujianto mengaku bangga mempunyai sosok ayah seperti Muhyi. Bahkan, Ia mengaku setiap saat selalu menyelipkan doa untuk sang ayah. Anto, sapaan akrabnya, mengaku, banyak pelajaran hidup yang dia dapatkan dari sosok sang ayah.

"Ayah selalu mengajarkan saya bagaimana menjalankan kehidupan," katanya.

Anto mengaku dirinya merasa senang ketika mendengar ayahnya akan membuka usaha sendiri. Karena dia bisa melihat dan bertemu ayahnya setiap hari. Berbeda ketika ayahnya masih bekerja untuk orang lain menjadi seorang sopir, Anto sangat jarang berkumpul dan bercengkrama dengan sang ayah.

Sebagai anak yang dipercaya untuk membantu usaha sang ayah, Anto mengaku sangat semangat dan serius membantu ayahnya. Bahkan, ayahnya pernah berpesan kepadanya, usaha ini nantinya harus tetap berjalan meskipun dirinya telah tiada nantinya.

"Dan salah satu anak yang dipercaya untuk menjalankan usaha itu adalah saya," kata dia.

Meski demikian, Mujianto tidak pernah berharap lebih, sebab, usaha yang dibangun ayahnya itu merupakan usaha keluarga. Ia hanya berharap, agar Tuhan selalu memberikan kesehatan kepada sang ayah.

"Cuma berharap agar ayah selalu diberikan kesehatan serta keselamatan dari sang pencipta. Selain itu, berdoa agar usaha ayah lebih maju lagi," ujarnya. [] 

Berita terkait
Kue Bolu Permintaan Anak Aceh yang Dibunuh Pemerkosa Ibu
Rangga, anak berusia 9 tahun yang dibunuh oleh pemerkosa ibunya di Aceh Timur ternyata memiliki permintaan terakhir yang tak sempat dipenuhi.
Menahan Laju Kepunahan Burung Endemik Magelang
Magelang yang dikelilingi sejumlah gunung menjadi habitat beragam jenis burung. Tapi populasi burung endemik daerah itu mulai berkurang.
Legenda Pembunuhan Sri Tanjung dan Surati di Banyuwangi
Setidaknya ada tiga cerita yang disebut-sebut sebagai cikal bakal penamaan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dua di antaranya tentang pembunuhan.
0
PPKM Mikro Seluruh Provinsi di RI Resmi Berlaku Hari Ini
Pemerintah resmi memberlakukan PPKM di seluruh Provinsi Indonesia per 1 Juni hingga 14 Juni 2021 untuk menekan penyebaran Covid-19 di Tanah Air.