UNTUK INDONESIA
Pocong dan Lelembut Lain di Gunung Kelir Bantul
Banyak peziarah mendatangi Bukit Gunung Kelir Bantul, untuk tujuan tertentu. Tempat itu tergolong angker. Ditunggui pocong dan tujuh lelembut lain.
Makam Ratu Malang diselimuti dengan kain putih di Kompleks Antaka Pura di Bukit Gunung Kelir, Pleret, Bantul, Rabu 4 Desember 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Bantul - Sebanyak 28 makam tersebar di tempat itu, di antara teduh pepohonan besar. Dua makam tampak istimewa dengan ditutupi kain putih. Keduanya adalah makam Ki Dalang Panjang Mas dan Ratu Malang.

Raja Amangkurat I menamai tempat itu, Antaka Pura, yang berarti istana kematian atau istana penguburan jenazah.

Juru kunci kompleks pemakaman itu, Slamet 60 tahun, meyakini bahwa tempat tersebut dihuni oleh sedikitnya tujuh makhluk astral, yakni tiga ekor ular besar, satu ekor macan, satu ekor monyet, dan satu hancu pocong.

Perjalanan ke istana kematian itu cukup mampu membuat nafas terengah. Peziarah harus mendaki karena letaknya di puncak bukit Gunung Kelir, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul.

Bukan hanya membuat nafas terengah-engah, suasana di sekitar lokasi cukup sunyi. Hanya cericit suara burung dan embusan angin menerpa dedaunan yang terdengar.

Sebelum mencapai lokasi pemakaman, hanya beberapa belas meter dari gerbang istana kematian, peziarah akan melewati serumpun pohon bambu, yang diyakini merupakan tempat tinggal genderuwo.

Gerbang istana kematian berwarna hijau dan selalu tergembok, kecuali saat juru kunci membukanya ketika mengantar peziarah untuk memasukinya.

Meski hanya beralas tanah, peziarah yang datang wajib melepas alas kakinya. Tanah kering yang terpapar sinar matahari siang, mampu membuat telapak kaki melepuh jika terlalu lama berdiri di situ. Tapi anehnya, suasana di tempat itu tidak gerah, bahkan sejuk dan menenangkan.

Walaupun merupakan kompleks pemakaman, namun tempat yang dibangun pada tahun 1665 hingga 1668 itu tidak tampak seram pada siang hari. Beberapa batang pohon mati berukuran besar tergeletak di tanah, cukup menarik untuk diabadikan dengan kamera.

Satu pendopo berukuran cukup besar terletak di sebelah timur pintu gerbang. Berbatang pepohonan besar membuat udara menjadi segar dan meneduhkan.

Di sudut belakang kompleks pemakaman, sebatang pohon yang berukuran paling besar, menaungi satu makam berselimut kain. Itulah makam Ki Dalang Panjang Mas.

suasana gunung kelirSuasana kompleks pemakaman Ratu Makang dan Ki Dalang Panjang Mas di Kompleks Antaka Pura di Bukit Gunung Kelir, Pleret, Bantul, Rabu 4 Desember 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Mendalang di Keraton Laut Selatan

Ki Dalang Panjang Mas hidup di masa Raja Amangkurat I. Menurut mitos, Ki Dalang Panjang Mas yang mempunyai nama asli Kyai Daim, sering mendalang di Istana Ratu Pantai Selatan atau Kanjeng Ratu Kidul.

Saat mendalang di Istana Ratu Laut Selatan, Kyai Daim tidak pernah mau menerima pembayaran dari kanjeng ratu. Akhirnya, Ratu Pantai Selatan memberinya gelar Ki Dalang Panjang Mas.

"Ki dalang dulunya bernama Kyai Daim, dia disebut Dalang Panjang Mas karena dulu sering mendalang atau memainkan wayang di Keraton Pantai Selatan. Dia tidak mau dibayar, akhirnya dikasih gelar panjang mas oleh Ratu Kidul," ucap Slamet saat ditemui Tagar di lokasi makam, Rabu, 4 Desember 2019.

Saat mendalang, Ki Dalang Panjang Mas selalu dibantu oleh seorang sinden atau penyanyi bernama Retno Gumilang, anak dari Ki Wayah, seorang dalang wayang Gedog, yang belakangan diperistri olehnya. Retno Gumilang pula yang akhirnya membuat Dalang Panjang Mas tewas.

Suara Retno Gumilang yang sangat bagus didukung parasnya yang cantik, membuat raja saat itu, yakni Amangkurat I jatuh hati.

