UNTUK INDONESIA
Ada RS Nakal Sengaja Buat Pasien Positif Covid-19
Ada beberapa rumah sakit (RS) rujukan pasien corona di Indonesia yang sengaja memanfaatkan virus Covid-19 untuk mencari keuntungan.
Tim Covid-19 Sulsel saat akan mengantar jenazah pasien Covid-19 di Macanda Kabupaten Gowa. (Foto: Tagar/Muhammad Ilham)

Jakarta - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah mengaku kecewa kepada Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Pasalnya, ada beberapa rumah sakit (RS) rujukan pasien corona di Indonesia yang sengaja memanfaatkan virus Covid-19 untuk mencari keuntungan.

Said Abdullah mengatakan, beberapa RS nakal itu berniat untuk mendapatkan keuntungan dari anggaran yang digelontorkan pemerintah pusat untuk menangani pasien Covid-19.

Ada rumah sakit yang mulai nakal. Karena anggarannya itu kalau orang sampai meninggal bisa antara 45 juta sampai 90 juta

"Saya menunjukkan kekecewaan saya kepada Menteri Kesehatan. Karena sudah beredar (rumah sakit nakal) dimana-mana, seperti di Medan, Manado, Surabaya, Ciamis, Pasuruan dan lain-lain. Banyak masyarakat yang meninggalnya bukan Covid-19 tapi dinyatakan Covid-19. Bahkan sudah banyak masyarakat yang melawan rumah sakit," katanya dihubungi Tagar, Kamis, 17 Juli 2020.

Lantas dia mencontohkan kemarahan masyarakat terhadap RS yang sengaja membuat pasien negatif menjadi positif Covid-19 hanya untuk mendapatkan keuntungan. Persoalan itu terjadi di Kota Surabaya beberapa waktu lalu. 

"Contoh yang di Surabaya. Ada masyarakat steril betul dari rumah, kemudian berangkat ke rumah sakit karena diapet dan meninggal di rumah sakit. Begitu meninggal langsung dinyatakan meninggalnya positif Covid-19," kata dia.

"Begitu keluarga minta surat, dikeluarkanlah surat bahwa almarhum ini meninggal Covid-19. Nah, kemudian marah keluarganya dan rumah sakit dituntut. Begitu dituntut baru rumah sakit menarik surat pernyataan Covid-19 diganti bahwa meninggalnya karena gagal jantung. Kan repot kalau sampai seperti ini," tambahnya.

Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan, tindakan yang dilakukan oknum RS nakal ini sesungguhnya telah melanggar etika kedokteran. 

"Ada rumah sakit yang mulai nakal. Karena anggarannya itu kalau orang sampai meninggal bisa antara 45 juta sampai 90 juta. Tapi inikan melanggar etika kedokteran, kemudian secara kemanusiaan ini memang menurut saya tidak pantas untuk dilakukan oleh rumah sakit," kata dia.

Said Abdullah berpandangan, dalam menangani persoalan tersebut, Kementerian Kesehatan sudah selayaknya membentuk tim satuan tugas (Satgas) untuk membongkar kejahatan-kejahatan di RS rujukan pasien Covid-19.

"Saya sampaikan kepada pak menteri kesehatan, yang pertama kalau ini terjadi maka harus ada tim satgas khusus yang diturunkan oleh Kementerian Kesehatan. Yang kedua, kalau itu betul maka pecat saja dokternya yang bertanggungjawab," katanya.

Tak hanya itu, dia juga menyarankan akreditasi rumah sakit yang terbukti melakukan kecurangan-kecurangan tersebut dicabut agar tidak menjadi rujukan bagi pasien Covid-19.

"Tapi kalau ternyata itu di rumah sakit tidak satu atau dua, memang betul menyatakan sebentar-sebentar Covid-19, akreditasinya dicabut saja supaya tidak menjadi rujukan. Dua hal itu yang diperlukan, jangan sampai anggaran penanganan Covid-19 yang 87,5 triliun habis gara-gara orang yang sesungguhnya tidak Covid-19 dinyatakan Covid-19," ucap Said Abdullah. []

Berita terkait
Semangat Rafli Kande Perjuangkan Pedagang Kopi Gayo
Pemerintah mempunyai beberapa opsi untuk membantu para pelaku kopi Gayo, misalnya dengan relaksasi kredit, bantuan langsung tunai dan SRG.
Pesan Yenny Wahid ke Pemerintah Soal Indonesia Timur
Yenny Wahid menyarankan agar pemerintah beri kebijakan yang lebih besar kepada masyarakat yang berada di Indonesia bagian Timur, khususnya Papua.
Jokowi Tegas Tidak Akan Lepas Kendali Covid-19
Presiden Jokowi mengatakan jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga saat ini masih dalam jumlah terkendali. Dia tegas tidak lepas kendali.
0
Tanggal Lahir Samaan dengan Jokowi, Neno Warisman: Apes
Neno Warisman menjawab singkat saat ditanyai Politisi Gerindra Fadli Zon, karena Neno dan Presiden Jokowi ulang tahunnya samaan tanggal 21 Juni.