UNTUK INDONESIA
Anak Yatim Piatu Berjuang Melawan Jantung Bocor
Parasnya cantik dengan tubuh kurus dan tatapan kosong. Ia Firdayanti Hatala, yatim piatu yang sedang berjuang melawam jantung bocor.
Firdayanti Hatala.(Foto: Tagar/Muhammad Jaya)

Ambon - Tatapannya kosong, sesekali melempar senyum. Irit bicara, mengangguk saat ditanya sakit yang diderita. Parasnya cantik, kurus kerempeng karena tak semua jenis makanan bisa dilahap. Wanita itu bernama Firdayanti Hatala.

Firda sapaan akrabnya, sebulan terakhir tak bersekolah. Memilih beristirahat di rumah. Penyakit jantung bocor atau entricular septal defect (VSD) bawaan dari lahir, kembali kambuh.

Wajah tampak sedih, bola mata mulai berair saat jurnalis Tagar, Muhammad Jaya mewwaancarai wanita 17 tahun yang duduk di bangku kelas tiga SMA Negeri 11 Ambon, Jumat, 28 Juni 2019. Tak semua pertanyaan ia bisa jawab.

”Iya beta [saya] sakit, su [sudah] amper [mungkin] satu bulan terakhir ini seng [tidak] pernah pergi ke sekolah,” ucapnya dengan dialek khas Ambon.

Sesi wawancara dimulai pukul 14.00 WIT hingga selesai pukul 14.50 WIT. Cuma lima kata itu, mampu dijawab. Sisanya wanita kelahiran Ambon, 13 Juli 2001, ini hanya bisa mengangguk.

Firda saat itu duduk di kursi sofa ruang tamu berukuran 4x6 meter, dengan kedua tangan tampak lemah terkulai dipaha. Dia terus tertunduk murung, sesekali memandang wajah Eca Hatala, 32 tahun, kakak perempuan tertua yang duduk di sebelah kiri.

Eca, bagi Firda sudah seperti sosok bapak dan Ibu. Sejak Usman Hatala, bapaknya, meninggal dunia, 10 November 2018. Diikuti Ibunya, Rania Lisaholet, Februari 2019, otomatis peran ganda tersebut melekat pada Eca.

Eca dan suaminya terpaksa menghidupi tiga adik perempuan termasuk Firda dan seorang adik lelaki. Mereka tinggal di rumah peninggalan rumah orang tua di Jalan Sultan Hasannudin, Lorong Soa Masawoy RT 002/ RW 02 Negeri atau Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau Ambon, Maluku.

Jualan Es Kelapa Muda

Menghidupi keempat adiknya, Eca hanya menjual es kelapa muda, es cendol dan aneka kue di depan rumah. Namun tiga hari terakhir tak lagi berjualan sebab harus mengurusi kondisi kesehatan Firda. Sedangkan suaminya kerja serabutan.

Firdayanti HatalaFirdayanti Hatala (kiri) bersama kakaknya, Eca Hatala.(Foto: Tagar/Muhammad Jaya)

Eca mengatakan, penyakit jantung Frida kembali kambuh empat hari sebelum Idul Fitri 1440 Hijriah tahun 2019. Kemudian ke dokter, disarankan agar Firda segera dirujuk ke Jakarta, namun terkendala biaya sehingga belum bisa berangkat.

“Saat penyakit kambuh itu, seng [tidak] bisa jalan. Biasa waktu ada almarhum beta [saya] mama dan bapak itu memang Firda sering dibawa kontrol ke Rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta. Tetapi ini, sudah satu tahun lebih seng [tidak] kontrol lagi,” ujarnya.

Alasan dokter merujuk Firda, Kata Eca, kuman di dalam jantung sangat banyak, jadi harus cepat tertangani.

Namun 26 Juni 2019, jari-jari tangan dan kaki bengkak. Sorenya dibawa ke dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Haulusy. Setelah mengkonsumsi obat dari dokter, bengkak di jari kaki dan tangan turun.

“Sembuh, itu kan cuma sementara. Kalau dong [kalian] kasih biar nanti jantung kembali bengkak, mumpung masih begini lebih baik ke Jakarta,” kata Eca meniru saran dokter lagi setelah sudah sekian kali dibawa ke RSUD dr Haulussy.

Saat penyakit kambuh itu, seng [tidak] bisa jalan. Biasa waktu ada almarhum beta [saya] mama dan bapak itu memang Firda sering dibawa kontrol ke Rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta. Tetapi ini, sudah satu tahun lebih seng [tidak] kontrol lagi.

Eca bercerita, pertama kali mengetahui Firda menderita penyakit jatung bocor pada 2015, kelas dua SMP. Firda terpaksa pulang dan tidak mengikuti jam olahraga hingga usai.

Disebabkan kaki kiri bengkak, esok satunya lagi bengkak. Firda kemudian dibawa ke dokter ahli tulang. Hasil pemeriksaannya, tulangnya baik-baik saja. Setelah dibawa dokter ahli penyakit dalam untuk memeriksa paru-paru, kemudian divonis menderita penyakit jantung bocor.

Rumah Sakit di Jakarta

Eca mengatakan, saat itu jantung bocor masih 0,0 sekian persen. Dokter bilang harus cepat dirujuk ke rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta karena rumah sakit setempat peralatannya tidak lengkap.

