UNTUK INDONESIA
Seni Menyablon Papadev di Bantaeng
Nirman berdiri di antara tumpukan lebih dari 1000 lembar goodie bag berwarna hitam, pesanan pelanggan. Ia gesit, sangat menguasai pekerjaannya.
Nirman asyik menggesut di atas lembaran goodie bag pesanan pelanggan, Minggu, 23 Februari 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Di dalam ruangan berukuran enam kali lima meter persegi, pria berkaus tosca itu asyik menggesut di atas meja skrining. Ia berdiri di antara tumpukan lebih dari 1000 lembar goodie bag berwarna hitam, pesanan pelanggan yang harus diselesaikan dalam dua hari. Begitu telaten, tinta rubber berwarna putih seketika melekat di setiap lembar kain yang usai digesutnya. Namanya Nirman, seorang penyablon asal Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, ditemui Tagar di studionya, Minggu, 23 Februari 2020.

Lumayan lama juga ia menggeluti pekerjaan tersebut. Sekitar 17 tahun, tepatnya bermula sekitar tahun 2003. Sewaktu Nirman masih lajang, masih berstatus mahasiswa pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Makassar. Waktu itu Nirman telah membuka usaha berupa jasa sablon yang ia kerjakan di kamar kos bersama rekan sejawatnya. Tak disangka, sebagai seorang seniman atau lebih tepatnya seorang perupa yang menyekolahi pendidikan seni membawa kegemaran menyablon sebagai bagian rutinitasnya hingga kini ia menjadi seorang pendidik di salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) di Bantaeng.

Ya, sekalipun Nirman adalah seorang guru, ia tidak serta-merta meninggalkan dunia percetakan. Kecanduannya terhadap dunia sablon membuatnya bertahan hingga hampir dua dekade. Bagi Nirman, menyablon bukan sekadar perkara omzet dan penghasilan. Melainkan lebih kepada hal lain di antaranya sebuah keterampilan yang dipadu dengan teknik-teknik tertentu untuk mengberikan hasil yang diinginkan.

"Menyablon adalah sebuah seni, bayangkan saja dari media sekecil itu (meja skrining seukuran 90x50 cm) dipadukan dengan berbagai teknik yang menarik, teknik plastisol dan lain-lain, beda teknik beda pula hasilnya," kata pria kelahiran Bantaeng, 2 Februari 1983 itu.

Seolah tak puas dengan kemampuannya yang itu-itu saja, Nirman terus berpacu mengulik dunia screen printing, khususnya sablon kaus. Sejak 2003 dan tahun-tahun setelahnya Nirman kemudian berusaha keras menempa diri demi menjadi pencetak kaus yang ulung.

Setelah dirinya dinyatakan lulus di perguruan tinggi pencetak guru di Makassar pada 12 tahun silam atau tepatnya 2008, Nirman pulang kampung ke Bantaeng dan memulai mendirikan jasa percetakan baju itu. Ia tak mau berpuas diri dengan ilmu yang didapatinya semasa kuliah. Nirman terus mengikuti kelas-kelas sablon ataupun workshop yang dihelat bagi seniman-seniman tinta kaus.

Sejauh ini sablon plastisol, rubber dan discharge yang saya terapkan. Saya juga sesekali menerima orderan jenis glow in the dark.

NirmanNirman, pemilik studio sablon Papadev di Bantaeng, Minggu, 23 Februari 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Ia mulai mengenal berbagai jenis dan teknik dalam menyablon, baik cara gesut, meja skrining hingga model-model cetakan.

"Sering sharing untuk perbaikan kualitas. Pertama kali saya ikuti workshop itu di Unhas. Berawal dari situ pengembangan terus saya lakukan," kata Nirman.

Usaha tak pernah mengkhianati hasil, kini Nirman telah menggunakan meja single, portable dan meja Thailand. Ketiga jenis meja itu biasa digunakan bagi penggesut tinta yang andal.

Meja single merupakan meja yang terbuat dari bahan besi dan hanya terdapat satu papan atau palet berukuran 45x60 sentimeter dan dilapisi asbes. Keunggulan meja single ini lebih praktis lantaran tak perlu banyak ruang, tentunya harga juga yang murah. Hanya saja meja single tidak bisa memproduksi banyak kaus. Sementara meja portable mirip-mirip dengan meja single.

Sedangkan meja Thailand, merupakan meja yang digunakan para tukang sablon jika memproduksi banyak. Satu meja Thailand miliknya memiliki 12 palet. Sebenarnya masih banyak meja sablon seperti rotary, meja presisi dan meja rel panjang hanya saja biaya pembuatan meja cukup menguras kantong.

"Untuk tinta saya gunakan rubber, plastisol, discharge. Kalau plastisol yang berbahan karet, prosesnya lama karena pengeringannya beda dengan rubber yang bisa kering sendiri. Plastisol harus gunakan hot gun atau pengering lalu dipres. Kalau rubber kan dia biar dijemur begitu saja langsung kering," tutur Nirman sembari tangannya terus menggesut.

