UNTUK INDONESIA
SEA Games 2019, Sosok 2 Srikandi Takraw dari Jepara
Siapa sangka, dua atlet putri sepak takraw penyumbang perak di SEA Games 2019 Filipina adalah seorang polisi dan tentara. Keduanya dari Jepara.
Dini Mitasari (kiri) dan Evana Rahmawati (kanan) pemain takraw putri asal Kecamatan Welahan, Jepara, Jawa Tengah, berfoto sambil memamerkan medali yang diperoleh pada SEA Games XXX di Filipina. Mereka adalah bagian dari Timnas Sepak Takraw Indonesia yang menyabet medali perak pada nomor hoop. (PSTI Jepara/Suko Hartono).

Jepara - Duo srikandi sepak takraw putri dari Jepara turut mengharumkan nama Indonesia di SEA Games 2019. Keduanya, bersama tim putri Indonesia berhasil berdiri di podium kedua pada nomor hoop di Subic Gym, Filipina. 

Mereka adalah Evana Rahmawati dan Dini Mita Sari, asal Kecamatan Welahan. Selain sebagai atlet ternyata profesi keseharian keduanya lekat dengan dunia militer. Evana merupakan seorang polisi wanita (Polwan) dan Dini adalah tentara, anggota TNI Angkatan Darat. 

"Evana Rahmawati bertugas di Polres Jepara dan Dini Mita Sari bertugas di Korps Wanita Angkatan Darat atau Kowad di lingkungan Kodam IV Diponegoro," kata Sekretaris Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Kabupaten Jepara Suko Hartono kepada Tagar, Selasa, 3 Desember 2019.

Suko membenarkan dua atlet binaan daerahnya membuat bangga Indonesia di SEA Games 2019. "Iya benar tim putri sepak takraw kita meraih medali perak di nomor hoop. Jepara mengirimkan dua wakil, yakni Evana dan Dini," ucapnya, 

Suko menjelaskan pada nomor hoop permainan takraw yang dilakukan berbeda dari sepak bola rotan pada umumnya. Pemain berjumlah enam orang, tidak melawan tim lain pada satu lapangan. Namun mereka berusaha memasukan bola dalam keranjang setinggi 4,5 meter di atas tanah.

Evana Rahmawati bertugas di Polres Jepara dan Dini Mita Sari bertugas di Korps Wanita Angkatan Darat atau Kowad di lingkungan Kodam IV Diponegoro.

Perlu diketahui, Indonesia kalah dari tuan rumah Filipina dalam nomor tersebut. Tim putri Indonesia membukukan catatan angka 660, sedangkan peraih emas mencatatkan 670. Namun demikian, Suko tak mempermasalahkan hasil tersebut. Baginya, medali perak adalah prestasi yang patut diacungi jempol.

"Kalau terkait target, sebenarnya PSTI pusat di Jakarta yang berhak menjawab. Namun apapun itu, medali perak sudah merupakan prestasi yang menonjol," tuturnya.

Suko berharap prestasi tim takraw putri Indonesia dapat memacu semangat generasi di bawahnya. Lantaran, dari 18 pemain takraw, baik putra maupun putri, empat di antaranya merupakan putra daerah Jepara.

"Dari Jawa Tengah, kami kirim empat pemain. Dua laki-laki, dua putri. Keempatnya berasal dari Welahan, Jepara. Yang putra adalah Viktoria Eka Prasetyo dan Mandeg Suharno, sementara di putri, Evana Rahmawati dan Dini Mitasari. Sisa pemain lain di timnas, ada yang dari Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Riau, dan Sulawesi Tenggara," jelas Suko.

Ini, lanjut Suko, merupakan sinyal positif bagi perkembangan sepak takraw, khususnya di Kecamatan Welahan, Jepara. Karena sejak tahun 1980-an, wilayah tersebut memang dikenal sebagai penghasil bibit pemain takraw berkualitas.

"Harapannya sepak takraw di Jepara makin diminati, seperti sepak bola. Karena promosi dan pertandingannya perlu diperbanyak. Untuk kedua atlet, semoga masih bisa panjang bermain di takraw. Kalaupun tidak aktif lagi, bisa menyumbangkan tenaga dan pikiran di kepelatihan," terangnya. []

Baca juga: 

Berita terkait
Kubah Masjid di Karangasem Rembang Ambrol Misterius
Bangunan atap dan kubah masjid di Desa Karangasem, Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, runtuh. Tidak diketahui penyebab runtuhnya kubah.
Budi Mulyo, Difabel Jepara Mahir Bikin Replika Bus
Keterbatasan fisik tak membatasi Budi Mulyo, difabel Jepara, Jawa Tengah, untuk berkarya. Ia mahir membuat replika bus dan rumah joglo
Jepara Zona Merah Produksi Rokok Ilegal
Kabupaten Jepara Jawa Tengah menjadi zona merah produksi rokok ilegal. Akibatnya wilayah ini menjadi daerah incaran bea cukai Kudus.
0
Bawa Pemudik, Armada ALS Tertahan di Pelabuhan Merak
PT Antar Lintas Sumatera (ALS) Tangerang yang masih mengoperasikan armada dan membawa penumpang pada 29 April 2020 terpaksa harus dihentikan.