UNTUK INDONESIA
Pengembangan Energi Terbarukan Pasca Pandemi Covid-19
Sekitar 67 persen dari bauran energi Indonesia masih berasal dari bahan bakar fosil. Persentase tersebut semakin meningkat setiap tahunnya.
Webinar Energy Capacity Building in Indonesia di Universitas Islam Malang, Jumat, 17 Juli 2010. (istimewa)

Jakarta - Managing Director Regen Power Indonesia, Raja Malem Tarigan mengatakan kebutuhan listrik secara global dinyatakan turun 2,5 persen sepanjang kuartal I 2020 dibandingkan dengan periode 2019. Menurutnya, rata-rata penurunan permintaan 20 persen terjadi pada kondisi lockdown total. Hal itu disampaikan dalam webinar Energy Capacity Building in Indonesia di Universitas Islam Malang, Jumat, 17 Juli 2010.

Penurunan permintaan listrik secara global ini, diproyeksikan sebesar 5-10 persen selama tahun 2020. Dia menjelaskan, ada beberapa sektor jasa yang merasakan dampak paling parah akibat lockdown, seperti ritel, kantor, kegiatan perhotelan, pendidikan dan pariwisata yang hampir sepenuhnya ditutup.

Kualitas udara yang bersih selama masa pandemi ini menunjukkan bahwa penggunaan energi di Indonesia masih didominasi oleh energi fosil

Menurut Raja Malem, di Uni Eropa pada bulan Maret rata-rata permintaan listrik di hari-hari kerja untuk kegiatan jasa mengalami penurunan cukup besar. Italia merupakan negara yang paling terpukul di Eropa, dimana penurunannya mencapai 75 persen.

"Pandemi Coronavirus Disease 2019 telah memberi dampak negatif kepada perdagangan dan ekonomi dunia. Namun juga memberi dampak positif bagi Bumi karena kegiatan industri di seluruh Negara tertahan, polusi industri berkurang, dan kualitas lingkungan hidup meningkat," Katanya yang merupakan representatif Regen Power Australia, sebuah perusahaan yang fokus pengembangan energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga matahari.

Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga mencatatkan kualitas udara di Indonesia pada Maret lalu lebih bersih dibandingkan Maret 2019. Citra satelit Copernicus Sentinel-5P milik ESA dari langit di Italia Utara, menunjukkan penurunan polusi udara secara drastis setelah Italia menyatakan lockdown karena wabah pandemi virus Covid-19.

"Kualitas udara yang bersih selama masa pandemi ini menunjukkan bahwa penggunaan energi di Indonesia masih didominasi oleh energi fosil. Ini jadi momentum untuk mengimplementasikan energi terbarukan, khususnya energi matahari," ujarnya.

Kemudian, sekitar 67 persen dari bauran energi Indonesia masih berasal dari bahan bakar fosil. Persentase tersebut semakin meningkat setiap tahunnya. Sedangkan penggunaan energi terbarukan tetap stabil selama bertahun-tahun dengan tingkat penggunaan yang cukup rendah. 

Padahal kata dia, Presiden Joko Widodo atau Jokowi sudah menandatangani Paris Agreement, dimana pada tahun 2025 harus menggunakan energi terbarukan sebesar 23 persen dari total energi yang digunakan.

"Penerapan energi terbarukan harus dilakukan secepat mungkin karena kualitas udara yang bebas polusi adalah yang kita idam-idamkan," ucap Raja Malem. []

Berita terkait
Petahana Manfaatkan Corona Agar Menang Pilkada 2020
Bagi yang mendapat penilaian positif dalam penanganan virus corona atau Covid-19 maka mereka layak kembali memimpin di daerah masing-masing.
Ada RS Nakal Sengaja Buat Pasien Positif Covid-19
Ada beberapa rumah sakit (RS) rujukan pasien corona di Indonesia yang sengaja memanfaatkan virus Covid-19 untuk mencari keuntungan.
Huma Betang Kalteng dalam Wacana Lumbung pangan
Karakter generasi muda Kalimantan Tengah (Kalteng) harus dibangun dengan prinsip Huma Betang dalam menghadapi wacana pembangunan lumbung pangan.
0
Soal Pilkada, PDIP Minta Semua Kader Patuhi Megawati
PDIP mengumumkan 45 pasangan calon kepala daerah yang bertarung di Pilkada 2020. Semua kader diminta taat putusan Ketua Umum Megawati