UNTUK INDONESIA
Masjid Al Makmur, Arsitektur Timur Tengah di Aceh
Anda serasa sedang di Timur Tengah saat menginjakkan kaki di Masjid Agung Al Makmur di Kota Banda Aceh ini.
Masjid Agung Al Makmur Lampriet atau lebih dikenal dengan Masjid Oman merupakan salah satu masjid kebanggaan Kota Banda Aceh karena bentuk Masjid tersebut bergaya Timur Tengah. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Banda Aceh - Di Kota Serambi Mekkah ini masjid adalah destinasi wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Keindahan serta kemegahan bangunan masjid membuat para religius mengingat kebesaran Sang Pencipta.

Setelah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Masjid Agung Al Makmur berlokasi di Jalan Taman Ratu Syafaruddin atau Jalan Mohammad Daud Beureuh, Lampriet, Kota Banda Aceh.

Masjid berarsitektur sangat mirip Timur Tengah ini dibangun di atas tanah seluas 7.571 meter persegi. Luas lantai masjid 1.600 meter persegi. Setiap sudut dilengkapi ruang wudhu dan bersuci. 

Permadani indah terhampar di lantai, karpet khusus disebut hambal di lantai satu. Dinding berhiaskan berbagai ornamen dan kaligrafi ayat Alquran. Ukiran sangat indah ini bisa dijumpai pada sisi masjid bagian mimbar, dinding serta langit-langit. Terdapat pula sebuah lampu hias sangat indah dalam bangunan masjid.

Ada taman di bagian halaman, aneka tumbuhan dan payung-payung cantik menyegarkan pemandangan. Secara keseluruhan masjid ini bersih terawat.

Awalnya masjid ini diberi nama oleh Tengku H Abdullah Ujong Rimba yang saat itu adalah imam besar masjid. Beliau juga sebagai Ketua MUI masa itu. Nama yang diberikan untuk masjid ini pertamanya Masjid Baitul Makmur.

Sejarah Panjang

Masjid dengan dua menara dan satu kubah ini memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Kota Banda Aceh dari masa ke masa. Sempat diporak-porandakan tsunami 2004, masjid ini dibangun kembali dengan dana bantuan dari Sultan Oman. Hingga kemudian masyarakat Aceh menyebutnya Masjid Oman.

Menurut berbagai literatur, Masjid Agung Al-Makmur dibangun pada tahun 1979 secara swadaya dan gotong royong oleh masyarakat setempat. Peletakan batu pertama dilakukan Prof A Madjid Ibrahim. Pembangunannya dilakukan secara bertahap dan kala itu masjid ini berstatus sebagai masjid Agung Banda Aceh.

Sejak tahun 1989, Masjid Al Makmur dikelola oleh sebuah kepengurusan dan keimaman. Kemudian pada tahun 1992 berdasarkan hasil evaluasi dan penilaian Badan Kesejahteraan Masjid Kota Banda Aceh, Masjid Al Makmur dengan surat keputusan No. 09/DKM/2.C/1992 tanggal 2 Desember 1992 ditetapkan sebagai Masjid Agung atau Masjid Kota Banda Aceh. Karenanya masjid ini disebut Masjid Agung Al Makmur Kota Banda Aceh

Mulanya masjid ini diberi nama Masjid Baitul Makmur, dibangun di kawasan Lampriet yang dikenal sebagai daerah pegawai pemerintahan. Daerah ini dulu dikuasai Belanda dan disebut dengan tanah erpah. Dulu masjid ini tak semegah seperti yang bisa dilihat sekarang. Setelah dihancurkan tsunami 2004, dilakukanlah pembangunan kembali sehingga kini nampak cantik dan indah.

"Awalnya masjid ini diberi nama oleh Tengku H Abdullah Ujong Rimba yang saat itu adalah imam besar masjid. Beliau juga sebagai Ketua MUI masa itu. Nama yang diberikan untuk masjid ini pertamanya Masjid Baitul Makmur," kata Muhammad Razali, Imam besar Masjid Agung Lampriet dalam sebuah kesempatan.

Tsunami Menerjang

Saat bencana tsunami menerjang Aceh, masjid ini runtuh, tak bisa bertahan dari terjangan air yang begitu dahsyat hingga mengalami kerusakan parah. Atapnya ambruk, tiang-tiang patah.

