UNTUK INDONESIA
Pria 85 Tahun Bertahan Hidup dengan Gerobak di Aceh
Abdul Sani, 85 tahun, raganya sudah membungkuk, Matanya yang sudah rabun namun warga Subulussalam, Aceh ini tidak pernah mengeluh dengan keadaan.
Abdul Sani, 85 tahun atau yang kerap dipanggil Uwan Habibi saat menjajakan dagangannya di depan halte SMP Negeri 1 Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Aceh. (Foto: Tagar/Nukman)

Subulussalam - Betapa kakek yang satu ini menyuguhkan sebuah potret kehidupan yang mengundang simpati sosial. Penampilannya yang bersih serta sosoknya yang penuh kesederhanaan mengajarkan kita tentang arti semangat pantang menyerah dalam mengais rezeki.

Perawakannya yang sudah renta tak lantas membuatnya berputus asa serta berpangku tangan pada keadaan. Semangatnya demi meneruskan hidup tampak tak pernah redup. Walau dayanya tak setangguh anak muda, namun tekadnya kuat untuk mengais pundi-pundi rezeki di bawah teriknya sengatan matahari.

Dia adalah, Abdul Sani, 85 tahun, sosok lelaki tua dengan postur tubuh yang tampak mungil, bila tidak hujan hampir saban hari ia berjualan di pertigaan tugu Bongki Tambang di Desa Belegen Mulia, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Aceh yang jaraknya tidak terpaut jauh dari tempat tinggalnya.

Sesekali ia juga bergeser ke arah halte Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Simpang Kiri dan kadang kala ia juga mangkal ke arah seberang Masjid Agung Subulussalalam.

Di situlah ia betengger tepatnya di pinggir ruas jalan lintas nasional Subulussalam-Tapaktuan mengharapkan warga yang sedang melintas untuk membeli barang dagangan ia jajakan itu.

Gerobaknya unik, tampak dipenuhi beberapa jenis buah-buahan dipajangkan di atas gerobaknya, seperti pisang, salak, jeruk manis dan manggis. Katanya, buah-buahan itu juga ia beli dari pasar, lalu dia jual dengan laba dengan nominal dua ribuan hingga lima ribuan saja.

Yang pantang itu di dalam hidup ialah tidak pernah mensyukuri pemberian Allah.

Selain itu, uniknya lagi, sang kakek juga menaruh beberapa jenis alat bermain anak-anak, bahkan cukup klasik yang mungkin jarang sudah kita dapati anak-anak menggunakan alat permainan tersebut, yaitu, kelereng dan lembaran kertas yang berisikan gambar-gambar yang digemari anak-anak.

Raganya yang sudah membungkuk, namun ia tidak pernah bertekuk dalam keluh. Matanya yang sudah rabun, namun ia tidak pernah tertegun memandangi nasib. Baginya, selama kaki ini masih bisa melangkah pantang bagi dirinya berkeluh kesah.

"Yang pantang itu di dalam hidup ialah tidak pernah mensyukuri pemberian Allah," tuturnya saat Tagar menyambanginya yang didapati tengah berjualan di depan halte SMP Negeri 1 Simpang Kiri, Senin, 4 Mei 2020, petang, sekitar pukul 17.00 WIB.

Kata sang kakek, ia berjualan bukan untuk kaya raya, tetapi hanya bagaimana bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama sang istri.

Sang kakek yang juga akrab disapa Uwan Habibi (Uwan artinya kakek) hingga kini belum mempunyai keturunan dari pernikahannya dengan Sarah, 70 tahun yang ia nikahi sejak puluhan tahun yang lalu di Desa Lae Mate Lama, Kecamatan Runding, Kota Subulussalam, Aceh.

Tentunya kisah sang kakek yang sudah berusia senja ini patut menjadi gugahan bagi anak manusia. Sisi potret kehidupannya berbanding terbalik dengan mereka yang masih muda, berbadan bugar dan sehat memilih untuk menjadi peminta-minta. Bahkan tak sedikit mereka harus berpura-pura cacat hanya demi mengharap keibaan orang-orang.

