UNTUK INDONESIA
Takdir Jokowi Dua Kali Jadi Presiden RI
Jokowi rakyat jelata, bukan bangsawan elite politik, bukan darah biru militer. Takdir menjadikannya Presiden Republik Indonesia. Sampai dua kali.
Jokowi. (Foto: Instagram/Presiden Joko Widodo)

Jakarta - Takdir mengantarkan pria kurus kerempeng Joko Widodo akrab disapa Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia sampai dua kali. Periode pertama 2014-2019. Dan ia pada Minggu, 20 Oktober 2019, dilantik menjadi Presiden RI 2019-2024.

Ayah tiga anak dan kakek dua cucu itu rakyat jelata, bukan bangsawan elite politik, bukan berdarah biru militer. Namun rakyat Indonesia menginginkan dipimpin olehnya.

Berikut sumpah Jokowi saat pelantikan Presiden, Minggu, 20 Oktober 2019.

"Bismillahirahmannirahim. Demi Allah saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala Undang-Undang dan peraturannya dengan seluruhnya serta berbakti kepada nusa dan bangsa."

Minggu, 20 Oktober 2019, menjadi satu di antara hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, juga bagi Jokowi. Hari di mana ia dilantik sebagai pemimpin negara, untuk kedua kali bertanggung jawab penuh atas Negara Kesatuan Republik Indonesia sepanjang lima tahun ke depan. 

Berikut kilas balik perjalanan hidup ayah tiga anak dan kakek dua cucu yang terkenal dengan gaya kepemimpinan blusukan, turun langsung ke lapangan, memastikan segalanya oke, tidak sekadar puas menerima laporan bawahan.

Jokowi dan IrianaJokowi dan istri, Iriana. (Foto: Instagram/Presiden Joko Widodo)

Pernah Jadi Tukang Ojek Payung

Ir. H. Joko Widodo atau lebih dikenal sebagai Jokowi lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada 21 Juni 1961. Ia merupakan anak sulung dari pasangan Noto Mihardjo dan Sudjiatmi. Bukan hanya putra sulung, Jokowi juga menjadi putra satu-satunya dari empat bersaudara. Pria yang memiliki nama kecil Mulyono ini memiliki tiga adik perempuan, yaitu Iit Sriyanti, Ida Yati, dan Titik Relawati. Sebenarnya, Jokowi juga memiliki adik laki-laki bernama Joko Lukito namun ia meninggal saat berada dalam proses persalinan.

Merasakan hidup sederhana bahkan sulit menjadikan sosok Jokowi pribadi mandiri sejak kecil. Pendidikan formal pertamanya ia tamatkan di SD Negeri 111 Tirtoyoso. Pada masa sekolah dasar ini, Presiden ke-7 RI sudah merasakan susahnya mencari uang untuk biaya sekolah dan keperluan sehari-hari. Berbagai pekerjaan seperti ojek payung, kuli panggul, hingga pedagang pernah ia tekuni. Menginjak usia 12 tahun, Mantan Wali Kota Solo ini memutuskan bekerja di perusahaan kayu bermodalkan warisan keahlian sang ayah.

Pendidikan formal ia lanjutkan ke jenjang menengah pertama di SMP Negeri Surakarta. Tak hanya puas di tingkat SMP, pengusaha mebel ini juga melanjutkan ke jenjang SMA yaitu di SMA Negeri 6 Surakarta. Jokowi sempat berkeinginan untuk masuk ke SMA 1 Surakarta, namun belum menjadi rezeki calon presiden ke-8 ini.

Jokowi dan CucuJokowi dan cucu, Jan Ethes (kanan), Sedah Mirah digendong. (Foto: Instagram/Presiden Joko Widodo)

Kuliah, Bertemu Pujaan Hati dan Merintis Usaha Kayu

Ilmu akademis yang dimiliki, kesulitan yang pernah dihadapi, hingga berbagai pengalaman yang menggunung menjadi modal bagi mantan Gubernur DKI Jakarta ini untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Ia diterima di Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. 

Masa kuliah dihabiskan untuk mempelajari segala hal tentang hutan seperti struktur kayu, teknologi, hingga pemanfaatannya. Tak hanya aktif di akademik, Jokowi juga dikenal giat sebagai anggota “Mapala Silvagama” organisasi yang bergerak di bidang pecinta dan konservasi alam. 

Pria yang pada 2019 berusia 58 tahun itu menyelesaikan studi sarjana pada 1985 dengan judul skripsi “Studi tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kodya Surakarta”.

Setelah merampungkan studi sarjana dan meraih gelar S.Hut, Jokowi menikahi sang pujaan hati, Iriana pada 24 Desember 1986 di Kota Solo. Pernikahan itu dikaruniai tiga orang anak yaitu si sulung Gibran Rakabuming Raka (1988), putri satu-satunya Kahiyang Putri (1991), dan si bungsu Kaesang Pangarep (1995).