Teknik discharge sendiri, kata Nirman, adalah teknik yang cukup rumit karena harus memahami bahan kaus. Teknik ini dikenal dengan istilah cabut warna asli kaus sehingga gambar yang dihasilkan lebih menyatu dengan kaus. Bahannya menggunakan tinta superwhite dan ditambah dengan bubuk khusus.

NirmanRibuan goodie bag pesanan pelanggan memenuhi studio Nirman, Minggu, 23 Februari 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

"Sejauh ini sablon plastisol, rubber dan discharge yang saya terapkan. Saya juga sesekali menerima orderan jenis glow in the dark atau hasil cetakan dengan tinta khusus yang bisa menyala saat gelap," ujar Nirman.

Papadev Screen and Printing

Dev, tiga huruf yang dinilai Nirman mudah untuk diingat. Selain itu, Dev juga nama anak dari pria yang membina Sanggar Seni Tumabuttayya di Sekolah tempatnya mengajar. Studio Papadev tepat berada di kolong rumahnya, dalam ruangan sesak dengan tumpukan berjenis-jenis tinta dan juga screen berbagai ukuran. Sedang di dinding studio itu berbagai cetakan kaus terpajang rapi.

Papadev dibuatnya pada 2008 di Bantaeng, dengan berbagai proses yang panjang Nirman terus berusaha memperbaiki kualitas agar mampu memberikan pelayanan yang baik bagi para pengorder. Namun rutinitasnya sebagai seorang tenaga pendidik memaksanya untuk tidak terlalu jor-joran mempublikasikan studio screen printing rintisannya.

Walau begitu Nirman tetap menerima orderan hingga ribuan cetakan. Hasilnya tetap maksimal, Nirman cukup mumpuni dalam memenej waktu ketika ia harus mengajar dan menyablon. Keduanya berjalan dengan baik.

NirmanStudio Papadev tepat berada di kolong rumah Nirman di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Minggu, 23 Februari 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Sampai saat ini Nirman terbiasa mencetak ribuan lembar kain di studionya sendiri. Ia terbiasa menerima pesanan 1000 sampai 4000 lembar yang dikerjakan sekira 3 sampai 5 hari. Untuk selembar kaus dihargai mulai dari Rp 55.000 sampai Rp 75.000. Tergantung jumlah dan tingkat kesulitan teknik sablon yang dipesan. Sesekali ia mengajak siswa yang tertarik belajar dunia sablon padanya.

Waktu terus berlalu, sementara tangannya dengan telaten menggesut satu persatu orderan goodie bag. Dagu Nirman mulai terangkat dengan pandangan yang lurus ke depan. "Klinik Sablon," katanya.

Dia dan Komunitas Sablon Bantaeng - Turatea (Kontur), sebuah komunitas bagi pekerja sablon di Bantaeng dan Jeneponto ingin menggarap sebuah project training menyablon di kawasan Pantai Seruni Bantaeng. Di sana nanti, bagi masyarakat di Bumi Butta Toa yang hendak belajar menggesut diberikan kesempatan.

"Konsepnya kita sediakan semua alat dan bahan, begitu ada warga yang mau belajar menyablon, kita beri ruang. Ini sekaligus memperkenalkan bahwa di Bantaeng ada loh tukang sablon, tidak perlu lagi ke Makassar untuk mencetak," kata dia.

Selain Klinik Sablon, dia juga punya rencana lain. Setelah Nirman bersama Kontur sukses menghelat Camping Ground, wahana bagi warga yang ingin belajar menyablon, di Kabupaten Jeneponto, hal serupa ingin dilakukannya lagi di Kabupaten Bantaeng. Namun ia masih mewacanakan untuk pelatihan itu. Terlebih dirinya belum mematangkan seperti apa konsep pelatihan nantinya.

"Rencananya juga saya mau buat pelatihan sablon di Bantaeng. Kemarin sudah kita buat di Jeneponto, sekarang saya wacanakan ke teman-teman tukang sablon untuk buat di Bantaeng. Cuma saya masih berpikir bagaimana konsepnya nanti dan saya juga belum tahu cara agar Pemda Bantaeng bisa terlibat di acara saya nanti. Tapi Insya Allah akan buat itu," tuturnya dengan penuh semangat. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Sanggupkah Industri Event di Bali Hadapi Terjangan Covid-19
Jika seorang turis MICE menghadiri sebuah konferensi atau event, keluarga pun diajak untuk sekalian berlibur di Bali dengan biaya sendiri tentunya.
Pagi Sunyi di Arumba Manggarai Timur NTT
Sunyi menyergap pagi di pengujung Maret 2020, seperti tak ada kehidupan di sudut Arumba di Manggarai Timur NTT pada masa pandemi Covid-19
Gagal Pesta Setelah Sebar 2.500 Undangan, Efek Covid-19
Dua bulan sebelumnya acara pesta telah diumumkan, 2.500 undangan telah disebar termasuk untuk para pejabat. Covid-19 menghancurkan segalanya.
0
Seni Menyablon Papadev di Bantaeng
Nirman berdiri di antara tumpukan lebih dari 1000 lembar goodie bag berwarna hitam, pesanan pelanggan. Ia gesit, sangat menguasai pekerjaannya.