Dia disebut Dalang Panjang Mas karena dulu sering mendalang atau memainkan wayang di Keraton Pantai Selatan.

Amangkurat I berniat untuk menjadikan Retno Gumilang sebagai selir. Dia pun meminta pada Dalang Panjang Mas agar menyerahkan istrinya. Tapi Dalang Panjang Mas tidak mau.

Akibatnya, Amangkurat I murka, lalu mencari cara untuk dapat memperistri Retno Gumilang. Satu-satunya cara untuk mendapatkan Retno Gumilang, adalah membunuh suaminya, Ki Dalang Panjang Mas.

"Kalau ki dalang tidak dimusnahkan, tidak bisa jadi istrinya Amangkurat. Jadi waktu itu ki dalang disuruh main wayang di keraton, dia diracun kemudian dibunuh oleh prajurit-prajurit karena itu perintah raja," lanjut Slamet.

Saking cintanya Amangkurat I pada Retno Gumilang, akhirnya dia menjadikannya sebagai prameswari atau permaisuri, dan Retno Gumilang dikenal dengan nama Ratu Wetan atau Ratu Malang.

Kata Slamet, saat Ratu Malang wafat, jenazahnya tidak langsung dimakamkan. Amangkurat I masih terus menggendongnya selama 40 hari. Kemudian jasad Ratu Malang dibawa ke Bukit Gunung Kelir untuk dimakamkan.

Tapi, saat penggalian makam, tiba-tiba muncul mata air dari dalam tanah, sehingga jenazah Ratu Malang batal dimakamkan di lokasi itu, dan dipindahkan ke lokasi saat ini, yang terletak di sebelah barat lokasi pertama. Lubang makam yang pertama akhirnya dibiarkan dan dikenal sebagai Sendang Moyo.

juru kunci makamJuru kunci kompleks makam Ratu Malang, Slamet 60 tahun saat ditemui di Kompleks Antaka Pura di Bukit Gunung Kelir, Pleret, Bantul, Rabu 4 Desember 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana).

Dibanjiri Peziarah

Saat ini kompleks Istana Kematian banyak dikunjungi oleh peziarah. Biasanya mereka datang pada malam hari. Hampir setiap malam ada peziarah yang nyekar di makam Ki Dalang Panjang Mas dan Ratu Malang. Tapi yang paling banyak adalah malam Selasa atau malam Jumat Kliwon.

Para pesiarah tersebut datang dengan tujuan dan niat beragam, mulai dari pedagang yang ingin jualannya laris hingga pegawai yang menginginkan kenaikan pangkat.

Untuk nyekar tidak diperlukan banyak persyaratan, cukup membawa bunga, serta kemenyan atau dupa. Yang terpenting adalah niat yang tulus. Sebab jika niatnya tidak bagus, biasanya penunggu tempat itu akan marah. Mereka akan menunjukkan wujudnya pada orang-orang yang tidak disukai.

Biasanya saat pertama kali nyekar, peziarah sudah bisa merasakan perbedaan dalam diri atau hidupnya. Misalnya merasa lebih tenteram, lebih tenang atau usahanya mulai menunjukkan peningkatan.

Jika tidak ada perubahan, bisa jadi orang itu tidak cocok berziarah di makam tersebut.

"Biasanya sebelum nyekar itu kita berniat sesuatu. Misale, aku tak rewangi nyambut gawe kok mung kemrungsung utawa ora mundak opo-opo ki piye carane?, aku arep ono perubahan. (Misalnya, saya sudah bekerja tapi kok sering gelisah atau tidak ada peningkatan, ini bagaimana?, Saya ingin ada peningkatan). Mangkeh nek pun nyekar kan iso bedo, misale rodo tenang atau ayem, atau tentram dan rejeki meningkat. (Nanti kalau nyekar kan bisa berbeda, misalnya agak tenang atau tenteram dan rezeki meningkat). Kan gitu," Slamet memaparkan.

Jadi kalau ada yang tirakatan, tapi dirinya tidak bersih, nah itu nanti dia lihat macan, ular, pocongan, genderuwo juga.

Banyak peziarah yang datang selama berbulan-bulan, karena mereka merasa ada perubahan sejak berziarah ke makam itu. Bahkan ada juga yang langsung merasa tenteram meski baru sekali ke sana.

Ada juga peziarah yang datang karena tidak sengaja. Menurut Slamet, biasanya mereka ditarik oleh penunggu kompleks makam itu. Misalnya kesasar, atau bertemu seseorang di jalan, dan mengajaknya ke situ.

