UNTUK INDONESIA
Usaha Emak-emak Banten Mendapatkan LPG 3 Kg
Warga Kampung Kanaga Jati, Desa Warunggunung, Kecamatan Warunggung, Lebak harus berjuang untuk mendapatkan LPG 3 Kg yang mulai langka.
Emak-emak di Desa Warunggunung, Kecamatan Warunggunung, Lebak, Banten harus rela antre untuk mendapatkan LPG 3 kg yang mulai langka. (Foto: Moh Jumri)

Lebak - Panas terik matahari tak menjadi halangan bagi Emak-emak Kampung Kanaga Jati, Desa Warunggunung, Kecamatan Warunggung, Lebak untuk mengantre di toko penjual Liquified Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram (Kg).

Salah satu emak-emak yang rela antre adalah Jumaiyah. Warga Kampung Kanaga, Desa Warunggunung, Kecamatan Warunggunung ini rela antre menggunakan kupon yang telah dibagikan oleh pemilik toko.

Jumaiyah bersama warga lain tetap setia menunggu giliran panggilan dari pemilik toko dengan berbaris tertib ber jam-jam dari pagi hingga siang. Bahkan ada sebagian dari warga yang rela mengantre dengan membawa anaknya demi mendapatkan satu tabung LPG 3 kg.

Sudah langka, harganya mahal di pangkalan dan di warung-warung.

Jumaiyah mengaku kelangkaan LPG 3 kg sudah dirasakan warga Kampung Kanaga Jati Desa Warunggunung, Kecamatan Warunggunung hampir sekitar empat bulan terakhir. 

Perempuan berusia 47 tahun ini mengaku rela mengantre karena dirinya mengandalkan LPG 3 Kg untuk memasak barang dagangannya.

Selama LPG 3 Kg mengalami kelangkaan, Jumaiyah yang setiap hari berjualan makanan ringan dan gorengan di depan PAUD Pelangi mengaku penghasilannya menurun. Selain mengeluh soal kelangkaan LPG, Jumaiyah juga mengeluhkan kenaikan harga LPG.

"Sudah langka, harganya mahal di pangkalan dan di warung-warung. Produk dagangan yang saya jual kan harus dimasak dan itu harus menggunakan LPG," ujar Jumaiyah, Senin 18 November 2019.

Dalam benak pikirannya, Jumaiyah langsung teringat pada saat empat bulan yang lalu, saat pengiriman LPG 3 kg dari pangkalan dan warung masih lancar. Sehingga penghasilanya setiap hari dari berjualan selalu mencapai Rp 100-150 ribu.

Pendapatan yang memang cukup besar bagi sebagian warga yang ada di Kampung Kanaga Jati tersebut, karena sebagian mayoritas warga berprofesi sebagai pedagang dan petani

LPG 3 KgPedagang eceran LPG 3 Kg menunjukkan tabung gas yang sudah kosong. (Foto: Tagar/Moh Jumri)

Sementara dengan kondisi LPG yang memang sangat langka dan sering kosong, saat ini penghasilan setiap hari berjualan dirinya mengaku hanya memperoleh Rp 50 ribu setiap harinya.

"Dulu kita dari minyak tanah diminta untuk beralih menggunakan LPG. Sekarang sudah pake gas, tapi enyediaan barangnya sering kosong. Ini jelas menghambat perekonomian warga di desa," tutur Jumaiyah.

Jumaiyah bercerita bahwa dirinya dan masyarakat di kampungnya rata-rata menggunakan LPG 3 kg. Warga yang dulu menggunakan kayu bakar dan minyak tanah sudah beralih menggunakan LPG. 

Apalagi, lahan perkebunan di kampungnya sudah menyempit, sehingga ketersediaan kayu juga semakin menipis. Terpaksa dia harus beralih menggunakan LPG yang memang dianjurkan oleh pemerintahah.

"Kami enggak paham LPG itu ditampung di mana, tapi kalau untuk ke Kanaga enggak pernah ada yang kirim. Biasanya kalau beli di warung (dijual) bisa sampai Rp 26-28 ribu," tutur Jumaiyah.

Jumaiyah meminta kepada Pertamina agar menjamin stok dan distribusi LPG 3 kg ke Desa Kanaga. Pasalnya, LPG 3 kg merupakan bahan bakar yang mendapatkan subsidi dari pemerintah.

"Minta diperhatikan aja Mas oleh pemerintah, dari desa dan pemerintah sendiri belum ada bantuan. Kalau bisa diprioritaskan untuk warga Kanaga," harapan Jumaiyah kepada pemerintah.

Keluhan susahnya mendapatkan LPG 3 kg juga dirasakan Emak-emak lainnya, Ade Maspiroh. Padahal, Ade merupakan pedagang eceran LPG 3 Kg. Ade mengaku sudah mengalami kesulitan mendapatkan LPG 3 kg sejak sebulan lalu. Dirinya bahkan harus berkeliling pangkalan dan agen di Kecamatan Warunggunung hanya untuk mendapatkan LPG 3 kg

"Saya sudah tiga pekan keliling menggunakan sepeda motor di beberapa pangkalan dan agen gas LPG yang ada di Warunggunung. Mereka selalu bilang kosong. Terpaksa harus pulang kembali dengan membawa tabung gas yang masih kosong. Padahal, kita sendiri sangat membutuhkan buat memasak dan di jual lagi," ungkap Ade.