Sebelum menjadi pengusaha, bapak tiga anak itu memulai karier dengan bekerja di PT Kertas Kraft Aceh milik BUMN dan ditempatkan di area Hutan Pinus Merkusil, Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah. Namun, karena beberapa alasan, ia memutuskan pulang menemui sang istri yang tengah mengandung tujuh bulan. 

Kaesang dan AyahnyaJokowi dan putra bungsu, Kaesang Pangarep. (Foto: Instagram/Kaesang Pangarep)

Sejak mengundurkan diri dari perusahaan BUMN, pria lulusan kehutanan itu bertekad berbisnis di bidang kayu dengan membuka lahan usaha sendiri. Namun dalam membuka usaha dan bisnis, diperlukan bekal tak hanya ilmu, juga pengalaman. Sebelum membangun kejayaan usaha sendiri, terlebih dulu Jokowi harus belajar dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk bekerja di perusahaan paman, Miyono yang bergerak di bawah naungan CV Roda Jati.

Setelah dirasa memiliki bekal yang cukup berupa ilmu dan pengalaman, Jokowi memulai dinasti kejayaan usaha pada 1988. Ia bertekad untuk berani membuka sendiri usaha dengan nama yang terinspirasi dari putra pertama Gibrang Rakabuming, yaitu CV Rakabu. Sebuah usaha tidak serta-merta begitu instan langsung berjaya, begitu pula usaha milik suami dari Iriana ini. 

Usahanya naik turun, sempat berjaya dan pernah merosot tajam pula. Usahanya pernah mengalami kemunduran karena tertipu pesanan tanpa bayaran. Tetapi, bukan bisnis dan usaha jika tidak dibumbui manis-pahitnya proses. Pada 1990, Jokowi kembali membangkitkan usaha berkat bantuan dana dari sang ibunda tercinta.

Bisnis kayu semakin berkembang hingga mempertemukan Jokowi dengan sosok pengusaha Jerman bernama Micl Romaknan. Micl lah yang ternyata mempopulerkan nama Jokowi yang kini tengah membumi di Indonesia. Panggilan Jokowi disematkan oleh Micl dengan alasan pelafalan mirip dengan nama “Jokovich”. 

Berkat perkenalan itu, Jokowi mendapatkan kesempatan berkeliling Eropa. Di Benua Biru, ia mendapatkan banyak inspirasi mengenai tata letak kota yang indah dan terstruktur rapi. Inspirasi ini yang ditanam dalam pemikirannya untuk menjadi pemimpin di suatu hari nanti. 

Tata letak kota yang indah di Eropa juga menjadikan ilham untuk diterapkan Jokowi di Solo. Pemikiran-pemikiran mengenai keindahan tata letak kota yang ia jumpai juga merupakan pintu gerbang bagi mantan Gubernur DKI Jakarta untuk masuk ke dunia politik.

Dua Kali Wali Kota Solo

Presiden JokowiPresiden Jokowi dan Jan Ethes duduk di tengah, Gibran dan Selvi sebelah kanan, Iriana, Bobby, Kahiyang dan Sedah Mirah sebelah kiri. Presiden bersama keluarga berakhir pekan di Istana Bogor, Sabtu (8/12/2018). (Foto: Twitter/Presiden Joko Widodo)

Pada masa kanak-kanak, Jokowi pernah merasakan penggusuran rumah sebanyak tiga kali. Ternyata hal ini mempengaruhi dan membentuk cara berpikirnya ketika ia memimpin Kota Solo. Melakukan penggusuran tidak semena-mena namun dilakukan dengan cara pendekatan antarhati.

Pria asli tanah Jawa ini bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pada 2004 dengan menduduki posisi pengurus DPC PDIP Solo.

Kiprah politiknya dimulai dengan menjabat sebagai Wali Kota Surakarta pada 2005. Pada saat itu namanya belum dikenal pada skala nasional namun mengalami peningkatan saat dirinya berhasil mengubah Kota Solo menjadi kota pariwisata, kota budaya, dan kota batik. Saat itu, Jokowi diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk maju pada Pilkada Kota Solo tahun 2005 sebagai calon Wali Kota Surakarta dengan sang wakil, FX. Hadi Rudyatmo.

Ia berhasil memenangkan pemilihan dengan persentase suara sebanyak 36,62 %. Langkah yang diambil setelah menerima jabatan sebagai Wali Kota Surakarta ialah mengembangkan Kota Solo yang sebelumnya buruk dalam hal penataan, infrastruktur, pengembangan ekonomi, kesehatan dan pendidikan, serta relokasi pedagang kaki lima hingga menjadikan kota Solo sebagai “The Spirit of Java”. Di bawah kepemimpinannya pula, Bus Batik Solo Trans diluncurkan. Tak hanya itu, berbagai kawasan di Kota Solo juga menjadi tuan rumah berbagai acara internasional.

