UNTUK INDONESIA
Perilaku Driver Ojek Online yang Bikin Jengkel Customer
Helm apek, jaket dan bau badan berkeringat menusuk hidung, mengerem mendadak. Sederet perilaku driver ojek online bikin jengkel customer.
Driver ojok online menjemput customer di depan rumah di sekitar Tamanan, Banguntapan, Bantul, Kamis, 10 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Ridwan Anshori)

Yogyakarta - Namanya Shinta, 20 tahun, mahasiswi kampus swasta di Yogyakarta. Setiap berangkat ke kampus atau sebaliknya, dia selalu naik ojek online. Maklum, jarak indekos dengan kampusnya sekitar 4 kilometer.

Mahasiswi asal Lampung itu begitu mengandalkan ojek online untuk mobilitasnya. Termasuk untuk bepergian, belanja, atau sakedar main ke tempat teman. Tidak heran dia punya dua aplikasi sekaligus, Gojek dan Grab.

Suatu ketika, Shinta punya cerita buruk tentang ojek online ini. Saat itu, dia pulang dari kampus ke indekosnya yang berada di bilangan Jalan Batikan, Umbulhajo, Kota Yogyakarta.

Setiba di depan kos, dia buru-buru melepas helm yang dikenakan. Tak lupa membayar ongkos lalu bergegas masuk ke halaman indekosnya. Tangan kanannya terus menggaruk kepalanya.

Dia bilang, rambutnya terasa sangat gatal saat memakai helm milik driver online tadi. 

"Helmnya bau apek. Ya ampun bikin gatal," kata Shinta kepada Tagar, Sabtu, 5 Oktober 2019.

Shinta mengaku sepanjang perjalanan tidak nyaman memakai helm itu. Serba salah saat itu. 

"Saya mau lepas helm, takut kena tilang polisi. Tapi kalau tetap pakai helm, gatalnya minta ampun," kata dia.

Dia memutuskan untuk tetap memakai helm. Ada rasa sungkan kalau bilang terus terang sama si driver. 

"Jaga perasaan juga sih, enggak enak sama masnya (driver)," kata Shinta.

Shinta berpendapat helm yang dipakainya jarang dibersihkan, dijemur apalagi dicuci. Helm yang bau apek itu yang membuatnya jengkel dan mengeluh dalam hati.

"Itu (helm milik driver) kan helm sejuta umat, gonta ganti dipakai customer. Yakin bikin enggak nyaman deh. Sekali-kali dicucilah," katanya.

Mungkin Shinta ada benarnya, mengibaratkan helm si driver itu seperti helm sejuta umat. Setiap dapat orderan penumpang selalu memakai helm itu, kecuali si driver punya helm cadangan.

Jika sedang gacor -istilah yang awam bagi driver online yang menggambarkan sering dapat order- sehari bisa mendapatkan 20 customer untuk tutup poin. Dengan kata lain, 20 kepala bergantian memakai helm yang sama.

"Berapa banyak ketombe atau bahkan kutu rambut yang menempel di dalam helm itu. Atau bermigrasi ketombenya, dari kepala A ke kepala B lewat media helm itu," ujar Shinta.

Meski demikian, Shinta tidak kapok. Tetap menjadikan ojek online sebagai andalan dalam bermobilitas. 

"Berharap saja besok-beaok dapat driver yang rajin membersihkan helm," tuturnya.

Lantas, Shinta memberi penilaian apa untuk si driver pemilik helm apek itu? Customer ini ternyata baik hati. Dia tetap memberi penilaian bintang lima untuk si driver.

Tidak lupa, Shinta memberanikan diri dalam penilaian itu dengan memberikan komentar jujur. "Makasih ya Mas, bintang lima. Tapi jangan lupa helmnya dicuci, hehehe," begitu komentar Shinta.

Helmnya bau apek. Ya ampun bikin gatal.