”Saat itu, bapak masih hidup katong [semua] berangkat dengan pesawat ke Jakarta, tahun 2015 lalu. Tiba di RS Harapan Kita, Firda masuk UGD karena kondisinya lemah,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Meski begitu, Eca tetap melanjutkan cerita. Usai diobati dan sembuh, Firda diwajibkan setiap enam bulan sekali kontrol secara rutin, jadwal operasi direncanakan 2018. Firda pemegang kartu BPJS Kesehatan.

Desember 2018, rencana ke Jakarta membawa Firda ke RS Harapan Kita untuk dioperasi. Namun pada November 2018 ayahnya meninggal dunia karena sakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD). Tiga bulan kemudian ibunya juga meningg diikuti ibu.

“Bapak maninggal, mama langsung pikiran jadi gula darah atau hiploglikemi naik turun. Sampai turun 34, seng [tidak] sadar diri. Terhitung bapak meninggal tiga bulan, mama meninggal Februari 2019,” ucapnya.

Kata Eca, almarhum bapak berencana, namun Allah berkendak lain. Akibatnya hingga Juni 2019 Firda belum dibawa ke Jakarta karena terkendala biaya.

Sewaktu ayahnya hidup, Firda rutin berobat ke Jakarta dari awal tahun 2015, 2016 hingga 2017.

Akibat jantung bocor, Firda tidak bisa sekolah sejak kelas dua SMP hingga kelas tiga SMA sekarang ini.

Firda makanannya dibatasi, hanya bubur, ikan tetapi harus digoreng dengan minyak higienis. Selain itu juga selain air putih, hanya disarankan susu. Tubuhnya semakin lama semakin kurus.

“Mau dapat prestasi bagaimana, kadang kalau terlalu capek tidak sekolah lagi. Bahkan olahraga tidak ikut sejak SMP kelas dua,” katanya.

Memang pengobatan gratis karena BPJS, cuma obatnya yang mahal. Di rumah sakit hanya dikasih satu atau dua saja obatnya. Sisanya beli di luar, harganya paling rendah 700 ribu, itu yang murah, mahalnya bisa mencapai satu juta lebih.

Simpati dari Berbagai Kalangan

Eca berujar, dengan kondisi Firda, sudah tentu keuntungan jualan tak cukup untuk membiayai operasi dan pengobatan. Keuntungan sekarang ini bahkan tidak cukup untuk memenuhi makan sehari-hari dan biaya sekolah empat adiknya.

Ia berdiri menunjukkan tempat jualan di depan rumahnya yang bercat kuning-putih.

“Untuk biaya pengobatan memang ada tapi kurang, keluarga juga bantu cuma seadanya saja. Katong [kami] tidak paksa karena masing-masing juga ada kebutuhan,” katanya.

Karena biaya operasi dan berobat masih kurang, Eca terpaksa meminjam ke universitas terbuka tempat bapaknya dulu bekerja sebagai pegawai bagian administrasi. Ia mendapat pinjaman Rp 10 juta.

Sebelumnya, saat bapak masih hidup, setiap kali membawa Firda ke Jakarta, harus mengeluarkan biaya Rp 30 juta. Itu pun dapat dari hasil kredit.

“Memang pengobatan gratis karena BPJS, cuma obatnya yang mahal. Di rumah sakit hanya dikasih satu atau dua saja obatnya. Sisanya beli di luar, harganya paling rendah 700 ribu, itu yang murah, mahalnya bisa mencapai satu juta lebih,” katanya.

Sakitnya Firda ini mendapat perhatian aparat desa setempat. Mereka menggalang dana melalui Facebook, grup WhatsApp, dan secara pribadi-pribadi.

Firda juga menarik perhatian kalangan di luar desa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Pattimura Ambon mengumpulkan sumbangan untuknya. Mereka bergerak setelah melihat unggahan tentang Firda di akun Facebook.

“Kami pun menggalang dana secara sukarela, khusus mahasiswa Fakultas Hukum. Dana didapat sekitar satu juta lebih dan sudah diserahkan,” ujar Ketua BEM Fakultas Hukum, Ilham Tuatubun.

Tak ketinggalan, jurnalis dari berbagai media di Kota Ambon juga ikut menyumbang. Penggalangan dibuka pada Jumat siang. Hingga Sabtu sore mencapai 10 juta lebih plus di luar harga tiket untuk keluarga Firda yang hendak mengantarnya operasi ke Jakarta.

Bendahara penggalangan dana, Namira Lessy mengatakan pada awalnya teman-temannya tidak yakin akan terkumpul uang sebanyak itu. Semua di luar dugaan.

“Padahal setelah mengetahui kabar itu, kami semua berkumpulkan dan berinisiatif melakukan penggalan dana termasuk kasubag humas Polres Ambon, Ipda Julkisno. Uang tadi sudah serahkan minggu sore langsunt ke Firda,” ucapnya.

Dana itu, Kata Namira, tak hanya dari kalangan jurnalis tetapi ada sumbangan dari ASN, pengusaha dan politis namun mereka enggan mau menyebutkan nama. Diharapkan dana tersebut bisa menbantu biaya pengobatan Firda. Direncanakan Firda akan pergi Jakarta, Selasa 2 Juli 2019. []

Tulisan feature lain:

Berita terkait
0
Ulama di Madura Tuntut Sukmawati Dipenjara
Pernyataan kontroversial Sukmawati Soekarnoputri mengetuk amarah ulama dan umat Islam di Madura.