UNTUK INDONESIA

Pemko Pematangsiantar Dituduh Pelihara Bencana

Air setinggi 60 sentimeter hingga 1 meter merendam ruas jalan sepanjang dua kilometer di Jalan Medan, Kota Pematangsiantar.
Lokasi banjir di Jalan Medan Kota Pematangsiantar, Sumut. Seorang anggota kepolisian setempat sedang membelakangi lokasi banjir, Rabu, 2 Desember 2020 sore. (Foto: Tagar/Screenshot YoTube)

Pematangsiantar - Air setinggi 60 sentimeter hingga 1 meter merendam ruas jalan sepanjang dua kilometer di Jalan Medan, Kota Pematangsiantar, Sumut pada Rabu, 2 Desember 2020 malam.

Curah hujan yang cukup tinggi sejak sore membuat luapan air tak mampu ditampung drainase di sepanjang ruas jalan yang berbatasan dengan Kabupaten Simalungun menuju arah Kota Medan tersebut.

Air kemudian merendam ruas jalan dan juga sejumlah permukiman di daerah padat penduduk tersebut.

"Problemnya karena drainase tak lagi mampu menampung luapan air hujan," kata Daud Simanjuntak, anggota DPRD Kota Pematangsiantar yang juga tinggal di kawasan tersebut, Kamis, 3 Desember 2020.

Daud katakan, bangunan drainase warisan 30 tahun silam. Kondisinya sudah tidak relevan dengan situasi saat ini, di mana pertumbuhan penduduk dan permukiman yang terus bertambah.

Baca juga: Debat Publik Pilkada Siantar di Medan dan Digelar Jam Kerja

Dia mengaku, sebagai wakil rakyat sudah meminta sejak setahun lalu agar Pemko Pematangsiantar, melalui Dinas Pekerjaan Umum membenahi drainase tersebut. Termasuk mengangkat sedimen di drainase.

Ini sedang di lokasi untuk pendataan korban terdampak banjir

"Tapi memang pemko tidak peduli. Karena saya sudah sampaikan drainase itu sudah tak layak untuk menampung debit air hujan, apalagi di musim hujan seperti sekarang. Satu jam saja hujan turun, air akan menggenangi ruas jalan setinggi satu meter. Saya melihat Pemko Siantar seperti memelihara bencana," kata Daud dikontak melalui telepon seluler.

Daud mengungkap, Dinas PU Kota Pematangsiantar bahkan sejauh ini tak memiliki grand design drainase. Ini menurut dia menjadi problem, karena pemerintah setempat tidak memiliki konsep penanganan drainase.

Banyak permukiman berdiri di sejumlah wilayah di Kota Pematangsiantar, tetapi penataan drainase tidak ada. Itu sebabnya, kata Daud, Pemko Pematangsiantar seperti membiarkan bencana bakal menyergap sejumlah wilayah.

Terkait banjir di kawasan Jalan Medan yang menimpa warga di sejumlah kelurahan di Kecamatan Siantar Martoba, pihaknya sudah meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mendirikan dapur umum dan posko penanganan banjir.

"Karena banjir berdampak pada warga, saya sudah minta agar Kepala BPBD Daniel Siregar untuk mendirikan dapur umum dan posko penanganan banjir," kata politisi Partai Golkar itu.

Baca juga: Mau Beli Narkoba, Dua Jambret di Siantar Dihajar Massa

Pelaksana Kepala BPBD Kota Pematangsiantar Daniel Siregar dihubungi terpisah mengaku dirinya sedang berada di lokasi bencana untuk melakukan pendataan korban.

"Ini sedang di lokasi untuk pendataan korban terdampak banjir. Meninjau langsung dan akan diambil tindakan untuk penanganan selanjutnya," kata Daniel. 

Data sementara yang diperoleh pihaknya, ujar Daniel, sekitar 35 kepala keluarga dan masih terus dilakukan pendataan. []

Berita terkait
Kementrian PUPR Bangun Pengendali Banjir Hilir Tukad Unda
Program penataan dan normalisasi sungai tersebut akan memberi manfaat untuk mengurangi risiko bencana banjir di DAS Tukad Unda
Blusukan dengan Bara JP, Bobby Janji Bereskan Banjir di Belawan
Bobby Nasution berkomitmen untuk menuntaskan persoalan banjir rob yang kerap menghantui warga di Medan Belawan.
Korban Banjir Tebing Tinggi Terima Bantuan Pangan dari Inalum
PT Inalum menyalurkan bantuan bahan pangan dan mendirikan posko untuk warga terdampak banjir di Kota Tebing Tinggi.
0
Pemko Pematangsiantar Dituduh Pelihara Bencana
Air setinggi 60 sentimeter hingga 1 meter merendam ruas jalan sepanjang dua kilometer di Jalan Medan, Kota Pematangsiantar.