Ade yang juga sebagai guru di PAUD Pelangi sangat berharap kepada pemerintah agar memperbanyak stok di pangkalan dan mengirim ke warung eceran. 

Sehingga tabung yang kosong tak menumpuk di warungnya. Ade juga menduga banyak warung pangkalan yang memang menyelewengkan isi tabung gas ke luar wilayah Desa Warunggunung.

"Kayaknya banyak penyeludupan gas ke luar wilayah Desa Warunggunung. Bisa saja mereka timbun ke langganannya di luar desa ini. Kalau bisa oknum-oknum penimbun itu segera ditindak," keluh Ade.

Ade mengaku selama tabung LPG 3 kg mulai langka, terpaksa dirinya menjual dengan harga Rp 26 ribu per tabung. Padahal, normalnya ia menjual LPG 3 kg ke warga dengan harga Rp 22 ribu hingga 23 ribu.

"Mungkin hukum pasar berlaku, barang sulit didapat harga mahal. Kadang saya jual Rp 26 ribu sampai Rp 27 ribu," beber Ade sambil menunjukan tabung Gas Elpiji yang masih kosong.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat Kampung Kanaga Hatni mengaku sudah mengadukan kelangkaan LPG 3 kg kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada tanggapan dan tindakan serius dari Disperindag Kabupaten Lebak, Banten.

"Pengaduan sudah kita lakukan. Tapi belum ada tanggapan. Rencana kita akan datangi kembali agen gas LPG yang ada di Warunggunung. Kalau masih enggak ada respon positif kita bisa melakukan aksi atau apa. Nanti liat ke depannya,"ujar Hatni dengan nada kesal.

Menurut pria yang biasa memakai jaket loreng itu, dirinya mengaku setiap kali akan membuat kopi harus menumpang di rumah tetangga. Tapi kata Hatni, dia juga sesekali terkadang memasak menggunakan kayu bakar. Akan tetapi karena ketersediaan kayu bakar di tempatnya juga terbatas, dirinya terpaksa harus puasa minum kopi karena tak punya air panas.

"Malu harus minta air panas ke tetangga. Kalau pakai kayu bakar lama dan harus mencari ke tengah hutan," papar Hatni sambil menunjuk ke arah hutan.

Pangkalan Gas Elpiji di DairiTruk pengangkut LPG di pangkalan milik Berto Sinaga, tidak beroperasi selama 3 minggu, karena alokasi ke pangkalan itu tidak diberikan. (Foto: Tagar/istimewa)

Agen LPG Lepas Tangan

Pemilik Agen Gas Elpiji di PT. Surya Wana Wijaya (SWJ) Indah mengaku tidak mengetahui kelangkaan dan kenaikan harga LPG di kalangan warga. Dirinya mengaku sudah menyerahkan kewenangan itu ke pangkalan.

"Kalau untuk kelangkaan di Desa Warunggunung, silahkan cek ke warung pangkalan yang ada di sana. Itu urusan pengecer dengan pangkalan," kata Indah kepada Tagar di Jalan Raya Pandeglang Bojongleles, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak.

Indah menjelaskan pihaknya tidak bisa mengirimkan LPG 3 kg begitu saja. Pasalnya, hal itu akan mengganggu distribusi LPG 3 kg ke daerah lain meskipun warga sangat membutuhkan.

"Kita tak bisa kirim tabung gas LPG sembarangan. Mendingan sekarang koordinasinya ke warung pangkalan. Cek di sana atau ke agen lain yang punya kewenangan," ucap Indah sambil memberikan alamat agen LPG lain yang ada di Rangkasbitung, Banten.

Disperindag Lebak Bungkam

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak Dedi Rahmat belum memberikan tanggapanya terkait kelangkaan gas LPG 3 Kg di Kecamatan Warunggunung. 

Kabarnya kelangkaan Gas juga tak hanya terjadi di Kecamatan Warunggunung. Hal itu ternyata hampir terjadi di semua Kecamatan yang ada di Kabupaten Lebak.

Untuk diketahui saat ini, Pemerintah Kabupaten Lebak sendiri telah menetapkan harga Gas Elpiji bersubsidi dengan Harga Eceran Terginggi (HET) Rp 16.400 per tabung dan penjual tak boleh melebihi harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Jika pun ada yang menjual harganya bisa mencapai Rp 28-29 ribu rupiah. []

Baca juga:

Berita terkait
Keringat Prajurit TNI di Desa Terpencil Lebak Banten
TMMD 2019 di Kabupaten Lebak, Banten, berhasil membangun akses dua desa terpencil. Jalan tersebut menjadi karya nyata TNI di pembangunan.
Warga Lebak Banten Krisis Air Bersih, BPBD Bungkam
Warga Kampung Cigedang Lebak, Banten, sudah mengalami kekeringan selama empat bulan. Mereka harus mengambil air 3 kilometer. BPBD Lebak bungkam.
DPRD Banten Kebakaran Janggut BPJS Kesehatan Naik
Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten, Nawa Said Dimyati meminta pemerintah mengkaji ulang soal kenaikan BPJS Kesehatan, karena ganggu banyak faktor.
0
Diduga Bodong, Polda Jatim Sita Ferrari dan McLaren
Polda Jatim menyita delapan mobil mewah yang diduga bodong dengan rincian empat Ferrari, dua McLaren, satu Jaguar, dan satu Mini Cooper.