UNTUK INDONESIA
Corona dan Kegundahan Keluarga Mahasiswa Asal Aceh
Keluarga mahasiswa Aceh terus mengalami kekhawatiran akibat virus Corona yang merebak di Kota Wuhan, China.
Usman Sugianto dan Sumarni orang tua dari Ita Kurniawati salah satu dari 12 mahasiswa Aceh yang sedang berkuliah di Wuhan, Cina saat dijumpai di kediamannya Desa Ujong Patihah, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, Senin, 27 Januari 2019. (Foto: Tagar/Dok Bahariandy Mahardeka)

Banda Aceh - Raut wajah Sumarni tampak sedang khawatir. Demikian juga dengan sang suami Usman Sugianto yang berada di sisi kanannya. Keduanya terus menatap beberapa foto sang buah hati yang saat ini sedang berada di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Sumarni dan Usman merupakan orang tua dari Ita Kurniawan, satu dari 12 mahasiswa asal Aceh yang tengah menempuh pendidikan magister di Kota Wuhan. Gadis berusia 23 tahun itu lulus di Wuhan University, salah satu universitas ternama di kota Wuhan.

Anak saya selalu memberikan kabarnya kepada kami melalui whatsApp, sejauh ini alhamdulillah dia masih sehat-sehat aja, tapi ya mereka ga bisa kemana-mana.

Ita mulai mengenyam pendidikan di kampus tersebut sejak enam bulan lalu, melalui beasiswa dari Pemerintah China atau Chinese Government Scholarship (CSC). Ita memilih Wuhan University, kampus terfavorit di Kota Wuhan.

Pasca virus corona menyerang Kota Wuhan, rasa khawatir mulai muncul dari benak Sumarni. Wanita berusia 53 tahun itu langsung menghubungi sang buah hati untuk memastikan ia baik-baik saja.

Sumarni menceritakan bahwa kini kondisi anaknya itu hanya terkurung di dalam asrama mahasiswa. Pemerintah China mengimbau mereka agar tetap berdiam di asramanya guna mencegah penyebaran virus corona.

“Anak saya selalu memberikan kabarnya kepada kami melalui whatsApp, sejauh ini alhamdulillah dia masih sehat-sehat aja, tapi ya mereka ga bisa kemana-mana,” kata Sumarni saat ditemui di kediamannya di Desa Ujong Patihah, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, Senin, 27 Januari 2019.

Sumarni menyebutkan, saat mendapati kabar dari anaknya, kondisi Kota Wuhan sangat mencekam, transportasi lumpuh total, bahkan toko-toko pun tutup sehingga anaknya itu merasakan ketakutan.

“Dia takut, saat menelpon saya dia bilang kalau dia tidak bisa tidur malam karena takut jika tiba-tiba terinfeksi wabah virus corona itu,” tutur Sumarni.

Meski demikian, kata Sumarni, pihak keluarga terus memberikan dukungan semangat kepada anaknya. Dia berharap agar anaknya dapat segera dipulangkan oleh pemerintah.

“Kami hanya berharap anak kami itu segera dipulangkan karena orang tua mana yang tidak takut ketika dapat kabar (wabah virus corona) seperti itu,” kata Sumarni.

Kekhawatiran Terhadap Istri

Suami Mahasiswa Aceh di WuhanWindy Phagta suami dari Rizki Maulida mahasiswa Aceh yang sedang menempuh pendidikan di Henan University, China. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Rasa khawatir juga dialami Windy Phagta, warga Kabupaten Bener Meriah, Aceh terhadap istrinya Rizki Maulida yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Henan University, China. Meski jaraknya sekitar 500 kilometer dari Kota Wuhan, Windy tetap khawatir setelah pemerintah di sana menetapkan Henan sebagai provinsi siaga satu terkait penyebaran virus corona.

Awalnya, Wendy tak terlalu khawatir terhadap kondisi istrinya. Sebab, pemerintah setempat maupun pihak kampus melakukan pencegahan terhadap virus corona cukup baik, di mana mahasiswa diberikan sabun cuci tangan, masker dan sarung tangan.

