UNTUK INDONESIA
Saat Banjir Hantam Rumahku di Kemang Pratama Bekasi
Rudi Andono menceritakan situasi, detik-detik mencekam saat air banjir menghantam rumahnya di Kemang Pratama Bekasi hingga ia dan keluarga terusir.
Sebuah mobil ditinggalkan di jalan yang tergenang banjir di perumahan elit Kemang Pratama, Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 1 Januari 2020. Hujan lebat sepanjang malam tahun baru yang mengguyur Bekasi dan kawasan sekitarnya mengakibatkan banjir terjadi di sejumlah titik. (Foto: Antara/Paramayuda)

Jakarta - Banjir setinggi satu setengah meter menghantam perumahan Kemang Pratama Bekasi tepat di awal tahun baru 2020 tak pernah terpikirkan oleh Rudi Andono. Ia dan keluarga tinggal di kawasan elit ini sejak 2001, tak pernah sekali pun banjir. Namun kenyataan pahit kali ini, air yang tak diundang itu menerjang ke dalam rumah, merusak apa saja yang ada. Rudi Andono dan seluruh penghuni terusir, mengungsi ke lantai dua dalam kegelapan tanpa listrik hingga keesokan harinya. 

Rudi Andono 46 tahun, ayah dua anak, berprofesi sebagai manajer personalia di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Ia menceritakan situasinya kepada Tagar pada Senin, 6 Januari 2020 saat ia dan keluarga telah melewati situasi kritis. 

Berikut ini penuturan Rudi Andono selengkapnya, detik-detik mencekam saat air datang dengan begitu cepatnya. 

"Hari itu Selasa, 31 Desember 2019, hujan terus sepanjang siang dan malam dengan intensitas sedang sampai deras. Hujan terus dari malam sampai subuh. Rabu, 1 Januari 2020 jam enam pagi, halaman depan rumah tergenang air. Itu hal biasa. Genangan di jalan setelah hujan adalah hal wajar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya tidak pernah berpikir air akan masuk ke dalam rumah. 

Kulkas dua pintu terguling, perabot dan segalanya rusak, sangat kacau keadaan.

Banjir Kemang PratamaWarga membersihkan endapan lumpur pascabanjir di kawasan Perumahan Kemang Pratama, Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 2 Januari 2020. Kawasan ini dilanda banjir setinggi lebih dari 1,5 meter pada hari pertama di tahun 2020. (Foto: Antara/Paramayuda)

Hari Rabu itu hujan terus turun dengan deras sampai jam sebelas siang, air mulai masuk ke dalam rumah. Kejadiannya begitu cepat. Derasnya enggak ketolongan. Kayak air bah menggulung. Tingginya hampir satu meter.

Saat itu di dalam rumah ada saya, istri, dua anak; perempuan dan laki-laki, 12 dan 13 tahun. Juga ada tiga pembantu, dan security. Kami pasrah. Yang kami bisa lakukan dalam waktu begitu singkat adalah memindahkan surat-surat penting dari lemari ke lantai atas. Surat penting di antaranya ijazah, sertifikat rumah, sertifikat kendaraan. Selebihnya tak ada yang bisa dilakukan. 

Kemang Pratama BanjirWarga memanfaatkan jasa derek gendong (towing) untuk membawa mobil ke tempat servis dari Perumahan Kemang Pratama di Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 2 Januari 2020. Kawasan ini dilanda banjir setinggi lebih dari 1,5 meter pada hari pertama di tahun 2020. (Foto: Antara/Paramayuda)

Kami semua berlari ke lantai atas untuk menyelamatkan diri. Perabot segala macam yang besar-besar yang berat-berat di lantai satu sudah tidak tahu lagi. Semua ditelan banjir. Entah bagaimana, Selasa siang, 31 Desember 2019, kami menitipkan tiga mobil ke rumah saudara yang tak pernah punya sejarah kebanjiran. Kami merasakan gelagat tidak baik. Mungkin naluri di bawah sadar.

Rabu itu sejak subuh, listrik mati. Kami punya genset tapi sedang rusak. Kami bertahan di lantai atas sampai Kamis siang, 2 Januari 2020. Kegelapan dan kelaparan. Kompor terendam air di lantai bawah. Beras juga terendam air. Sedang tidak ada stok makanan. Hanya ada satu dus mi instan. Ada dispenser di lantai atas, tapi listrik mati. Air setinggi satu meter di dalam rumah kami. Di lantai atas, kami menenangkan diri dengan berdoa. Beberapa keluarga menghubungi kami, bertanya keadaan kami. Selebihnya telepon seluler mati. Tidak ada listrik untuk men-charge ponsel. Power bank akhirnya juga habis baterai. Kami terasing, terisolir, kelaparan.

Ada pula yang mengungsi ke hotel, apartemen.

Kemang Pratama BanjirWarga memanfaatkan jasa derek gendong (towing) untuk membawa mobil ke tempat servis dari Perumahan Kemang Pratama di Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 2 Januari 2020. Kawasan ini dilanda banjir setinggi lebih dari 1,5 meter pada hari pertama di tahun 2020. (Foto: Antara/Paramayuda)

Hari pertama banjir, saya turun, mendapati kulkas dua pintu terguling, perabot dan segalanya rusak, sangat kacau keadaan. Situasi di luar rumah sama saja. Tetangga depan dan kanan kiri semua mengalami hal sama. Masih dalam suasana libur Natal pula. Saya berjalan menuju toko-toko terdekat, semua tutup dan kebanjiran juga. Tadinya saya berharap akan mendapatkan minimal roti. Akhirnya saya pulang, dan lagi-lagi makan mi instan sebagai pilihan terakhir. Kami makan mi instan sampai keesokan hari sampai banjir benar-benar agak surut.

