UNTUK INDONESIA
Demplot Sale, Solusi Saat Pandemi Corona di Bali
Banyak hal yang bisa dilakukan saat pandemi Covid-19 untuk tetap mendapatkan penghasilan. Salah satunya Domplet Sale di Bali.
Penggagas urban farming Demplot Sale di Bali, I Gde Dedy Kusuma Antara, lahan minimalis bisa digunakan untuk membantu kebutuhan hidup warga sehari-hari di tengah pandemi Corona. (Foto: istimewa)

Denpasar - First Lady dan kolumnis dari Amerika Serikat, Eleanor Roosevelt pernah berujar, "Light a candle instead of cursing the darkness". (Lebih baik nyalakanlah lilin dari pada mengutuk kegelapan).

Bisa jadi ungkapan ini menjadi salah satu obat batin manjur di tengah pandemi Corona seperti sekarang, saat semua aktivitas serba dibatasi. Pun pemasukan yang rutin otomatis menjadi terbatas. Bahkan tak sedikit yang tak memiliki penghasilan sama sekali.

Seperti yang dilakukan oleh banyak warga Bali yang tergabung dalam banyak komunitas maupun grup-grup WhatsApp yang memilih mencari solusi di tengah pandemi Corona yang nyata nyata telah memporakporandakan industri pariwisata Bali. Selama ini sektor pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian warga Pulau Dewata.

Bahkan tak jarang ide solusi yang dilakukan tak hanya bermanfaat untuk keluarga kita sendiri, tetapi bisa menular ke keluarga-keluarga lainnya. Seperti solusi yang dikerjakan oleh sejumlah anggota komunitas alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Yogyakarta cabang Bali.

Pemanfaatan Keterbatasan Lahan

Berawal dari ide Ketua Kagama Cabang Denpasar I Gde Dedy Kusuma Antara, ST tentang ketahanan pangan mandiri di keluarga. Dia menyulap pekarangan rumah untuk berkebun sayur serta beternak lele. Maka banyak anggota grup WhatsApp dan komunitas lainnya tertular dan melakukan hal yang sama.

"Bukan main respons teman-teman dan warga banyak sekali yang ikut. Apalagi setelah kita produksi demplot (demontration plot) atau tong sale (sayur dan lele), beternak lele dan berkebun sayur di lahan sempit. Benih dan bibit bantuan dari Pemkot Denpasar," ujar Dedy, Selasa, 19 Mei 2020.

Domplet Sale di BaliDomplet Sale sebaga solusi keterbatasan lahan di Bali. (Foto: istimewa)

Pria berusia 53 tahun ini bercerita bahwa awalnya ia bersama teman-teman yang juga alumni SMAN 1 (Smansa) Denpasar tahun 1985 ini ingin ikut membantu masyarakat yang tidak punya pemasukan buat bertahan hidup, akibat dampak pandemi Covid-19.

Maka ia menginisiasi pembuatan Demplot Sale, yang nantinya bisa dimanfaatkan masyarakat tak punya lahan untuk menanam sayuran dan memelihara lele dalam satu tempat. Intinya adalah membantu masyarakat menjaga ketahanan pangan masing-masing selama pandemi Covid-19

"Saat ini, banyak masyarakat tidak memiliki pemasukan yang cukup akibat dirumahkan, bahkan di-PHK, atau tidak bisa beraktivitas seperti biasanya," tuturnya.

Demplot Sale ini berbentuk satu ember besar ukuran bak mandi. Pada bibir ember, ditempeli sekitar 12 gelas plastik yang diikat dengan kabel ties. Gelas-gelas itu yang nanti dipakai menanam sayur kangkung, sedangkan embernya buat memelihara lele.

Dengan gotong royong bersama sesama mantan mantan teman SMA, Dedy merakit Sale di Jalan Raya Sesetan Nomor 12 Denpasar. Mereka berasal dari berbagai profesi, mulai dari dokter, dosen, lawyer, hingga wiraswasta.

Sebelum membuat Demplot Sale ini dari Alumni ’85 Smansa sebenarnya intens melakukan beberapa aksi sosial, seperti pembuatan hand washing, pembagian sembako dan gizi untuk medis, serta pembagian Alat Pelindung Diri (APD) ke puskesmas yang ada di Denpasar.

"Namun, karena saat ini sudah banyak bermunculan aksi sosial serupa, kami lantas berpikir untuk dampak jangka panjang yakni ketahanan pangan. Maka, tercetuslah ide ini," terang Dedy.

Mereka pun mencari referensi di YouTube mengenai metode bercocok tanam yang murah, mudah, dan tidak memerlukan lahan. Demplot yang mereka namai Demplot ‘Sale’ ini dirasa cocok untuk masyarakat di perkotaan, yang tidak memiliki lahan luas untuk bercocok tanam.

Merangkai domplet sale di BaliMerangkai domplet sale yang menanam sayur dan memelihara ikan lele. (Foto: Istimewa)

"Banyak yang tidak punya pekarangan luas. Ada yang kos, ada yang dirumahkan, dan sebagainya. Kami berpikir masyarakat biar ada kegiatan, tapi bisa sekaligus mengatasi stres dan memperoleh bahan makanan untuk konsumsi sendiri, minimal untuk keluarga kecilnya,” ujarnya. 

Satu ember bisa memelihara 25 ekor lele sama bibit kangkung.

Setelah menemukan metode Demplot Sale ini, lantas ia bekerja sama dengan Pemerintah Kota Denpasar. Bibit lele dan benih tanaman sayur diberikan secara gratis oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Holtikultura Kota Denpasar dan Dinas Perikanan & Ketahanan Pangan Kota Denpasar.