Subulussalam AcehAbdul Sani, 85 tahun atau yang kerap dipanggil Uwan Habibi saat menjajakan dagangannya di depan halte SMP Negeri 1 Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Aceh. (Foto: Tagar/Nukman)

Saban petang ia menjajakan dagangannya. Dengan gerobak yang ia rancang seadanya ia jadikan sebagai tempat barang-barang dagangannya sebagai wadah bagi dirinya untuk menopang hidup.

Ketika ditanyai, apakah kakek masih sanggup berjualan, sedangkan untuk berjalan kaki saja kakek sudah tak kuat, apalagi dengan mendorong gerobak? Ia menjawab, selama badanku ini masih bisa bergerak dan kakiku ini masih bisa ku langkahkan pantang bagiku untuk berdiam diri, apalagi meminta-minta.

Meski demikian, prinsip hidup sang kakek ini senantiasa membubung. Walau sudah senja namun cita-citanya untuk menjejakkan kaki ke Tanah Suci Mekah terus semerbak di dalam sanubarinya.

Saya sering cerita-cerita sama Uwan itu, selama kami cerita-cerita gak pun pernah ku dengar Uwan ini bercerita mengeluh.

Di sisi lain, Uwan Habibi ini juga mempunyai kisah unik yang dapat mengundang rasa haru kita. Pernikahannya dengan Sarah yang sudah berpuluhan tahun hingga kini belum dikarunia keturunan. Untuk mengisi kealpaan itu di rumah mereka berdua pun mengasuh seekor kucing jantan yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri.

Waktu Tagar menanyakan tentang ikhwal kalau sang kakek menurut kabar mempunyai seorang anak yang tak lain adalah seekor kucing, kakek ini pun tertawa dengan girangnya, ia mengakui hal itu.

"Namanya kami bikin Sinibot, luar biasa monjonya (manja), sama kami pun dia tidur. Dari kecil kami asuh, sudah bertahun-tahun tinggal sama kami, kami sudah menganggapnya seperti anak sendiri, kami sering bercanda, orang-orang pun mengatakan kalau itu anak kami," ujarnya dengan mengumbarkan tawa kebahagiaan.

Di tengah usianya yang sudah ujur, Uwan Habibi ini sudah cukup sulit diajak berkomunikasi, selain pendengarannya yang sudah tidak cerling lagi, kualitas daya ingatnya juga sudah melemah. Tagar pun tidak dapat lebih dalam mengulik kisahnya lebih mendalam, hanya beberapa penuturannya saja yang bisa Tagar rangkumkan.

Meski demikian, Tagar mencoba mencari tahu informasi terkait Iwan Habibi ini melalui Muhammad Iradat, pria, 32 tahun, salah seorang tetangganya yang mungkin bisa menceritakan kisah sang kakek tersebut.

Menurut Iradat, Uwan Habibi patut menjadi contoh, contoh tentang kesetiaan serta contoh tentang semangat bekerja. Sekalipun sudah tau tapi semangatnya untuk berjualan masih tampak membara.

"Saya sering cerita-cerita sama Uwan itu, selama kami cerita-cerita gak pun pernah ku dengar Uwan ini bercerita mengeluh," tutur Iradat.

Iradat menceritakan, tidak jarang Uwan Habibi tersesat ketika hendak pulang ke rumahnya, mungkin hal itu disebabkan daya ingat sang kakek yang sudah mulai pikun. Namun, ada saja orang yang peduli kepada dirinya untuk mengantarkannya pulang ke rumah.

Kerabatnya ada, ada anak abangnya sering juga tu mereka berkunjung ke rumah Uwan ini yang memperhatikan dan ngasih bantuan.

