UNTUK INDONESIA
Legenda Ular Besar Penunggu Rawa Pening Semarang
Rawa Pening Ambarawa, tempat yang indah. Ada rawa, gunung dan nelayan. Ada pula legenda di sana, tentang bocah kurapan dan ular besar penunggu.
Nelayan menjaring ikan di Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu, 7 September 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Ambarawa - Beberapa sampan berjejer di tepi pematang yang memisahkan rawa dengan sawah tanpa padi. Padi di sawah itu sudah dipanen beberapa waktu lalu, menyisakan tanah kosong dengan genangan air. Rawa Pening, nama tempat itu.

Puluhan pengunjung menikmati sore di Rawa Pening. Sebagian menikmati kuliner di restoran terapung di lokasi itu. Sebagian lainnya saling memotret di beberapa spot foto, termasuk berswafoto dengan latar belakang yang disukai.

Di restoran terapung, belasan pendopo berukuran kecil berjejer di atas semacam danau. Beberapa di antaranya diisi oleh rombongan pengunjung. Lainnya, masih kosong. Di tengah danau, pengunjung lain juga menikmati kuliner di bangunan yang lebih besar.

Dua perahu berbentuk bebek melaju pelan senada dengan kayuhan penumpangnya. Mereka berkeliling di tepian danau buatan itu hingga ke tengah.

Puluhan meter dari area restoran terapung, seorang ibu muda bersama anaknya menyusuri pematang. Mereka berjalan tenang mencari kerang, hingga ke tengah area bekas pesawahan, menuju tepi danau Rawa Pening.

Di kejauhan, empat pemancing jongkok di tepi Rawa Pening. Mendung yang bergumpal tebal, melayang menemani keempatnya bercengkrama sambil menunggu ikan memakan umpan.

Pada sisi lain area itu, belasan warung kelontong tertata rapi. Pemiliknya adalah warga sekitar. Seperti layaknya warung kelontong lain, mereka menyediakan berbagai barang, mulai dari rokok, makanan ringan, hingga perlengkapan mandi, bahkan durian jika musimnya tiba.

Legenda Bocah Kurap dan Ular Besar

Sebagian besar dari mereka, meyakini atau mininal mengetahui legenda Baru Klinting, seperti yang dikisahkan oleh salah seorang pemilik warung, Yami 43 tahun.

Yami menceritakan legenda tentang terbentuknya Rawa Pening, dengan tokoh utama seorang anak yang merupakan jejadian dari ular besar penjaga Rawa Pening.

rawa pening3Salah satu spot foto di restoran terapung Kampoeng Rawa, Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu 4 Januari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Baru Klinting, kata Yami, merupakan anak yang memiliki penyakit kulit. Kulitnya bersisik dan gudiken semacam kurap, sehingga banyak warga yang tidak mau berinteraksi dengannya.

Keluarga Baru Klinting adalah keluarga yang tidak mampu. Hal itu membuat Baru Klinting sering mengemis atau meminta nasi kepada warga untuk dimakan.

"Mriki niku awale deso, tapi njuk klelep mergo wonten bocah cilik sing nyuwun sekul tapi mboten diparingi. (Di sini awalnya adalah sebuah desa, tapi tenggelam karena ada anak kecil yang meminta nasi tapi tidak dikasih)," kata Yami Sabtu 4 Januari 2020.

Suatu waktu, saat Baru Klinting meminta makanan pada seorang warga, dia dihina. Hinaan itu membuat Baru Klinting murka. Baru Klinting pun pulang ke rumahnya, dan melapor pada ibunya.

Tapi ibunya meminta Baru Klinting untuk bersabar. Hanya saja, Baru Klinting merasa tidak bisa lagi bersabar menghadapi orang-orang yang sombong.

Seperti rumah-rumah keluarga Jawa lain pada zaman dahulu, di rumah Baru Klinting juga terdapat lesung. Biasanya lesung digunakan untuk menumbuk padi seusai panen. Baru Klinting mendekati ibunya, kemudian berpesan, agar ibunya segera naik ke atas lesung jika nanti mendengar suara bergemuruh.

Lalu, Baru Klinting kembali keluar. Dia menemui penduduk desa sambil membawa lidi. Dia menantang mereka untuk mencoba mencabut lidi yang ditancapkannya di tanah.

"Kathah sing tumut, wong-wong podo ngece, jare kuwi mung sodo, mesti iso dicabut, opo meneh sing nancepke mung cah cilik gudiken. (Banyak yang ikut mencoba, orang-orang pada mengejak, katanya itu cuma lidi, pasti bisa dicabut, apalagi yang menancapkan cuma anak kecil yang penuh kurap)," urainya.

Ceritanya terhenti saat seorang wanita berhijab menanyakan harga sebuah durian. Yami dengan ramah menjelaskan harga masing-masing durian berukuran cukup besar. Setelah urusan jual beli selesai, Yami melanjutkan ceritanya.

Beberapa warga bergantian untuk mencabut lidi yang ditancapkan oleh Baru Klinting, tapi tak satu pun dari mereka yang mampu mencabutnya. Akhirnya Baru Klinting mencabut sendiri lidi yang ditancapkannya.

Dari lubang bekas tancapan lidi itu kemudian keluar air yang semakin lama semakin deras, dan menenggelamkan desa tersebut. Seluruh penghuninya tenggelam di dalam danau, kecuali ibunya yang naik ke atas lesung dan berfungsi seperti perahu.

