UNTUK INDONESIA
Masjid Kotagede Mataram, Masjid Tertua di Yogyakarta
Masjid Kotagede Mataram usianya kini sudah hampir empat setengah abad. Masjid dibangun oleh Panembahan Senopati Sutowijoyo
Tampak bangunan Masjid Kotagede Matatam dari depan. (Foto: Tagar/Ridwan Anshori)

Yogyakarta - Masjid Kotagede Mataram usianya kini sudah hampir empat setengah abad. Awalnya masjid mulai dibangun sejak 1587 Masehi oleh Panembahan Senopati Sutowijoyo.

Dia tak lain pendiri Kasultanan Mataram, dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Memerintah Kasultanan Mataram sejak 1587 - 1601. Masjid Kotagede Mataram didirikan pada awal kepemimpinannya.

Awalnya masjid tersebut berukuran kecil. Tak heran waktu itu masih disebut langgar atau mushola yang artinya masjid kecil.

Saat Sultan Agung, yang merupakan Sultan Mataram Islam III memimpin Mataram Islam (1613-1645), Mataram Islam mengalami masa jaya. Kasultanan Mataram berkembang pesat, menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara. Pada masa pemerintahannya pula, masjid yang masih berukuran kecil kembali dibangun lebih besar, tepatnya pada 1640.

Masjid KotagedePintu masuk Masjid Kotagede Mataram berupa paduraksa atau gapura yang memiliki atap penutup yang biasanya lazim ditemukan dalam bangunan klasik Jawa Hindu dan Bali. (Foto: Tagar/Ridwan Anshori)

Masjid dibangun dan dibantu warga setempat yang masih beragama Hindu dan Budha. Tak heran, arsitektur bangunannya kental dengan nuansa Hindu dan Budha. Pengaruh arsitektur Hindu dan Budha juga terlihat dalam sejumlah ornamen masjid.

Tokoh masyarakat setempat, Sarbini (60) mengatakan, pembangunan masjid pada 1640 tersebut menjadi simbol toleransi yang sangat kuat. "Buktinya masjid sebagai tempat sembahyang umat Islam, warga yang saat itu Hindu dan Budha ikut bergotong-royong membangun masjid," kata dia, Rabu 8 Mei 2019.

Jika mengunjungi masjid yang secara administratif berada di Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Bantul, ini memang kesan arsitektur Hindu dan Budha masih sangat kuat. Salah satunya pintu masuk utama kompleks masjid berupa gapura paduraksa.

Padukraksa merupakan bangunan berbentuk gapura yang memiliki atap penutup. Arsitektur ini lazim ditemukan dalam bangunan klasik Jawa Hindu dan Bali. Biasanya gapura ini sebagai pintu memasuki kompleks pura, tempat ibadah agama Hindu.

Perpaduan Hindu dan Islam juga terlihat dari ornamen masjid. Atap masjid bersusun dua dengan mustaka berbentuk gada yang ditopang empat pilar. Gada melambangkan syahadat yang merupakan rukun Islam utama. Empat tiang melambangkan empat rukun Islam lainnya yakni sholat, puasa, zakat dan haji.

Di dalam ruang utama masjid, ada mimbar atau tempat berkotbah. Umurnya sudah ratusan tahun. Mimbar yang terbuat dari kayu dan diukir indah ini merupakan hadiah dari Sultan Palembang kepada Sultan Agung.

Sedangkan di serambi masjid, didapati beduk yang usianya dengan Masjid Kotagede Mataram ini. Konon katanya, beduk yang diberi nama Kyai Dondong ini merupakan hadiah dari Nyai Pringgit yang berasal dari Kulonprogo. Beduk berukuran besar itu dari Kulonprogo dibawa ke masjid dengan cara digendong.

Atas perjuangan dari Nyai Pringgit ini, Sultan Agung memberikan hak kepada keturunan Nyai Pringgit menjadi pengurus dan tinggal di sekitar masjid.

Beduk masih digunakan sampai saat ini, yakni ditabuh sebagai penanda waktu sholat. "Beduk masih ditabuh untuk penanda mau sholat. Setelah ditabuh baru berkumandang adzan," kata Sarbini.

Beduk Masjid KotagedeBeduk Kyai Dondong berada di serambi Masjid Kotagede Mataram yang merupakan hadiah dari Nyai Pringgit. (Foto: Tagar/Ridwan Anshori)

Dalam sejarahnya, masjid ini mengalami dua tahap pembangunan. Hal tersebut tertuang dalam prasaati yang ada di kompleks masjid. Tahap pertama dibangun Sultan Agung berupa banguman inti atau utama masjid. Tahap kedua dilakukan oleh Kasultanan Surakarta, Paku Buwana X.

Sampai sekarang Masjid Kotagede Mataram tetap kokoh berdiri. Keberadaannya sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan dilindungi dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Wisatawan sering mengunjungi kompleks masjid ini, terutama untuk wisata budaya dan religi. Karena di kompleks masjid ini, tepatnya di sebelah kiri masjid merupakan makam Raja-raja Mataram. Salah satunya yang dimakamkan di tempat tersebut adalah Panembahan Senopati yang merupakan pendiri Mataram Islam sekaligus pendiri masjid. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Kakek Gesekkan Alat Vital pada 4 Anak di Kulon Progo
Kakek bertindak asusila pada 4 anak di Kulon Progo ditangkap polisi. Pria 78 tahun ini menggesekkan alat vitalnya ke anak, lalu memberinya uang.