Ojek OnlineDriver ojek online menanyakan alamat customer yang memesan makanan di kawasan Malioboro Yogyakarta, Kamis, 10 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Ridwan Anshori)

***

Soal bau apek, tidak hanya dialami Shinta. Customer lain juga mengeluhkannya. Untuk yang ini, bukan pada helm. Namun pada bau badan si driver.

Pengalaman ini dialami Syaiful, 45 tahun, warga Merdomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Posisi di belakang si driver menjadikan bau kian menusuk hidung.

"Begitu turun dari motor, bayar ongkos, dan saya mepet ke tembok, rasanya mual pengin muntah," kata pegawai kantoran di bilangan Jalan Solo ini.

Kejadian itu dialami selepas magrib, sepulang dari tempatnya bekerja. Siang harinya saat itu memang cuaca panas menyengat. Keringat meleleh karena gerah. "Mungkin saking gerahnya ya, bau badannya keluar," ujar dia.

Syaiful beranggapan driver yang mengantarnya itu seharian di jalanan mencari orderan, dari pagi sampai menjelang malam. Mungkin si driver belum sempat pulang apalagi mandi.

"Muter-muter di jalan seharian dengan jaket selalu dikenakan semakin membuatnya berkeringat. Dugaanku seperti itu," ujarnya.

Selain itu, kata dia, aroma tak sedap juga diduga dari jaket yang dikenakan driver. "Sepertinya jaket dipakai terus, jarang dicuci. Kelihatan kumal juga kok," katanya.

Dia tidak komplain soal bau menusuk ini. Juga tidak memberi penilaian bintang satu atas jasa yang diterimanya. 

"Enggak papa lah, baru sekali ini dapet driver yang begitu baunya. Kalau jarang mandi bawa parfum lah," katanya.

Syiaful tetap memberi bintang lima untuk driver yang menurutnya kemproh itu. "Sudah selamat sampai tujuan, itu yang terpenting," ujarnya.

Saya mepet ke tembok, rasanya mual pengin muntah.

Ojek OnlineDriver ojek online menjemput custmer di sekitar Danurejan Kota Yogyakarta, Kamis, 10 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Ridwan Anshori)

***

Lain lagi yang dialami Handoyo. Saat itu customer berusia 40 tahun, warga Gunungketur, Kecamatan Pakualaman, ini memesan ojek online dari rumahnya ke tempat kerjanya di bilangan Jalan Magelang.

Dia tidak biasanya naik ojek online. Namun karena motornya saat itu bermasalah, memaksanya menggunakan jasa antar penumpang berbasis daring ini.

Handy, sapaan akrab si customer itu, mengambil titik jemput di rumahnya. Begitu memesan driver, kurang dua menit sudah tiba di depan mulut gang yang hanya berjarak 20 meter dari rumahnya.

Berangkatlah keduanya. Di tengah perjalanan, si driver itu meminta izin kepada Handy. Cari toilet umum di SPBU karena kebelet pengen buang air kecil.

Handy mengizinkannya. "Ya, cari toilet dulu enggak papa, nggak, di depan ada SPBU," kata dia kepada si driver itu.

Motor matic yang dikendarai itu ambil kiri, masuk area SPBU dan memarkir di depan toilet umum. Handy menunggunya, tetap di atas jok motor milik driver.

Tak lama berselang, Handy sempat melihat driver keluar dari toilet, namun masuk lagi. Entah apa yang dilakukan. Kali ini agak lama di dalam sana.

Handy yang guru swasta itu mulai gundah. Pagi itu dia ada jam pertama mengajar di kelas. Sesekali melihat jam tangannya. Helm di kepalanya dilepas. Semoga tidak terlambat, begitu gumamnya.

Akhirnya si driver keluar dari toilet, tampak wajahnya sedikit pucat. Tangan kanan menekan pelan bagian perutnya, pertanda ada gangguan pencernakan. "Maaf ya, Pak, perut saya agak sakit. Saya diare," ujar si driver.

"Ya sudah ayo berangkat. Saya sudah terlambat, Mas," kata Handy sambil memakai helm warna hijau milik driver.

