UNTUK INDONESIA
Silang Pendapat BNN dan Peneliti Soal Ganja
Terdapat silang pendapat mengenai ganja oleh pihak Badan narkotika Nasional (BNN) dengan peneliti asal Aceh.
Ilustrasi: Pembibitan tanaman ganja. (Foto: Antara/deccanchronicle.com)

Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) secara tegas menolak wacana ekspor ganja yang belakangan disuarakan anggota Komisi VI DPR RI Rafli Kande dan sejumlah anggota dewan Fraksi PKS. Kepala BNN RI Drs. Heru Winarko, S.H. mengatakan bahwa ganja tidak bisa digunakan, dibudidayakan, ataupun dimanfaatkan untuk pengobatan.

Menurut Heru, sebanyak 63 persen dari total pecandu narkotika yang ada di Indonesia merupakan pecandu ganja. Demi mengatasi persoalan tersebut, ia mengaku pihaknya terus mengedepankan langkah pencegahan dengan melakukan penanaman ulang di lahan bekas ladang ganja.

Selain itu, BNN juga melakukan upaya pemberantasan dengan cara memusnahkan lahan ganja. Ia menyebutkan, sekitar 130 ton ganja telah dimusnahkan sepanjang tahun 2019 lalu.

"Langkah kami di sumber ganja, adalah melakukan pencegahan, misalnya dengan replanting lahan ganja dengan jagung dan kopi di atas lahan seluas dua belas ribu hektar," kata dia di Gedung F BNN, Jumat, 31 Januari 2020. dilansir dari situs resmi BNN.

"Sekali lagi, tugas kami adalah memberantas dan mencegah untuk melindungi generasi muda dari bahaya narkotika," kata Heru.

Sementara Kepala Pusat Laboratorium Narkotika BNN, Drs. Mufti Djusnir, Apt., M.Si menegaskan bahwa ganja sama sekali tidak dapat digunakan untuk pengobatan, dan pemanfaatannya hanya diizinkan untuk Iptek. ia mengatakan bahwa kandungan ganja sampai isomernya harus dilarang sesuai dengan undang-undang.

"Para peneliti sebelumnya telah melihat dampak buruk tersebut. Otak itu kaya dengan oksigen, jika oksigen terkena ganja, maka oksigen terikat oleh _tetrahydrocannabinol_ atau THC maka bisa menyebabkan pengapuran di sel otak sehingga sel itu akan mati. Berapa sel yang mati tidak akan sehat kembali, hanya sisanya yang bisa mengikat oksigen," kata Mufti.

GanjaGanja. (Foto: Pixabay)

Hal ini berseberangan dengan sikap yang dikemukakan peneliti ganja dari Universitas Syiah Kuala, Profesor Musri Musman. Ia mengatakan sepakat bahkan mendukung langkah legislator asal Tanah Rencong itu untuk mengekspor ganja ke luar negeri.

"Pak Rafli juga berangkat dari keprihatinan, bahwa masyarakat kita ini, kalau saya lihat masyarakat yang ada 'harta', tetapi tidak bisa digunakan, nggak perlu pupuk, nggak perlu pestisida, herbisida, hanya diberi izin untuk tanam," kata Musri dalam sebuah diskusi di Banda Aceh, Aceh, Jumat, 30 Januari 2020 sore.

Selain sebagai komoditas ekspor, Musri menjelaskan bahwa ganja juga memiliki potensi cukup besar, di mana tanaman tersebut bisa digiling menjadi minyak dan dimanfaatkan untuk dunia medis. Menurutnya, harga minyak tersebut tergolong sangat menjanjikan.

"InsyaAllah kemudian mereka (masyarakat) dapat menyuling sendiri dengan menggunakan ketel sederhana akan keluar minyak, minyak inilah yang berharga, 10 mili liter itu harganya 60 USD," ujar Musri.

Dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsyiah itu mengajak seluruh pemangku kepentingan di Aceh dan Indonesia umumnya untuk mendukung pernyataan anggota DPR RI Rafli Kande soal usulan ekspor ganja tersebut.

"Pak Rafli sudah menyuarakan tersebut. Kita menginginkan yang komoditas Aceh dan daerah-daerah yang memiliki potensi tersebut, ayo kita suarakan bersama, kita sampaikan, mana mudarat, maslahat yang lebih banyak," katanya.

"Seandainya lebih banyak mudarat oke kita rela untuk itu. Tetapi kalau ada maslahat yang lebih muncul, maka kita harus bisa menerimanya," kata Musri. []

Berita terkait
Bahas Ganja, Akun Twitter Jerinx SID Kena Suspend
Akun Twitter milik penabuh drum band Superman Is Dead, Jerinx, ditangguhkan atau di-suspend seusai mencuitkan opini soal ganja dan K-Pop.
BNN Menolak Usul Anggota DPR Untuk Ekspor Ganja
BNN menolak usulan anggota DPR untuk mengekspor ganja, ganja adalah narkotika jika disalahgunakan menimbulkan ketergantungan permanen
Profesor Musri: Ganja Lebih Banyak Maslahatnya
Peneliti ganja dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) mendukung sepenuhnya jika ganja dilegalkan di Indonesia.
0
Jokowi Saksikan Ketua MA Syarifuddin Mengucap Sumpah
Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyaksikan pengucapan sumpah M. Syarifuddin sebagai Ketua Mahkamah Agung (MA) periode 2020-2025.