Sulitnya Mengungkap Kematian Gajah di Aceh

Minimnya saksi salat satu kendala dalam mengungkap kematian gajah di Aceh.
Tim dokter dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melakukan evakuasi terhadap seekor anak gajah Sumatera yang ditemukan mati di Desa Kampung Baroh Kecamatan Setia Bakti Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, Rabu, 29 April 2020. (Foto: Tagar/Zahlul/Fz)

Banda Aceh – Penegak hukum mengalami kesulitan dalam mengungkap kematian gajah di Aceh. Hal ini disebabkan beberapa hal, salah satunya disebabkan minimnya saksi karena kejadian umumnya berada di hutan berantara.

Kepala Unit Tipiter Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Aceh, Ajun Komisaris Besar Polisi Mulyadi mengatakan, minimnya saksi membuat kepolisian butuh waktu lumayan lama untuk mengungkap sebuah kasus kematian gajah.

“Kesulitannya karena minim saksi, kami penegak hukum tidak bisa bekerja sendiri, juga butuh bantuan masyarakat,” ujar Mulyadi dalam diskusi media memperingati Hari Gajah Sedunia yang digelar AJI Banda Aceh, Rabu, 12 Agustus 2020.

Umumnya konflik antara manusia dan gajah, masyarakat biasanya menganggap gajah ini sebagai hama.

Ia menuturkan, dalam beberapa kasus, kematian gajah disebabkan dua faktor yaitu faktor konflik dan faktor ekonomi. Faktor konflik adalah terjadi perseteruan antara gajah dengan manusia, seperti perusakan tanaman, rumah dan lain sebagainya.

Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menunjukkan, angka konflik gajah di Aceh terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2016, konflik gajah terjadi sebanyak 39 kali, 2017, 103 kali, 2018 turun menjadi 73 kali, 2019 naik menjadi 107 kali dan 2020 per Agustus sebanyak 76 kali.

Diskusi Gajah di AcehDiskusi media memperingati Hari Gajah Sedunia yang digelar AJI Banda Aceh di salah satu hotel di kota tersebut, Rabu, 12 Agustus 2020. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

“Sebelumnya di Aceh Tengah, umumnya konflik antara manusia dan gajah, masyarakat biasanya menganggap gajah ini sebagai hama,” tutur Mulyadi.

Sedangkan faktor ekonomi, kata Mulyadi, manusia memang sengaja memburu gajah untuk mengambil bagian dari tubuhnya, seperti gading. Upaya ini dilakukan oleh sindikat dan kemudian dijual ke luar daerah.

“Khusus motif ekonomi ini yang diburu adalah gading, ini ada oknum dari luar yang khusus memesan gading, sehingga si pemburu membunuh gajah,” kata Mulyadi.

Menurut Mulyadi, cara memburu gajah untuk diambil gading sangat tidak manusiawi. Satwa yang dilindungi tersebut diracun dan ditembak. Bahkan, gajah yang akan diambil gading itu sering kali tidak tepat sasaran.

“Yang pemburu sasar gading yang sudah tua, tetapi yang mati nanti anak gajah. Racunnya dimakan oleh anak gajah, bukan gajah tua yang diburu gadingnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihak kepolisian sangat komitmen dalam mengungkap setiap kematian gajah, seperti yang terjadi di Kabupaten Aceh Jaya pada Januari 2020 lalu. Dalam kasus ini, polisi telah mengantongi calon pelaku.

“Kematian gajah di Aceh Jaya segera diungkap, pelakunya sudah mengerucut, tetapi tidak bisa dipublikasi dulu,” katanya. []

Baca juga:

Berita terkait
Miris, Sebagian Anak Jadi Gepeng di Banda Aceh
Sebgaian Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) di Kota Banda Aceh merupakan anak di bawah umur.
Mulai Besok, Keluar Masuk Aceh Kantongi 2 Surat Ini
Pemeriksaan bagi masyarakat yang akan keluar masuk Aceh di pintu masuk perbatasan Aceh-Sumatera Utara lebih ketat dan akurat.
Update Corona Aceh: 675 Positif, 23 Meninggal Dunia
Dua orang Pasien covid-19 di Aceh dilaporkan meninggal dunia hari ini, masing-masing warga Aceh Besar dan warga Kabupaten Pidie.
0
Pemerintah Alokasikan Rp 400 M Uji Klinis Vaksin Merah Putih
Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo mengatakan pemerintah sudah mengalokasikan dana sebesar Rp 400 miliar untuk uji klinis vaksin merah putih.