UNTUK INDONESIA
Bakso Mercon di Bantaeng Pedasnya Meledak di Lidah
Bakso mercon Mas Fendi di Bantaeng Sulawesi Selatan sedang viral di media sosial. Dan ternyata benar. Pedasnya meledak di lidah.
Siddiq menikmati bakso mercon di warung Ping Pong di Bantaeng, Sulawesi Selatan, Senin, 18 November 2019. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Warung bakso Ping Pong Mas Fendi di Bantaeng, Sulawesi Selatan, sedang viral di media sosial. Orang-orang dengan bangga berswafoto saat makan bakso di tempat itu kemudian mengunggahnya di Facebook. Mereka umumnya mengungkapkan pengalaman berkesan makan bakso mercon di situ. Sangat menggiurkan. Seenak apa ya?

Warung bakso yang sedang viral itu berlokasi di Jalan Teratai, Kelurahan Mallilingi, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Orang-orang menyebutnya warung bakso di depan rumah sakit lama. Buka dari jam 10 pagi sampai jam 9 malam. Tagar berkunjung ke sini pada Senin, 18 November 2019.

Tidak sulit mencapainya. Anda yang berada di Kecamatan Bantaeng, tepatnya di perempatan lampu merah dekat patung Andi Mannappiang di Jalan Raya Lanto, silakan mengambil jalan menuju rumah sakit umum atau yang mengarah ke Pantai Seruni. 

Posisi warung bakso tepat di depan pintu masuk rumah sakit umum lama yang kini tengah menjalani tahap renovasi. 

Jika datang dari arah tersebut, berarti posisi warung berada di sisi kanan jalan. Anda akan disambut spanduk bertuliskan nama warung dan satu unit gerobak sederhana dengan sebuah panci berisi banyak butiran bakso ukuran besar. 

Warung bakso ini menjadi sangat terkenal setelah Mas Fendi memperkenalkan menu dengan nama bombastis 'boom' atau lebih dikenal dengan sebutan mercon.

Orang-orang bercerita dari mulut ke mulut, dari Facebook ke Facebook. Beberapa di antaranya mengatakan puas dan ketagihan menikmati bakso mercon yang semangkuk harganya Rp 15.000.

Isinya itu empat butir bakso kecil, dua telur puyuh rebus, dan lombok biji yang digiling kasar.

Bakso MerconSemangkuk bakso mercon di warung Ping Pong Mas Fendi atau yang lebih dikenal dengan sebutan warung bakso depan rumah sakit lama di Bantaeng, Sulawesi Selatan, Senin, 18 November 2019. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Senin sore itu warung tidak terlalu ramai, tapi kurir jasa titip makanan yang biasa menerima pesanan online datang silih berganti. Rupanya memang tak sedikit yang memilih menikmati bakso di rumah masing-masing. Semakin mudah dengan adanya jasa kurir di kabupaten berjuluk Butta Toa ini.

Luas warung sekitar empat kali lima meter dengan 5 meja panjang beserta 3 sampai 6 kursi plastik. Cukup untuk menampung 20 pengunjung. Dinding dilapisi wallpaper motif bunga matahari dan tulip. Ini spot paling asyik buat swafoto. Kebiasaan orang-orang, swafoto bersama semangkuk bakso sebelum disantap.

Warung Ping Pong dikelola suami istri, Fendi dan Irma. Sore itu Irma menyambut dengan senyum ramah, menunjukkan daftar menu, mempersilakan untuk memilih. Tentu saja pertama yang layak dicoba adalah bakso mercon yang populernya fenomenal itu.

Selengkapnya warung ini menyajikan beragam pilihan, yaitu bakso biasa, bakso tenis, bakso beranak, dan bakso mercon. Pilihan mi beragam, ada mi bakso atau mi kuning biasa, mi putih atau bihun, mi instan dengan varian rasa, kaldu, soto, goreng. Dilengkapi sayuran dan taburan pangsit goreng yang nikmat.

Pelayanannya cepat. Tak sampai lima menit, semangkuk bakso mercon terhidang di meja. Lengkap dengan segelas air dingin menyegarkan tenggorokan.

Seperti apa rasa bakso mercon yang sedang viral ini? Kuahnya bening dengan rasa yang pas, bumbu tidak berlebih, tidak tercium aroma amis daging atau bawang putih yang biasanya mendominasi. Hanya aroma kaldu dan bawang goreng wangi menggoda selera. Lengkap dengan perasan jeruk nipis, beberapa sendok kecap manis, dan lombok merah disambal tumis. 