Cerita kejayaan debut politik Jokowi berlanjut pada periode kedua pemilihan Wali Kota Solo. Berkat kegigihan dan kinerja Sang Wali Kota, masyarakat merasa puas dan bangga. Buktinya, pada periode kedua pencalonan wali kota pasangan calon Jokowi-Rudyatmo berhasil memenangkan pemilihan dengan persentase suara fantastis mencapai 90,09 %. Kandidat hampir menyentuh angka 100 yang menandakan belum pernah ada dalam sejarah pemilu di Indonesia.

Gubernur DKI Jakarta

Jokowi - AhokJokowi dan Ahok. (Foto: Instagram/basukibtp)

Saat sosok pria Jawa ini mendapatkan perhatian luas media nasional, ia kemudian menarik banyak perhatian berbagai tokoh nasional kala itu seperti Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto. 

Jusuf Kalla dan Prabowo menginginkan Jokowi maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada 2012 dengan menyisakan masa jabatan sekitar 3 tahun di Solo. Karena merupakan kader dari PDI-P, maka Jusuf Kalla meminta dukungan Megawati Soekarnoputri untuk memberikan kesempatan menjadikan Jokowi calon Gubernur DKI Jakarta. Sedangkan Prabowo dari Partai Gerindra juga ikut melobi PDIP. Saat itu, Jokowi dipasangkan dengan Basuki Tjahaja Purnama akrab disapa Ahok.

Saat itu, pasanga calon Jokowi-Ahok kurang diunggulkan karena lingkaran survey menyatakan bahwa sang kompetitor, pasangan calon Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli akan memenangkan pilkada dalam satu putaran. Namun data hasil pilgub menyatakan bahwa suara Jokowi memimpin sebanyak 42,6% suara sedangkan Fauzi Bowo dengan 34,05% suara. 

Pasangan yang terkenal karena “kemeja kotak-kotak” itu berbalik diunggulkan memenangkan Pilkada DKI 2012 karena kedekatan Jokowi dengan Hidayat Nur Wahid serta dukungan dari Faisal Basri dan Alex Noerdin berdasarkan hasil survei. Tak hanya itu, Jokowi juga mendapatkan dukungan dari tokoh-tokoh penting seperti Misbakhun dari PKS, Jusuf Kalla dari Partai Golkar, Indra J Piliang dari Partai Golkar, serta Romo Heri yang merupakan adik ipar Fauzi Bowo.

Setelah mengalami pertarungan sengit dari berbagai sektor, pada 29 September 2012, KPUD DKI Jakarta menyatakan Jokowi dan Ahok menerima amanah negara sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk masa bakti 2012-2017 menggantikan pasangan Fauzi Bowo-Prijianto.

Setelah memangku jabatan sebagai Gubernur DKI, Jokowi menetapkan beberapa kebijakan yang terasa manfaatnya seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS). Pada awal masa kepemimpinannya di DKI Jakarta, pria yang gemar blusukan ini mendahulukan program bantuan sosial melalui KJS dan KJP. Ia juga membenahi saluran air DKI Jakarta melalui program Jakarta Emergency Dredging Initiative ( JEDI).

Sisa proyek masa jabatan sebelumnya seperti 6 Ruas Tol dan monorel mengalami hambatan hingga berhenti. Jokowi lebih berkonsentrasi kepada layanan transportasi umum seperti MRT Jakarta dan Peningkatan armada Transjakarta. Pengambilalihan pengelolaan Sumber Daya Air juga dilakukannya melalui akuisisi Aetra dan Palyja.

Pada masa pemerintahannya di DKI Jakarta, mantan gubernur yang terkenal karena kemeja kotak-kotaknya itu juga menghadirkan acara-acara kreatif seperti Jakarta Night Festival, Pesta Rakyat, dan Festival Keraton Sedunia. Gaya kepemimpinannya yang membumi memunculkan istilah tren blusukan yang disematkan pada Jokowi. Bahkan, media Internasional seperti The New York Times menyebut gaya unik ini sebagai street democration atau demokrasi jalanan.

Presiden ke-7 RI

Perpisahan Kabinet KerjaPresiden Joko Widodo (kanan) menerima buku memori jabatan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla (kiri) dalam acara silaturahmi kabinet kerja di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 18 Oktober 2019. (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Ketika terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, ketenarannya melambung tinggi. Berbagai pemberitaan media menggambarkan dirinya sebagai sosok yang down to earth, kerja keras, dan gigih. Saat blusukan, Jokowi menjadi sosok yang menarik perhatian karena sahajanya yang sangat dicintai rakyat. 