“Namun, seiring meningkatknya status kota di Henan ini, mau tidak mau, saya dan keluarga ikut khawatir, makanya kami memilih opsi meminta istri saya untuk segera pulang,” kata Wendy saat dijumpai Tagar, di Banda Aceh, Senin, 27 Januari 2020.

Kami sedikit kesusahan terkait air minum, kemudian stok-stok sayur-sayuran dan makanan lainnya, itu sangat kami butuh.

Wendy tak tahu bagaimana cara agar istrinya bisa pulang ke Aceh, Indonesia. Seharusnya, pemerintah harus melakukan langkah-langkah evakuasi secara menyeluruh terhadap mahasiswa Indonesia di sana.

“Seharusnya pemerintah, ataupun instansi terkait seperti KBRI mengevakuasi mereka secara massal, menjemput para mahasiswa se-Indonesia ini dengan bus ataupun orang-orang yang sudah disterilkan sehingga mereka aman menuju bandara,” ujarnya.

Menurut Windy, jika hal seperti itu tak dilakukan, dikhawatirkan mahasiswa asal Aceh yang pulang secara tak terkoordinir sangat berisiko terjangkit virus mematikan itu. Karena, sebelum tiba di bandara mereka juga harus menempuh perjalanan darat menggunakan taxi, bus dan kereta api yang di dalamnya ditumpangi penumpang yang belum bisa dipastikan bebas dari virus tersebut.

“Menurut saya, cara menyelamatkan mahasiswa Indonesia di sana yaitu dengan evakuasi secara massal terkoordinir, sehingga mahasiswa Indonesia ini saat meninggalkan kota-kota di China dalam keadaan aman, sehingga tidak terpapar virus, sehingga saat mereka tiba di Indonesia tidak terpapar pada masyarakat lain,” kata Windy.

Berdiam di Kamar

Mahasiswa Aceh di Huwan CinaIta Kurniawati bersama mahasiswa Aceh lainnya yang masih bertahan di Kota Wuhan,Provinsi Hubei, China. (Foto: Tagar/Dok Pribadi)

Ita Kurniawati merupakan satu dari 12 mahasiswa Aceh yang masih bertahan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Saat ini, anak dari pasangan Usman Sugianto dan Sumarni itu masih berdiam diri di kamar akibat wabah virus corona yang menyerang negara tersebut.

Ita menempuh pendidikan di jurusan Public Administration, Wuhan University. Sampai saat ini, katanya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing belum bisa memastikan kapan mahasiswa Indonesia dievakuasi dan dipulangkan ke daerah masing-masing.

“Jadwal pemulangan sampai saat ini KBRI sendiri tidak berani menjamin kapan kami bisa pulang atau bisa keluar dari Kota Wuhan ini karena mereka masih menunggu izin dari pemerintah provinsi setempat, semua harus sesuai prosedur,” kata Ita pada Tagar, Selasa, 28 Januari 2020.

Ita menyebutkan, yang paling dibutuhkan mahasiswa Aceh di Wuhan saat ini adalah air minum dan makanan. Sebab, selama Virus Corona menyerang, mereka disarankan untuk tidak makan dan minum air sembarangan.

“Kami sedikit kesusahan terkait air minum, kemudian stok-stok sayur-sayuran dan makanan lainnya, itu sangat kami butuh, karena dalam keadaan cuaca dingin seperti ini bawaan tubuh pastinya lapar, sejauh ini kendalanya belum berani keluar dari ruangan aja sih,” katanya.

Ia menjelaskan, selama di Wuhan, mereka juga disarankan untuk tidak makan makanan seperti daging frozen, seafood, ikan dan makanan-makanan lainnya.

“Juga makanan seperti ikan-ikan, daging-daging diimbau jangan makan dulu,” tutur Ita.