Ketika mengaduk bakso mercon, tanpa terasa menelan air liur melihat minyak dari sambal tumis. Sungguh lezat. Sesendok demi sesendok mencicipi kuah, rasa pedas manis bermain-main di lidah.

Bakso MerconIrma berdiri di samping gerobak usaha bakso mercon, Senin, 18 November 2019. Ia bersama suami mengelola usaha warung bakso Ping Pong di Bantaeng, Sulawesi Selatan. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Saat bakso mercon diiris, tampak di dalamnya ada butiran bakso kecil dan telur puyuh, juga biji-biji cabai. Saat sepotong bakso menyentuh lidah, rasanya meledak. Tak salah ini dinamakan bakso mercon. Semakin digigit semakin terasa sensasinya hingga keringat bercucuran. Mantap sangat.

"Isinya itu empat butir bakso kecil, dua telur puyuh rebus, dan lombok biji yang digiling kasar," kata Irma menceritakan isian bakso mercon buatannya.

Irma juga menceritakan awal mula dirinya dan suami memperkenalkan bakso mercon. Ternyata tidak bim salabim langsung diterima begitu saja. Ada pembelinya yang protes habis-habisan, mengatakan kurang memuaskan, tidak terlalu pedas, tidak sesuai nama, dan kritik lain-lain.

Irma dan Fendi tidak patah semangat mendapat kritikan. Mereka justru mengambil sisi positif dari komentar-komentar menyengat tersebut dengan terus berinovasi, berusaha membuat resep yang sesuai dan bisa diterima lidah banyak pelanggan. Hingga akhirnya mereka menghadirkan bakso mercon terkini dan terenak hingga viral di jagat maya Bantaeng.

"Saya biasanya menghabiskan sepuluh kilogram lombok biji dalam empat hari," kata Irma.

Ia mengatakan walau harga cabai atau lombok sedang mahal, ia tidak mengurangi takaran. Ia tetap mempertahankan resep untuk menjaga kualitas rasa bakso mercon. Saat ini di pasar tradisional Makassar, satu kilogram cabai harganya Rp 27.000.

"Alhamdulillah pelanggan puas, malah ada yang tidak sanggup dengan pedasnya," ujar Irma dengan senyum mengembang.

***

Siddiq 24 tahun, pemuda berkaos merah, mengatakan sebulan terakhir ini menjadi pelanggan bakso mercon. Ia mengaku sebagai penggemar bakso, menilai warung Ping Pong memiliki ciri khas dalam menyajikan bakso.

"Rasanya enak, bumbunya pas, dan harganya sangat cocok di kantong saya. Rasanya tidak berubah dari awal sampai sekarang," ujar Siddiq.

Siddiq berdasarkan pengalaman berwisata kuliner bakso di berbagai tempat, melihat tidak banyak pedagang yang bisa mempertahankan kualitas yang sama dari waktu ke waktu.  Apalagi kalau sudah banyak pelanggan, bakso terkenal, biasanya akan ada yang berubah. Ia melihat hal demikian tidak terjadi di warung Ping Pong.

"Walau untung sedikit yang penting usahaku lancar," celetuk Irma saat mendengar ucapan Siddiq.

Irma mengatakan di antara semua menu, bakso mercon paling banyak dicari. Sehari kadang habis sampai 50 porsi bakso mercon. 

Melihat antusias pelanggan, Irma tidak ingin mengecewakan mereka. Ia bertekad dengan resep yang ia sudah standarkan, tidak akan mengubah ukuran bahan baku walau harga bahan baku naik turun di pasar.

Waktu semakin sore, saatnya pulang dengan pedas bakso mercon yang masih meledak di lidah. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Pemuda Leo Bantaeng Rela Puluhan Juta untuk Doraemon
Vando, pemuda berzodiak Leo di Bantaeng rela habis puluhan juta untuk pernak-pernik Doraemon. Rumahnya menjadi spot yang menarik untuk swafoto.
Perjuangan Desi Ratnasari Ikut Olimpiade di Jakarta
Desi Ratnasari siswi SMA di Bantaeng Sulawesi Selatan dipilih berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Olimpiade Bahasa Arab tingkat nasional.
Kisah Inspiratif Haji Cendol di Sulawesi Selatan
Hajah Capo, 60 tahun, seorang penjual es cendol di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Dari usaha kecilnya itu, ia mampu naik haji dan umroh.
0
Relaksasi Kredit, Bank di Daerah Masih Saja Menagih
Presiden Jokowi membuat kebijakan relaksasi kredit saat pandemi Covid-19, praktiknya petugas bank milik negara masih ada yang menagih bunga kredit.