Program Demplot Sale ini sudah dijalankan sejak beberapa minggu. Makin ke sini permintaan demplot dari masyarakat membeludak. Bahkan, masih banyak masyarakat yang berdatangan untuk mendaftar.

Seperti Triza Yusino yang juga menjadi pegiat urban farming di lingkungan komplek perumahannya di Jimbaran. Ia juga membagikan bibit yang didapatnya dari Dedy ke beberapa banjar di Perumahan Taman Griya dan Kori Nuansa Jimbaran.

"Awalnya ambil dua tong sebagai contoh buat kawan-kawan muda. Saya juga membagi-bagikan bibit lele, bibit tanaman seperti terong, cabe kangkung dan lainnya," ujar ibu rumah tangga yang juga alumni UGM ini.

Lebih lanjut Dedy mengatakan, untuk mendapatkan Demplot Sale, masyarakat hanya perlu berdonasi sebesar Rp 100.000 sebagai pengganti materialnya. “Hal ini agar kami dapat secara berkelanjutan membuat Demplot Sale untuk masyarakat. Untuk pembuatan awalnya, kami modali dari sisa dana aksi sosial sebelumnya,” jelasnya.

Pria yang kesehariannya berwiraswasta ini mengungkapkan,  dalam satu ember tong bisa memelihara 25 bibit ikan lele dan sayuran kangkung. Demplot Sale tidak membutuhkan perawatan yang ribet, cukup hanya mengganti airnya dua minggu sekali.

“Satu ember bisa memelihara 25 ekor lele sama bibit kangkung. Nanti kami juga akan ajari probiotik dan molase untuk ekosistem lelenya. Kami di sini juga didampingi teman-teman dari dinas terkait, juga dosen-dosen dari pertanian dan perikanan,” ungkapnya.

Pria asal Desa Bajera, Kecamatan Selemadeg, Tabanan yang sejak kecil menetap di Denpasar ini menyebutkan, dalam waktu 3 minggu, Demplot Sale sudah panen. Sebulan kemudian, bisa panen lele. “Bagi anak kos yang tidak pulang mudik, ini bisa jadi satu solusi. Apalagi, dalam situasi pandemi Corona seperti ini. Selain itu, Demplot Sale ini juga bisa digunakan berulang-ulang. Setelah panen, bibit dan benih bisa minta ke dinas terkait," ujarnya.

Penggagas urban farming Demplot Sale di Bali, I Gde Dedy Kusuma AntaraPenggagas urban farming Demplot Sale di Bali, I Gde Dedy Kusuma Antara, lahan minimalis bisa digunakan untuk membantu kebutuhan hidup warga sehari-hari di tengah pandemi Corona. (Foto: istimewa)

Pengalaman Urban Farming

Alumnus Teknik Sipil UGM Yogyakarta angkatan 1985 ini sebelumnya mengerjakan program Pekarangan Pangan Lestari, suatu model pertanian yg diusahakan di perkotaan dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah biasa juga disebut Urban Farming.

Ia juga pernah membuat model percontohan pertanian perkotaan dengan menanam beberapa komoditi yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti cabe, terong, pare dan sayur-sayuran. "Ini yang kami ingin getok tularkan kepada masyarakat kota untuk bisa memanfaatkan lahan pekarangannya untuk ditanami beberapa komoditi pertanian dengan harapan agar pariwisata bisa diharmonisasi dengan pembangunan pertanian," kata Dedy.

Bersama komunitas Smansa Urban Farming (Surfing) Dedy pun bersinergi dengan pemerintah kota Denpasar mencoba membuat kebun percontohan yang nantinya bisa ditiru oleh masyarakat. Harapannya, hasil dapat dipanen untuk kebutuhan sehari hari.

Menurutnya kegiatan ini dapat mengurangi uang dapur yg dikeluarkan sehari hari . Ia mengambil contoh penghematan biaya dapur perhari Rp 20.000 dengan asumsi memanfaatkan panen hasil kebun pekarangan. Sehingga dalam 1 bulan bisa menghemat Rp 600 ribu.

"Jika kita bisa menabung dari hasil penghematan itu, suatu ketika kita mengalami lagi hal yg seperti wabah Corona ini, minimal ada bahan pangan yang masih tersedia di lahan pekarangan. Di satu sisi kita masih punya tabungan dari penghematan yang sudah kita lakukan, sehingga nantinya dapat meringankan beban masyarakat. Semoga bermanfaat," tandasnya. []

Baca Cerita:

Berita terkait
Industri Pariwisata Bali Menyongsong Era New Normal
Bali mewacanakan langkah-langkah kesiapan pariwisata Bali menyongsong era new normal dalam menghadapi pandemi Covid-19.
Kisah Mereka yang Tertahan di Bali Setelah PHK
Sejumlah pekerja yang di PHK terpaksa bertahan di Bali karena penerbangan sudah tertutup hingga Juni 2020.
Covid-19 Landai, Pariwisata di Bali Dibuka Oktober
Penyebaran wabah virus corona Covid-19 di Bali semakin melandai. Untuk itu, Pemprov berencana untuk membuka kembali sektor pariwisata.
0
Demplot Sale, Solusi Saat Pandemi Corona di Bali
Banyak hal yang bisa dilakukan saat pandemi Covid-19 untuk tetap mendapatkan penghasilan. Salah satunya Domplet Sale di Bali.