Saat bergelimang popularitas dan rasa bangga dari masyarakat DKI Jakarta atas program kerja yang progresif, Jokowi sempat tersenggol dengan hype Pilpres 2014. Belum genap setahun menjabat, dirinya disebut layak menjadi Presiden RI berdasarkan survei-survei mengenai elektabilitasnya di jajaran capres.

Wacana untuk mencalonkan Gubernur DKI Jakarta ini sebagai calon presiden harus disetujui terlebih dahulu oleh Ketua Umum PDIP, Megawati dan ia menegaskan baru akan mengumumkan calon presiden setelah pemilu legislatif dilakukan. Akhirnya, pada 24 Maret 2014, Megawati memberikan perintah langsung kepada Jokowi untuk maju sebagai calon presiden periode 2014-2019 yang tertuang dalam surat mandat.

Pada 19 Mei 2014, Jokowi mengumumkan akan mengajak Jusuf Kalla sebagai calon wakil presidennya. Pasangan calon Jokowi-JK ini didukung partai-partai dalam satu koalisi, yaitu PDIP, Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Hanura. 

Rival Jokowi-JK pada pemilu tahun 2014 ialah sosok yang turut mendukungnya untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta, Prabowo Subianto dengan calon wakil presidennya, Hatta Rajasa.

Setelah mengalami perjalanan panjang pemilu 2014, pada Juli 2014 KPU menyatakan pasangan Jokowi-JK menang dengan persentase suara sebanyak 53,15%, sementara Prabowo-Hatta mendapatkan suara sebesar 46,85%. Lapangan tanding pilpres ini masuk ke dalam sejarah karena tercatat menjadi pemilihan presiden yang hanya mengadu dua pasangan calon kandidiat.

Kebijakan presiden ke-7 ini dimulai dengan memunculkan Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Kartu Keluarga Sejahtera. Dimulai sejak 8 November 2014, Jokowi debut di beberapa konferensi tingkat tinggi seperti APEC, Asian Summit, G20. Pada bidang pertanian, Jokowi membagikan 2099 unit traktor tangan di Subang dengan harapan meningkatkan produksi pertanian negara.

Pada salah satu bidang sebagai wajah Indonesia, yaitu infrastruktur, Jokowi melakukan pengejaran program seperti Jalan Tol-Trans-Sumatra, Tol Solo-Kertosono, Pelabuhan Makassar, dan meresmikan terminal Teluk Lamong untuk beroperasi sebagai bagian dari Greater Surabaya Metroplitan Port.

Presiden ke-8 RI

Jokowi-Ma\\\\\'ruf AminFoto resmi Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma\'ruf Amin. (Foto: Instagram/darwis_triadi)

Jokowi menginginkan jilid kedua dalam masa pemerintahannya sebagai pemimpin negara. Pada 2018, ia mengumumkan akan kembali mencalonkan diri sebagai calon presiden 2019-2024. Pada saat itu, spekulasi menunjukkan bahwa yang akan menjadi calon wakil dari sang presiden ialah Mahfud MD. Namun secara mengejutkan, pada 9 Agustus 2018, Jokowi mengumumkan Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden.

Siapa sangka rakyat jelata, tak ada keturunan bangsawan elit politik, tak ada keturunan darah biru militer, bisa menjadi orang nomor satu di Indonesia. Sampai dua kali. Kini ia menjadi Presiden ke-8 RI.

Komentator politik, Salim Said, mengatakan bahwa rakyat memiliki perspektif kepada sosok Jokowi sebagai, “Tetangga kita yang terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri sebagai presiden.”

Pada 20 Oktober 2019, sang pemimpin negara terpilih, Joko Widodo beserta wakil presiden terpilihnya, Ma’ruf Amin, resmi dilantik untuk masa bakti 2019-2024. Dengan terpilihnya pasangan ini, diharapkan Indonesia akan memiliki wajah yang lebih baik lagi dari sebelumnya dan menyongsong masa depan negara yang semakin maju di kancah Internasional. []

(Revy Putra Andaryanto)

Baca juga:

Berita terkait
Sorak-sorai Relawan Usai Pelantikan Jokowi-Ma'ruf Amin
Para relawan bersorak-sorai setelah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Maruf Amin mengambil sumpah jabatan.
Arti 'Tambal Pamiluto' Batik yang Dipakai Iriana Jokowi
Kain batik bermotif Tambal Pamiluto", yang rupanya memiliki makna dan filosofi mendalam di baliknya.
Foto Bareng Jokowi-Ma'ruf Amin Diunggah Addie MS
Addie MS mengunggah kolase foto di akun Instagram-nya mengucapkan selamat kepada Joko Widodo dan Maruf Amin menjelang pelantikan presiden.
0
Suami Pemabuk Tewas Ditikam Istri Siri di Ambon
Seorang istri siri di Ambon, Maluku, berinisial HR menikam suaminya Hairun Ibrahim, 35 tahun, hingga tewas.