UNTUK INDONESIA
Kisah Mereka yang Tertahan di Bali Setelah PHK
Sejumlah pekerja yang di PHK terpaksa bertahan di Bali karena penerbangan sudah tertutup hingga Juni 2020.
Para penumpang pesawat dari berbagai maskapai gagal berangkat dari Bandara Ngurah Rai, Bali. (Foto: Tagar/Nila Sofianty) Penumpang pesawat dari Bali tujuan NTT yang batal berangkat

Badung - Wabah virus corona (Covid-19) menyisakan ribuan cerita duka dan menguras air mata. Tak terhitung jumlah tenaga kerja yang dirumahkan hingga berujung pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia sejak virus ini diumumkan Presiden Joko Widodo, awal Maret 2020.

Akhir April 2020, sejumlah calon penumpang pesawat yang merupakan para pekerja pendatang di Bali, gagal berangkat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai. Mereka pun memprotes sejumlah kebijakan pihak maskapai yang tidak mengembalikan uang pembelian tiket.

Dari pantauan Tagar, para pekerja yang tujuan berangkatnya ke Nusa Tenggara Timur (NTT) bersikeras agar uang pembelian tiket mereka dikembalikan hari itu juga, Sabtu, Sabtu 25 April 2020.

Kami sudah di PHK, daripada tidak ada kerjaan di Bali lebih baik pulang kampung.

Mereka mengaku, uang tiket tersebut akan digunakan sebagai bekal hidup di Bali. Para pekerja ini gagal pulang ke kampung halaman masing-masing akibat kebijakan pembatasan penerbangan komersial yang mulai berlaku sejak Jumat, 24 April 2020.

"Uang itu mau bayar kos, mau beli nasi karena uang sisa seharga tiket itu. Kita di dalam tadi meminta kembalikan saja uangnya supaya kita bisa hidup di sini," kata Heronemos, seorang mahasiswa di Bali asal Labuan Bajo, NTT.

Pihak maskapai, kata Heronemos, tidak bisa mengembalikan uang dan akan memberikan voucher atau surat keterangan yang berlaku 1 tahun untuk pembelian kembali tiket seharga Rp 717 ribu untuk rute yang sama.

NTTPenumpang pesawat dari Bali tujuan NTT yang batal berangkat berharap tiketnya dikembalikan dengan uang. (Foto: Tagar/Nila Sofianty)

Begitu juga pengakuan seorang penumpang bernama Nobertus tujuan Ende. Dia menginginkan pengembalian tiket batal itu dengan uang, agar bisa segera dipergunakan di perantauan.

"Tuntutan kami cuma 1 saja, kami delapan orang ini ingin uang kami kembali untuk beli makan kami bertahan hidup di Bali," katanya.

Ia mengaku bingung kenapa pihak maskapai tidak bisa mengembalikan uang tiket. "Alasannya tidak jelas, katanya peraturan dari menteri. Kami meminta uang saja agar kami bisa bertahan hidup di sini, semua barang sudah nggak ada di sini sudah dikirim ke kampung," tuturnya.

Nobertus baru saja di PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja di bidang pariwisata di Gianyar, Bali. Dia mengaku bingung bagaimana caranya bertahan di perantauan tanpa pekerjaan, sedangkan untuk pulang kampung sudah dilarang.

"Kami sudah di PHK, daripada tidak ada kerjaan di Bali lebih baik pulang kampung. Bagaimana lagi, makan tidak makan kami harus pulang kampung. Uang tiket itu uang terakhir kami. Saya yang paling bertanggungjawab atas adik-adik saya delapan ini. Uang tiket mereka pun saya yang membelikan," jelas Nobertus terbata-bata sembari menahan kesedihan.

Setelah ramai dan para calon penumpang tak puas dengan keputusan maskapai memberikan voucher pembelian tiket kembali, petugas keamanan bandara pun akhirnya memediasi para calon penumpang dengan pihak maskapai.

Namun, pihak maskapai mengaku akan melaporkan masalah ini terlebih dahulu ke pihak manajemen pusat. Paling tidak, dua hari kemudian para penumpang akan kembali dihubungi atau setelah adanya keputusa manajemen di pusat.

Sejak sehari sebelumnya, sejumlah penumpang memang ramai mendatangi kantor tiketing di Bandara Ngurah Rai untuk mereschedule ulang tiket mereka hingga Juni 2020. Kebanyakan penumpang adalah para pekerja pendatang di Bali yang baru saja di-PHK imbas dari Covid-19.

Tuntutan kami cuma 1 saja, kami delapan orang ini ingin uang kami kembali untuk beli makan kami bertahan hidup di Bali.

Calon penumpang yang masih memiliki bekal hidup di Bali mengaku pasrah dengan kebijakan pemerintah dan lebih memilih mereschedule tiket mereka. Sementara bagi calon penumpang lain, terutama mahasiswa dan para pekerja pendatang di-PHK memilih meminta pihak maskapai mengembalikan uang pembelian tiket.

Terhitung Sabtu, 25 April 2020, Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, sudah tidak melayani penerbangan untuk penumpang komersial kecuali beberapa poin yang telah ditetapkan pemerintah.

Sehari sebelumnya, Communication and Legal Manager PT Angkasa Pura I Cabang Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Andanina Megasari mengatakan penerbangan yang masih diizinkan pada Jumat, 24 April 2020 adalah flight yang sudah reservasi lama.

"Kami mengikuti arahan regulator. Kalau bandara tetap beroperasi melayani penerbangan yang sudah diatur dikecualikan dalam permenhub, kami menunggu arahan," katanya.

Meski dilakukan penutupan untuk penerbangan komersil, Bandara Ngurah Rai tetap beroperasi untuk melayani penerbangan kargo.

Seperti diketahui, PT Angkasa Pura (AP) I merilis siaran pers tentang penghentian sementara layanan penerbangan komersial penumpang pada bandara yang dikelolanya.

Penutupan bandara AP I untuk layanan penumpang dilakukan mulai Jumat, 24 April 2020 sampai 1 Juni 2020. Hal ini guna mendukung aturan pemerintah dalam pencegahan demi memutus rantai penyebaran Covid-19.

Bandara-bandara AP 1 tetap akan beroperasi dan menyediakan konter khusus bagi masyarakat yang ingin melakukan refund atau reschedule jadwal penerbangan.

Namun pengaturan waktu refund tiket dilakukan oleh pihak operator penerbangan atau maskapai untuk menghindari terjadinya penumpukan di bandara. Bagi masyarakat yang ingin melakukan refund dengan datang ke bandara, diimbau untuk menghubungi pihak maskapai terlebih dahulu untuk mengatur waktu kedatangan. []

Berita terkait
Seni Menyablon Papadev di Bantaeng
Nirman berdiri di antara tumpukan lebih dari 1000 lembar goodie bag berwarna hitam, pesanan pelanggan. Ia gesit, sangat menguasai pekerjaannya.
Bocah di Bantaeng Jual Kerang Bantu Ayah Cari Nafkah
Ikbal, sosok bocah SD di Banteng bermental baja. Ia keliling dengan sepeda tua, menjual kerang hasil pencarian ayahnya
Berkah Tukang Cukur Bayar Seikhlasnya Saat Covid-19
Suryadi menjadi perhatian di medsos menggunakan APD lengkap saat memotong rambut para pelanggannya di dekat Korem Baskara Jaya 084 Surabaya
0
Kisah Mereka yang Tertahan di Bali Setelah PHK
Sejumlah pekerja yang di PHK terpaksa bertahan di Bali karena penerbangan sudah tertutup hingga Juni 2020.