Hari kedua jam dua sore, saya turun, banjir sudah surut, naik motor melewati jalanan berlumpur. Motor pinjaman dari security, terendam banjir tetap bandel, tidak rusak, bisa digunakan. Saya berputar-putar sampai bertemu penjual tekwan dan empek-empek, penjual keliling dengan gerobak. Saya beli itu untuk seluruh keluarga. Hangat. Rasanya sangat nikmat luar biasa.

Kemang Pratama BanjirDua pemuda melintas di pinggir jalan yang tergenang banjir di perumahan elit Kemang Pratama, Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 1 Januari 2020. Hujan lebat sepanjang malam tahun baru yang mengguyur Bekasi dan kawasan sekitarnya mengakibatkan banjir terjadi di sejumlah titik. (Foto: Antara/Paramayuda)

Setelah ketemu penjual tekwan tadi, saya juga menemukan toko yang buka, posisinya di ketinggian sehingga tidak terkena banjir. Di sini saya membeli roti kering, biskuit, susu, beras. Sebelumnya saya sempat berpikir untuk menggunakan jasa go-send, tapi siapa yang mau ambil pesanan saya dalam situasi kacau begini. Memesan makanan lewat gofood saja tidak ada yang mau antar. 

Hari kedua itu kami bersih-bersih lumpur, tebal dan licin. Barang-barang yang terendam banjir, semua kami keluarkan. Di luar hujan rintik-rintik.

Situasi yang dihadapi tetangga sama dengan kami. Mereka kerja bakti di rumah masing-masing. Waktu banjir mencapai puncak, sebagian dari mereka ada yang mengungsi ke lantai atas seperti kami. Ada pula yang mengungsi ke hotel, apartemen, atau ke rumah keluarga di tempat lain yang tidak kebanjiran.

Kemang Pratama BanjirSebuah mobil ditinggalkan di jalan yang tergenang banjir di perumahan elit Kemang Pratama, Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 1 Januari 2020. Hujan lebat sepanjang malam tahun baru yang mengguyur Bekasi dan kawasan sekitarnya mengakibatkan banjir terjadi di sejumlah titik. (Foto: Antara/Paramayuda)

Ini banjir pertama yang kami alami di tempat ini, pertama dan terparah, satu meter ketinggian air di dalam rumah. Ada pula yang mengalami ketinggian air banjir sampai satu setengah meter. Walaupun demikian, tidak ada sesuatu yang mengerikan, misalnya meninggal karena hanyut terbawa arus banjir. Tidak ada seperti itu. Tidak ada suara histeris ketakutan. 

Pada saat di puncak banjir itu Pak RT mengumumkan bagi yang mau dievakuasi disediakan perahu karet. Kami memilih mengungsi di lantai atas. Pada awalnya kami tidak menyangka bakal setinggi itu banjir. Ngeri. Belum pernah kejadian setinggi itu. Makanya tidak terpikir untuk memindahkan barang-barang. Lagipula mau dipindahkan ke mana. Di atas tidak muat juga. Baju sekolah anak terendam. Kacau pokoknya. 

Kemang Pratama BanjirSebuah mobil, motor dan gerobak dagangan ditinggalkan di jalan yang tergenang banjir di perumahan elit Kemang Pratama, Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 1 Januari 2020. Hujan lebat sepanjang malam tahun baru yang mengguyur Bekasi dan kawasan sekitarnya mengakibatkan banjir terjadi di sejumlah titik. (Foto: Antara/Paramayuda)

Kami punya tiga ekor kucing persia. Waktu air masuk ke dalam rumah itu, mereka secara naluriah melakukan hal sama dengan kami, menjauhi air, lari ke lantai atas. Kucing-kucing yang manis dan lucu, ada yang bulunya putih, ada yang bulunya kuning. Setelah banjir berlalu, kami kasih makan kucing-kucing kami, tapi entah kenapa kucing yang berbulu putih akhirnya mati. Terutama anak-anak sangat sedih mendapati kenyataan ini.

Banjir ini terjadi pada permulaan musim hujan. Kabarnya puncak hujan terjadi pada 15 Januari, tapi kami belum berencana mengungsi ke tempat lain, berharap tidak ada banjir lagi, berharap segalanya dalam keadaan baik." [] 

(Rudi Andono bukan nama sebenarnya. Identitas disembunyikan atas permintaan narasumber)

Baca cerita lain:

Lihat infografis:

Berita terkait
Relawan Jokowi Bantu Korban Banjir Rawajati Jakarta
Relawan Jokowi tergabung dalam Tim Tanggap Bencana Komite Penggerak Nawacita membantu korban banjir di Kelurahan Rawajati, Pancoran, Jakarta.
Relawan Jokowi Bantu Korban Banjir Bogor
Relawan Jokowi tergabung dalam Komite Penggerak Nawacita mendirikan posko bantuan bagi warga korban banjir di wilayah Jasingo dan Tenjo, Bogor.
Bantaeng Hujan Banyak Sampah Seperti Banjir Jakarta
Masalah sampah kiriman kerap terjadi setiap tahun membuat warga di kawasan Bantaeng, Sulawasi Selatan Khawatir akan banjir seperti di Jakarta.
0
Cawagub DKI PKS Pendamping Anies: Nurmansyah Lubis
Setelah banyaknya nama, PKS mengekerucutkan kandidat dengan melempar Nurmansyah Lubis sebagai bakal calon wakil gubernur (cawagub).