KPPA Ungkap Penyebab Remaja Pesta Seks Swinger di Aceh

Salah satu penyebab remaja melakukan pesta seks akibat pengaruh gadget atau handphone yang semakin bebas dan intens digunakan tanpa pengawasan.
Ilustrasi Seksual. (Foto: Tagar/Pexels)

Banda Aceh - Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak (KPPA) Aceh ikut angkat bicara terkait dugaan pesta seks yang dilakukan tiga pasangan non muhrim di bawah umur di sebuah rumah kosong di Kabupaten Pidie, Aceh.

Komisioner KPPA Aceh, Firdaus D. Nyak Idin mengatakan, pesta seks yang dilakukan anak di bawah umur itu disebabkan banyak faktor. Setidaknya ada 2 faktor umum yang menyebabkan anak-anak memanfaatkan waktu untuk berbuat sesuatu yang tidak baik.

“Faktor pertama adalah pengaruh gadget atau handphone yang semakin bebas dan intens digunakan oleh anak dan remaja,” ujar Firdaus kepada Tagar, Senin, 5 Oktober 2020.

Ini adalah kejadian kedua pesta seks yang dilakukan oleh anak dan remaja. Setelah Agustus 2020 lalu WH Langsa tangkap 5 remaja di bawah umur.

Menurut Firdaus, pengaruh gadget sangatlah besar, apalagi jauh dari pengawasan orangtua maupun orang dewasa. Selain itu, hal ini disebabkan tidak adanya pengawasan pihak sekolah ketika anak didiknya mengikuti proses pembelajaran daring atau di luar sekolah.

Sementara faktor kedua adalah kelalaian mekanisme pendidikan di masa pandemi. Pada masa ini, proses pendidikan di dalam sekolah yang tidak optimal dan terkesan apa adanya. Namun, hal ini tidak dibarengi dengan upaya memperkuat mekanisme pendidikan di luar sekolah baik online maupun offline.

“Kedua faktor tersebut mendorong anak mengakses informasi yang tidak layak dari HP, dan memanfaatkan waktu luang untuk mempraktekkan nilai-nilai buruk yang diakses dari HP,” tutur Firdaus.

Dalam catatan KPPA Aceh, kata Firdaus, kasus di Pidie merupakan yang kedua kalinya di Tanah Rencong. Sebelumnya atau pada Agustus 2020, hal serupa juga terjadi di Kota Langsa.

“Ini adalah kejadian kedua pesta seks yang dilakukan oleh anak dan remaja. Setelah Agustus 2020 lalu WH Langsa tangkap 5 remaja di bawah umur. Artinya, kalau pemerintah tidak sigap dan responsif Covid-19, kejadian serupa akan terus terjadi,” katanya.

Karena itu, kata Firdaus, KPPAA menghimbau Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota di seluruh Aceh, agar mengambil langkah cepat untuk menghindari terjadinya kejadian serupa di tempat lain.

“Terutama kepada lintas sektor yang terkait dengan perlindungan anak, pendidikan, kesehatan, keluarga, kearifan lokal Aceh dan Syariat Islam, untuk duduk rembuk menyusun kembali mekanisme pendidikan dan pembelajaran yang responsif terhadap situasi pandemi, baik di sekolah, di rumah maupun di komunitas,” katanya.

Selain itu, lanjut Firdaus, lintas sektor terkait antara lain Dinas PP dan PA, Dinas Syariat Islam, Dinas Pendidikan, Dinas Pendidikan Dayah, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Majelis Pendidikan Daerah, Majelis Adat Aceh, Biro Isra juga harus ikut berperan memikirkan persoalan tersebut.

“Atas saran ini, KPPA Aceh bersedia mendampingi para pihak dimaksud untuk menyusun mekanisme proses pendidikan dan pembelajaran yang responsif dan optimal pada masa pandemi Covid-19. Walaupun sebenarnya saya tak yakin saran ini akan dijalankan,” ujar Firdaus. [PEN]

Berita terkait
Teror Harimau di Aceh Tamiang, BKSDA: Belum Ada Laporan
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) hingga saat ini belum menerima adanya laporan kemunculan harimau di Aceh Tamiang.
Tabrakan Beruntun di Abdya Aceh, Mobil Rusak Berat
Kecelakaan beruntun di Gampong Pantee Cermin, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh.
Pesta Seks Swinger Bukan Hal Baru di Aceh
Yayasan Permata Aceh Peduli (YPAP) menilai pesta seks bukan hal yang baru terjadi di Aceh.
0
Pemerintah Alokasikan Rp 400 M Uji Klinis Vaksin Merah Putih
Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo mengatakan pemerintah sudah mengalokasikan dana sebesar Rp 400 miliar untuk uji klinis vaksin merah putih.