UNTUK INDONESIA
Update Ojol Korban Klitih dan Lokasi Rawan di Sleman
Polisi masih mendalami ojek online korban klitih di Sleman. Lima orang sudah dimintai keterangan. Di sisi lain, Polres mengantongi titik rawan.
Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Rudy Prabowo saat memberikan keterangan kepada wartawan, Selasa 4 Februari 2020. (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah)

Sleman - Polres Sleman saat ini masih mendalami kasus seorang driver ojek online, Enriko 40 tahun, yang menjadi korban aksi kekerasan di jalanan atau klitih di Sleman, Yogyakarta. Sejauh ini polisi telah memeriksa lima orang saksi. Di sisi lain, Polres Sleman sudah menginventarisir titik rawan klitih.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sleman Ajun Komisaris Polisi Rudy Prabowo mengatakan untuk mengungkap kasus yang menimpa korban Enriko, polisi sudah memeriksa lima orang saksi. "Saksi sampai dengan hari ini ada lima saksi yang dimintai keterangan," katanya saat ditemui wartawan di Mapolres Sleman, Selasa 4 Februari 2020.

Menurut Rudy, korban mengalami luka cukup parah akibat sabetan senjata tajam pelaku klitih. Korban harus menjalani operasi di rumah sakit. "Semoga segera pulih biar bisa kita menggali keterangan yang signifikan. Namun kami juga sudah mulai jalan melakukan upaya pengungkapan," katanya.

Rudy mengatakan dari hasil pemeriksaan sementara, rombongan pelaku diduga dua motor. "Pelakunya dua motor. Korban lukanya pada pipi kanan dan punggung, luka sabetan (senjata tajam)," ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, kejadian penganiayaan tersebut terjadi pada Sabtu 1 Februari 2020 sekitar pukul 03:00 pagi. Saat itu korban atau ojek online sedang membawa penumpangnya melaju di Jalan Kabupaten tepatnya di Dusun Bragasan, Mayangan, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Saat sampai di Tempat Kejadian Perkara (TKP), korban ojek online dan penumpangnya berpapasan dengan pengendara sepeda. Tanpa basa-basi, pelaku langsung mengayunkan sejenis senjata tajam kepada ojol tersebut. Motor yang dibawa oleh pelaku tersebut belum diketahui jenis dan nomor polisinya. Saat itu kejadian berlangsung cepat dan kondisi TKP agak gelap.

Semoga segera pulih biar bisa kita menggali keterangan yang signifikan.

Setelah mengenai korbannya, pelaku langsung melarikan diri. Atas bacokan itu, korban ojek online mengalami luka cukup parah di bagian muka, mulut korban juga robek. Anggota Polsek Gamping langsung mengecek TKP untuk penyelidikan. Korban ojek online kemudian dibawa ke RSA Universitas Gadjah Mada untuk mendapat perawatan intensif.

Polisi Kantongi Titik Rawan Klitih di Sleman

Polres Sleman membentuk tim khusus untuk menangani aksi klitih atau kejahatan jalanan. Tim telah mengantongi titik-titik rawan kriminalitas jalanan yang biasanya pelaku masih usia remaja tersebut.

AKP Rudy Prabowo mengatakan, pihaknya sudah menerbitkan surat perintah dan membutuhkan timsus dalam menangani aksi kriminalitas yang meresahkan masyarakat tersebut.

"Kami dari Polres Sleman sudah menerbitkan surat perintah, dan membutuhkan timsus. Kami gabung dari polres, kemudian dari polsek. Beberapa personel sudah kami kumpulkan, dan memang kami intens untuk melakukan pengungkapan perkara (klitih) ini," katanya saat ditemui wartawan di Mapolres Sleman, Selasa 4 Februari 2020.

Rudy mengakui perkara kejahatan di jalanan ini menjadi perhatian serius jajaran kepolisian di Sleman. "Ini sudah menjadi atensi pimpinan," kata dia.

Dia menyebutkan ada sejumlah titik rawan terjadi aksi kejahatan atau klitih di Sleman. Salah satunya di Jalan Kabupaten di Kecamatan Gamping yang sebelumnya dilaporkan terjadi aksi klitih di lokasi tersebut. "Kalau yang sekrang ya Jalan Kabubaten, dari Kronggahan sampai Ringin, kiri-kanan dan lurus. (Info ini) Jangan sampai membuat masyarakat resah ya, cuma memang kami sedang fokus di situ," katanya.

Selain itu, kata dia, titik rawan klitih lainnya adalah di setiap jalan yang sepi dan minim lampu penerangan. "Sebenaranya setiap jalan sepi itu menjadi titik poin kejadian, (jalan yang) tidak ada penerangan, kurang pengawasan. Dan mereka (pelaku) leluasa untuk mengayunkan sajam (senjata tajam)," ujar Rudy.

Rudy mengimbau masyarakat jika terpaksa berkendara pada malam hari agar menghindari jalan yang sepi dan minim lampu penerangan. "Minimal pada jam 2 atau 3 (dini hari), hindarilah jalan-jalan yang sepi juga, ngapain jalan jam segitu, kalau bisa ndak usahlah (keluar)," katanya.

Sebenaranya setiap jalan sepi itu menjadi titik poin kejadian, (jalan yang) tidak ada penerangan, kurang pengawasan. Dan mereka (pelaku) leluasa untuk mengayunkan sajam (senjata tajam).

Lebih lanjut Rudy juga mengimbau kepada para orang tua agar selalu mengawasi anak-anaknya. Jangan sampai anak keluyuran pada malam bahkan sampai dini hari. Hal itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Menurut Rudy, jika menemukan kerumunan anak usia pelajar nongkrong pada jam malam sampai dini hari, masyarakat diimbau melapor ke pihak berwajib. 

"Sekarang itu jika ada anak-anak yang ngumpul dan hidup di jam-jam itu, tolong beritahu kami. Mereka kan tidak mungkin tiba-tiba ngumpul-ngumpul, (bisa jadi) ngobrol, minum, ngepil, lalu ada keberanian itu terus ya jadi ngawur-ngawur itu," kata Rudy. []

Baca Juga:

Berita terkait
Pelajar SMP di Sleman Mau Tawuran Bawa Celurit
Pelajar SMP di Sleman mau tawuran usai main futsal. Mereka bawa celurit dan tongkat besi. Warga dan polisi menggagalkannya. lima pelajar ditangkap.
Ojek Online Jadi Korban Klitih di Sleman
Ojek online menjadi korban kekerasan di jalanan atau klitih di Sleman. Korban dibacok bagian wajah. Korban saat ini terbaring di rumah sakit.
Polda DIY Tangkap Penyebar Hoaks Klitih
Polda DIY menangkap pelaku penyebar kabar bohong klitih. Video kecelakaan di Muntilan oleh pelaku disebar seolah-olah korban klitih di Sleman.
0
Data Bansos Dampak Covid-19 Kemensos di Bantul Kacau
Lurah di Bantul, Yogyakarta, dipusingkan data penerima bansos dampak Covid-19 dari Kemensos.