Kisah yang mirip juga diceritakan oleh seorang warga lainnya, Totok. Hanya saja menurutnya, sosok yang selamat saat Baru Klinting mencabut lidi, adalah janda tua yang memberikan makanan pada Baru Klinting saat dia meminta pada warga desa.

Menurut ceritanya, Baru Klinting merupakan anak dari seorang pertapa, yang saat lahir berwujud ular. Saat itu, warga desa hendak melaksanakan pesta, tetapi mereka tidak menemukan seekor binatang pun. Akhirnya mereka menemukan naga jelmaan Baru Klinting, dan disembelih.

rawa pening2Seorang wisatawan melompat dari sampan yang ada di tepi Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu 4 Januari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Tiba-tiba, Baru Klinting yang sudah berwujud anak kecil, datang dan meminta makanan, tetapi warga tidak memberinya makanan dan justru menghinanya. Hanya ada seorang janda tua yang memberinya makanan. Janda itulah yang kemudian selamat.

Sering Merasakan Kehadiran Ular Besar di Danau

Hingga saat ini, mitos tentang ular besar jelmaan Baru Klinting itu masih beredar di kalangan warga setempat. Kata Yami, tidak semua orang bisa melihat ular itu saat dia muncul.

Menurutnya, hanya orang-orang yang dikehendaki saja yang bisa melihatnya. Termasuk seorang nelayan yang sedang mencari ikan di Rawa Pening, beberapa tahun lalu.

Yami menuturkan, saat nelayan itu sedang mencari ikan, tiba-tiba dia melihat ular besar penunggu danau. Ular tersebut bergerak perlahan. Di belakangnya, tepatnya di sekitar ekor, banyak udang dan ikan yang mengerumuni.

"Menawi njedul ngaten niku, mesti kathah le angsal ulam napa urang, soale ulam kaliyan urang remen. (Kalau dia muncul, pasti nelayan banyak mendapatkan ikan dan udang, karena ikan dan udang suka pada ular itu)," lanjutnya.

Menurut kepercayaan warga setempat, ikan dan udang menyukai lendir dan aroma yang dikeluarkan oleh ular besar itu. Sehingga udang dan ikan yang diperoleh nelayan juga akan memiliki aroma anyir seperti aroma ular tersebut.

"Angsal kathah tapi ambune langu, Mas. (Dapatnya banyak tapi aromanya anyir, Mas)," tegasnya.

Meski berwujud ular besar, tapi jelmaan Baru Klinting tersebut tidak memangsa manusia. Kata Yami, jika ular itu memangsa manusia, bisa dipastikan seluruh warga di situ sudah habis dimangsa.

Ular itu disebutnya masih sering muncul di Rawa Pening, bahkan sebelum kemunculannya, ada tanda-tanda tertentu, misalnya air danau yang sedikit bergelombang dan suasana yang menjadi lebih tenang.

Pemandangan Alam yang Indah dan Suasana Tenang

Terlepas dari legenda dan mitos tentang Baru Klinting serta ular naga raksasa tersebut, Rawa Pening menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Pemandangan alam di sekitar Rawa Pening seperti lukisan yang sangat indah. Terlebih saat padi di sawah-sawah di tepi rawa sedang tumbuh hijau. Dari kejauhan tampak seperti karpet hijau yang terhampar di kaki Gunung Telomoyo.

rawa pening4Bangunan kecil berbentuk semacam pendopo berjejer di restoran terapung Kampoeng Rawa, Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu 4 Januari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Tak jarang para nelayan yang tidak mencari ikan di tengah danau, hanya menjaring di tepian, sementara teman-temannya mengayuh sampan di kejauhan. Arena tempat bermain anak dan spot foto di sekitarnya, menambah daya tarik Rawa Pening.

Keelokan pemandangan Rawa Pening dibenarkan oleh seorang pengunjung yang berasal dari Yogyakarta, Femi. Menurutnya, keindahan pemandangan di Rawa Pening sulit ditemukan di tempat lain.

"Pemandangannya bagus, Mas. Susah nemuin yang kayak gitu di tempat lain. Ada rawa, kemudian gunung, nelayan yang mencari ikan dan lain-lain," ucap perempuan yang memiliki tahi lalat di atas bibir ini.

Femi juga mengaku tertarik dengan legenda yang ada tentang terbentuknya Rawa Pening. Kisah tentang Baru Klinting, si anak kecil yang kurapan dan legenda ular besar penunggu di tempat itu. []

Baca Juga:

Berita terkait
Pocong dan Lelembut Lain di Gunung Kelir Bantul
Banyak peziarah mendatangi Bukit Gunung Kelir Bantul, untuk tujuan tertentu. Tempat itu tergolong angker. Ditunggui pocong dan tujuh lelembut lain.
Sumur Tua Menyeramkan di Pabbineang Bantaeng
Sumur tua di Kecamatan Bantaeng, banyak cerita seram tentangnya. Namun, sumur tua itu juga menjadi sumber kehidupan warga setempat.
Ratu Pantai Selatan versi Kuncen Pantai Parangkusumo
Pimpinan juru kunci Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, Sarjini, mengatakan Ratu Pantai Selatan atau Kanjeng Ratu Kidul bukan Nyai Roro Kidul
0
Relaksasi Kredit, Bank di Daerah Masih Saja Menagih
Presiden Jokowi membuat kebijakan relaksasi kredit saat pandemi Covid-19, praktiknya petugas bank milik negara masih ada yang menagih bunga kredit.