"Teng mergi petuk tiyang, njuk muni ayo mbok mampir nggonaku, koyo wis kenal banget niko, tapi mbasan munggah kok teng riki, wonge ra eneng, ilang. (Di jalan bertemu orang, kemudian mengajak singgah di tempatnya, tapi saat naik kok sampai di sini, orangnya nggak ada, menghilang)," kat Slamet.

Orang yang ditarik ke tempat itu bisa juga orang yang disukai oleh penunggunya. Pernah ada orang dari Solo yang tiba-tiba datang ke tempat itu, setelah sebelumnya berziarah. Padahal, saat itu dia sedang duduk-duduk bersama rekannya, tapi tiba-tiba terbersit ingin berziarah ke makam itu.

Muncul Siluman Macan dan Ular

Tidak semua peziarah disukai oleh penunggu tempat itu. Biasanya mereka yang tidak disukai adalah peziarah yang datang tidak dalam 'keadaan bersih', atau mempunyai niat tidak baik.

Makhluk jejadian yang datang bisa berupa macan. Macan itu biasa muncul di sekitar makam ki dalang, atau naik ke atas tembok kompleks makam dan berkeliling.

pohon makamMakam Ki Dalang Panjang Mas ditutup dengan kain batik di Kompleks Antaka Pura di Bukit Gunung Kelir, Pleret, Bantul, Rabu 4 Desember 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

"Jadi kalau ada yang tirakatan, tapi dirinya tidak bersih, nah itu nanti dia lihat macan, ular, pocongan, genderuwo juga. Kalau genderuwo di pohon bambu itu. Ularnya ada tiga, besar," ucap Slamet.

Makhluk-makhluk itu tak jarang terlihat di jalanan sekitar Gunung Kelir. Tapi biasanya dilihat oleh pendatang atau bukan warga setempat.

Pernah ada dua bersaudara ziarah ke makam itu pada tengah malam. Keduanya berniat untuk meminta nomor togel.

Setibanya di kompleks Istana Kematian, mereka melihat ular besar. Tapi mereka tidak takut dan hanya memperhatikan ular tersebut. Setelah itu, keduanya melihat sosok macan dan monyet. Namun sosok-sosok itu tidak menyulutkan nyali mereka.

"Kemudian muncul pocong. Tadinya satu (pocong), berubah jadi enam, kemudian jadi 12, mereka tidak takut juga. Tapi akhirnya mereka lari, saat ada hantu cantik yang berteriak-teriak sambil melayang naik turun di pohon besar dekat makam ki dalang," urai Slamet.

Seorang peziarah, Yahya, 42 tahun, mengaku dirinya berziarah ke tempat itu untuk mencari inspirasi dalam membuat karya lukisnya. "Biasa mas, inspirasi memandang alam bagaimana siklus hidup ini berjalan. Iso nggo (bisa untuk) inspirasi karya," jelas pria yang berprofesi sebagai pelukis ini.

Mengenai yang dirasakan saat berada di lokasi itu, Yahya mengaku tidak pernah melihat keberadaan makhluk astral. Hanya saja dia merasakan tanah di tempat itu sesekali bergerak pelan.

"Tanah di situ juga kadang bergolak pelan. Getar halus lamat-lamat sekali, kadang ada desahan lirih entah dari mana," lanjutnya.

Yahya meyakini, kematian Ki Dalang Panjang Mas masih misterius, karena dalang tersebut dibantai bersama dengan para pemain gamelan yang mengiringinya. Juga kematian Ratu Malang.

"Dan kematian Ratu Mas Malang itu masih simpang siur, ada versi dia dibunuh, ada versi dia bunuh diri dengan meminum racun," jelasnya. []

Baca Juga:

Berita terkait
Pocong Perempuan di Rumah Tua Kotagede Yogyakarta
Ada ratusan hantu di rumah tua itu. Ada yang jahat dan baik. Satu yang sering iseng adalah hantu pocong bernama Sumi.
Pusat Kuliner di Semarang ini Dihuni Pocong dan Macan
Di kota Semarang terdapat pusat kuliner dan jajanan yang diresmikan belum ada satu tahun ini rupanya menyimpan cerita mistis.
Viral Penampakan Hantu Pocong di Kedungwaru Kidul Demak
Banyak yang menganggap kalau hantu itu tidak ada dan ceritanya hanya untuk menakut-nakuti. Nyatanya hantu muncul di Google Maps.
0
IGJ Desak Pemerintah Indonesia Tolak Keputusan AS
IGJ mendesak pemerintah Indonesia menolak keputusan sepihak pemerintah Amerika Serikat yang mengeluarkan Indonesia dari daftar negara berkembang.