"Mungkin karena mereka mengenal Uwan Habibi ini, makanya ada yang sering membantunya kalau lagi tersesat," ucap Iradat, Selasa, 5 Mei 2020.

Begitu juga saat belanja dagangan di pasar, kadang lupa di mana Uwan Habibi memarkirkan sepedanya, dan pulang begitu saja dengan berjalan kaki menuju rumah yang jaraknya lumayan jauh.

"Saya kebetulan pernah menjumpai Uwan ini sedang berjalan, tetapi ku lihat dia berjalan ke arah yang tidak menuju kearah rumahnya, pikiran saya kalau si Uwan ini sudah tersesat. Lalu kutanyakan, kata Uwan itu dia mau ke rumah kawannya, padahal orang yang disebutkan itu sudah lama meninggal dunia," kisah Iradat.

Begitu juga sewaktu mendorong gerobak, kerap sekali Iwan Habibi terhenti beberapa kali, tampaknya untuk menghelakan nafas, kemudian kadang ia juga beristirahat sejenak, padahal jarak lokasi dia berjualan dari rumahnya hanya terpaut 100 meter.

"Tapi saya benar salut sama Uwan dan istrinya, meski sudah tua tapi saya lihat mereka romantis, saling bantu satu sama lain, saya lihat itu ketika Iwan itu pulang berjualan, pada saaat gerobak sampai kehalaman rumahnya sang istri turut membantu mendorongkan gerobak masuk ke teras rumah," ujar Iradat.

Pemandangan lain yang Iradat saksikan sebagai tetangga bahwa Uwan Habibi dan istrinya adalah pasangan yang sangat penyayang kepada kucing, bahkan kata Iradat kalau mereka memperlakukan kucing itu yang tak lain seperti anak sendiri, sebab mereka memang tidak mempunyai anak.

"Sangking sayangnya sama kucing hingga kucing itu itu diperlakukan seperti anak sendiri, dimandikan, disisir, diberi makan bahkan dia cerita sama kucing itu seolah mereka saling mengerti satu sama lain," ungkap Iradat.

Pernah satu waktu, salah seekor kucing mereka mati, banyak tetangga yang melihat kalau Uwan Habibi dan istrinya menangis tak ubahnya seperti menangisi anggota keluarga yang sedang meninggal dunia.

Tak ubahnya, kucing itu pun mereka kafani, lalu, mereka kuburkan, tampak mereka berdua pun menangisi kepergian kucing tersebut sambil mereka sertai dengan membacakan doa atas kepergian kucing yang tak ubahnya sudah mereka anggap sebagai anak sendiri.

Di tengah kondisi raga yang sudah renta, Uwan Habibi juga kerap dikunjungi salah seorang kerabatnya untuk melihat-lihat keadaan sang kakek dan istrinya sembari memberikan sejenis bantuan.

"Kerabatnya ada, ada anak abangnya sering juga tu mereka berkunjung ke rumah Uwan ini yang memperhatikan dan ngasih bantuan," ucap Iradat.[]

Baca cerita lainnya: 

Berita terkait
Pedagang Aceh Memburu Rezeki, Menentang Maut Corona
Pedagang di Aceh berharap pemerintah dapat mencari solusi supaya pengunjung kembali normal seperti biasanya dan para pedagang kembali bergairah.
Murid SD di Aceh Mulai Sekolah di Tengah Corona
Meski pandemi corona belum dinyatakan aman, namun, Sekolah Dasar (SD) di Subulussalalam, Aceh sudah dibuka.
Pawang Harimau Aceh Merindukan Kakbah di Usia Senja
Carwani Sabi pawang harimau Aceh yang berusia 85 tahun sangat ingin menunaikan ibadah haji dikala umurnya yang sudah senja.
0
Antisipasi Skenario New Normal BUMN Ala Erick Thohir
Menteri BUMN Erick Thohir menyiapkan antisipasi skenario The New Normal BUMN yang akan dimulai pada 25 Mei 2020.