Dalam kesempatan itu, Ita juga menjelaskan alasan dirinya menempuh pendidikan di China dan menjadikan Wuhan University sebagai tujuan lanjutan magisternya.

Wuhan CinaKondisi jalan Wuhan University, Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina sepi saat virus corona merebak wilayah tersebut. (Foto: Tagar/Dok Pribadi)

“Alasan kuliah di universitas ini karena universitas ini nomor satu terbilang bagus di Kota Wuhan, di kampus ini ada jurusan yang saya mau dan ketika saya pilih beasiswa Pemerintah Tiongkok, Alhamdulillah Allah mengizinkan saya untuk injak kaki di kampus ini,” kata Ita.

Jadwal pemulangan sampai saat ini KBRI sendiri tidak berani menjamin kapan kami bisa pulang atau bisa keluar dari Kota Wuhan.

Di Wuhan University, gadis asal Kabupaten Nagan Raya, Aceh itu mengambil jurusan Public Administration. Sebagai kota pendidikan Wuhan menjadi rekomendasi bagi Ita untuk melanjutkan study.

Ita mulai mengenyam pendidikan di kampus tersebut sejak enam bulan lalu, melalui beasiswa dari Pemerintah China atau Chinese Government Scholarship (CSC).

“Kota Wuhan ini bisa dibilang seperti Yogyakarta yaitu kota pendidikan. Maka saya senang di sini dan tepat memilih di sini meurut saya,” tutur Ita.

Gandeng Kemenlu RI

Pemerintah Aceh terus memberi perhatian serius terhadap mahasiswa Aceh di China, terutama di Kota Wuhan. Koordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tiongkok, dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) di Jakarta terus dilakukan untuk memastikan warga Aceh di sana dalam keadaan sehat dan aman.

“Koordinasi terus kita lakukan dengan Kemenlu RI di Jakarta dan KBRI di China,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh Saifullah Abdul Gani.

Menurutnya, dalam menangasi mahasiswa asal Tanah Rencong di Wuhan, Kepala Dinas Sosial Aceh Alhudri melakukan pertemuan dengan anggota Komisi I DPR RI dan Kemenlu RI.

Posko Mahasiswa Aceh WuhanJuru Bicara Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani (Kanan) bersama Staf Dinas Sosial Aceh melakukan pendataan mahasiswa Aceh di China di posko informasi virus corona di dinas setempat di Banda Aceh, Aceh. (Foto: Tagar/Dok Dinsos Aceh)

Pertemuan tersebut, ujar SAG, untuk berkoordinasi, guna menentukan langkah-langkah antisipatif yang perlu dilakukan terhadap 12 mahasiswa asal Aceh di Wuhan, China. Dia juga mengimbau agar keluarga para mahasiswa tidak resah dan panik. Sebab, Kota Wuhan saat ini dalam pengawasan khusus otoritas pemerintah di sana.

“Berdasarkan data terbaru dari Mulia Mardi Direktur Pemuda Pelajar Indonesia se-Tiongkok, tidak ada satupun warga Aceh di Kota Wuhan maupun kota lainnya yang dilaporkan terinfeksi virus corona,” ujarnya. []

Baca Cerita Menarik Lainnya:

Berita terkait
Mahasiswa Aceh di Wuhan Butuh Stok Makanan
Belasan mahasiswa asal Aceh kekurangan stok makanan setelah pemerintah Cina menutup seluruh akses terkait penyebaran virus Corona.
Cegah Corona, Pemeriksaan di Bandara Aceh Diperketat
Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh mulai memperketat pemeriksaan penumpang dari luar negeri.
Virus Corona Mahasiswa Aceh Tidak Minum Air Galon
Mahasiswa Aceh di Wuhan, Provinsi Hubei China terpaksa minum air kemasan akibat virus corona.
0
GMKI: Negara Harus Beri Makan Rakyat Selama Pandemi
Negara harus memberi makan seluruh rakyat Indonesia selama pandemi Covid-19. Presiden perlu membuat Perppu baru agar jumlah Covid-19 menurun. GMKI.