Masyarakat setempat waktu itu menilai Masjid Agung Al-Makmur tidak bisa digunakan lagi. Namun, seminggu setelah bencana tsunami, pemerintah Oman diwakili Direktur Eksekutif Oman Charity datang, melihat dahsyatnya kerusakan akibat bencana tsunami.

Setelah tinggal selama 45 hari di Aceh, ia kembali ke Oman untuk melapor kepada Sultan Oman yaitu Sultan Qaboos. Berawal dari keprihatinan Sultan Oman, datanglah bantuan senilai Rp 17 milliar untuk membangun kembali Masjid Agung Al-Makmur. Seluruh rangkaian proses pembangunan, desain bangunan dan pendanaan, seluruhnya juga ditangani langsung pemerintah Oman.

"Memang semua ditangani oleh Oman, kita hanya terima beres," ujar Razali.

Selain memberikan bantuan dalam pembangunan masjid, pemerintah Oman juga secara berkala mengirimkan bahan makanan, obat-obatan, serta pembangunan rumah dan santunan bagi anak yatim-piatu. Bantuan dari Oman ini tentunya sangat membantu dalam proses rekonstruksi dan pemulihan setelah bencana tsunami.

Aceh sendiri memang memiliki hubungan sangat erat dengan Oman pada masa lampau. Hubungan ini terjalin secara tak langsung dalam masuknya peradaban Islam di bumi Serambi Mekkah

Proses pembangunan Masjid Agung Al-Makmur pun rampung pada tahun 2008, dan timbul sebuah gagasan untuk menamai masjid ini dengan nama Sultan Qoobus untuk mengenang jasa-jasanya. Namun Sultan Qoobus dengan segala rasa rendah hati, mengaku ikhlas dalam membantu Aceh dan menolak usulan tersebut. 

Masjid pun akhirnya berubah nama menjadi Masjid Agung Al-Makmur diresmikan pada tanggal 19 Mei 2009. Kala itu Ali Ibrahim Al Raisy Direktur Eksekutif Oman Charity dalam pidatonya mengungkapkan rasa bahagia atas pembangunan masjid ini.

Untuk Menikah

Masjid Agung Al Makmur sering dijadikan tempat berbagai acara keagamaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Banda Aceh maupun Provinsi Aceh. Seperti acara pekan budaya, dan juga acara baca Alquran yang merupakan bagian dari proses seleksi untuk para calon wali kota Banda Aceh. Kegiatan ini memang sangat unik, karena baru di Aceh saja yang menerapkan uji kemampuan baca Alquran dalam pemilihan wali kota.

Selain Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Agung Al Makmur merupakan masjid pilihan untuk para pasangan muslim yang ingin menikah. Bahkan berdasarkan informasi untuk melakukan prosesi akad nikah di masjid ini harus mengantre, harus jauh-jauh hari mendaftar.

Salah satu pasangan yang menikah di Masjid Agung Al Makmur ini ialah Qari muda bersuara merdu dan juga imam kondang, Muzammil Hasballah bersama Sonia Ristanti pada Jumat 7 Juli 2017. Prosesi akad nikah Muzammil dengan Sonia diawali salat subuh berjemaah diimami Muzammil, disaksikan ribuan pasang mata kerabat, keluarga, handai tolan, masyarakat setempat.

Masjid ini juga dilengkapi fasilitas perpustakaan dengan berbagai macam buku tentang agama Islam. Terdapat pula aula serbaguna, koperasi masjid, kantor sekretariat. Tak hanya itu, di kompleks masjid ini telah dibangun TPA atau madrasah untuk pendidikan agama Islam.

Jika ingin menginap, Anda juga bisa memilih hotel serta penginapan yang ada di sekitar lokasi masjid. Selain berwisata religi, pengunjung juga bisa berwisata kuliner dengan mencicipi berbagai masakan khas Aceh yang ditawarkan rumah makan dan restoran di sekitar masjid. []

Baca juga: 

Berita terkait
0
Pilu Hati Penjual Nasi Santan Bantaeng
Nasib pedagang nasi santan di Bantaeng, Sulawesi Selatan, tak seperti sepuluh tahun silam. Dagangannya tidak laku dan kerap basi tanpa pembeli.