Si driver memacu motornya, berusaha lebih cepat sampai titik tujuan. Namun pagi yang lumayan padat, tidak memungkinkan memacu motornya lebih kencang. Tidak bisa tiba lebih cepat seperti saat kondisi jalan normal.

Dan benar, pak guru itu terlambat. Pintu gerbang sekolah tempatnya mengajar sudah ditutup. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih. Ada rasa jengkel di raut mukanya.

Dia bergegas membayar ongkos lalu menggeser gerbang untuk masuk ke kompleks sekolah. "Sekali lagi maaf ya Pak," ujar si driver tanpa meminta untuk diberi bintang lima atas jasanya.

Sepertinya si driver tahu diri. Memahami kalau customer yang diantarnya kecewa. Namun perutnya yang mulas tidak bisa ditahannya lebih lama.

Paling sebal kalau si driver ngerem mendadak.

Ojek OnlineDriver ojek online sedang menunggu customer yang memesannya di bilangan Jalan Malioboro Yogyakarta, Kamis, 10 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Ridwan Anshori)

***

Ada lagi perilaku ojek online yang bikin customer jengkel. Cerita ini datang dari Apriliani, 25 tahun. Kesehariannya bekerja sebagai marketing produk kecantikan di salah satu mal di Malioboro Yogyakarta.

Anik, begitu sapaan akrabnya saat berkenalan dengan Tagar belum lama ini. Dia mengaku sebagai customer ojek online sudah lama.

Dari sekian pengalaman yang dialami membonceng abang ojek online, satu yang membuatnya jengkel adalah ngerem mendadak. 

"Paling sebal kalau si driver ngerem mendadak," kata Anik.

Dia tidak tahu si driver melakukannya ada unsur kesengajaan atau tidak. Itu dialaminya tidak hanya sekali dua kali, dengan driver yang berbeda.

Kadang timbul rasa suudzon bila mendapati driver yang suka mengerem mendadak itu. Mau menegur sungkan. Mau memegang pundak si driver sebagai penahan agar dadanya tidak mengenai punggung driver juga sungkan.

Dia mengaku serba salah kalau mendapati model driver seperti itu. "Mas-mas ojek online itu kalau penumpangnya cowok, apa suka ngerem mendadak juga ya. Atau hanya sama cewek," kata dia.

Belum lagi motor yang dipakai driver dimodifikasi sedemikian rupa; jok bagian belakang dibuat lebih tinggi. 

"Nggak direm saja kadang melorot, apalagi direm mendadak. Joknya licin lagi. Menyebalkan," kata Anik.

Dia menyebutnya dapat kejengkelan ganda. "Keenakan mas ojek online-nya, rugi di saya. Biar impas ya enggak saya kasih bintang lima," ujarnya.

Tapi kasihan juga dengan si driver kalau tidak diberi nilai bintang lima. Karena penilaian menunjukkan performa di mata penyedia aplikasi.

"Katanya kalau enggak dikasih bintang lima, si driver sepi orderan. Kasihan kan, udah buang-buang pertalite tapi enggak dapat orderan," katanya.

Anik berharap saat memesan ojek online dapat driver yang tidak hobi ngerem mendadak. "Biar saya juga ikhlas memberi bintang lima," katanya. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
DANA Akan Membuka Layanan Bayar Ojek Online
DANA menjelaskan rencananya yang bakal melebarkan sayap untuk mengembangkan jasanya untuk pembayaran layanan ride-sharing, seperti GoPay dan OVO.
Program Gojek yang Hanya Diterapkan di Yogyakarta
Gojek menghadirkan sebuah program yang hanya diterapkan di Yogyakarta yang akan memanjakan para siswa.
Gojek dan Grab Jajal Sepeda Motor Listrik
Tranportasi ojek online Gojek dan Grab akan menjajal sepeda motor listrik atas kerja sama Kementerian Perindustrian.
0
Jadwal Imsak dan Buka Puasa DKI Jakarta, 1 Mei 2020
Berikut jadwal lengkap imsak, jam salat, dan buka puasa hari ini Jumat 1 Mei 2020, untuk wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya