Makassar, (Tagar 18/2/2019) - Ingin merasakan nuansa pedesaan di tengah kota? 'Rumah kecil' adalah tempatnya. Ini nama kafe terletak di Lorong 100, Jalan Pannara, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.

Di sini kesederhanaan khas desa merupakan kemewahan tersendiri. Anda akan merasakan hening, tak ada bising kendaraan bermotor. Jauh dari kawasan pabrik. Tak ada polusi, udaranya sejuk, segar.

Lokasinya kurang lebih 8 kilometer dari titik nol Kota Makassar, Yakni di Lapangan Karebosi.

Untuk masuk ke lokasi kafe ini, tidak bisa memakai kendaraan roda emapt, kita hanya bisa memakai kendaraan roda dua. Itupun sesampai di lokasi, kita harus jalan kaki  kurang lebih 20 meter menuju lokasi. Memasuki lorong cukup sempit yang hanya bisa dilalui oleh dua orang pejalan kaki.

Tepat di pintu gerbang kafe, mata pengunjung langsung tertuju ke kolam ikan berukuran 4 kali 2 meter. Di sisi-sisi kolam, ada jalur utama untuk memilih tempat duduk di mana pengunjung akan menikmati suasana kafe.

Hamparan sawah yang sedang dibajak terpampang di depan mata. Layaknya suasana pedesaan. Berbagai macam unggas ada di sawah, burung-burung berterbangan di tengah percikan gemuruh air yang dibuat seperti sungai kecil.

Haswadi Haruna, pemilik 'Rumah Kecil' menuturkan kafe berkonsep alam pedesaan ini dibangun tahun 2009. Lahan sekitar 500 meter persegi di belakang rumahnya ini sengaja dirancang khusus sebagai sarana sekaligus wadah edukasi dan rekreasi.

Rumah KecilCemal-cemil dengan makanan ringan di antara pohon-pohon rindang, udaranya segar. (Foto: Tagar/Rio Anthony)

Awalnya, tutur Haswadi, tempat ini hanya diperuntukkan bagi keluarga dan kerabat terdekat. 

"Awalnya tempat kumpul-kumpul biasa, tempat belajar sama-sama. Tempat santai, karena memang suasana desa di kota itu kan jarang makanya dibuat sesederhana mungkin untuk dinikmati sama-sama," kata pria yang akrab disapa Adi ini saat ditemui Tagar News, Jumat (15/2).

Terdapat dua bangunan bahannya dibuat dari sebagian besar bahan alam seperti bambu dan papan kayu. Bangunan pertama di tengah halaman, bangunan kedua dekat pintu gerbang utama. Dua bangunan ini difungsikan sebagai kamar tidur dan dapur. Ukurannya sekitar 2 kali 3 meter.  

Sisa halaman itulah yang kemudian dimanfaatkan sebagai lokasi pengembangan bakatnya. Berlatar belakang pendidikan seni dan alam di sebuah universtas ternama di Makassar, Adi menuangkan pikirannya melalui pemanfaakan lahan pekerangan rumahnya.

"Awalnya tidak terpikir kalau untuk buka usaha atau bisnis. Saya justru mau, apa yang ada di dalam kepala, imajinasi dituangkan dan diaplikasikan. Makanya saya rancang sesuai dengan apa yang saya pikirkan," tuturnya.

Ia memberi nama 'Rumah Kecil' karena memang luasnya hanya 500 meter persegi, hanya memaanfaatkan lahan kosong di belakang rumah, kebetulan di belakang lahan kosong itu terdapat hamparan sawah.

Rumah KecilSeorang petani membajak sawah ini pemandangan di depan mata di sebuah kafe di tengah Kota Makassar. (Foto: Tagar/Rio Anthony)

Adi menyebut tempat ini sebagai manifestasi ruang belajar dimana semua orang dapat berkumpul di dalamnya. Berbagi pengalaman khususnya bagi mereka yang menggeluti aktifitas kesenian dan alam bebas.

"Saya tidak pernah membayangkan rumah menjadi besar. Gambaran jiwa saya ada di sini. Tempat ini untuk berbagi kisah hidup, pengalaman dan terutama edukasi. Belajar berbagi pengetahuan," ucapnya.

Karena ramai, akhirnya sejak Maret 2016 Rumah Kecil dibuka untuk umum. Ia pun menyulapnya menjadi ruang terbuka hijau. 

Karena seringnya orang datang, Rumah Kecil jadi sangat terkenal di kalangan anak muda Makassar dan sekitarnya.

Ketika Tagar News menyempatkan bersantai di Rumah Kecil, sepasang muda-mudi sedang melakukan foto prewedding di lokasi ini.

Bukan hanya itu, sedikit menoleh, kita disuguhi pemandangan yang indah, dimana anak-anak kecil sedang bermain lumpur di tengah sawah yang baru dikerjakan. Sementara ayah mereka sedang mencangkul.

Adi mengatakan membangun tempat ini tidak membutuhkan biaya banyak. Modalnya pas-pasan karena bahan-bahan yang dipakai kebanyakan yang alami, seperti bambu. Tempat duduk terbuat dari bekas pohon-pohon besar, dan masih banyak bahan sederhana lainnya yang tidak perlu dibeli.

Rumah KecilAnak-anak berlarian di pematang sawah, nuansa pedesaan di pelataran kafe Rumah Kecil. (Foto: Tagar/Rio Anthony)

Di sekeliling halaman ditumbuhi pepohonan rindang, hewan-hewan ternak berkeliaran menjadi daya ikon khas tersendiri di tempat ini. Di dalam kolam ikan, berbagai macam jenis mulai dari koi, nila dan ikan air tawar lainnya.

Terdapat pula jembatan mini penyeberangan untuk melalui kolam dan sungai kecil yang ada di dalam pekarangan. 

Beberapa pengunjung memanfaatkan air kolam dengan ikan di dalammnya sebagai terapi kaki. 

Masih ada sebagian lokasi di dalam halaman yang belum digarap.

Adi mengatakan, lokasi ini nantinya akan dijadikan spot area khusus, seperti tempat pementasan menari, membatik, hingga teater. 

Corak kebudayaan itulah yang menurut Adi menonjol di Rumah Kecil.

"Cita-cita besar saya akan seperti itu. Jauh dari istilah kemapanan. Karena ini adalah karya seni yang tidak semua orang bisa lakukan dengan cara sederhana. Jauh dari konsep kapitalis," ujarnya.

Di luar itu, Rumah Kecil menyediakan menu yang nikmat dengan konsep kearifan lokal, di antaranya ubi goreng, kentang alami goreng dan menu-menu kekinian lain termasuk minuman.

Harga makanan dan minuman di sini ramah pada dompet anak muda. Satu gelas kopi Rp 10.000 hingga Rp 35.000

So... Anda tertarik dengan konsep kafe dengan nuansa pedesaan? Rumah Kecil tempatnya. Dijamin Anda akan merasakan suasana pedesaan di tengah kota. []

Baca juga: